
"Mungkin ... Putri Xie dapat menjelaskannya kepada yang mulia?"
"A--apa?!" Xie Wanting yang terkejut mulai berkeringat dingin, dia diam-diam mencengkeram kain hanfu-nya di bawah meja.
>>>>>>>>>
Dua orang pengawal Xiao Wangfu masuk dengan menyeret seorang pria pingsan tak sadarkan diri tepat ke samping Xiao Mingyui. Pria itu tergeletak lemah, sepertinya Xiao Mingyui benar-benar menghajar keras pria itu.
Xiao Mingyui lalu mengeluarkan sebuah plakat yang sempat dia ambil dari pria tersebut, lalu mengangkatnya cukup tinggi agar dapat dilihat oleh semua orang.
"Ini adalah plakat yang melambangkan identitas anggota militer Kerajaan Huan Tenggara. Saya tidak bodoh dan telah menjalani pelajaran militer sejak lahir. Bahkan jika saya mengada-ngada, berdirinya saya di sini mewakili wajah Kekaisaran Timur dan Xiao Wangfu. Mempertaruhkan kehormatan besar kedua mendiang orang tua saya." Lalu Xiao Mingyui berhenti sejenak untuk memberikan jeda dan menatap Xiao Jiwang, kemudian berkata,"Yang mulia! Anda harus mempercayai ucapan saya. Putri Xie adalah mata-mata Huan Tenggara! Negara itu tak pernah puas dengan kedamaian yang telah susah payah ayah saya usahakan!"
"Omong kosong! Putri Mingyui benar-benar ingin menjatuhkan nama baik saya!" Xie Wanting berdiri, lalu berjalan ke tengah ruangan dan berdiri tidak jauh dari Xiao Mingyui. Mata wanita itu menatap tajam Xiao Mingyui sebelum akhirnya dia kembali menatap Xiao Jihuang dan berkata,"Yang mulia! Saya difitnah! Ini adalah akal-akalan putri Mingyui karena tidak merasa senang saya dan Putra Mahkota memiliki hubungan pertemanan yang baik! Kedatangan saya kemari murni untuk mewakili Kerajaan Huan Tenggara, namun siapa sangka putri Mingyui berani memperlakukan saya dengan hina seperti ini! Anda mungkin boleh cemburu, namun tidak perlu sampai menjatuhkan nama baik saya dan Kerajaan Huan Tenggara! Kalimat Anda barusan--!"
"Dapat menimbulkan konflik serius untuk dua negara?" Xiao Xiangqing berdiri, lalu memotong kalimat Xie Wanting tanpa peduli. Pria itu berjalan mendekati Xiao Mingyui, lalu menatap tajam Xie Wanting. "Bahkan jika peperangan harus terjadi, benwang yang akan bertanggungjawab."
Xie Wanting tercekat, dia sedikit takut untuk menghadapi Xiao Xiangqing secara langsung.
Xiao Xiangqing lalu melanjutkan bicaranya. "Anda bilang 'akal-akalan' saudari benwang? Dengar, saudariku tidak sebodoh itu dalam menyikapi percintaan. Bukankah memang Anda yang tidak tahu diri? Meskipun Kaisar memberikan izin untuk anda berteman dengan Putra Mahkota, tidak sepantasnya Anda menempel terlalu dekat bahkan sampai menggandeng tangannya di depan umum." Xiao Xiangqing benar-benar membela Xiao Mingyui di hadapan seluruh tamu undangan, sosoknya yang tegas saat ini sangat mengingatkan mereka semua dengan mendiang Xiao Muqing.
"Putri Mingyui, apa Anda memiliki bukti lain? Dan ... bawa plakat itu kepada Zhen." Xiao Jihuang memecah keheningan yang sempat terjadi setelah Xiao Xiangqing selesai bicara.
Xiao Mingyui mengangguk, lalu memberikan plakat tersebut kepada Kasim pribadi Kaisar yang mulai mendekat untuk menyerahkan plakat tersebut ke pada Kaisar.
Xiao Mingyui menepuk telapak tangannya dua kali, lalu pintu besar ruang pesta kembali terbuka. Kini, kotak-kotak besar diangkut masuk, membuat para tamu yang menonton semakin penasaran dan berbisik-bisik membicarakan Xie Wanting.
"Saya mendengar kabar bahwa sebelumnya, Wu Guifei Niangniang sempat mengalami keracunan serius. Niangniang,kini Anda dapat mengetahui siapa pelaku kejam tersebut." Xiao Mingyui kembali berbicara, membuat perhatian kembali terkumpul ke arahnya.
Begitu kotak-kotak tersebut dibuka, semuanya tampak terkejut. Banyak sekali barang bukti seperti cangkir, sendok, botol, dan bahan baku racun yang digunakan oleh Xie Wanting untuk meracuni Wu Zeyuan.
"Saya juga memiliki bukti surat menyurat pihak Huan Tenggara dengan salah satu pejabat bangsawan terhormat Kekaisaran yang sayangnya berniat untuk melakukan pemberontakan besar!"
