The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 55. Tepi Hutan Ibu Kota



"Menurut informasi, mereka sering saling bertukar surat di tepi hutan Ibu Kota. Tolong nyalakan ini jika terjadi sesuatu di luar rencana." Xiao Xiangqing menyerahkan sebuah kembang api kecil kepada Xiao Mingyui.


Di malam hari yang dingin ini, mereka tidak beristirahat seperti biasa. Baru saja Gu Lingchi datang dan menyampaikan laporan bahwa tercium bau mencurigakan antara pihak Kerajaan Huan Tenggara dan Fang Jichang. Kemungkinan besar lokasi bertukar kabar mereka adalah tepi hutan Ibu Kota, sebab kantor milit Xiao Wangfu berdekatan dengan lokasi tersebut. Gu Lingchi mengaku sering melihat burung merpati penyampai surat berlalu-lalang.


Beberapa waktu lalu Xiao Xiangqing sempat menangkap seorang mata-mata keluarga Fang, kemungkinan masih ada beberapa lagi yang belum terungkap. Oleh karena itu, agar pergerakan mereka yang mencoba beraksi malam ini untuk mencuri surat Fang Jichang dan Kerajaan Huan Tenggara, mereka menyusun sebuah rencana.


Jika mata-mata Fang Jichang benar ada, kemungkinan besar yang mereka perhatikan adalah Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui. Alasan malam ini Xiao Mingyui yang turun tangan langsung bukan Xiao Xiangqing, sebab jika pria itu menghilang tanpa alasan yang jelas dari Xiao Wangfu dan diketahui oleh mata-mata Fang Jichang, mereka pasti akan curiga dan langsung menulis surat darurat untuk melapor. Jika hal itu terjadi, kemungkinan besar rencana mereka akan gagal.


Sekarang, Xiao Xiangqing, Xiao Mingyui, Bingbing, dan Gu Lingchi berkumpul bersama di kamar Xiao Mingyui. Nantinya, Xiao Xiangqing akan bergerak dan bersikap seperti biasa. Dia akan keluar seolah habis berbincang seperti biasa dengan Xiao Mingyui.


Kedatangan Gu Lingchi kemari adalah rahasia, pria itu masuk bukan dari gerbang depan Xiao Wangfu, namun melalui jalan masuk rahasia yang hanya diketahui mereka berempat. Jadi, Gu Lingchi akan menyamar menjadi Xiao Mingyui dan berdiam diri di kamar Xiao Mingyui sampai wanita itu kembali.


Sedangkan Bingbing, dia sama seperti Xiao Xiangqing. Bingbing akan berperilaku seperti biasa, dengan berjaga di depan pintu kamar Xiao Mingyui.


Rencana ini adalah permintaan Xiao Mingyui sendiri, wanita itu ingin merenggut surat rahasia mereka dengan tangannya langsung.


"Aku mengerti." Xiao Mingyui mengambil petasan kecil itu, lalu menyimpannya di dalam saku. Di pinggangnya kini terdapat pedang panjang yang siap dia gunakan jika ada penyerang datang. Xiao Mingyui mengenakan pakaian bertempur lengkap.


Xiao Mingyui berjalan ke arah jendela kamarnya, tatapan matanya yang dingin mendongak untuk melihat cahaya bulan. Bulan malam ini terlihat sangat cerah.


Bingbing maju mendekati Xiao Mingyui, lalu memberikan topeng berwarna putih ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui mengambil topeng itu tanpa menoleh, kemudian memakainya dengan cepat dan bersiap melompat.


**SPLASH**!


Dalam kedipam mata, Xiao Mingyui melesat dengan kecepatan tinggi. Xiao Xiangqing dan yang lainnya mulai menjalankan rencana yang sebelumnya sempat mereka sepakati.


Xiao Mingyui melesat cepat, wanita itu berhenti di atas pohon besar belakang Xiao Wangfu. Matanya memperhatikan bangunan Xiao Wangfu yang terlihat megah namun sunyi. Ketika matanya sedang sibuk memperhatikan Xiao Wangfu, tidak sengaja Xiao Mingyui menangkap sosok pria berbaju hitam tengah berdiri di atas atap kediaman Xiao Xiangqing.


Xiao Mingyui memincingkan matanya, menatap dingin pria itu. Tangan kanannya menarik belati yang sempat ia sembunyikan di bawah lengan pakaiannya, kemudian dia kembali melesat cepat menuju sosok pria berbaju hitam tersebut.


Xiao Mingyui berhasil mendarat di atas atap kediaman Xiao Xiangqing, dia berdiri tepat di belakang pria berbaju hitam tersebut.


Xiao Mingyui berjalan perlahan mendekati sangat pria, begitu dekat, dia meletakkan kedua telapak tangannya di kepala pria tersebut, kemudian berbisik,"Siapa yang mengirimmu?"


Pria berbaju hitam itu tersentak kaget, dia hendak memberontak, namun tenaga Xiao Mingyui semakin bertambah untuk menekan kepalanya.


"Aku bertanya. Siapa. Yang. Mengirimmu?" Xiao Mingyui mengulangi pertanyaannya.


Pria itu terus memberontak, enggan menjawab. Tatapan mata Xiao Mingyui jutaan kali lebih dingin kala kedua tangannya yang mengapit kepala pria itu berputar ke samping.


TRACK!


"Arghhh!!!"


