
"Terlepas dari iya atau tidaknya jawabanku, takdir untuk mendampingi dan mencintai Putra Mahkota seumur hidup adalah sebuah kewajiban. Begitu juga bila Putra Mahkota memiliki selir setelah pernikahan nanti, kewajibanku untuk mendampingi dan mencintai Putra Mahkota tak akan pernah putus."
Xiao Mingyui mengingat jawabannya atas pertanyaan yang dilontarkan Lu Fenghua. Saat ini dia sedang berjalan keluar dari Istana kediaman Lu Fenghua. Setelah menghabiskan waktu cukup lama di sana, Xiao Mingyui bergegas pulang.
Dia memutuskan untuk berjalan kaki menuju kereta kudanya, otomatis dia harus melewati paviliun utama Istana. Ketika Xiao Mingyui hendak melewati paviliun utama Istana, dia melihat Xiao Jiwang dan putri Xie Wanting baru saja keluar dari paviliun dan kini berjalan di hadapannya.
Jarak mereka tidak terlalu dekat, membuat Xiao Jiwang tidak menyadari kehadiran Xiao Mingyui setelah dirinya keluar dari Paviliun bersama Xie Wanting.
Xiao Mingyui yang melihat sosok Xiao Jiwang pun otomatis membungkuk. "Yang mulia."
Xiao Jiwang tak kunjung menoleh, bahkan setelah Xiao Mingyui kembali menegakkan badannya. Tetapi, ketika dia masih memperhatikan mereka berdua, dia melihat Xie Wanting menoleh namun tidak mengatakan apa pun padanya atau Xiao Jiwang. Wanita itu kembali menatap lurus ke depan, seolah mereka tidak pernah saling melihat sebelumnya.
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya sekilas, pandangan matanya mendingin. Diam-diam dia mulai merasa tidak nyaman dengan sikap Xie Wanting, lagi pula ... ke mana Mo Wanwan? Putri utusan Kekaisaran Barat. Di mana wanita itu? Mengapa hanya ada mereka berdua di sini?
Xiao Mingyui menarik napas dingin, kemudian melangkah untuk mendekati mereka. Setelah dekat, Xiao Mingyui meraih kain pakaian Xiao Jiwang.
"Yang mulia."
Xiao Jiwang dengan cepat menoleh, matanya menatap Xiao Mingyui sedikit terkejut. "Kamu di sini?"
Xiao Mingyui melirik Xie Wanting sekilas, wanita itu terlihat sedikit tidak senang. Raut wajahnya mengatakan seolah dia sangat terganggu dengan kehadiran Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui kembali membungkuk, bibirnya tersenyum tipis seolah tidak ada kejadian apa pun sebelumnya. "Benar, saya baru saja selesai mengunjungi Wu Guifei dan Lu Fei niangniang."
Xiao Jiwang melirik hiasan rambut Xiao Mingyui, ketika menyadari bahwa wanita itu tidak mengenakan tusuk rambut yang sempat ia belikan, raut wajahnya sedikit mengalami perubahan.
"Uhuk ... yang mulia, di sini terasa sangat dingin ...." Nada bicara yang lemah dan manja terdengar, membuat Xiao Mingyui menggeser tatapannya kembali menatap Xie Wanting. Kedua mata Xiao Mingyui datar memperhatikan Xie Wanting.
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya, ada tatapan ketidaknyamanan di matanya. Pria itu menoleh dan berkata,"Aku akan mengantarmu kembali secara pribadi ke Xiao Wangfu, maka dari itu tunggu aku di paviliun utama. Aku hendak mengantar putri Xie Wanting terlebih dahulu."
Xiao Mingyui mengangguk, dia sedikit bingung ketika mendengar Xiao Jiwang ingin mengantarnya secara pribadi. Seolah pria itu sengaja berbicara demikian agar memiliki alasan untuk cepat pergi dari sesuatu (?).
Xie Wanting menatap Xiao Mingyui dingin, Xiao Mingyui yang menyadari tatapan Xie Wanting sama sekali tidak gentar. Dia justru merasa lucu karena Xie Wanting memberikannya tingkah aneh, padahal sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah bertemu selain acara kemarin.
Setelah Xie Wanting membungkuk ke arah Xiao Mingyui dan Xiao Mingyui membungkuk ke arah Xiao Jiwang, mereka pun berpisah. Xiao Mingyui berjalan ke arah paviliun utama dengan tenang, sementara Bingbing terlihat sangat tidak senang.
"Yang mulia, apa anda memperhatikan tatapan dan tingkah putri kerajaan Huan Tenggara itu?" tanya Bingbing, dia terlihat lebih kesal dari pada Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Ada apa dengannya?"
Bingbing mendengus. "Dia seperti wanita penggoda rendahan! Lihat saja dari sorot matanya kepada Anda, sama sekali tidak sopan! Bahkan jika dia adalah seorang putri, dia masih jauh berada di bawah anda! Hanya seorang putri kerajaan kecil namun terlihat sangat sombong! Apa yang dikatakan putri Feluan adalah benar!"
