The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 59. Wanita Dengan Mahkota Termegah



"Sepertinya waktu kita sudah habis. Tuhan pasti akan mempertemukan kita. Aku mencintaimu ... Xiao Mingyui, tulang rusukku."


>>>>>>


Xiao Mingyui tersentak bangun dari tidurnya, wanita itu bangun dengan keringat yang telah mengucur deras. Napasnya terengah-engah, seolah apa yang dia rasakan di mimpi barusan adalah kejadian nyata.


Xiao Mingyui memijat pelan keningnya, masih ada sisa rasa pening di kepalanya karena mimpi tadi. Melirik ke jendela kamarnya, sudah cukup siang.


"Bingbing." Xiao Mingyui memanggil Bingbing yang sudah siap melayani dirinya sejak pagi dini hari.


Tak lama pintu kamar Xiao Mingyui terbuka, sosok Bingbing masuk dengan raut wajah cemas.


"Yang mulia, apa anda sakit? Hari ini anda bangun lebih lama dari biasanya, saya khawatir." Bingbing menatap cemas ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja. Sekarang, bantu aku. Entah mengapa tubuhku terasa lemas hari ini."


Bingbing dengan patuh dan penuh perhatian mengangguk, wanita itu gesit membantu Xiao Mingyui seperti biasa.


Setelah siap dan selesai mandi sekaligus merias diri, Xiao Mingyui memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Hari ini adalah jadwalnya untuk mengunjungi Chuan Wuqi, toko bisnis senjata ternama Ibu Kota peninggalan ayahnya. Sebelum pergi dia memutuskan untuk memeriksa data terakhir yang disetorkan oleh kepala pelayan atau pegawai di sana.


Di tengah kesibukannya, Xiao Mingyui kembali mengingat akan mimpinya. Terutama kalimat Utusan Agung yang mengatakan bahwa dirinya adalah tulang rusuk sekaligus kepingan hati pria itu dan ... Di Fuyi, nama asli Utusan Agung.


Xiao Mingyui menutup dokumen di tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Bingbing yang melihat ini tanpa bertanya bergegas keluar menuju dapur untuk membuat teh hangat.


Tak lama Xiao Mingyui menemukan keanehan di mimpinya semalam, yaitu ... setelah masuk ke dalam mimpinya dan bertemu dengan Utusan Agung, Xiao Mingyui tidak mengingat apa pun selain fokus kepada Utusan Agung. Xiao Mingyui sama sekali tidak mengingat masalah lain, pikirannya seolah kosong dan hanya fokus pada satu titik. Dia tidak mengingat Xiao Jiwang, Xiao Xiangqing, dan yang lainnya. Mimpi itu seperti telah 'diatur' hanya untuk membahas pertemuan mereka. Tetapi ... bagaimana mungkin ada yang seperti itu? Mengatur mimpi? Terdengar sangat mustahil.


"Yang mulia, minum teh ini. Anda terlihat sangat penat, apa saya perlu membatalkan jadwal anda mengunjungi Chuan Wuqi hari ini?" tanya Bingbing sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui menggeleng pelan, kemudian mengambil cangkir tersebut dan mulai menyeruputnya. Satu sampai dua teguk, Xiao Mingyui meletakkannya kembali di atas mejanya lalu bergegas berdiri.


"Ayo, kita ke Chuan Wuqi sekarang," ucap Xiao Mingyui, setelah itu langsung berjalan keluar dari ruangannya menuju halaman dengan Xiao Wangfu untuk naik ke kereta kuda.


Begitu berhasil naik ke kereta kuda Xiao Wangfu, kereta kuda itu bergegas melaju keluar dari Xiao Wangfu menuju Chuan Wuqi. Suasana di Ibu Kota terlihat ramai seperti biasa, tidak berubah sama sekali.


Berhasil tiba di Chuan Wuqi, Xiao Mingyui turun dengan dibantu oleh Bingbing. Seluruh pegawai Chuan Wuqi sudah menunggu dan bersiap sejak pagi tadi untuk menyambut kedatangan Xiao Mingyui.


"Bawahan yang rendah ini memberi salam kepada yang mulia Putri Mingyui."


Xiao Mingyui mengangguk, lalu melirik ke kepala pelayan yang telah mengelola Chuan Wuqi sejak zaman kedua orang tuanya masih hidup dan baru menikah. Dong Gusha, pria itu diangkat menjadi kepala pelayan yang mengurus Chuan Wuqi sejak muda, hingga kini ia mulai tua dan masih setia kepada Xiao Wangfu.


"Yang mulia, mari kita masuk ke dalam." Dong Gusha tersenyum ramah ke arah Xiao Mingyui, kemudian secara pribadi mengantar Xiao Mingyui ke ruang kerjanya.


Tiba di ruang kerja, Xiao Mingyui dipersilahkan duduk di kursi pria itu. Sejak Huang Mingxiang meninggal, Xiao Mingyui lah yang diberikan kepercayaan oleh Xiao Muqing ayahnya untuk mengelola Chuan Wuqi.


