The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 9



Setelah melakukan tugasnya sebagai pembunuh bayaran. Killian dengan pakaian serba tertutup dengan jubah bertudung berjalan menyusuri hutan salju di iringi dengan hujan salju yang turun dari atas.


Killian menuju ke suatu tempat persembunyian yang hanya Dia yang tahu.


Itu adalah sebuah bangunan pondok kayu yang terletak diantara dua pohon besar yang menjulang tinggi.


Killian mengibaskan salju ditubuhnya sebelum memasuki pondok.


Dengan sepatu boot berbulunya, Killian langsung masuk dan duduk di depan perapian yang sudah ia nyalakan dengan sihirnya.


"Kenapa Kau kesini?" Tanya Killian yang menyadari kehadiran lain dipondoknya.


Dia adalah Kenzie berusia lima belas tahun.


"Aku bosan dipukuli kakak di Istana. Jadi Aku kesini saja." Jawabnya enteng kemudian duduk di lantai di depan perapian sementara Killian duduk di sofa tunggal yang berada tepat di depan perapian.


Tidak ada yang tahu persahabatan Killian dengan pangeran kedua kerajaan.


Mereka bertemu saat Killian pertama kali dibawa Grand Duke Raymon ke istana bertemu raja. Raymon memperkenalkan Killian pada raja sebagai anak angkatnya.


Dan pada saat Killian pergi meninggalkan Raymon dan raja dalam diskusinya. Killian bertemu dengan Kinsey dan Kenzie De Fredda berambut silver dalam perjalanannya melihat isi istana.


Killian lihat sang kakak memuki sang adik dingga babak belur.


Kinsey merasakan ada orang lain jadi ia memandangi sekitar untuk memastikan. Dan ternyata benar, ternyata ada orang lain.


Lantas ia meninggalkan Kenzie yang duduk bersimbah darah penuh lebam menuju ke arah Killian.


"Kau pasti Killian Edellyn, putra dari Grand Duke Raymond Edellyn." Tebaknya setelah melihat rambut coklat dan mata merah khas keturunan keluarga Edellyn.


Namun Killian hanya diam saja memasang wajah datar dari pertanyaan orang yang disebut Putra Mahkota itu.


Melihat Killian yang tidak menghormatinya, membuat Kinsey menunjukkan ekspresi marah namun ia tahan.


"Ternyata benar, Kau si anak dengan julukan iblis haus darah itu." Sambungnya dengan diiringi senyum culas.


Hening. Killian hanya diam dengan pikiran sampai kapan ini berakhir. Killian tetap meladeni si putra mahkota hanya demi istilah menjaga kesopanan pada putra mahkota.


Killian menatap manik mata Putra Mahkota dengan malas.


"Benar, Yang Mulia." Sahut Killian masih memasang wajah datar.


"Jadilah bawahanku, Killian." Ujar Kinsey tak tahu malu. Dengan senyum merekah seakan menemukan sebuah berlian ketika menatap anak berambut coklat di depannya.


Jelas ia tahu julukan Killian. Menganggap Killian akan mau berada dibawahnya yang seorang Putra Mahkota calon raja masa depan.


"Saya tidak pantas menjadi bawahan Anda, Yang Mulia." Jawab Killian malas.


Mendengar jawaban itu, Kinsey semakin mengulas senyum miringnya. Dalam hati ia berkata, Jelas Kau tidak pantas, Kau hanya anak angkat yang memiliki reputasi buruk. Kau tidak layak berdiri di samping Putra Mahkota calon raja masa depan.


"Tidak perlu merendah, Tuan Killian." Jawab Kinsey masih membanggakan dirinya.


Killian mendongak membalas tatapan Putra Mahkota yang memiliki tinggi sama dengannya. "Anda yang tidak pantas untuk menjadi Tuan Saya, Yang Mulia." Jawab Killian menohok kenarsisan Kinsey.


Seketika Kinsey naik pitam. "Apa Kau bilang?!"


Kinsey hendak melayangkan tinjunya pada Killian, namun dengan sigap ditangkap oleh Killian. "Inilah perbedaan kekuatan Anda dengan Saya, Yang Mulia. Anda tidak pantas menjadi Tuan Saya." Killian menatap tajam pria itu dengan tatapan menyeramkan mata merahnya.


Sontak Kinsey melepaskan genggamannya dan meninggalkan Killian dan Kenzie yang terlihat menertawakannya.


Memang, Kenzie menertawakan sosok Kakak yang selalu bersikap arogan. Untuk pertama kalinya ada orang yang bisa melawan Kakaknya.


Setelah Kinsey pergi, sekilas ia menatap Kenzie yang duduk lesehan tertawa namun sedikit meringis kesakitan. Ia hanya menatap Kenzie dengan malas kemudia berjalan melewatinya.


"Hey, Tunggu!" Sahut Kenzie menghentikan Killian.


Killian pun berhenti dan menoleh ke sumber suara dengan malas. Apa yang diinginkan saudara menyebalkan itu.


