
Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang telah kembali ke Xiao Wangfu. Xiao Mingyui berada di dalam kamarnya, menatap Xiao Jiwang yang berdiri di luar, tepat di depan jendela kamarnya.
Xiao Mingyui membungkuk ke arah Xiao Jiwang. "Terima kasih banyak, karena yang mulia telah bersedia menemani saya bersenang-senang."
Xiao Jiwang mengangguk singkat. "Ya."
Xiao Mingyui kembali berdiri tegak, bibirnya tersenyum. Tak lama, tangannya mulai melepas ikatan topeng dan menunjukkan wajahnya secara menyeluruh kembali.
"Sebelum yang mulia pergi, ada sesuatu yang ingin sata tanyakan," ucap Xiao Mingyui.
Xiao Jiwang mengangguk lagi. "Katakan." Kedua matanya menatap dalam wajah Xiao Mingyui.
"Apa anda bahagia menghabiskan waktu bersama saya?" tanya Xiao Mingyui, dia ingin memastikan bahwa Xiao Jiwang tidak terpaksa menemaninya.
Xiao Jiwang masih menatap datar Xiao Mingyui, kemudian pria itu berbalik dan sebelum melompat pergi, dia sedikit menoleh dan berkata,"Sedikit."
Xiao Mingyui tersenyum mendengar jawaban Xiao Jiwang, pipi wanita itu sedikit memerah. Dengan cepat Xiao Mingyui menutup jendela kamarnya begitu Xiao Jiwang pergi, wanita itu pun meletakkan barang-barang yang dia beli dan beranjak tidur.
Malam ini memang terasa sepi seperti biasa, namun ... debaran jantung dan desiran darah yang terasa hangat membuat malam masing-masing dari mereka berbeda. Senyum tipis muncul di wajah Xiao Mingyui, kali ini senyumannya terlihat tulus.
Xiao Jiwang kini sudah berada di Istana kediamannya, pria itu langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur dan menatap langit-langit kamar dengan tajam.
"Bagaimana bisa ... ada mata seindah itu? Sejak kapan dia memilikinya?" gumam Xiao Jiwang ketika mengingat sosok Xiao Mingyui di pasar festival malam ini. Wanita itu tersenyum dan bertanya mengenai penampilannya sambil menyebut nama Xiao Jiwang secara langsung. Kedua mata Xiao Mingyui yang berwarna biru cerah persis warisan gen ayahnya benar-benar membuat Xiao Jiwang linglung sesaat. Mata itu terlihat sangat indah, dan keindahannya terus bertambah jika berada di malam hari.
"Yang mulia, saya Chen Qi."
Suara Chen Qi dari luar terdengar, membuat Xiao Jiwang menoleh dan menjawab acuh tanpa bangkit dari posisi berbaringnya. "Masuk."
Pintu kamar Xiao Jiwang terbuka, menampilkan Chen Qi yang masuk dengan wajah tersenyum cerah. Pria itu membungkuk singkat. "Salam, yang mulia."
"Ada apa lagi?" tanya Xiao Jiwang, matanya melirik Chen Qi aneh karena pria itu tersenyum seperti orang gila.
"Yang mulia, apakah wanita yang bersama anda tadi adalah Putri Mingyui?" tanya Chen Qi.
Xiao Jiwang berdecak kesal. "Ck, jika kamu kemari hanya untuk membahas ini, lebih baik keluar."
Chen Qi terkekeh. "Aish ... tidak, bukan hanya ini. Tetapi salah satunya adalah ini."
"Kalau begitu langsung ke topik terpentingnya."
"Saya akan memberitahukannya setelah anda menjawab." Chen Qi tersenyum jahil.
Xiao Jiwang menghembuskan napas kesal. "Ya, itu dia."
Chen Qi tertawa. "Astaga ... sudah saya duga! Anda berdua pasti berkencan!"
Xiao Jiwang menatap tajam Chen Qi. "Aku tidak berkencan dengan dia, Chen Qi."
"Tidak berkencan? Yang mulia, pergi berdua sambil menikmati suasana festival dengan senyum serta tawa bahagia adalah kencan! Ayolah ... mengapa anda enggan sekali untuk jujur?" tanya Chen Qi, lalu menghembuskan napas berat.
"Sungguh seperti itu?" tanya Xiao Jiwang, pria itu dengan cepat mengambil posisi duduk dan menatap Chen Qi.
"Benar, yang mulia. Biasanya wanita sekelas putri Mingyui tidak akan mau diajak berkencan dengan sembarang pria, hal ini membuktikan bahwa putri Mingyui sepertinya mencintai anda."
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya. "Tidak, sepertinya tidak begitu. Aku pergi ke sana bersamanya karena hutang. Bukan kencan, Chen Qi."
