The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 77. Kekuatan Besar Itu Berada di Dalam Dirimu!



"Saya bersumpah. Akan membantu Putra Mahkota dan Xiao Wangye kembali." Xiao Mingyui berlutut dalam ke arah Xiao Jihuang, di samping pria itu ada Wu Zeyuan dan Lu Fenghua yang langsung berlari bersama menemui Xiao Mingyui ketika mendengar kabar wanita itu hendak menyusul berperang.


"Izinkan kami ikut untuk membantu putri Mingyui, yang mulia!"


Pintu tiba-tiba terbuka, membuat semua orang menoleh. Terlihat Baili Ruyi dan Yui berjalan masuk.


"Gu Furen? Nyonya Yui?" Wu Zeyuan tertegun melihat kehadiran dua anggota pasukan Xiao Wangfu yang sudah lama sekali tidak terlihat. Khususnya Yui.


"Meskipun kami telah menua, namun semangat kami tetap sama. Yang mulia, mohon izinkan kami mendampingi putri Mingyui!" Baili Ruyi dan Yui dengan cepat berlutut, mereka telah memakai pakaian zirah. Siap berperang.


Xiao Jihuang terlihat kesulitan. Untuk melepas Xiao Mingyui saja dia ragu, dan kini Baili Ruyi dan Yui pun meminta hal yang sama.


"Yang mulia, suami saya akan menjaga Ibu Kota menggantikan Gu Furen. Saya mohon, izinkan kami mendampingi putri Mingyui!" Kini giliran Yui yang memohon lantang. Mereka berdua benar-benar serius ingin mengikuti Xiao Mingyui.


"Apa kali ini kalian dapat bersumpah untuk kembali dengan utuh?" tanya Xiao Jihuang, dia terlihat sangat ragu.


Baili Ruyi mengangguk. "Kami bersumpah, yang mulia! Kami akan kembali dengan keadaan utuh dan kemenangan untuk dipersembahkan kepada Anda! Melayani Kekaisaran ini adalah sebuah kewajiban bagi kami!"


Dengan berat hati, akhirnya Xiao Jihuang mengizinkan mereka berdua menemani Xiao Mingyui. Setelah berhasil mendapatkan izin, Xiao Mingyui dan yang lain bergegas untuk menuju gerbang pintu Ibu Kota, di sana sudah ada seratus ribu pasukan Xiao Wangfu dan Rong Wangxia yang telah menunggu.


Sementara itu Xiao Xiangqing, dia berada di sebuah ruangan gelap. Entahlah, dia tidak tahu di mana dirinya berada. Ketika sadar, dia telah berada di sini dengan kepala yang seperti dilempari ribuan batu. Kepalanya terasa sangat pening dan berat.


Di mana ini? Dia tidak pernah mengingat ada ruangan seperti ini di markas militer perang pasukan Xiao Wangfu.


"Xiao Xiangqing."


Deg!


Tubuh Xiao Xiangqing terasa membeku di tempat, tenggorokannya langsung tercekat hebat. Dia mengenali suara itu, itu ... adalah suara ayahnya, Xiao Muqing.


Xiao Xiangqing berusaha berbalik ketika tubuhnya terasa sangat berat. Di ujung kegelapan sana ada cahaya putih yang terang sekali.


"Xiao Xiangqing!"


Suara Xiao Muqing kembali terdengar, kali ini seperti sedikit membentak. Tanpa alasan, Xiao Xiangqing spontan berlari cepat ke arah cahaya tersebut. Persis seperti ketika ayahnya masih hidup dan memanggil namanya, Xiao Xiangqing pasti akan berlari sangat cepat untuk menemui ayahnya.


Xiao Xiangqing terus berlari, keningnya terlipat dalam ketika melihat sosok ayahnya berdiri di tempat penuh cahaya tersebut. Semakin dia dekat, semakin Xiao Xiangqing memperlambat langkahnya.


Hingga saat jarak mereka semakin dekat, Xiao Xiangqing sempat menunduk sebentar untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Dia juga tidak mengerti mengapa napasnya tidak kuat digunakan untuk berlari, ini pertama kalinya Xiao Xiangqing merasakan sesak karena berlari.


