
Ketika mereka bertiga benar-benar tiba di depan pintu keluar Istana Utusan Agung yang sangat besar, pintu itu tidak mau terbuka. Tidak peduli seberapa besar tenaga atau kekuatan yang telah dikerahkan oleh Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing secara bersamaan, pintu itu tidak mau terbuka.
Tiba-tiba dari belakang, suara langkah kaki yang terdengar santai terdengar. Xiao Mingyui menoleh, dari jarak kira-kira tiga puluh meter darinya, Utusan Agung berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Di belakang pria itu terdapat penghuni Istana yang tidak diketahui jumlahnya, mereka adalah abdi dalam Istana Utusan Agung.
"Kalian tidak akan bisa keluar sampai aku yang mengizinkannya." Suara tenang Utusan Agung terdengar, membuat Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing menoleh.
"Buka pintunya. Sekarang." Xiao Jiwang benar-benar menunjukkan kebencian dan ketidaksenangannya secara jelas. Pria itu tidak peduli pria di hadapannya ini adalah Utusan Agung atau manusia pilihan dewa, atau bahkan dewa sekalipun. Yang jelas sekarang, dia merasakan gejolak amarah yang sangat besar. Xiao Jiwang sendiri pun tidak yakin apa pemicunya, namun ... rasa kesalnya muncul saat dia menonton secara jelas kejadian dan percakapan yang dilakukan Utusan Agung kepada Xiao Mingyui. Dia merasa seolah ada penyusup yang berusaha mencuri barang miliknya.
Utusan Agung terkekeh. "Kamu mengingatkanku pada Xiao Muqing. Kalimat yang dilontarkan olehmu dan pria itu sama persis, namun bedanya dia mengatakan itu setelah menghancurkan setengah dari Istana ini."
Xiao Mingyui menghela napas tipis, apakah mereka berdua akan terus melempar kalimat yang tidak bermutu ini? Percakapan ini hanya membuang-buang waktu. Dengan sifat Utusan Agung yang semena-mena dan licik, lalu Xiao Jiwang yang juga semena-mena namun cenderung keras, mereka tidak akan menemukan jalan tengah untuk selesai berdebat.
Ketika Xiao Mingyui hendak bicara, tiba-tiba Xiao Xiangqing maju selangkah dan berkata,"Utusan Agung, apa anda sebelumnya tidak pernah tahu bagaimana cara mendekati wanita?"
Wajah Utusan Agung terlihat bingung, pria itu hanya menatap dengan penuh tanda tanya ke arah Xiao Xiangqing. Dia tidak paham mengapa Xiao Xiangqing tiba-tiba mengungkit hal seperti itu di situasi ini.
Melihat wajah Utusan Agung yang bingung, Xiao Xiangqing pun tersenyum. Pria itu menghela napas tipis, kemudian menatap kakak perempuannya sesaat dan kembali menatap Utusan Agung. "Perlu anda ketahui, wanita memiliki tipe dan kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang senang dengan cara agresif, ada pula yang senang dengan cara tarik ulur, bahkan ada juga yang tidak masalah dengan keduanya."
Utusan Agung masih diam, pria itu kini menatap aneh ke arah Xiao Xiangqing, namun tidak memotong ucapannya. Diam-diam, dia juga tertarik dengan topik ini. Sejujurnya, selama beberapa abad dia hidup, dia tidak pernah sekalipun belajar mendapatkan hati wanita.
"Cara anda sebelumnya adalah cara yang sangat agresif, dan ... sayang sekali, sepertinya Jiejie saya tidak menyukai cara yang sangat agresif seperti itu. Dan lagi, tidak semua wanita hanya mementingkan paras dan seperti apa tinggi atau rendahnya derajat sang pria. Selama pria itu dapat memperlakukannya dengan nyaman, manis, dan hangat, maka wanita dapat menerima seorang pria tanpa syarat."
"Ada jutaan, bahkan miliaran wanita di dunia ini, dan mereka semua memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Jiejie saya adalah wanita yang tenang, elegan, lembut, namun juga tegas dan dingin. Cara anda yang mendekatinya secara agresif lalu memaksanya untuk menikah dengan anda di awak pertemuan adalah cara yang sangat salah."
Xiao Xiangqing semakin mengembangkan senyumannya kala melihat Utusan Agung semakin terlihat bersemangat mendengarkannya.
"Anda ingin tahu solusi dan cara yang tepat untuk mendapatkan hati Jiejie saya?" tanya Xiao Xiangqing, berusaha memancing Utusan Agung. Ini adalah kunci dari keberhasilan mereka untuk keluar dari sini.
Utusan Agung mengangkat alis kirinya, pria itu terlihat sangat penasaran. Tanpa sadar, pria itu menganggukkan kepalanya pelan.
Melihat ini, Xiao Xiangqing semakin bersemangat. Pria itu mulai menampilkan senyum liciknya, lalu berkata,"Jika anda bersedia membukakan pintu ini untuk kami, maka saya akan memberikan jawaban emas ini."
