
Fang Laowang meletakkan ibunya perlahan di atas kasurnya, kemudian menuangkan secangkir teh hangat secara pribadi untuk ibunya.
"Ibu, minum ini. Di luar tadi cukup dingin, saya khawatir tubuh ibu akan--"
"Jangan lakukan hal itu lagi, Wang'er." Ibu kandung Fang Laowang, Han Shilue, memotong kalimat anaknya. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir menatap Fang Laowang.
Fang Laowang diam, matanya menatap ibunya dalam. Han Silue tersenyum, kemudian mengelus pipi putranya sambil menerima cangkir teh hangat tersebut.
"Ibu khawatir dia akan mengoper seluruh kekesalannya padamu karena membeli ibu," ucap Han Silue, kedua matanya kembali berkaca-kaca.
Han Silue memiliki tubuh yang kurus, kulitnya sudah mulai keriput. Rambut wanita itu juga mulia memutih, pakaiannya tidak semewah para Furen dari keluarga bangsawan terhormat lainnya. Dia benar-benar merupakan istri yang dibuang.
Setelah ibunya meneguk teh hangat pemberiannya dan cangkir itu diberikan kembali padanya, Fang Laowang bergegas menaruhnya di atas meja, lalu menggenggam hangat kedua tangan ibunya.
"Bagaimana bisa saya bersikap biasa saja sedangkan ibu tersiksa menangis? Ibu, seharusnya ibu tidak mempedulikan pria itu terlalu dalam. Dia dan wanita yang menemaninya itu memiliki derajat rendah yang--"
"Ibu tidak mendatanginya karena wanita-wanita itu, Wang'er." Han Silue memotong lagi, tatapannya terlihat tegas meskipun berkaca-kaca.
Fang Laowang mengerutkan keningnya bingung. Jika bukan karena wanita-wanita itu, lalu apa?
"Ibu mendatanginya karena ingin membuat protes besar padanya. Begitu mendengar kabar dia memiliki rencana gila dan mendesakmu menggunakan namaku, aku tidak terima. Selama ini ibu diam untukmu, melihat dia berani menggunakan nama ibu untuk mengancammu, ibu tidak akan rela!" Han Silue sedikit gemetar saat mengatakan ini, air matanya bahkan sedikit tumpah. Yang dia miliki saat ini hanyalah putranya, Fang Laowang. Suaminya telah menghancurkan dan mencampakkannya begitu saja, semuanya impian Han Silue telah runtuh. Tetapi untuk anaknya, dia tidak akan membiarkan pria itu ikut menghancurkan anaknya!
Fang Laowang tertegun, dia sejak tadi diam. Mulutnya terasa kelu untuk berbicara, kerongkongannya pun terasa tercekat. Hatinya sangat sakit, dia sekarang sedang kecewa dengan dirinya sendiri. Melihat ibunya sangat menyayanginya dan rela dicambuk demi dirinya itu cukup menyiksa karena sedangkan dia? Dia masih bingung harus memilih yang mana. Xiao Mingyui atau ibunya. Cinta atau keluarga.
Fang Laowang mundur sedikit, kemudian mengambil duduk di tepi kasur sambil memunggungi ibunya. Han Silue yang melihat sosok anaknya sedang rapuh pun terenyuh, wanita itu ikut terdiam sambil menatap punggung dingin putranya.
"Ibu, sepertinya aku akan menjadi anak durhaka. Aku pantas menerima hukuman." Fang Laowang mengatakan itu sambil memunggungi ibunya dan mengepalkan kedua tangannya erat. Pria itu sebisa mungkin untuk menjaga air matanya agar tidak keluar.
Han Silue mengerutkan keningnya, lalu tangan kanannya menyentuh punggung Fang Laowang pelan. "Ada apa, Wang'er? Mengapa kamu berbicara seperti itu?"
Fang Laowang menunduk dalam, kesedihan di hatinya semakin rapat. Dia berusaha untuk tidak menangis, dia harus terlihat kuat di hadapan semua orang termasuk ibunya.
"Aku tidak tahu harus memilih arah yang mana." Fang Laowang menjawab seadanya, dia tidak bisa bicara terlalu banyak karena suaranya yang mulai bergetar.
