
Tujuh hari berlalu setelah hari di mana Xiao Mingyui menceburkan dirinya ke dalam sungai penuh buaya untuk Xiao Jiwang. Wanita itu kini telah pulih dari kondisi kakinya yang sempat terkilir beberapa waktu lalu.
Di tangan Xiao Mingyui kini terdapat satu amplop berwarna putih dengan ukiran bunga cantik berwarna ungu. Amplop yang dia pegang adalah undangan pesta khusus yang akan digelar di Istana. Tidak semua bangsawan yang mendapatkan undangan, hanya keluarga kerajaan serta bangsawan kelas satu dan dua.
Keluarga keluarga yang akan hadir di pesta nanti adalah seluruh keluarga kerajaan, marga Fang, Huang, Chen, Gu, Wu. Seharusnya keluarga Rong hadir, namun karena sang Tuan Rumah, yaitu Rong Wangxia, sering berpergian ke luar Kekaisaran, setiap kali ada pesta atau acara besar lainnya, pria itu tidak pernah muncul. Semenjak 'pembersihan' yang dilakukan Kaisar atas kasus marga Rong, Rong Wangxia menjadi satu-satunya orang yang selamat. Pria itu semakin jarang terlihat, bahkan yang seharusnya setiap lima tahun sekali kembali, pria itu tak kunjung terlihat. Kaisar dan terutama pihak Xiao Wangfu selalu menunggu kepulangan pria itu, sebab jasa yang pernah dia berikan untuk mengupas kejahatan keluarganya sendiri adalah hal yang besar. Kaisar tetap selalu mengirimkan undangan ke Rong Fu setiap kali ada acara walaupun pria itu tak pernah muncul.
Xiao Mingyui meletakkan undangan itu di meja, kemudian melirik Bingbing dan bertanya,"Apa Xiangqing telah mengetahui ini?"
Bingbing mengangguk. "Sudah, yang mulia. Tetapi ... sepertinya Pangeran tidak terlalu tertarik. Hari ini saya tidak sengaja mendengar percakapan Pangeran dengan tuan Gu Lingchu, katanya mereka hendak bermalam di markas Ibu Kota tentara Xiao Wangfu untuk mengadakan rapat besar."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, lalu terlihat merenung. Belakangan ini, Xiao Xiangqing selalu menghindarinya. Anak itu menolak makan malam bersama ataupun berdiskusi sebentar dengannya. Semenjak hari di mana dia tahu Xiao Mingyui rela terjun ke sungai penuh buaya untuk mengikat Putra Mahkota, anak itu benar-benar terlihat murung. Terakhir kali mereka bicara adalah malam saat Xiao Mingyui baru saja kembali dari Istana dengan bantuan tongkat berjalan.
Xiao Mingyui berdiri, lalu berjalan ke arah ruang ganti pakaian sambil berkata,"Persiapkan kuda, hari ini kita akan makan siang di Markas Ibu Kota pasukan Xiao Wangfu."
Bingbing terkejut, kemudian dia mengangguk patuh. "Baik!" Wanita itu bergegas berlari keluar untuk menyiapkan perlengkapan Xiao Mingyui.
Tak berselang lama, Xiao Mingyui kini telah siap dengan pakaian yang biasa digunakan jika ingin latihan bersama mendiang ayahnya ataupun sekedar pergi ke markas pasukan. Rambut wanita itu tidak lagi disanggul, kini diikat simpel namun tetap menggunakan tusuk rambut giok putih warisan ibunya. Bajunya yang berwarna merah maroon lalu berpadu dengan warna hitam benar-benar menambahkan kesan tidak biasa di dirinya.
"Yang mulia." Bingbing muncul dengan pakaian yang tidak jauh berbeda, wanita itu memang tidak terlalu pandai bela diri, namun setidaknya dia dapat menguasai dasarnya. Wanita itu menyerahkan pedang yang biasa digunakan Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui mengambil pedangnya, pedang yang dibuat secara khusus oleh mendiang ayahnya. Setiap jengkal Ibu Kota dan barang-barang kecil sampai besar, semuanya mengandung kenangan kedua orang tuanya. Pedang dengan ukiran burung Phoenix di badan pedang adalah saksi seberapa besar perjuangan Xiao Mingyui untuk menguasai ajaran bela diri ayahnya yang di luar nalar.
"Yang mulia." Da Xuan tiba-tiba muncul, wanita itu akan selalu hadir setiap kali Xiao Mingyui mengenakan pakaian bertempur.