Xiao Mingyui terkekeh. "Bingbing, tenangkanlah dirimu. Mungkin kepribadian yang dia miliki memang seperti itu, dan mungkin saja caranya menatap orang memang seperti itu juga. Kita tidak bisa memberikan penilaian pasti begitu saja dengan orang yang baru kita temui satu atau dua kali."
Xiao Mingyui menunggu kedatangan Xiao Jiwang cukup lama, sampai langit terlihat akan menggelap. Bingbing mulai semakin gelisah, dia khawatir terhadap perasaan majikannya.
Sementara Xiao Mingyui, dia duduk di kursi paviliun dengan tenang. Terlihat tidak peduli walaupun dia sudah menunggu cukup lama.
"Yang mulia, mengapa Putra Mahkota tak kunjung datang?" tanya Bingbing.
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Mungkin dia memiliki urusan dengan Kaisar secara mendadak. Kita tidak bisa pergi begitu saja karena yang mulia telah--"
"Putri Mingyui." Suara seorang wanita yang terdengar dewasa dan tegas membuat Xiao Mingyui dan Bingbing menoleh.
Xiao Mingyui menatap sosok wanita itu yang kini tengah membungkuk ke arahnya, tatapan mata Xiao Mingyui yang dingin seperti biasa membuat wanita itu diam-diam gugup.
Putri Mo Wanwan, putri utusan Kekaisaran Barat. Kini berdiri tepat di hadapannya.
"Iya?" tanya Xiao Mingyui, wanita itu tak berdiri dari kursinya karena secara 'silsilah' Kekaisaran Timur, Xiao Mingyui adalah sepupu Kaisar, yang berarti senior Putra Mahkota. Sedangkan Putri Mo Wanwan adalah putri yang memiliki generasi yang sama dengan Putra Mahkota.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Mo Wanting.
Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian matanya melirik kursi kosong di sebelahnya. "Tentu saja, silahkan duduk."
Sementara itu Xiao Jiwang kini tengah berada di taman Istana bersama Xie Wanting, raut wajah pria itu terlihat sangat tidak senang. Xie Wanting dengan berbagai macam alasan menahannya untuk kembali menemui Xiao Mingyui.
"Putri Xie, sepertinya lebih baik jika sekarang juga anda kembali ke kediaman dan beristirahat jika tubuh anda terasa semakin lelah. Bukankah itu yang anda keluhkan sebelumnya?" ucap Xiao Jiwang, dia mulai menunjukkan ketidaknyamanannya secara terang-terangan.
Xie Wanting melirik Xiao Jiwang, kemudian menjawab,"Yang mulia, apa anda merasa tidak senang menemani saya? Maafkan saya karena terlalu merepotkan ...." Wajah cantik lembut milik Xie Wanting terlihat sedih.
Xiao Jiwang menghela napas gusar. "Sesuai yang anda tahu, tunangan saya telah menunggu lama di paviliun utama sekarang. Jika anda sudah merasa kelelahan karena berkeliling, alangkah baiknya kembali dan tidak memaksakan diri lagi. Karena itu dapat memberikan dampak buruk untuk diri anda sendiri."
Xie Wanting tersenyum tipis, kedua matanya yang manis menatap Xiao Jiwang. "Anda membuat utusan luar Kekaisaran merasa tidak nyaman, apakah yang mulia mengetahui konsekuensinya? Saya kemari mewakili Kerajaan Huan Tenggara. Sikap yang mulia yang seperti ini sama sekali tidak membuat saya nyaman, seperti keberatan mendampingi saya sebagai seorang tamu asing."
"Hah?" Xiao Jiwang perlahan mulai kehilangan kesabaran, dia menghilangkan kesopanan dalam berbicaranya. Xiao Jiwang memiliki batas.
"Apa menurut anda tunangan anda dan perwakilan sebuah kerabat Kekaisaran anda lebih penting tunangan? Jika tunangan anda adalah wanita yang pantas mengisi kehormatan bersama anda, seharusnya dia tidak merasa bermasalah jika anda sibuk karena--"
"Tutup mulut sampahmu itu." Xiao Jiwang menatap tajam Xie Wanting.
Xie Wanting terkejut, dia tidak menyangka Xiao Jiwang berani mengatakan hal tersebut kepadanya. Dia berpikir pria itu akan segan menolak segala macam permintaan atau perkataannya karena dia adalah utusan Kerajaan Huan Tenggara.
Xiao Jiwang berbalik, sebelum pergi pria itu berkata,"Jangan karena anda adalah utusan Kerajaan Huan Tenggara, anda dapat berkomentar seenaknya mengenai tunangan dan hubungan saya. Saya akan melupakan kalimat sampah anda, harap jangan diulangi lagi. Segera kembali ke kediaman anda."
Xie Wanting masih terkejut, wanita itu berdiri mematung menatap punggung dingin Xiao Jiwang yang perlahan menjauh.