"Apa Tuan besar Rong akan datang hari ini? Mengingat pria itu ada di Ibu Kota bulan ini," tanya Xiao Mingyui.


Dong Gusha menggelengkan kepalanya pelan. "Tuan besar Rong tidak menitipkan surat apa pun mengenai kedatangannya bulan ini, sejak dulu beliau lebih sering datang tanpa surat. Sehingga kami tidak dapat mengetahui kapan beliau akan berkunjung."


Xiao Mingyui mengangguk, lalu dia menutup buku laporan itu kembali. Keuntungan bulan ini sangat besar, bahan baku pembuatan senjata juga masih sangat aman. Xiao Mingyui bisa tenang, Dong Gusha benar-benar mengurus Chuan Wuqi dengan sangat baik.


Xiao Mingyui berdiri, kemudian berjalan keluar ruang kerja Dong Gusha sambil berkata,"Aku ingin memeriksa seluruh sudut Chuan Wuqi secara pribadi."


"Baik, mari saya antar." Dong Gusha mengangguk ramah, lalu menemani Xiao Mingyui berkeliling toko Chuan Wuqi yang sangat luas.


Sementara itu di puncak gunung Lang Tao, Istana Utusan Agung, Di Fuyi duduk di singgasana-nya.


"Uhuk! Uhuk!" Di Fuyi terbatuk keras, tangan kanannya yang menggenggam sapu tangan segera menutup mulutnya rapat. Begitu dia menurunkan tangannya, Di Fuyi melihat noda darah di sapu tangan putihnya.


"Yang mulia, ini--"


"Tidak apa-apa, aku baik." Di Fuyi tersenyum, kemudian membalik lipatan sarung tangannya agar noda darah tadi tidak terlihat.


"Sepertinya anda terlalu banyak menggunakan energi untuk membangun dunia mimpi di alam bawah sadar putri Mingyui," ucap Baobao menatap majikannya khawatir.


Di Fuyi terkekeh kecil, saat mulutnya menyunggingkan senyum wajahnya benar-benar menawan. Senyuman pria itu mampu menambah kehangatan ruangan sekaligus memunculkan angin sejuk, dia benar-benar indah.


"Benar, aku sepertinya menggunakan durasi yang terlalu lama." Di Fuyi menghela napas tipis, namun dia tidak menyesali keputusannya. Dia sangat merindukan Xiao Mingyui, namun karena ada aturan penting yang harus dia patuhi, yaitu tidak boleh turun ke dunia manusia begitu saja tanpa kepentingan dan perintah Tuhan yang mutlak, Di Fuyi hanya bisa melakukan hal ini. Rasa sakit yang dia rasakan sekarang sangat sepadan dengan perasaan rindu yang akhirnya terbayarkan.


Bukan persoalan mudah dan kecil untuk membangun dunia mimpi yang dapat diatur di alam bawah sadar orang lain. Hanya sebentar saja, seperti dua sampai tiga menit, setengah energi pengguna ilmu ini akan langsung terkuras habis. Dan Di Fuyi, pria itu nekat memaksakan dirinya untuk menggunakan seluruh energinya untuk membuat dunia mimpi berdurasi sepuluh menit. Jika lebih dari itu dan masih ingin memaksakan diri lagi, maka jiwa Di Fuyi bisa saja hancur.


"Anda tidak boleh sering menggunakannya, yang mulia Agung. Ini sangat berbahaya." Baobao mengerutkan keningnya, dia berbicara serius kali ini.


Utusan Agung terkekeh lagi, kepalanya mengangguk kecil. Kemudian, mata Di Fuyi bergeser ke arah cermin besar yang ada tepat di hadapannya. Jari telunjuknya bergerak indah menunjuk cermin tersebut, lalu tak lama permukaan cermin itu bergerak bergelombang, perlahan tapi pasti, cermin itu menampilkan sosok Xiao Mingyui yang sedang sibuk berada di Chuan Wuqi.


Bibir Utusan Agung tersenyum dalam. "Aku ingin menjadikannya wanita dengan mahkota termegah yang ada di alam semesta ini, Baobao. Sosoknya sangat indah, dia Maharani Agung yang sempurna."


Baobao mengangguk setuju, bibirnya juga ikut tersenyum.


Di Fuyi menghela napas tipis. "Seandainya aku tidak membuat kecerobohan saat itu."


Baobao menatap Di Fuyi lagi, lalu berkata,"Saya adalah saksi bahwa Putri Mingyui terbuat dari tulang rusuk dan kepingan hati anda. Beliau pasti akan kembali ke sisi Anda di singgasana ini, yang mulia Agung."


Di Fuyi mengangguk, matanya menatap semakin dalam sosok Xiao Mingyui yang muncul di permukaan cerminnya. "Aku harap begitu, Baobao ...."