"Berangkat sekarang." Xiao Mingyui mengangguk singkat, lalu dengan cepat naik ke atas kuda dan memacu kudanya melewati gerbang Xiao Wangfu.
Kuda Xiao Mingyui memimpin di depan, sementara Bingbing dan Da Xuan mengikuti dari belakang. Seluruh mata tertuju padanya, Xiao Mingyui terus melaju membelah keramaian Ibu kota tanpa mempedulikan ribuan tatapan mereka.
Sesampainya di markas, pintu besar yang terbuat dari baja dibuka lebar-lebar oleh para penjaga untuknya. Seluruh tentara membungkuk dalam setiap kali melihat Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui turun dari kudanya, belum sempat dia masuk ke dalam ruangan Xiao Xiangqing, Gu Lingchu muncul dan menghentikan langkahnya.
"Salam, yang mulia."
"Di mana Xiangqing?" tanya Xiao Mingyui, mata dinginnya yang seperti biasa menatap Gu Lingchu.
Gu Lingchu tersenyum tipis, lalu semakin memperdalam posisi membungkuknya. "Maafkan saya, yang mulia. Tetapi Pangeran berpesan agar tidak menerima tamu--"
Xiao Mingyui berjalan melewati Gu Lingchu begitu saja sambil berkata,"Aku bukan tamu, aku adalah Jiejie-nya."
"Tuan Gu!" Bingbing mendengus sambil berbisik membentak ke arah Gu Lingchu.
Gu Lingchu menggaruk bagian belakang lehernya, dia juga tidak tahu harus melakukan apa selain menuruti perintah atasannya walaupun Xiao Mingyui juga sama menyeramkannya.
Da Xuan menghiraukan Gu Lingchu dan Bingbing, wanita itu kini berdiri tepat di depan pintu ruangan Xiao Xiangqing untuk berjaga sebab ada Xiao Mingyui di dalam.
Sementara itu Xiao Mingyui yang sudah berada di dalam kini saling beradu tatapan panas dan dingin dengan adiknya.
"Apa-apaan ini?" tanya Xiao Xiangqing, keningnya terlipat dalam, seolah dia tidak senang kakaknya merangsek masuk.
Xiao Mingyui mengambil posisi duduk di kursi yang ada di dalam dengan tenang. "Justru aku yang harus bertanya seperti itu. Apa-apaan semua ini? Kamu menghindari Jiejie-mu setiap saat seperti seorang musuh."
Xiao Xiangqing menghela napas, wajah tampan pria itu terlihat sangat lelah. Xiao Xiangqing bersandar di kursinya, lalu memijat keningnya pelan. "Aku tidak--"
"Kamu iya. Kamu jelas menghindariku. Ada apa?"
"Tidak ada, Jiejie."
"Astaga, sungguh tidak ada!"
Xiao Mingyui menatap kesal adiknya, kedinginan di matanya semakin terlihat. Wanita itu beranjak berdiri dan mendekat, lalu menarik pedang dari pinggangnya dan menancapkan pedang itu di atas meja kerja Xiao Xiangqing. "Xiangqing!!"
Xiao Xiangqing terkejut, pria itu spontan berdiri untuk mengambil jarak dengan pedang kakaknya. "Hei! Baiklah, aku jujur! Aku tidak begitu senang saat mendengar kabar bahwa Jiejie menceburkan diri di sungai penuh buaya lalu sengaja mencederai kaki sendiri demi mendapatkan Putra Mahkota!"
Xiao Mingyui tertegun, kemudian dia kembali mencabut pedangnya dan menyimpannya lagi. Kedinginan di mata Xiao Mingyui perlahan berkurang, lalu bertanya,"Hanya itu?"
Xiao Xiangqing membelalakkan matanya dan mengulangi ucapan Xiao Mingyui. "Hanya itu?!"
Xiao Mingyui menghela napas tipis, lalu kembali ke tempat duduknya semula sambil melipat kedua tangannya. Wanita itu menatap adiknya dalam. "Dengar, Xiangqing. Aku ingin bertanya. Jika kamu tidak ingin aku melakukan semua itu, apakah kamu memiliki solusi lain yang lebih baik? Kamu memiliki rencana yang lebih berkualitas? Apa saja yang sudah kamu miliki?"