Xiao Mingyui tersenyum tipis melihat kelicikan adiknya, matanya menatap penuh minat ke arah Xiao Xiangqing. Keahlian memutar kalimat untuk meruntuhkan lawan milik Huang Mingxiang benar-benar diwariskan secara sempurna kepada anak itu.
Utusan Agung tertegun, kemudian tertawa tipis. Matanya menatap Xiao Xiangqing, lalu bergeser ke arah Xiao Mingyui dan kembali menatap Xiao Xiangqing. Kepala pria itu mengangguk singkat. "Aku berjanji akan membukanya setelah kamu mengatakannya. Utusan Agung tidak akan pernah berbohong, aku bersumpah."
Xiao Xiangqing tertawa renyah, kepalanya balas mengangguk singkat. "Baik, sepakat. Dengarkan jawaban emas ini baik-baik, yang mulia." Raut wajah Utusan Agung dengan cepat kembali terlihat sangat serius.
Raut wajah Utusan Agung masih dipenuhi tanda tanya, Xiao Xiangqing mengetahui letak kebingungan sang Utusan Agung, pria itu segera melanjutkan,"Yang harus anda lakukan adalah berjuang dan bersaing. Dengar, Jiejie saya adalah wanita paling sempurna di Kekaisaran. Banyak para pejabat atau bangsawan muda yang mengincar posisi sebagai suaminya di masa depan. Salah satu contohnya adalah, Putra Mahkota. Di kehidupan bawah sana, Jiejie dan Putra Mahkota telah terikat pertunangan resmi dari Kaisar. Tugas anda sekarang adalah berjuang untuk merebut Jiejie saya dan membatalkan pertunangannya, namun dengan cara yang sehat. Tindakan yang paling tepat untuk melaksanakan seluruh rencana itu adalah terjun langsung ke kehidupan di bawah sana untuk Jiejie saya."
Utusan Agung mulai mengerti, mata indahnya kini kembali menatap Xiao Mingyui, namun kini terlihat sedih. Pria itu tersenyum, namun senyumannya kali ini terlihat kecut.
"Maaf, karena aku membuatmu tidak nyaman." Utusan Agung menatap Xiao Mingyui dalam, membuat Xiao Mingyui sedikit tertegun. Dia tidak menyangka kalimat konyol yang diucapkan adiknya benar-benar mempengaruhi kondisi emosional nyata pria itu.
Xiao Mingyui berusaha tersenyum tipis, senyum yang biasa dia gunakan di tempat umum. Senyuman yang terlihat tulus, namun sebenarnya sangat mati di dalam.
"Tidak masalah, yang mulia Utusan Agung."
Krak ... Krriieeetttt ....
Menoleh ke belakang, pintu besar itu perlahan terbuka. Xiao Mingyui pun kembali menatap ke arah Utusan Agung, kali ini senyuman pria itu terlihat sedikit lebih baik.
"Aku akan membiarkanmu kembali hilang dari pelukanku lagi kali ini. Tunggu aku di sana, aku berjanji akan berjuang untuk meluluhkan hatimu, Mingyui." Utusan Agung berbalik, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangannya kembali setelah mengatakan demikian.
Xiao Mingyui masih menatap punggung Utusan Agung, dia tidak mengerti mengapa pria itu benar-benar ingin menikah dengannya. Jika benar karena 'takdir Tuhan', bukankah saat ini hal itu baru dapat dianggap sebagai 'ramalan' yang belum pernah terjadi?
Tetapi, mengingat penggalan kalimat itu yang mengatakan "aku akan membiarkanmu kembali hilang dari pelukanku lagi" benar-benar membuat pertanyaan besar di kepala Xiao Mingyui.
Tiba-tiba dia merasakan sentilan di dahinya, membuat Xiao Mingyui tersadar sambil mengusap pelan keningnya. Menoleh ke samping, dia melihat Xiao Jiwang dengan raut wajah yang benar-benar terlihat sangat suram menatapnya sulit.
"Kau ingin berada di sini lebih lama? Jika iya katakan saja, aku akan dengan senang hati meninggalkanmu sendirian di sini," ucap Xiao Jiwang, kemudian berbalik dan melangkah keluar dari Istana Utusan Agung.
Xiao Mingyui menatap kesal Xiao Jiwang, lalu mengikuti langkah pria itu sambil memendam kekesalan.
Xiao Xiangqing kini tengah berbicara dengan Naga Shenlong, membuat Xiao Mingyui keheranan. Astaga, sejak kapan adiknya bisa berbicara sangat santai dengan naga Shenlong?
"Aku akan mengantar kalian sampai perbatasan kaki dan tengah-tengah gunung," ucap naga Shenlong sambil melirik ke arah Xiao Mingyui dengan tatapan yang sedikit berbeda.
Xiao Xiangqing mengangguk. "Itu bagus, karena saya dan yang lain bisa membuat sandiwara seolah kami benar-benar terjebak di gunung karena longsor."
Setelah diskusi selesai, mereka pun akhirnya naik ke atas punggung naga Shenlong menuju perbatasan kaki dan tengah-tengah gunung.