
"Em," Angguk Joana. "Dulu saat kejadian di pasar, Aku pertama kali melihat Zero dengan bola mata merah. Namun karena warna merahnya hanya sepersekian detik kemudian berubah biru, kupikir itu hanya pembiasan cahaya, tapi kemarin~" Jeda Joana sejenak, "Saat kedatangan Marina menyamar sebagai Akira Asher, Aku merasakan aura Zero sama dengan aura yang keluarkan Marina. Aura yang sama tapi sedikit berbeda,"
***
Setelah pembahasan lama terkait Zero, akhirnya anak itu dibawa oleh Daisy untuk datang ke ruangan tempat orang dewasa itu berbincang sementara Daisy pamit mengundurkan diri.
"Zero," Sapa Joana ramah melambai tangan kepada anak laki-laki itu untuk duduk disampingnya, "Kemari,"
Zero pun dengan polosnya berlari menuju sisi Joana meski mendapatkan tatapan tajam kecemburuan dari Killian.
"Zero, bisakah kakak minta tolong padamu?" Tanya Joana dengan senyum manisnya.
"Em," Zero pun mengangguk antusias. "Aku akan mengabulkan permintaan Kakak baik,"
Mendengar jawaban polos itu Joana tersenyum, "Apa Kau pernah tes kekuatan sihir di menara sihir?" Tanya Joana.
Anak itu menggeleng, "Ayah tidak pernah membawaku ke menara sihir, lagi pula kata Ayah Aku adalah anak pembawa sial yang tidak mungkin memiliki sihir, sihir hanya dimiliki oleh bangsawan."
"Siapa bilang?" Tiba-tiba Arhan menyahut dengan suara beratnya. "Aku dari golongan rakyat biasa, tapi Aku berhasil menjadi Penyihir Agung."
"Benarkah?!" Setelah mendengar ucapan Arhan, wajah Zero terlihat lebih bersemangat dan tertarik. "Anda sangat hebat, Tuan," Puji nya pada Arhan dengan nada polosnya yang membuat Arhan tersipu telah dipuji oleh anak kecil.
"Bolehkah Kakak minta tolong padamu untuk menguji kekuatan sihirmu, Zero?" Joana bertanya lagi dengan lembut.
"Iya, Aku mau. Aku mau jadi seperti Tuan penyihir Agung,"
Joana tersenyum mendengarnya. Ternyata naluri untuk menyelamatkan dan membawa anak itu kemari tidak salah. Zero adalah penolongnya.
.
.
.
Arhan menggengam kedua tangan mungil untuk merasakan mana yang mengalir di tubub Zero.
Dan Arhan cukup tersentak ternyata Zero memiliki aliran yang cukup deras yang membuktikan kekuatan sihirnya sangat besar.
"Zero," Panggil Arhan untuk meminta anak kecil itu membuka matanya yang sebelumnya terpejam karena Arhan yang memintanya di awal pengetesan.
"Ini akan terasa sakit, jadi bisakah Kau menahannya?"
Zero sedikit ragu mengangguki apa tidak pertanyaan penyihir agung di depannya. Namun pada akhirnya setelah menoleh d0an menatap ke arah Joana untuk mendapatkan semangat, akhirnya Dia menangguk penuh keberanian.
"Katakan kalau sakit," Sahut Joana pelan. Ia memang tidak tahu rasa sakit apa yang dimaksud Arhan. Tapi dari ingatan Joana yang sebelumnya, aliran sihir harus dibuka sejak kecil, makanya sejak usia lima tahun para anak-anak dibawa ke menara sihir untuk menbuka aliran sihir itu. Dan Zero sudah berusia tujuh tahun tapi belum melakukan pemeriksaan sihir.
Zero memejamkam matanya lagi merasakan rasa tertusuk ribuan jarum di seluruh tibuhnya. Sangat sakit. Sensasi nyeri sekalgus panas di sekujur tubuhnya.
Zero ingin berteriak namun ia tahan sebisa mungkin. Dalam hatinya ia tidak ingin Joana khawatir dengannya.
Orang-orang yang melihat proses itu cukup ngeri dan sedikit merasa kasihan pada Zero. Ternyata Dia adalah anak yang sangat kuat. Dia bahkan tidak menjerit saat dilakukan pembukaan jalan mana.