Xiao Xiangqing diam. Sejujurnya dia tidak memiliki rencana apa pun untuk mengajak Putra Mahkota bergabung dengannya, karena memang sejak awal dia dan Putra Mahkota memiliki hubungan yang tidak begitu baik. Tetapi, melihat kakaknya melakukan hal-hal seperti itu bahkan terkesan sedang menggoda Putra Mahkota seperti wanita rendahan membuat darahnya mendidih. Dia lebih memilih bertarung sampai mati dari pada harus membiarkan saudari perempuannya mengambil jalan seperti itu.
Melihat adiknya terdiam cukup lama dengan raut wajah suram, Xiao Mingyui segera berdiri dan berjalan mendekati Xiao Xiangqing lagi. Wanita itu berhenti tepat di samping adiknya dan memeluk Xiao Xiangqing erat.
"Aku tahu ini berat untukmu karena harus menggantikan posisi Fu qin secara tiba-tiba, namun ... kau tidak sendirian, Xiangqing. Jika kamu tidak bisa mempercayai para pejabat, maka kamu bisa mempercayai kakakmu ini. Lupakan seluruh harga diri, gengsi, rasa takut, benci, dan marah untuk saat ini. Tidak peduli penilaian orang lain apakah itu baik atau buruk, yang jelas semua ini kita lakukan untuk mempertahankan Xiao Wangfu kita, rumah kita. Mengerti?"
Xiao Xiangqing diam di dalam pelukan kakaknya, hati pria itu terasa sangat berat. Dia lk tidak pernah menyangka bahwa kekacauan besar akan datang menghancurkan kehidupan bahagianya.
"Xiangqing, ingatkah kamu pesan Fu qin dan Mu qin dulu?" tanya Xiao Mingyui, matanya menatap jendela ruangan Xiao Xiangqing yang terbuka lebar dan menampilkan langit biru cerah dengan sangat dingin.
Xiao Xiangqing hanya mengangguk singkat, tatapannya terlihat sangat sedih dan marah.
Xiao Mingyui tersenyum, lalu berkata,"Mendiang Fu qin berpesan, jika musuh itu tidak dapat kita buat mundur secara baik-baik, maka langsung hilangkan kepalanya. Sedangkan mendiang Mu qin berpesan, jika musuh itu tidak dapat kita buat mundur secara baik-baik, maka permainkan isi kepalanya."
Xiao Xiangqing perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap Xiao Mingyui, lalu kembali menarik pandangannya dengan menatap objek kosong.
"Jiejie." Xiao Xiangqing tiba-tiba memanggil Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya singkat, lalu melepas pelukannya. "Ya?"
Xiao Xiangqing tersenyum tipis, lalu berkata,"Bagaimana jika kita menggabungkan kedua pesan itu menjadi satu?"
Xiao Mingyui tertegun, lalu mengangguk singkat. "Tentu."
Sementara itu di tempat lain, Xiao Jiwang tengah duduk di meja kerjanya dengan raut wajah serius. Di hadapannya kini berdiri Jenderal Shu dan Putra dari Menteri Wu yang sebentar lagi akan menggantikan posisi ayahnya menjadi Tuan rumah. Bisa dibilang, pria itu adalah sepupu Xiao Jiwang dari pihak ibunya.
"Yang mulia, kemungkinan besar pihak keluarga Fang akan bergerak di malam ini. Mengingat kondisi pesta pasti akan sangat ramai, membuat mereka memiliki kesempatan untuk membuat onar." Jenderal Shu menyampaikan pendapatnya, dia sangat yakin dengan pendapatnya yang ini.
Hari ini mereka berkumpul untuk membahas keluarga Fang, karena kemungkinan mereka akan kemabli bergerak malam ini.
"Tetapi sepertinya malam ini mereka bukan mengusik Putra Mahkota," ucap Wu Lang, membuat Jenderal Shu menatapnya bingung.
Xiao Jiwang yang mengerti tersenyum tipis, namun dia tidak mengatakan apa pun.
"Lalu siapa?" tanya Jenderal Shu.
Wu Lang menatap Xiao Jiwang, lalu menjawab,"Putri Xiao Mingyui, mengingat nama beliau baru-baru ini gencar disandingkan dengan Putra Mahkota. Dan lagi, bukankah keluarga Fang juga mengincar pasukan Xiao Wangfu secara diam-diam?"
Jenderal Shu terdiam, kepalanya mengangguk singkat setuju.
Xiao Jiwang memperdalam senyumannya, bersamaan dengan itu tatapannya pun mendingin. "Kita lihat saja nanti malam, mengenai peran apa yang sudah ditentukan oleh keluarga Fang untuk kita. Entah peran sebagai penonton atau pemain?"