Benar. Dia tidak tahu harus memilih yang mana. Dia tahu keluarganya berada di pihak yang salah karena mencoba memberontak kepada Kekaisaran saat ini, namun ... jika dia memilih cinta, maka satu-satunya keluarganya, ibunya akan meninggalkannya.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Fang Laowang, Han Silue memeluk putranya dari belakang.
"Untuk ibu, Wang'er. Pilihlah jalan terbaik menurutmu. Jangan pernah tergoda dengan kejahatan, meskipun ada sesuatu yang sangat kau sayangi di dalamnya."
Air mata menetes perlahan di tangan Han Silue yang memeluk Fang Laowang dari belakang. Fang Laowang, malam itu menangis dengan bisu. Pria yang berusaha kuat dari kecil untuk menyeimbangi ekspetasi serta tuntutan ayahnya dan demi melindungi ibunya, pria yang sepanjang hidupnya berusaha tegar dan terkenal kuat, kini menangis. Benar apa yang dikatakan orang lama, pria hanya dapat menangis jika masalah itu melibatkan seorang ibu. Tetapi jika pria itu menangis karena seorang wanita yang bukan ibunya, maka sudah dipastikan perasaan yang dimiliki pria itu sangat dalam. Tidak ada samudera yang lebih dalam dari perasaan cintanya.
Malam itu, Fang Laowang langsung menemukan cahaya dari kebingungannya. Kebingungan besar yang sama sekali tidak dapat dia tentukan bahkan bersama Chuyang sekalipun, kini berhasil diselesaikan hanya dengan beberapa dialog bersama ibunya.
Sementara itu di Xiao Wangfu, Xiao Mingyui telah tertidur pulas. Selepas rapat kecilnya bersama Xiao Xiangqing tadi, semuanya kembali dan mulai beranjak ke ranjang masing-masing.
Di alam bawah sadarnya, Xiao Mingyui bermimpi melihat Urusan Agung.
Kaki wanita itu menginjak rumput hijau yang sangat halus tanpa alas kaki, membuat keningnya terlipat kecil karena melihat dirinya tidak mengenakan alas kaki.
Saat ini dia berada di padang rumput hijau yang sangat luas, hingga tak sengaja dia mendengar alunan musik yang sangat indah. Xiao Mingyui reflek mengangkat pandangannya untuk mencari sumber suara. Begitu dia mendongak, Xiao Mingyui melihat sebuah paviliun besar yang terbuat dari kayu mahal berwarna putih.
"Mingyui?"
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya sekilas. Sebenarnya ... di mana dia sekarang? Mengapa dia bisa bertemu dengan Utusan Agung?
"Kemari, mendekat lah." Utusan Agung melambaikan tangannya agar Xiao Mingyui mendekat, seketika tubuh Xiao Mingyui langsung bergerak menurut. Aneh, tubuhnya bergerak sendiri seolah tidak bisa membantah perintah Utusan Agung. Hingga kini, Xiao Mingyui duduk tepat di samping pria itu.
Utusan Agung melanjutkan permainan kecapinya, lalu berkata,"Akhirnya kita dapat bertemu."
Xiao Mingyui menatap Utusan Agung. Astaga ... dari samping pria itu benar-benar terlihat sangat tampan, seperti wajah sempurna keturunan surga. Tidak ada cacat atau kekurangan sekecil apa pun di penampilan Utusan Agung. Bahkan sepertinya kulit Xiao Mingyui kalah bersinar dibandingkan kulit pria itu.
"Yang mulia Agung mencari saya?" tanya Xiao Mingyui.
Utusan Agung mengangguk, lalu berkata,"Aku merindukanmu sepertujuh hidupku. Sebagian besar waktuku sejak ratusan tahun lalu adalah merindukanmu."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Apa yang membuat anda sangat mencintaiku? Kita sama sekali tidak pernah bertemu, bahkan anda mencintai saya sebelum saya lahir? Itu terdengar seperti omong kosong."
Utusan Agung terkekeh, dia kembali berhenti dari permainan kecapinya dan beralih fokus menatap Xiao Mingyui. Dengan lembut tangan kanannya bergerak, jari-jari indah pria itu pun menyingkap halus helai rambut yang menutupi sebagian wajah Xiao Mingyui.