Kenzie bangkit dan menepuk badannya membuang debu-debu yang menempel dibadannya.


"Aku menyukaimu." Sahut Kenzie dengan senyum lebarnya.


Killian mengangkat sebelah alisnya karena heran.


"Ah, Bukan maksud suka yang itu." Dengan cepat Kenzie menepis tatapan Killian. "Kau orang pertama yang membuat Kakakku emosi seperti." Sambungnya dengan sedikit tertawa.


"Maukah Kau jadi temanku?"


Mendengar hal itu, Killian sontak terkejut di balik wajah datarnya. Teman?


Untuk pertama kalinya ada orang yang memintanya berteman.


"Aku ingin berteman denganmu dan belajar sihir denganmu. Kudengar Kau memiliki sudah menguasi sihir api hijau."


"Maaf Yang Mulia, Saya tidak membutuhkan seorang teman." Killian balas kemudian menunduk seraya perpisahan.


Namun Kenzie tetap mengajaknya bicara meski Killian sudah berjalan menjauhinya. Anak yang memiliki tubuh lebih pendek darinya itu ikut berjalan dibelakang Killian.


"Aku juga memiliki sihir. Tapi sihirku lebih lemah ketimbang kakakku, makanya kakakku selalu menindasku. Bla bla bla bla."


Hingga pada suatu hari Kenzie mengikuti Killian menuju pondok rahasianya. Dan Killian yang seakan sudah terbiasa dengan kehadiran Kenzie di hidupnya.


"Hal gila apa yang dilakukan Kinsey padamu?" Tanya Killian malas namun karena melihat Kenzie yang babak belur duduk bersilang di depan perapian dengan santai.


"Ah, Dia sedang melakukan uji coba pada sihir cahayanya. Dia memukuliku kemudian mencoba sihir penyembuan padaku. Tapi sayangnya gagal, Dia kembali marah dan membuat lukaku bertambah." Jawab Kenzie enteng.


Killian membuang napas, seolah biasa mendengar kegagalan Kinsey dan menjadikan Kenzie sebagai tumbal kemarahannya.


"Killian" Panggil Kinsey. Namhn sang empu yang dipanggil masih dalam posisi merebahkan badan diatas sofa dan memejamkan matanya. "Aku bertemu dengan seorang anak yang sangat cantik. Dia memberikan salep padaku." Sambung Kenzie menunjukkan sebuah kotak kecil.


Kenzie menatap salep itu dengan senang. Dan Killian masih memejamkan matanya tidak peduli.


"Dia memiliki rambut hitam yang sangat cantik. Matanya biru, dan pipinya bulat ketika cemberut. Tapi Dia sangat manis ketika tersenyum." Kenzie masih terus membicarakan gadis pemberi salep dengan senyum merekah di bibirnya. "Jika Aku bertemu dengannya lagi, Aku akan menanyakan lagi siapa namanya."


Seperti biasa, Killian hanya berdehem mendengar cerita berisik dari mulut anak yang berusia sama dengannya.


Flashback Off


Killian saat ini berada di barak prajurit keluarga Edellyn. Dia bersama dengan sang istri Joana, Kenzie yang menyamar, Arhan penyihir agung, dan Aarash satu geng Killian.


"Bagaimana perkembangan Marina?" Tanya Arhan sebagai pembuka diskusi.


"Dua hari yang lalu Marina datang menemuiku bernegosiasi terkait segel sihir api." Balas Killian.


"Segel api?" Tanya ketiga laki-laki secara bersamaan.


"Bukankah itu hanya mitos?" Aarash membuka suara.


"Tidak, Tuan Aarash." Jawab Joana cepat. "Segel api itu memang benar ada."


"Marina bernegosiasi menukar Segel api dengan nyawa Joana." Sambung Killian kembali ke topik.


"Dalam mitos yang diceritakan Killian, Saya mendapat informasi bahwa mitos yang kalian percayai adalah Segel api itu dapat dibangkitkan pada siapapun yang menemukannya." Joana membuka suara memastikan cerita Killian.


"Itu memang benar, Nona." Arhan yang membalas.


Keempat pria mulai menunjukkan ketertarikan pada pembicaraan kali ini.


"Salah, Tuan Arhan." Timpal Joana tegas.


Seketika membuat keempat pria kecuali Killian terkejut. "Segel api hanya bisa dibangkitkan oleh sang keturunan asli. Dan menurut pendapat Saya, Marina adalah keturunan aslinya, karena Dia adalah reinkarnasi dari gadis berambut coklat dari masa lalu yang pernah Saya ceritakan."


"Bagaimana Kamu seyakin itu Joana?" Tanya Kenzie mewakili dua pria bersamanya.


"Karena Saya sama dengan Marina. Jiwa dari dunia lain." Balas Joana pada akhirnya membuka rahasianya.


"Apa?!"


Bagaimana part ini? Jangan lupa tulis komentar ya :D