"Ck, yang mulia, bagaimana jika putri Mingyui menganggapnya ini lebih dari pada sebuah hutang? Perjalanan Anda berdua memang didasari oleh hutang, namun ... apakah anda tahu pikiran atau perasaan putri Mingyui setelah menjalani 'kencan' tersebut? Tidakkah anda melihat hal-hal atau gerakan aneh dari putri Mingyui? Seperti wajahnya yang memerah atau gerakannya yang terlihat gugup mungkin?"
Xiao Jiwang merenung, mencoba mengingat. Tak lama kemudian dia kembali menatap Chen Qi dengan serius. "Ada."
"Apa itu?"
"Dia ... malam ini lebih banyak tersenyum," jawab Xiao Jiwang, keningnya terlipat, raut wajahnya terlihat kesal walaupun wajahnya sedikit memerah.
Chen Qi tertegun melihat ekspresi Xiao Jiwang yang ini, dia tidak pernah melihat tuannya menjadi malu-malu seperti ini! Astaga!
Chen Qi tersenyum kaku. "A--ah ... itu pasti karena putri Mingyui tersipu berada di dekat anda! Wanita yang menyukai pria biasanya cenderung menjadi pemalu jika berada di dekat pria tersebut."
Xiao Jiwang masih memang raut wajah yang sama, pria itu kemudian berdiri sambil mengusap kepalanya frustasi. "Aku muak membahas ini."
Chen Qi menaikkan alis kirinya singkat. "Ada apa? Mengapa anda membencinya?"
Xiao Jiwang berjalan ke arah jendela kamarnya, kemudian menatap tajam ke arah bulan di langit. "Entahlah, aku hanya merasa gelisah dan marah setiap kali memikirkan wanita itu."
"Gelisah dan marah?"
Xiao Jiwang mengangguk. "Seperti ada dua pendapat di dalam kepalaku."
Chen Qi tertegun, pria itu segera berjalan menyusul Xiao Jiwang sambil berkata,"Apakah anda mencintai atau mulai tertarik kepada putri Mingyui? Bisa saja seperti itu, yang mulia. Tetapi, hati anda masih merasa ragu dan terus menolak. Mungkin ... ke depannya anda bisa jujur sedikit?"
Xiao Jiwang tersenyum dingin. "Aku pernah menjelaskan topik mengenai hati yang mati, namun dia menjawab dengan jawaban yang membuatku semakin gelisah."
"Apa itu?"
"Dia berkata permasalahan ini bukan mengenai hati yang mati, tetapi seberapa besar usahanya untuk saling mencintai. Sialan, aku benar-benar terganggu dengan kalimat itu. Malam ini aku bersedia menjemputnya untuk acara festival topeng hanya untuk memastikan ada apa dengan diriku sendiri. Aku tidak yakin sumber kegelisahan ini berasal dari Xiao Mingyui, namun ... setelah bertemu langsung dengannya kegelisahan itu semakin bertambah." Xiao Jiwang mencoba menceritakan semua hal yang dia rasakan kepada Chen Qi.
Chen Qi mengangguk paham setelah Xiao Jiwang selesai bicara. "Jadi, putri Mingyui sempat mengungkit topik mengenai hal itu? Yang mulia, sepertinya putri Mingyui tulus ingin membangun hubungan yang harmonis dengan anda sebagai sepasang kekasih. Pernikahan politik memang dilaksanakan tanpa adanya cinta, namun ... seluruh wanita pasti tetap mengharapkan pernikahannya berjalan dengan damai dan bahagia, walaupun didasari oleh politik. Bagaimanapun juga setiap wanita menginginkan rumah tangga bahagia dan cinta yang hangat."
Xiao Jiwang tidak menjawab, pria itu mendengarkan setiap kalimat Chen Qi dan memikirkannya. Rasa sesak karena kegelisahan benar-benar membuat pikirannya kacau.
"Lalu apa topik penting selanjutnya? Jangan membuang-buang waktu," tanya Xiao Jiwang, kemudian menoleh ke arah Chen Qi.
Raut wajah Chen Qi berubah serius, senyum di wajahnya hilang. Sepertinya kalau sudah seperti ini topiknya berhubungan dengan pekerjaan.
"Mengenai utusan yang akan datang dari Kekaisaran Barat dan Kerajaan Huan Tenggara, mereka sama-sama mengirimkan seorang putri Kekaisaran. Saat hendak menemui Kaisar untuk menyerahkan laporan yang anda berikan, yang mulia berpesan agar anda mengatur pengawalan sang Putri dari gerbang Ibu Kota sampai Istana," jawab Chen Qi.
Xiao Jiwang mengangguk singkat. "Itu urusan mudah. Ada lagi?"
Chen Qi menggeleng. "Tidak ada, selebihnya sudah aman. Penyambutan utusan Kekaisaran Barat kali ini diurus oleh Lu Fei Niangniang, perlukah saya mengusulkan kepada beliau agar kursi Putri Mingyui berada di sebelah anda?"
Xiao Jiwang berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Ya."