"Banyak sekali rahasia Tuhan yang ingin aku ceritakan padamu, namun ... aku tidak ingin Tuhan murka dan menghukum kita berdua. Tetapi aku akan membocorkannya sedikit, bahwa ... dulu, ratusan tahun yang lalu sekali, Tuhan pernah menghadirkanmu untukku. Tetapi karena kelalaianku, Tuhan menarik dan menyimpanmu kembali. Dia berjanji akan mengembalikanmu padaku setelah aku berhasil belajar dari kesalahan. Hingga ratusan tahun pun berlalu, aku selalu setia menunggumu muncul kembali. Saat ini pun aku bahagia dapat melihatmu kembali, walaupun ... sedikit sedih karena kita dipertemukan dengan ingatanmu yang hilang serta dua status manusia berbeda." Utusan Agung menatap Xiao Mingyui sedikit sendu di akhir kalimatnya.
Xiao Mingyui sedikit bingung. Apa yang dikatakan oleh Utusan Agung adalah benar? Kalimat pria itu terdengar seperti dongeng sekali! Dirinya? Disimpan? Ratusan tahun? Ingatan yang hilang? Semua itu terdengar gila!
Melihat raut wajah Xiao Mingyui yang bingung, Utusan Agung pun terkekeh kecil. Reaksi Xiao Mingyui, dia telah membayangkannya sebelum dia sempat mengatakan ini.
"Kamu bahkan melupakan namaku, bukan?" tanya Utusan Agung.
Xiao Mingyui tertegun. Nama? Utusan Agung punya nama? Ah ... benar, bagaimana sebelum dia dipilih menjadi manusia yang sangat diberkati, dia adalah manusia biasa.
"Apa yang dimaksud dengan menarik dan menyimpanku kembali?" tanya Xiao Mingyui, dia akan bertanya satu persatu.
Utusan Agung tertegun, dia tidak menyangka Xiao Mingyui tertarik dengan perbincangan mereka. Utusan Agung pun tersenyum lebih dalam. "Karena kamu tidak dilahirkan dari rahim manusia. Kamu mutlak dan murni diciptakan untukku."
"Lalu dari mana aku berasal?" tanya Xiao Mingyui semakin bingung.
Utusan Agung menarik lembut tangan kanan Xiao Mingyui, kemudian meletakkannya tepat di dada sebelah kanan miliknya. "Kamu berasal dari tulang rusuk dan kepingan hatiku."
Deg!
Entah bagaimana, tiba-tiba jantung Xiao Mingyui berdetak sangat kencang. Detakannya sangat kencang hingga membuat tubuhnya sedikit gemetar, seolah dia telah mengetahui sesuatu yang sangat besar. Sejujurnya Xiao Mingyui tidak terlalu peduli dengan kalimat Utusan Agung, dia merasa pria itu hanya membual. Tetapi, entah mengapa jantungnya berdetak sangat kencang secara tiba-tiba setelah mendengar yang diucapkan oleh Utusan Agung.
Dengan tangan dingin yang masih melekat di dada kanan Utusan Agung dan napas yang sedikit terengah-engah, Xiao Mingyui bertanya,"Lalu ... siapa ... nama anda?"
Senyum Utusan Agung sedikit menghilang, raut wajahnya berubah menjadi sangat sedih. Kedua matanya sedikit berkaca-kaca, namun perlahan bibirnya tiba-tiba kembali tersenyum. "Di Fuyi. Namaku ... Di Fuyi, pemilik tulang rusuk dan kepingan hati yang digunakan untuk membuat ragamu."
Xiao Mingyui tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di kepalanya, membuat wanita itu reflek menarik tangannya dari dada Utusan Agung. Xiao Mingyui meremas kepalanya erat, sial ... terasa sakit sekali!
Utusan Agung yang melihat ini dengan cepat menarik Xiao Mingyui ke dalam pelukannya. Selagi Xiao Mingyui mengerang kesakitan, Utusan Agung memeluknya erat sambil bergumam,"Sepertinya waktu kita sudah habis. Tuhan pasti akan mempertemukan kita. Aku mencintaimu ... Xiao Mingyui, tulang rusukku."