The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 30. Malam Yang Hanya Diketahui Kita Berdua



Xiao Jiwang membuka matanya perlahan, astaga ... rasanya dia sudah lama sekali tertidur. Ketika matanya terbuka sempurna, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Xiao Mingyui yang sedang tertidur dengan posisi duduk bersandar ke papan ranjangnya.


Xiao Jiwang tidak bergerak begitu melihat wajah Xiao Mingyui, pria itu menatap lama wajah wanita di atasnya ini.


Tangan kanan Xiao Jiwang perlahan bergerak, kemudian menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Xiao Mingyui. Bibir Xiao Jiwang tiba-tiba tersenyum lalu bergumama,"Jelek."


Xiao Jiwang bangkit perlahan, gerakannya sangat hati-hati agar tidak membangunkan Xiao Mingyui. Perlahan, pria itu berdiri dan menggendong Xiao Mingyui agar berbaring dengan benar.


Xiao Jiwang meletakkannya dengan lembut, kemudian kini gantian dia yang duduk di posisi Xiao Mingyui sebelumnya. Kedua mata Xiao Jiwang masih menatap Xiao Mingyui, lalu dia menoleh ke arah pintu tenda yang sedikit terbuka. Ah ... sepertinya sudah larut malam. Tunggu, bukankah itu berarti dia tertidur cukup pulas? Seingatnya dia mulai tertidur saat siang hari dan baru terbangun saat ini.


Xiao Jiwang tersenyum tipis, matanya menatap sedikit keterkejutan ke arah Xiao Mingyui. "Kamu mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan sekelas tabib senior Kekaisaran?"


Xiao Jiwang beralih menatap ke pernan yang melilit tangan kanan Xiao Mingyui, lalu pria itu bergegas berdiri untuk mencari gulungan perban baru. Setelah dapat, dia kembali duduk di posisi semula dan dengan hati-hati menarik tangan kanan Xiao Mingyui.


Xiao Jiwang membuka lilitan perban lama Xiao Mingyui sambil berkata,"Bagaimana bisa dia sebodoh ini? Langsung tertidur tanpa mengganti perbannya dulu sesuai pesan tabib?" Kening Xiao Jiwang mengerut saat mengatakan ini.


Pria itu melepas tuntas perban lama Xiao Mingyui, kemudian mulai melilitkan perban baru. Xiao Mingyui yang merasakan gerakan terus menerus di tangan kanannya perlahan terbangun, wanita itu sedikit terkejut dan hampir saja mengambil gerakan untuk memukul kepala Xiao Jiwang.


Xiao Jiwang yang mengetahui bahwa Xiao Mingyui telah bangun pun tetap terlihat santai dan melanjutkan apa yang dia kerjakan.


"Kamu harus membayarnya untuk ini," ucap Xiao Jiwang sampai akhirnya selesai melilitkan perban baru di tangan kanan Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui dengan cepat mengambil posisi duduk, lalu berkata,"Terima kasih banyak, yang mulia."


Xiao Jiwang mengangguk singkat, lalu berdiri sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Xiao Mingyui. "Sesuai janjiku, aku akan membawamu keluar."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Tetapi, yang saya inginkan adalah pasar--"


"Pasar Ibu Kota, aku tahu itu. Tetapi yang ini aku tidak hanya mengajakmu untuk bersenang-senang, tetapi melatih kakimu. Kita harus melatihnya."


Xiao Mingyui menunduk sedikit untuk melihat kakinya, kemudian dia mengangguk tipis sambil membalas uluran tangan Xiao Jiwang. "Baiklah ...."


Xiao Jiwang membantu Xiao Mingyui berdiri menggunakan tongkatnya, mereka berdua berjalan beriringan dengan sangat hati-hati di tengah malam yang penuh kesunyian. Tidak ada yang menyadari aktivitas mereka, semuanya sibuk dengan mimpi masing-masing.


Xiao Jiwang membawa Xiao Mingyui ke tempat sebuah ladang hijau luas, di sana anginnya terasa sangat sejuk dan menyegarkan, terlebih langit sekitaran gunung Lang Tao seperti daerah yang sedang mereka jejaki sekarang memiliki langit malam dipenuhi bintang yang sangat indah!


"Aku akan membantumu, jangan keras kepala!"


"Tidak, yang mulia bisa menunggu di depan saya sebagai garis akhir. Saya ingin melakukannya sendiri!"


"Keras kepala! Kamu akan terjatuh nanti!"


"Tidak, bagaimana anda bisa mengetahui saya akak terjatuh atau tidak padahal saya belum mencobanya sama sekali?"


"Ck, baiklah ... aku akan menunggu di sana!"


