The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 61. 'Menemani' Sementara



Xiao Mingyui berjalan keluar dari ruang berdoa, lalu tiba-tiba dari samping muncul Fang Laowang yang muncul hendak masuk ke dalam ruang berdoa.


"Tuan muda Fang?"


"Eh? Putri Mingyui?" Fang Laowang segera membungkuk ke arah Xiao Mingyui.


"Apa anda ingin berdoa di Kuil ini juga?" tanya Xiao Mingyui, dia berbicara seolah tidak ada kejadian canggung apa pun kemarin malam.


Raut wajah Fang Laowang terlihat sedikit lelah, seolah pria itu tidak tidur semalaman. Fang Laowang memaksakan senyum tipis, hatinya diam-diam terasa diremas ketika melihat Xiao Mingyui bertingkah seperti biasa.


"Tidak, saya kemari ingin mengambil pesanan dupa ibu saya. Kebetulan sekali ibu saya sangat menyukai dupa yang diproduksi secara pribadi oleh Kuil ini," jawab Fang Laowang.


Xiao Mingyui mengangguk mengerti, kemudian berkata,"Ah ... begitu, baiklah. Saya permisi, sampai jumpa dan--"


"Tunggu dulu, yang mulia." Fang Laowang memotong, wajahnya yang lelah terlihat ingin menyampaikan sesuatu.


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin. "Jika anda ingin mengungkit perbincangan kemarin malam maka--"


"Tidak. Bukan itu."


"Lalu? Anda ingin mengancam saya menggunakan kejadian tadi malam?" tanya Xiao Mingyui, langsung menembakkan kemungkinan terburuk di kepalanya.


Fang Laowang menggeleng. "Tidak, bukan itu. Tolong berikan saya satu kesempatan untuk berbincang dengan Anda."


"Kalau begitu sebutkan intinya sekarang," jawab Xiao Mingyui tegas, kedua matanya masih menatap tajam Fang Laowang.


"Ini tentang Anda, saya, Xiao Wangye, Putra Mahkota, dan seluruh dataran Kekaisaran ini," ucap Fang Laowang, lalu terdiam beberapa detik dan melanjutkan,"Saya bersedia berada di pihak Anda."


Xiao Mingyui membelalakkan matanya, tubuhnya kini bergerak menghadap Fang Laowang sempurna. Xiao Mingyui kemudian melirik dingin ke paviliun yang tidak jauh dari Kuil, lalu berkata,"Kita bisa bicara di sana."


Fang Laowang mengangguk setuju, mereka pun akhirnya berjalan bersama menuju paviliun Kuil. Di sana, mereka mulai berdiskusi. Fang Laowang menjelaskan alasannya bersedia bergabung di kubu Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing. Dia menyampaikan rasa ketidaksetujuannya atas pemberontakan yang direncanakan ayahnya, Fang Jichang.


Mendengar cerita Fang Laowang, Xiao Mingyui langsung dapat segera memverifikasi kebenaran dari dugaan keluarga Fang yang hendak melakukan pemberontakan bersama Huan Tenggara.


"Apa jaminannya agar saya percaya dengan seluruh kalimat anda?" tanya Xiao Mingyui setelah mendengarkan cerita Fang Laowang cukup lama.


Fang Laowang pun menjadi lebih serius, lalu berkata,"Ibu saya. Baru-baru ini ibu dan ayah saya memiliki permasalahan cukup serius, ayah saya hampir membunuh ibu saya. Oleh karena itu untuk melindungi ibu saya, saya berniat untuk menyembunyikan ibu saya di suatu tempat. Tempat itu berada pojok bagian selatan Ibu Kota, anda bisa memberitahukan lokasi itu kepada ayah saya jika sewaktu-waktu saya terlihat mencurigakan."


"Apa yang dibawa oleh Fang Furen hingga Menteri Fang ingin sekali membunuhnya?" tanya Xiao Mingyui lagi.


"Ibu saya memiliki mas kawin yang cukup besar dari keluarganya di ruang bawah tanah keluarga Fang. Ruangan itu khusus untuk menyimpan mas kawin mendiang ibu saya, hingga ditutup rapat dan tak pernah dibuka. Hanya ibu saya yang memegang kunci ruangan tersebut. Ayah saya adalah manusia yang penuh ambisi besar, dia membuang sesuatu yang dianggapnya telah tidak berguna seperti ibu saya yang telah tua. Hanya ruangan penuh harta itu yang dimiliki ibu saya, dan ayah saya ingin memilikinya. Tetapi karena ibu masih hidup dan menolak keras memberikannya kepada ayah, alhasil mereka jadi sering berselisih dan kemarin malam ayah saya hampir membunuh ibu saya." Fang Laowang menceritakan permasalahan keluarganya yang dapat dijadikan senjata Xiao Mingyui untuk menyerangnya. Dia ingin Xiao Mingyui mempercayainya dengan penuh.


Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian berkata,"Baiklah, saya akan membicarakan ini dengan Xiao Wangye dan Putra Mahkota terlebih dahulu. Saya akan membantu Anda untuk bersembunyi dari Menteri Fang. Boleh saya menemui beliau?" tanya Xiao Mingyui, dia harus memastikan apa yang dikatakan oleh Fang Laowang bukanlah omong kosong.


Fang Laowang terlihat ragu. "Tetapi ... saya takut Anda akan merasa tidak nyaman karena tempatnya yang tidak begitu--"


"Tidak masalah. Saya tidak akan keberatan," potong Xiao Mingyui, kemudian berdiri dan berjalan ke arah keretanya.


"Ayo, tuan muda Fang. Tunggu apa lagi?" tanya Xiao Mingyui sambil menoleh ketika hendak naik ke atas kereta kudanya.


Fang Laowang tersadar, kemudian dia bergegas berlari ke arah kudanya dan menuntun kereta kuda Xiao Mingyui menuju tempat persembunyian ibunya yang berada di pojok Selatan Ibu Kota.


Sesampainya di sana, Xiao Mingyui turun dari kereta kuda dan melihat bangunan sederhana, namun kayunya terlihat sangat kokoh dan cukup mahal.


"Mari, yang mulia." Fang Laowang menyadarkan Xiao Mingyui yang sedikit melamun memperhatikan bentuk sederhana bangunan di hadapannya.


Di sekitar sini hanya ada pohon besar dan hamparan rumput hijau, jarang sekali ada orang yang melewati jalanan ini. Tepat di belakang rumah ini terdapat hamparan hutan luas.


"Silahkan duduk, saya akan memanggil ibu saya terlebih dahulu. Sepertinya ibu saya masih terti--"


"Tidak perlu jika beliau masih tertidur, Tuan muda Fang. Saya tidak ingin--" Ketika Xiao Mingyui memotong kalimat Fang Laowang, tiba-tiba sosok wanita yang kurus namun masih dapat terlihat wibawanya sebagai wanita bangsawan terhormat muncul sambil mengenakan tongkat.


"Siapa yang kau ajak kemari, Wang'er?" tanya Han Silue sambil sedikit tertatih mendekat ke arah putranya.


Begitu melihat Xiao Mingyui, Han Silue segera mengerutkan keningnya dalam. Dia tidak mengenal Xiao Mingyui karena memang sudah lama sekali tidak pernah keluar dan berbaur dengan para bangsawan lainnya, wanita itu terlalu lama dikurung di Fang Fu.


"Putri Xiao Mingyui?!" Han Silue terkejut, kemudian dia menatap Xiao Mingyui lebih lekat dan dalam. Ketika wanita itu hendak berdiri untuk memberi salam, Xiao Mingyui dengan cepat mencegahnya.


"Furen, anda tidak perlu membungkuk kepada saya. Bagaimana pun Anda adalah orang tua, seharusnya saya yang membungkuk," ucap Xiao Mingyui, kemudian berdiri dan membungkuk singkat ke arah Han Silue.


Fang Laowang yang melihat ini tanpa sadar tersenyum, dia senang melihat Xiao Mingyui yang lembut sekaligus perhatian kepada ibunya.


Han Silue tersenyum, lalu berusaha mendekatkan duduknya dengan Xiao Mingyui dan menggenggam tangan Xiao Mingyui.


"Maafkan aku yang sempat melupakan sosokmu, semakin tua memori dan pengelihatanku menjadi semakin buruk." Han Silue tersenyum tulus, dia sangat bahagia bertemu dengan Xiao Mingyui.


"Karena rumah ini masih sangat baru, jadi tidak ada makanan atau minuman. Oleh karena itu saya izin keluar sebentar untuk membeli makanan dan minuman di pasar," ujar Fang Laowang, dia berniat untuk keluar sebentar.


Han Silue mengangguk setuju. "Benar, tolong cepat, nak. Kita tidak bisa memberikan tamu terhormat piring yang kosong terlalu lama."


Xiao Mingyui tersenyum lagi. "Fang Furen, anda tidak perlu repot. Saya hanya--"


"Tidak apa-apa, yang mulia." Kemudian Han Silue menoleh lagi ke arah anaknya. "Ayo, cepat, Wang'er."


"Baiklah ...." Fang Laowang terkekeh, kemudian membungkuk ke arah Xiao Mingyui dan ibunya sebelum akhirnya pergi.