Arhan juga merasa takjub pada bocah berambut yang ia pegang tangannya. Rasa sakitnya akan semakin bertambah dengan perkembangan usia jika aliran tidak segera dibuka. Tapi anak ini bisa menahan rasa sakit luar biasa. Memang wajahnya menunjukkan Dia menahan sakit luar biasa itu.
"Aaarrggghhhh!!" Teriak Zero akhirnya tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya.
Seiring dengan teriakannya, aura merah dari api yang merembes keluar dari tubuh Zero membuat semua orang tercengang takjub. Ternyata benar, anak ini memiliki sihir api merah.
"Zero," Joana ngeri dan kasihan mendengar jeritan bocah kecil itu.
Arhan berjalan melewati orang-orang yang menonton tadi meletakkan Zero berbaring diatas sofa panjang.
"Kekuatan Zero sudah di konformasi," Arhan menatap semua orang bergantian.
"Lalu apa rencananya?" Tanya Arhan kembali ke pembahasan awal.
***
"Zero," Sapa Joana setelah menyadari anak kecil yang sudah ia tunggu selama beberapa jam untuk bangun.
"Kakak," Zero dengan suara serak anak kecil menyahut. Ia mencoba bangun mengucek matanya.
"Tidurlah lagi, Kau pasti sakit karena pemeriksaan tadi siang," Joana menahan bahu kecil itu untuk berbaring kembali. "Bagaimana perasaanmu?"
"Saya merasa lebih ringan, Kak. Aku merasa seluruh tubuhku lebih sehat dari sebelumnya," Balas Zero dengan ceria, wajah polos ala anak kecil. Zero terlihat sangat tampan.
Mata Zero yang berubah merah mengingatkannya pada Killian.
"Zero, apa Kau mau lihat wajahmu? Kau semakin tampan tahu?" Ujar Joana dengan senyum mengembang.
Zero terdiam tapi menurut saat diberikan cermin kecil oleh Joana.
Zero tersentak menatap bayangannya sendiri, mata birunya hilang. "Seperti paman Killian," Gumam Zero menatap lamat bayangannya.
Joana mengangguk menyetujui pernyataan Zero, "Em, Sama seperti Killian, Matamu sangat cantik, seperti warna batu rubi yang sangat cantik,"
"Batu rubi?" Suara bariton Killian tiba-tiba mengintrupsi perkataan Joana. Killian berjalan menuju ranjang.
"Hei, Apa Kau tidak pilih kasih padanya? Kau bahkan tidak membantah saat ada orang yang mengatakan mataku semerah darah, tapi Kau malah mengatakan mata anak itu seperti rubi?"
Mulai lagi deh sifat pencemburunya.
"Apa Kau tidak mendengar kalimat sebelumnya? 'mirip dengan Killian'" Balas Joana menarik lengan Killian untuk duduk disampingnya di kursi yang ada di sebelah ranjang.
"Zero terlihat seperti anak kita berdua," Celetuk Joana yang membuat Killian terbengong. "Rambutnya yng hitam mirip denganku, dan mata merahnya mirip denganmu," Sambung Joana dengan senyumnya yang semakin mengembang mengusap rambut hitam Zero.
"Apa Kau mau mengadopsi Zero?" Tanya Killian tiba-tiba yang membuat Zero dan Joana menatap kearahnya.
"Tiba-tiba?" Tanya Joana tidak percaya. Bukankah selama ini Killian menatap Zero dengan aura permusuhan?
"Aku hanya tanya," Balasnya dengan datar.
"Zero, Apa Kau mau menjadi anak angkat kami?" Tanya Joana ceria menatap Zero yang masih terbengong.
"Aku hanya bertanya, bukan sungguhan," Ralat Killian dengan pemahaman Joana.
Namun Joana menatap sebal ke arah Killian, "Kau tanya dan jawabanku Iya."
"Bagaimana Zero?" Tanya Joana sekali lagi menunggu jawaban anak di depannya.
Dan Killian akhirnya pasrah karena keceplosan mengatakan hal itu. Ia terpana melihat Joana yang tersenyum makanya mulutnya tiba-tiba mengucapkan pertanyaan itu.
Tapi biarlah, asalkan Joana bahagia. Aku bisa melakukan segalanya untuknya.
"Aku akan meminta Aarash untuk dokumen adopsi Zero," Sahut Killian tiba-tiba berdiri meninggalkan Joana dan Zero yang saling berpelukan bahagia.