Xiao Mingyui kembali berseru, lalu mengeluarkan lipatan kertas berwarna cokelat yang dia simpan dari balik pakaiannya. Surat itu palsu, namun isinya asli. Xiao Mingyui masih mengingat jelas bagaimana surat yang beberapa waktu lalu dia temukan di tepi Hutan Ibu Kota namun harus hancur karena basah. Oleh karena itu sebelum kemari dia memerintahkan Da Xuan untuk mencari 'penulis peniru' untuk menuliskan ulang secara rinci isi suratnya. Jangan pernah meragukan ingatan Xiao Mingyui.
Kasim Kaisar lagi-lagi berjalan ke arahnya, lalu Xiao Mingyui memberikan surat tersebut dan segera diantarkan oleh sang Kasim kepada Xiao Jihuang.
Begitu surat tersebut sampai di tangan Xiao Jihuang, raut wajah Xiao Jihuang tampak buruk. Pria itu dengan cepat menggebrak meja, lalu berseru lantang penuh amarah.
Begitu perintah dilayangkan, pintu ruangan pesta yang besar lagi-lagi terbuka, kali ini terbuka lebih luas dan tidak kembali ditutup. Segerombol prajurit penjaga Istana merangsek masuk untuk menangkap Fang Jichang dan Xie Wanting, namun tiba-tiba dari atas atap ruangan, muncul segerombolan lain yang mengenakan pakaian hitam persis dengan pria yang tergeletak tak sadarkan diri yang ditangkap Xiao Mingyui.
Mereka berusaha melindungi Fang Jichang, hingga tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang membanting sebuah bom kecil ke lantai. Membuat asap putih mengepul dan memblokir pandangan semua orang.
Xiao Mingyui yang melihat ini dengan cepat menarik Xie Wanting yang berada tepat di sampingnya, dia tidak akan membiarkan wanita itu berhasil kabur atau diselamatkan.
Belum sempat salah satu segerombolan pakaian hitam itu meraih lengan Xie Wanting, Xiao Mingyui sudah lebih dulu menariknya keras dan membuatnya berlutut di lantai. Tangan kiri Xiao Mingyui lincah menarik belati tersembunyi yang ada di balik kain hanfu panjangnya, lalu dia menempelkan bagian tajam belati di leher Xie Wanting untuk mengancam mereka.
Ketika mereka berusaha menyerang Xiao Mingyui, Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing merangsek maju dan mendekat. Mereka berdua berdiri di masing-masing sisi Xiao Mingyui, siap membunuh siapa saja yang berani menyentuh Xiao Mingyui.
Para pengawal Istana pun telah membuat lingkaran sempurna untuk melindungi Xiao Jihuang dan Wu Zeyuan, kondisi saat ini mendadak ricuh. Teriakan ketakutan terdengar lantang, semuanya berlari panik meminta bantuan.
Melihat Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing bersiap menghajar ganas mereka jika menyentuh Xiao Mingyui, mau tidak mau mereka mundur. Mereka tidak berani melawan karena khawatir Xiao Mingyui akan menempelkan lebih dekat belati tersebut dan membunuh nyawa Xie Wanting di tempat. Dan alasan kedua, itu karena mereka menyadari adanya kesenjangan luar biasa antara kekuatan mereka dengan Xiao Xiangqing serta Xiao Jiwang.
"WANGYE!!"
Suara Mo Wanwan tiba-tiba berseru lantang, membuat Xiao Xiangqing mengerutkan keningnya dan menoleh cepat ke arah wanita itu. Tepat ketika menoleh, dia mendapati Mo Wanwan yang telah berdiri di sampingnya sambil memblokir hunusan pedang musuh.
Darah perlahan merembes menodai pakaian Mo Wanwan, sedangkan Xiao Xiangqing yang termangu dengan cepat tersadar sambil melesat cepat membunuh pelaku yang hendak membunuhnya namun dihadang secara pribadi oleh Mo Wanwan. Setelah itu, dia kembali ke sisi Xiao Mingyui untuk menangkap Mo Wanwan.
Mo Wanwan jatuh di pelukan Xiao Xiangqing, perlahan tubuhnya ambruk ke lantai dan Xiao Xiangqing mengikuti gerakannya. Mo Wanwan dengan hati-hati menarik keluar pedang tersebut, wanita itu juga lahir di keluarga militer, dia paham dan mengerti apa yang harus dilakukan di kondisi seperti ini.
"ARGHHH!!"
Trang!
Mo Wanwan melempar pedang yang berlumuran darah miliknya ke lantai, lalu berusaha menatap Xiao Xiangqing untuk meminta bantuan.
Xiao Xiangqing dengan cepat melepas mantel kebesarannya, membiarkan mantel sakral tersebut menjadi lilitan luka dalam Mo Wanwan untuk mencegah pendarahan.
Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang yang menyaksikan ini tertegun sekaligus bingung. Mo Wanwan rela membiarkan dirinya terhunus pedang demi Xiao Xiangqing? Apa wanita itu benar-benar serius?
Xiao Xiangqing masih tidak mengatakan apa pun, dia pun masih terkejut luar biasa ketika menyaksikan hal ini. Pria itu dengan cepat menggendong Mo Wanwan, lalu menoleh ke saudarinya dan berkata,"Jiejie ... tolong, sembuhkan luka putri Mo." Tatapan dan raut wajah pria itu dingin sekaligus syok. Sepertinya pikiran dan hatinya sedang sangat berkecamuk.