Xiao Jiwang berdiri menghadap Xiao Mingyui dengan jarak lima belas meter, pria itu walaupun sering berbicara menyebalkan, namun dia sangat hati-hati dalam membantu Xiao Mingyui.


Satu langkah


Dua langkah


Tiga langkah


Sampai akhirnya langkah keenam, Xiao Mingyui kesulitan untuk sampai. Ketika dia hendak menapakkan kaki untuk langkah ketujuh, tiba-tiba kedua kakinya gemetar hebat dan akhirnya jatuh di atas rumput.


Xiao Jiwang tertawa ketika melihat ini, tawa pria itu benar-benar terdengar renyah. Xiao Mingyui yang mendengar tawa Xiao Jiwang sejujurnya merasa kesal, namun dia sedikit tertegun kala mendengar suara tawa Xiao Jiwang tanpa ada kepalsuan seperti biasa.


Xiao Jiwnah berjalan ke arah Xiao Mingyui dengan tawanya, lalu menggenggam kedua lengan wanita itu untuk membantunya berdiri. "Lihat? Kau terjatuh seperti orang bodoh sekarang karena tidak menuruti ucapanku!"


Xiao Mingyui ikut tersenyum ketika melihat senyum tawa bahagia yang murni milik Xiao Jiwang, lalu menjawab,"Saya tidak masalah terjatuh! Berhenti tertawa yang mulia!" Kening Xiao Mingyui sedikit terlipat saat mengatakan ini, seolah dia sedang marah.


Xiao Jiwang menaikkan alis kirinya sekilas, bibirnya masih tersenyum. "Kamu membentak Putra Mahkota?"


Xiao Mingyui mendengus tipis. "Lalu anda telah bersikap tidak sopan karena menertawakan bibi Kekaisaran anda. Walaupun umur kita hanya berbeda sedikit, namun sesuai urutan saya adalah--"


"Bukankah kamu akan menjadi istriku? Lalu apa? Hidup dan matimu ada di tanganku," potong Xiao Jiwang, lalu memberikan raut wajah meledek ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui menepis tangan Xiao Jiwang pelan, lalu perlahan berbalik dan hendak berjalan menjauh dari Xiao Jiwang. Dia kesal melihat wajah menyebalkan pria itu.


Xiao Jiwang yang melihat Xiao Mingyui marah semakin tertawa, pria itu dengan cepat menahan gerakan Xiao Mingyui dan berkata,"Baiklah, kita lanjutkan. Aku tidak akan menertawakanmu lagi. Janji."


Xiao Mingyui menggeleng pelan. "Tidak, saya sudah tidak ingin."


Xiao Jiwang terkekeh, lalu menjawab,"Kita harus kembali besok, jadi ayo berlatih lebih keras lagi."


Xiao Mingyui menghela napas tipis, pada akhirnya dia melanjutkan latihan berjalannya bersama Xiao Jiwang.


Ini adalah percobaan yang ke sekian kalinya, sebelumnya dia berhasil berjalan dengan tenang menggunakan tongkat, kali ini dia hendak mencoba tanpa tongkat.


Dua langkah


Empat langkah


Langkah demi langkah berhasil Xiao Mingyui lakukan, walaupun tubuhnya masih kesulitan untuk mencari keseimbangan, namun setidaknya dia sudah mulai berhasil berjalan kembali.


Ketika Xiao Mingyui berhasil mencapai garis akhir yang ditentukan Xiao Jiwang, kedua mata wanita itu berbinar. Wanita itu dengan cepat tersenyum lebar dan tertawa.


Xiao Mingyui tertawa dan tersenyum bahagia untuk pertama kalinya, dan kegiatan ini dia lakukan bersama Xiao Jiwang. Wanita itu melupakan reputasi, status, dan tanggung jawabnya untuk sementara. Yang dia rasakan saat ini hanyalah kebahagiaan dan kebebasan, terlebih saat dia berhasil berjalan dengan lancar, wanita itu menjadi girang dan tertawa seperti anak kecil. Sikapnya yang ini tidak akan pernah diketahui siapapun kecuali Xiao Jiwang, bahkan adiknya Xiangqing sekalipun.


Xiao Jiwang tertegun, matanya memperhatikan Xiao Mingyui yang tertawa dan tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Pria itu tanpa sadar kembali tersenyum, lalu menggenggam kedua lengan Xiao Mingyui. Dengan tatapan teduh, tangan kanannya bergerak mengelus kepala Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui tidak lagi merasa canggung atau terkejut, kedekatannya dengan Xiao Jiwang saat ini terasa seperti sudah menjadi hal yang biasa. Di malam dengan langit indah itu, mereka berdua saling melempar senyum dan tawa bahagia. Mereka benar-benar kembali ke tenda masing-masing saat melihat matahari sedikit demi sedikit mulai muncul.