Begitu dia kembali mengangkat pandangannya, tiba-tiba sosok ayahnya hilang. Xiao Xiangqing bingung, pria itu segera menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari ayahnya. Hasilnya nihil, ayahnya tidak ditemukan.


Xiao Xiangqing berdecak kesal, lalu ketika hendak menoleh, tiba-tiba sosok ayahnya muncul dan berdiri tepat di belakangnya.


"Xiao Xiangqing!"


Xiao Xiangqing terkejut, pria itu langsung jatuh duduk ke belakang karena terkejut bukan main.


"Fu-- Fu qin?!!"


Xiao Xiangqing menatap syok sosok ayahnya yang berdiri tepat di depannya yang sedang duduk lemas di lantai.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?!" tanya Xiao Muqing, nada bicara pria itu terdengar sangat marah.


Xiao Xiangqing menoleh ke kanan dan ke kiri lagi, lalu menatap Xiao Muqing dan menggeleng pelan. "Tidak tahu, aku juga tidak tahu mengapa aku ada di sini. Apa ... apa ini alam baka? Aku mati?"


Buagh!


Xiao Muqing tiba-tiba menendang Xiao Xiangqing, membuat Xiao Xiangqing mengaduh kesakitan. Xiao Xiangqing kesal, dia tidak tahu alasan ayahnya marah-marah seperti ini. Tetapi, pria itu tidak berani melawan. Entahlah, meskipun dia sudah dewasa dan bahkan menggantikan gelar ayahnya, Xiao Xiangqing diam-diam masih takut untuk melawan Xiao Muqing.


Xiao Xiangqing tersungkur di lantai, dia mengerang menahan sakit karena tendangan ayahnya, kedua tangannya pun mengepal erat.


Hening. Xiao Xiangqing tidak menjawab cepat pertanyaan ayahnya.


Perlahan, Xiao Xiangqing mengangkat pandangannya. Air matanya jatuh begitu saja, kedua mata biru tajam mereka bertemu.


"Fu qin, anda tidak berhak berteriak seperti itu padaku!" Xiao Xiangqing perlahan berusaha bangkit, tinggi mereka kini telah sejajar. Dia bukan lagi anak kecil, Xiao Xiangqing telah dewasa.


"Hanya Jiejie yang berjuang? Hanya Jiejie?! Tidak, Fu qin! Aku ikut berjuang! Pagi! Siang! Sore! Dan malam! Aku menghabiskan waktuku untuk mempertahankan Xiao Wangfu! Aku bekerja mati-matian untuk membuat mereka yang meragukanku menggantikan gelarmu percaya! Percaya bahwa aku pantas! Seumur hidupku dihabiskan untuk mendapatkan pengakuan petinggi Kekaisaran! Termasuk dirimu! Aku menghabiskan setengah hidupku untuk berlatih! Setiap hari aku tertatih dan bahkan merangkak untuk menyeimbangi ekspetasi semua orang!"


Emosi dan perasaan sakit Xiao Xiangqing yang selama ini terkubur, kini pecah dan tercurahkan semua hanya dengan satu bentakan ayahnya.


Xiao Muqing diam, dia masih berdiri dengan postur serta tatapan yang sama.


"Aku gagal menjadi penerusmu. Benar apa yang mereka katakan. Aku sama sekali tidak memiliki darah kekuatan seorang Xiao Muqing. Aku hanya lahir dengan membawa kemiripan pada fisikmu. Aku tidak seperti Jiejie, dia wanita namun terlahir sangat sempurna. Jiejie selalu berada di depanku, dia unggul dalam segi apa pun. Jiejie lahir dengan fisik Mu qin dan kekuatan serta pola pikir Fu qin. Jika Jiejie adalah seorang laki-laki, apa aku akan disingkirkan?" Xiao Xiangqing tertawa hambar di akhir kalimatnya, lalu melanjutkan,"Maaf ... aku gagal menjadi penerusmu. Aku--!"


PAA!!


Xiao Muqing menampar kencang pipi Xiao Xiangqing, lalu menarik Xiao Xiangqing ke dalam pelukannya.


