
Malam itu, Killian mengajak Kenzie dan Aarash, tak lupa Arhan, sosok yang dikatakan Joana menjadi salah satu penyebab kematiannya.
Pertemuan kali ini membahas tentang Marina yang sudah berubah fisik maupun kekuatannya.
Pertemuan ini hanyalah kamuflase Killian untuk mengamati Arhan. Tentu Killian harus menaruh curiga padanya. Arhan sangatlah misterius, dan bahkan sedikit yang Killian tahu tentang masa lalu Arhan.
"Jadi, Marina sudah mendapatkan segel sihir api merah itu?" Kenzie membuka suara mengulang apa yang dikatakan Killian.
"Ya," Jawab Killian.
"Bukankan sihir api merah kekuatannya ada dibawah sihir apa hijau?" Aarash menatap ke arah Kenzie dan Killian bergantin. "Lalu apa masalahnya, Kekuatan kalian berdua bahkn lebih kuat daripada Dia."
"Apa Kau tidak pernah mendengar cerita tentang sihir api merah yang tersegel?" Arhan membuka suara. Sebagai penyihir agung jelas Dia yang paling tahu tentang sihir. "Ada alasan kenapa sihir api merah disegel, dan yang sebenarnya, sihir api merah adalah level paling tinggi diantara sihir api."
"Yang paling tinggi?" Beo Kenzie mencoba memahami jawaban Arhan.
Killian sudah tahu akan fakta itu, Joana sudah menceritakan semuanya. Alasan kenapa sihir api merah tersegel dan Pemyihir agung pada zaman dahulu membuat keputusan palsu tentang urutan level kekuatan sihir api. Yaitu kuning, jingga, hijau, biru, hitam, dan merah.
Tapi penyihir agung menyembunyikan fakta itu karena tidak ada yang boleh mengetahui tentang sihir merah itu.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu," Balas Arhan.
"Lalu apakah di Menara Sihir ada i formasi lain terkait sihir api merah?" Kenzie bertanya lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Killian cukup antusias meskipun wajah tak menujukkan ekspresi sama sekali. Bukan pada jawabannya, tapi pada gelagat Arhan, apakah Dia akan menyembunyikan sesuatu darinya atau tidak.
"Saya tidak tahu," Jawab Arhan singkat yang membuat Killian sedikit yakin bahwa yang dikatakan Joana benar. Pasalnya Joana pernah mengatakan kalau Arhan sejak lama melakukan penyelidikan tentang api merah. Bahkan Arhan pernah pergi menjelajahi sendiri hutan kegelapan untuk mencari segel itu, tapi sayang selama beberapa tahun ia tidak dapat menemukannya.
Apa Arhan berbohong?
"Kenapa Kau tidak pernah bercerita tentang level sihir merah? Padahal Kau sudah tahu lokasi sihir merah sesuai dengan apa yand dikatakan Joana?" Pancing Killian.
"Itu benar," Kenzie dan Aarash menyahut menatap Arhan butuh penjelasan.
Sementara yang ditatap terlihat seperti memasang wajah bingung namun juga terlihat gugup. "Aku baru tahu beberapa hari ini setelah mencari di perpustakaan kepala menara sihir," Jawabnya.
Namun Killian tentu saja merasa curiga dengan jawaban itu meski raut wajah Arhan berusaha tenang agar tidak terlihat dicurigai.
Kenzie dan Aarash yang tidak tahu tentang cerita novel yang dibaca Joana hanya mengangguk mengerti, tapi tidak dengan Killian yang menaruh curiga pada Arhan.
"Baru tahu beberapa hari ini?" Beo Killian dengan nada datarnya.
Arhan lantas mengangguk yakin.
"Baiklah, Kita sudahi pembahasan kali ini. Langkah yang harus kita ambil sekarang adalah tetap mengawasi Marina dan Stevan. Terutama Stevan, cari tahu tentang sihir yang dimilikinya. Untuk Marina, Joana akan mengawasinya dari dekat." Ujar Killian bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan. "Aarash, Kau jangan pulang dulu, Aku ingin bicara tentang kesehatan Joana denganmu," Sambungnya menatap Aarash.
Sebenarnya Killian berbohong dengan tujuan menahan Aarash sementara waktu, Dia ingin berbicara empat mata dengannya membahas Arhan yang kemungkinan berhianat.