Setelah kepergian Fang Laowang, Xiao Mingyui dan Han Silue berbincang berdua. Wanita tua itu terlihat sangat rapuh, namun dia masih dapat berbicara hangat dan penuh semangat saat ini.


"Sepertinya Wang'er menyukai Anda." Han Silue tiba-tiba berkata demikian, membuat Xiao Mingyui tersenyum canggung.


"Mengapa Anda dapat berpikir demikian?" tanya Xiao Mingyui.


"Kedua sorot mata pria itu. Aku adalah wanita yang melahirkan sekaligus mengasuhnya, aku hafal setiap gerak gerik dan tatapan mata anak itu menyiratkan apa. Dan ketika aku melihat dia menatapmu, tatapannya semakin melembut. Dia, sepertinya menemukan kebahagiaan baru di diri Putri Mingyui." Han Silue tersenyum hangat.


Pandangan mata Xiao Mingyui sedikit menunduk, kemudian dia menatap Han Silue lagi dan berkata,"Saya telah memiliki pertunangan dengan Putra Mahkota."


Han Silue tertegun, dia terlihat sedikit terkejut. Tetapi kemudian dia berkata dengan tenang. "Ah ... sekarang aku mengetahui apa yang membuatnya kesulitan membuat pilihan." Han Silue berhenti sejenak, kemudian tersenyum lebih dalam dan hangat menatap Xiao Mingyui. "Karena di dua pilihan itu bukan hanya tentang jalan yang benar dan salah, tetapi cinta atau diriku, keluarganya."


Xiao Mingyui menundukkan sedikit kepalanya, dia tidak keberatan menunduk di hadapan orang yang lebih tua. Apa lagi, Han Silue dan mendiang ibunya memiliki umur yang sama. Xiao Mingyui dapat merasakan kehangatan seorang ibu begitu melihat Han Silue.


"Maafkan saya."


Tangan kanan Han Silue bergerak lembut untuk mengelus pipi Xiao Mingyui. "Yang mulia tidak perlu meminta maaf, ini bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Tetapi, aku mempunyai satu permintaan kepada Anda."


"Mengenai apa?" tanya Xiao Mingyui.


"Tolong tetap berhubungan baik dengan putraku. Meskipun kalian tidak akan pernah menjadi sepasang kekasih, namun setidaknya kalian berteman dengan baik. Laowang adalah putra yang baik, meskipun hanya dapat berteman denganmu dia pasti akan merasa cukup. Sejak kecil kebahagiannya selalu dibatasi oleh Menteri Fang, maka dari itu ... saat ini, sebelum aku mati, aku ingin melihatnya bahagia. Setidaknya, temani dia sampai aku mati dan kemudian yang mulia dapat merubah semuanya kembali dari awal. Hanya teman." Han Silue mengatakan itu sambil meneteskan air mata.


Xiao Mingyui terdiam. Permintaan Han Silue sangat sulit untuk dikabulkan, karena dengan kata lain Han Silue meminta Xiao Mingyui untuk 'menemani' Fang Laowang sementara waktu sampai wanita itu meninggal. Bagaimana mungkin bisa? Tidak peduli itu sementara atau tidak, dia adalah tunangan Putra Mahkota, Xiao Jiwang!


"Putri Mingyui, saya yang tua dan rendah ini memohon ...." Han Silue menangis memohon, bahkan dia hendak berlutut dalam jika Xiao Mingyui tidak menahan gerakannya.


"Harta saya satu-satunya adalah anak saya, Fang Laowang," ucap Han Silue.


Deg!


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya semakin dalam, karena kalimat Han Silue barusan mengingatkannya kepada mendiang ibunya, Huang Mingxiang. Dulu, ibunya juga sempat mengucapkan kalimat seperti itu di depan umum untuk Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing.


Melihat wanita tua yang seumuran dengan ibunya memohon dan menangis seperti ini, terlebih dia mengatakan kalimat yang langsung menyentuh hati serta memori Xiao Mingyui, hati Xiao Mingyui menjadi gelisah tak karuan.


"Fang Furen, tenanglah. Saya--"


"Anda setuju, bukan?" tanya Fang Furen, air matanya masih mengalir, kedua tangannya menggenggam erat tangan Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui diam, dia tidak mengucapkan apa pun, namun Fang Furen tiba-tiba tersenyum cerah dan memeluk Xiao Mingyui.


"Terima kasih banyak, Putri Mingyui."


Xiao Mingyui menggertakkan giginya. Sial, dia tidak bisa menolak. Han Silue benar-benar mengingatkannya pada mendiang ibunya, menyentuh titik lemah Xiao Mingyui tanpa sadar.