The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 57



"Aku tahu passwordnya." Sahut Joana cepat yang membuat pria di depannya tersentak terkejut dengan suara Maurice yang agak cempreng dengan nata tinggi.


"Kau yakin?" Tanya pria itu memastikan sekali lagi.


***


Setelah perizinan dengan manager perusahaan, akhirnya Joana di izinkan untuk membuka laptopnya dengan syarat diawasi oleh pria yang tadi.


Joana terlihat seperti sudah terbiasa menggunakan laptop itu. Bahkan password yang dibuat Joana dengan kombinasi yang sangat sulit dihafal pun bisa dibuka olehnya.


Joana berpura-pura menskrol isi beberapa dokumen yang ada di tamopilan layar. Sesekali ia melirik agar tidak dicurigai mengkopi draft naskah belum jadi.


"Apa ada kertas dan pulpen? Biar Aku tuliskan sandinya." Ujar Joana mencari cela untuk menjalankan aksinya.


"Akan ku ambil sebentar."


Dengan cepat setelah itu pergi, Joana membuat salinan draft itu kemudian mengganti namanya agar saat memindahkan file Dia tidak dicurigai.


"Ini dia." Pria itu memberikan secarim kertas dan pulpen ke atas meja dan segera Joana menuliskan passwordnya.


Setelah itu Joana mencolokkan drivenya pada laptop dan memindahkan file yang telah dia ganti namanya kedalam drivenya.


"Sudah Kak." Sahut Joana. "Aku sudah selesai."


***


Joana keluar dari perusahaan itu dan kembali ke parkiran untuk menyusul Marina yang menunggunya.


Namun saat Joana sampai di lantai dasar dengan menaikk lift dan pintu terbuka.


Deg!


Joana terkejut dengan Killian yang ada dihadapannya.


"Killian?" Gumam Joana membulatkan matanya menatap Killian.


Seketika Joana tersadar. Saat ini Dia dalam tubuh dirinya sendiri. Joana pun pura-pura tidak mengatakan nama itu.


Joana segera keluar dari lift dan meninggalkan Killian.


Namun saat berjalan beberapa langkah. Killian memanggilnya.


"Kau barusan memanggilku Killian. Kau mengenal Dia?"


Deg!


Apa yang harus Aku katakan? Batin Joana bingung dan gugup.


Joana pun berbalik menghadap lawan bicara, "Aku tidak mengatakan Killian, Aku mengatakan Biliyar. Aku sangat suka bermain biliyar." Jawab Joana cengengesan berpura-pura lugu.


Namun sayangnya Killian malah berjalan mendekati Joana.


Pria muda itu tidak mudah dibohongi.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa Killian aebenarnya?" Tanyanya dengan ekspresi dingin, tegas dan menakutkan, seakan tidak menerima penolakan dari permintaannya.


Joana pun menelan salivanya kuat. Hawa menekan yang lebih menakutkan dari Killian yang ia kenal.


Dan meskipun matanya coklat yang bersinar cerah, tidak membuat Killian terlihat lebih lembut. Nyatanya Dia lebih terlihat menakutkan.


Tapi disini yang jadi pertanyaan, kenapa Dia bertanya tentang Killian. Jadi Dia bukan Killian?


Di ingatannya ingat jelas pria itu yang menangisi Joana yang terbaring di rumah sakit.


Joana pun bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin menceritakan semuanya pada pria mirip Killian itu.


"Ada keperluan apa Anda dengan adik Saya?" Marina tiba-tiba mengintrupsi keduanya. Marina dengan sangat tegas melindungi Maurice dari pria asing yang bisa saja melukai Maurice.


Tapi pada akhirnya Joana di selamatkan Marina dari jawaban pertanyaan Killian tadi.


Marina langsung menarik tangan adiknya untuk masuk ke dalam mobil mereka.


Joana menoleh ke belakang sekilas untuk melihat Killian sejenak kemudian melanjutkan langkahnya untuk menuju mobilnya.


***


"Apa Kau mengenal pria itu?" Tanya Marina dalam mobil mengendari ke arah rumah.


"Tidak," Jawab Joana singkat menatap keluar jendela. Rasanya masih canggung bersama mengakrabkan diri bersama Marina.


"Aku minta maaf selalu mencampuri urusanmu, tapi Aku tidak ingin Kau terluka Maurice." Entah kenapa Marina tiba-tiba membuat suasana menjadi lebih canggung dengan permintaan maafnya. Joana hanya bisa memasang wajah bingung karena tak tahu harus bereaksi seperti apa. Marina meminta maaf oada Maurice, bukan dirinya.


"Aku sangat menyayangimu, Maurice. Lebih dari diriku sendiri, Aku lebih menyayangimu, Aku tidak ingin membuatmu terluka oleh oramg lain."


Kata-kata yang seharusnya untuk Maurice tapi nyatanya bisa membuat Joana tersentuh.


Bahkan ia menganggap kata-kata itu untuknya sendiri.


Inikah rasanya memiliki kakak yng sayang padamu?


Dan tiba-tiba satu bulir air mata turun si mata Joana.


Dengan segera Joana mengusapnya. Karena Joana sadar kata-kata itu bukan untuknya, tapi untuk Maurice, si pemilik tubuh.


"Aku juga menyayangi kakak," Gumam Joana pelan namun masih bisa terdengar oleh Marina.


Kata-kata yang  Joana lontarkan tulus apa adanya. Dia menyayangi Marina sebagai sosok kakak yang sangat baik.


Marina pun menatap Joana lembut kemudian tersenyum.


***


Pagi harinya.


Joana menghabiskan jam istirahatnya di perpustakaan untuk menggunakan komputer yang ada disana.


Maurice masih berusia 18 tahun yang masih SMA.


Joana membaca ulang draft naskah novel menggunakan komputer itu. Di temani sebuah buku untuk mencatat ceritanya.


Bertepatan dengan bel yang menandakan jam istirahat usai. Joana dikejutkan dengan sebuah kalimat dalam novel yang mengatakan 'Marina menjerit melihat adiknya meninggal tertabrak sebuah mobil'


Yang menandakan Maurice akan meninghal sebelum Marina berpindah jiwa.


Tapi kapan?


Joana pun mengabaikan bel masuk itu. Dia fokus melanjutkan membaca novel itu. Dia harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang masih belum ditemukan jawabannya.


***


"Halo?" Joana mendapatkan panggilan telpon dari Marina lalu dengan cepat ia menerimanya.


"Kau sudah pulang? Aku ingin mengajakmu makan di caffe kesukaanmu. Temui Aku di sana. Aku sudah memesan meja untuk kita berdua. Ada yang ingin Aku bicarakan dengamu."