Killian pun meninggalkan ketiganya di ruang yang selalu ia gunakan saat membahas pekerjaan di mansion mewah Grand Duke Edellyn.
***
Mereka sudah membentuk tim ini sejak lima tahun lalu, dan ternyata Killian masih mempercaiyainya untuk membagi informasi ini dengannya.
"Aku masih perlu menyelidikinya lagi," Jawab Killian datar di meja kerjanya sementara Aarash duduk di sofa sebrang.
"Jika Pria itu berhianat, akan kuhabisi Dia dengan tanganku sendiri, berani-beraninya Dia menghianati pertemanan kita," Geram Aarash seolah mengeluarkan aura hitamnya.
"Bisakah Kau menyelidiki Arhan untuk sementara waktu?" Tanya Killian yang terkesan paksaan, "Untuk Marina dan Stevan, Max, Joana, dan Aku bisa melakukannya. Untuk saat ini kita harus memastikan apa benar Arhan srigala berbulu domba atau bukan."
Aarash pun setuju dengan usulan itu. Ia akan menyelidiki sedalam mungkin terkait Arhan. Ia tidak bisa menerima kesetiaan yang selama ini ia bangun dibalas dengan penghianatan. "Lalu untuk Yang Mulia Kenzie? Apa Dia tahu tentang ini?"
Killian berdehem pelan, "Tidak, Kau tahu bagaimana Kenzie, Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya, baik suka maupun benci. Jika Dia tahu tentang informasi ini, bisa-bisa Dia memberikan tatapan berperang pada Arhan."
Aarash mengangguki pernyataan Killian. Memang benar sifat Kenzie sangat terbuka. Saking terbukanya orang sampai tahu apa yang dirasakan pria itu.
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan bergerak cepat untuk menyelidiki Arhan."
***
Di waktu yang sama di gilda informasi milik Stevan Anderson. Terlihat pria itu dengan gaya narsisnya menatap cermin yang menampilkan bayangan dirinya.
"Bagian mana yang tidak mirip dengan Killian?" Ujarnya menatap lamat tubuhnya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ya, Stevan masih memikirkan bagaimana Joana bisa membedakan dirinya dengan Killian suaminya. Padahal dari segi fisik kedua sama persis. Dari warna mata, warna rambut, warna kulit, tinggi badan, bahkan suara yang terdengar mirip.
"Aku jauh lebih tampan dari Killian, Lihatlah wajahku ini, mulus tanpa luka sedikitpun, jika Aku kembali ke duniaku pasti para gadis muda akan berbejer mengantri mendapatkanku,"
"Waaahhhh, Bagaimana makhluk tampan ini bisa sesempurna ini?" Puji Stevan menatap pantulan dirinya.
Sementara Marina yang sedari tadi menyaksikan hal itu merasa Stevan sangatlah aneh. Wajar saja, Dia dari abad 19 sementara Marina dari abad 21. Gayanya saja berbeda, Marina memiliki style yang lebih modern, sementara Stevan terlihat 'kuno' yang cukup membuat Marina hampir muntah. Apa dikehidupan dulu manusia purba itu jelek makanya saat mendapat wajah tampan dmDia sangat narsisitik seperti itu? Batin Marona mencemooh Stevan.
"Lalu bagaimana perkembanganmu dengan Joana?" Tanya Stevan menatap Marina yng ada di belakangnya duduk menyilang diatas sofa dari pantulan cermin.
"Dia bodoh," Jawab Marina cepat dengan nada datarnya.
"Apa Dia benar dari dunia seperti kita?" Tanyanya lagi, saat ini Stevan menoleh menatap Marina secara langsung dengan menyilngkan tangan di depan dadanya.
"Ehm, Dia dari dunia kita, tapi Aku masih belum tahu Dia dari abad berapa," Jawab Marina kemudian.
"Apa Kau yakin?" Tanya Stevan memastikan.
"Dia memberi nama anak yang ia pungut dijalanan dengan nama Zero, itu sudah oasti bahasa inggris,"
Stevan pun mengangguk mengerti, "Seperti apa kekuatan Joana?"
"Tanyakan saja pada rekanmu, Dia yang lebih dekat dengan Joana."