Xiao Mingyui mematahkan leher pria itu tanpa berkedip, kemudian dengan gesit memainkan belatinya dan merobek leher pria berbaju hitam itu di titik yang menyebabkan seluruh darah tersembur deras keluar.


Melihat pria itu jatuh duduk di atas atap, sambil mengelap belatinya yang terkena darah, Xiao Mingyui menendang tubuh pria itu ke bawah. "Padahal aku sudah bertanya baik-baik," gumamnya, kemudian memasukkan kembali belatinya ke dalam lengan bawah pakaiannya.


Xiao Mingyui kembali melesat cepat, kali ini dia langsung menuju tepi hutan Ibu Kota.


Xiao Mingyui mendarat di bawah pohon rindang, suasana hutan gelap, beruntung ada cahaya bulan yang membuat pengelihatan setidaknya tidak gelap total. Xiao Mingyui masih dapat melihat dia radar cahaya minim seperti ini.


Burung merpati yang dibicarakan oleh Gu Lingchi mulai terlihat, Xiao Mingyui semakin awas memperhatikan sekitar. Burung itu mendarat di sebuah batang pohon yang memiliki sangkar burung, lalu gulungan surat yang ada di burung tersebut ditaruh di atas sangkar. Setelah selesai, burung itu kembali terbang dan menghilang.


Xiao Mingyui memincingkan matanya melihat gulungan surat tersebut, kemudian dia kembali melesat menuju sangkar burung tersebut. Xiao Mingyui menatap dingin gulungan surat, lalu mengambilnya dan menyimpannya ke dalam saku.


Tak lama, suara dua sampai tiga orang yang berjalan mendekat ke arahnya terdengar. Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, berusaha mencari tempat bersembunyi yang aman. Jika dia bersembunyi di atas pohon, kemungkinan ketahuannya sangat besar, karena cahaya bulan sedang sangat cerah.


Tiba-tiba sebuah tangan menariknya, Xiao Mingyui yang tidak siap dengan tarikan itupun terbawa begitu saja. Ketika melihat sosok yang menariknya, dia melihat seorang pria dengan pakaian serba hitam menarik tangannya menuju danau yang terletak tak begitu jauh dari pohon besar tersebut.


Pria itu mengajak Xiao Mingyui tenggelam untuk bersembunyi. Xiao Mingyui keheranan, namun apa yang pria itu lakukan adalah benar. Tangan kanan Xiao Mingyui berusaha menarik kain penutup wajah berwarna hitam pria tersebut. Ketika kain itu berhasil turun, Xiao Mingyui tertegun. Pria itu adalah ... Fang Laowang?


Mereka berdua sedang bersembunyi di dalam air bersama-sama, namun ... dari siapa pria itu bersembunyi?


Fang Laowang meletakkan jarinya di atas bibirnya, memberi isyarat agar Xiao Mingyui tidak banyak bergerak, karena nanti akan menimbulkan gerakan yang mencurigakan di atas permukaan air.


Xiao Mingyui akhirnya diam, wanita itu lalu tenang dan menahan napasnya di dalam air.


"Di mama surat itu? Mengapa tidak ada?!"


"Mungkin mereka terlambat mengirimnya, tuan."


"Lalu sinyalnya?"


"Kemungkinan besar itu burung yang tidak sengaja memencet sinyal yang telah kita buat. Pihak Huan Tenggara tidak mungkin tidak mengirimkan surat balasan."


Xiao Mingyui mendengarkan percakapan di atas, itu adalah Fang Jichang dan bawahannya. Kemudian matanya kembali menatap Fang Laowang, dia heran mengapa ikut bersembunyi bersamanya?


Fang Laowang kini seharusnya tahu bahwa Xiao Wangfu dan Fang Fu bermusuhan, mengapa pria itu tidak muncul ke permukaan dan membocorkan keberadaannya? Mengapa dia justru malah ikut bersembunyi seperti ... sengaja hendak membantunya?


Dirasa Fang Jichang dan bawahannya tidak lagi ada di sana, Fang Laowang dan Xiao Mingyui dengan cepat berenang ke permukaan. Xiao Mingyui dengan cepat mengeluarkan surat tersebut, dia khawatir kertas itu akan hancur dan tintanya tidak dapat dilihat.


Xiao Mingyui bernapas lega kalau kertasnya tidak robek dan tinta isinya masih dapat dibaca. Dengan cepat, Xiao Mingyui membacanya, wanita itu berusaha mengingat isi surat di kepalanya kemudian membuat surat yang sudah basah kuyup ini.


Setelah selesai membaca dan mencatatnya di dalam otak, Xiao Mingyui kembali tersadar bahwa kini di sampingnya terdapat Fang Laowang yang juga basah kuyup sepertinya.


"Mengapa?" tanya Xiao Mingyui, tatapan matanya kembali dingin seperti biasa. Kali ini dia mengambil beberapa jarak dari Fang Laowang.


Fang Laowang mengerutkan keningnya. "Mengapa ... tentang apa?"


Xiao Mingyui ikut mengerutkan keningnya heran. "Bukankah seharusnya anda sudah mengetahui hubungan buruk Xiao Wangfu dan Fang Fu? Mengapa anda menolong saya?"


Fang Laowang tersenyum tipis, lalu menjawab,"Jawaban seperti apa yang ingin yang mulia dengar?"


Xiao Mingyui mengepalkan kedua tangannya, apa ini jebakan? Apa Fang Laowang sedang bermain-main dengannya?