"Tahunan aku menantikan kelahiran seorang anak laki-laki! Dan kini kau dengan mudah mengatakan hal seperti itu kepadaku?! Ibumu pun akan kecewa jika mendengar ini, Xiangqing!"


Xiao Xiangqing terkejut ketika Xiao Muqing memeluknya, dan kini mendengar ayahnya membentaknya lagi dengan kalimat seperti itu, pria itu tidak bisa menjawab.


Xiao Xiangqing memejamkan matanya. Dia benci nasibnya. Dia benci takdirnya. Dia benci kenyataan bahwa dia adalah penerus dari pria hebat dan paling dihormati. Dia benci berada di bayang-bayang ayahnya. Dia benci menjadi pecundang!


"Dengar, Xiangqing. Baik kau atau Mingyui, kalian berdua adalah darah dagingku. Kalian lahir membawa kekuatanku, bahkan lebih besar. Saudarimu berhasil menyadari kekuatannya, sedangkan kau? Kau terlalu terpaku untuk meniruku sehingga melupakan siapa dirimu dan apa potensimu. Percayalah, kau lahir dengan kekuatan paling besar, Xiangqing. Kau ditakdirkan untuk memimpin ratusan ribu pasukan, menjadi perisai paling kokoh Kekaisaran. Kau ... harus menyadari kekuatan besar itu. Itu ada di dalam dirimu."


Xiao Xiangqing mengepalkan tangannya. Kedua mata mereka kembali bertemu kala Xiao Muqing melonggarkan pelukan mereka.


Xiao Muqing menangkup kedua pipi Xiao Xiangqing, lalu menepuk-nepuk pipi anaknya sedikit keras untuk membangkitkan semangat.


"Di luar sana." Xiao Muqing menunjuk ke arah Timur, membuat pandangan mata Xiao Xiangqing mengikuti.


"Di sana saudarimu tengah berperang, Xiangqing. Dia memimpin seratus ribu pasukan untuk menolongmu. Dan kau di sini tidak boleh terjebak serta terpuruk, itu akan membuat perjuangannya sia-sia. Ingat, Xiangqing. Kalian berdua adalah keturunanku, kalian memiliki kekuatan yang sama besar. Kau harus membangkitkan kekuatan besarmu dan berjuang bersama kakakmu di medan perang."


Xiao Xiangqing tertegun kala dia melihat kegelapan yang ditunjuk ayahnya perlahan berubah menjadi bayangan kakaknya. Di sana dia melihat Xiao Mingyui tengah berperang, membunuh musuh.


Ketika salah satu pedang musuh menusuk bahu kakaknya, Xiao Xiangqing spontan bergerak menghadap ke arah bayangan gambaran tersebut.


"Jiejie ...."


Xiao Xiangqing mengepalkan kedua telapak tangannya. Ketika dia kembali menoleh ke arah Xiao Muqing untuk menanyakan sesuatu, tiba-tiba sosok ayahnya menghilang.


"Fu qin?" panggil Xiao Xiangqing, pandangannya ke sana dan kemari untuk mencari ayahnya. Tetapi nihil, ayahnya kembali menghilang.


Perlahan, cahaya yang menerangi tempatnya berdiri meredup. Di momen ini, suara Xiao Muqing lagi-lagi terdengar.


"Bangkitkan kekuatanmu, Xiangqing. Bantu Mingyui, jangan buat dia kecewa. Kalian, adalah anak yang aku cintai."


Dalam kedipan mata, cahaya itu hilang total. Xiao Xiangqing kembali ke tubuhnya.


Tubuh Xiao Xiangqing yang berbaring di tanah yang dingin tersentak, pria itu bangun dari pingsannya. Bola mata biru Xiao Xiangqing terlihat menyala di dalam kegelapan, tatapan pria itu perlahan berubah datar.


Xiao Xiangqing memperhatikan kondisi ruangan sekitar dengan sangat tajam, sepertinya dia tidak berada di markas militer perang Xiao Wangfu.


"Jiejie ..." gumam Xiao Xiangqing, aura membunuh mulai muncul. Hati Xiao Xiangqing dipenuhi oleh amarah untuk Huan Tenggara.