The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 22



Dua hari tanpa ada Killian di mansion, Joana merasa suntuk dan bosan. Ingin sekali ia berkunjung ke pasar, tapi Killian melarangnya karena takut jika ada sosok yang di duga kembaran Killian akan muncul kembali. Killian merasa was-was takut terjadi hal yang tidak di inginkan, apalagi sosok itu tidak diketahui lawan atau teman.


Joana seharian hanya bergulat diatas ranjang membaca novel sambil rebahan ditemani camilan yang dibuat kepala koki.


Tak berselang lama, Joana nampak menggeram merasakan kebosanan.


Tidak ada ponsel ternyata sangat sunyi. Padahal dulu saat tinggal di kediaman Adalberto Dia bisa hidup senang menyendiri, tapi kenapa sekarang rasanya sulit tinggal sendirian disini?


Joana pun bangkit dengan posisi duduk. Pakaiannya berantakan karena memakai baju Killian versi dewasa yang nampak oversize di tubuhnya. Itu karena saat Joana pergi dalam almari, Joana tidak menemukan baju Killian versi remajanya, Ia tidak tahu dimana Killian menyimpan baju-baju lamanya.


Sebagai manusia yang hidup di abad 21, tentu celana adalah pakaian yang paling nyaman bagi wanita.


"Max, Daisy," Panggil Joana pada pengawal bayangan Killian dan pelayan pribadinya. Pelayan itu selalu setia di depan pintu kamar.


Tak lama berselang, Daisy dan Max masuk kedalam kamar bersama.


Mata Daisy syok saat melihat Nyonyanya nampak seperti orang gila. Negitu juga dengan Max yang tertegun mengamati pemandangan aneh di depannya.


Baju acak-acakan, rambut dibiarkan sedanya, buku-buku yang berserakan diatas maupun dibawah ranjang, dan juga remahan camilan sang nyonya.


Bagaimana bisa ada bangsawan yang sifanya seperti Nyonya Joana? Batin Daisy yang tidak bisa ia ungkapkan langsung.


"Iya, Nyonya, Ada yang bisa Saya bantu?"


"Apa di kediaman ini ada sesuatu yang bisa membuatku senang? Aku sangat boossaaann Daaaiiisssyyy" Sahut Joana benar-benar membutuhkan hiburan.


"Di istana barat ada rumah kaca berisi hamparan bunga, Nyonya." Max yanh menjawa pertanyaan itu.


"Apa tidak ada yang lain? Yang bisa menguji adrenalin mungkin?"


Daisy dan Max bertatapan sejenak. Apa yang dinginkan Nyonyanya ini?


"Lebih baik Aku menghabiskan waktuku dengan masak saja." Ujar Joana belum mendapatkan jawaban dari Max maupun Daisy.


"Daisy, siapkan aku air untuk mandi, dan siapkan baju juga untukku, bajunya Killian saja, Aku tidak mau gaun merepotkan itu." Sambung Joana kemudian turun dari ranjangnya.


"Baik, Nyonya." Balas Daisy.


"Kalau begitu Saya undur diri, Nyonya." Kini Max yang bersuara dan Joana pun menganggukinya.


***


Joana telah selesai mandi dan berganti baju dengan sweater tebal dan celana tebal juga milik Killian, karena tidak ada Killian yang memberikan sihirnya dibaju yang ada di almari, jadi terpaksa Joana selama dua hari ini memakai pakaian tebal menghindari dingin Foreste Fredda.


Saat Joana membuka pintunya untuk keluar menuju dapur, ia mendapati sosok Killian berdiri di depannya.


"Killian?" Joana terkejut kepulangan Killian yang mendadak, bukankan besok pulangnya? Apa Dia buru-buru pulang karena merindukannya?


"Apa misimu sudah selesai?"


Killian mengangguk tersenyum pada Joana kemudian memeluknya erat.


"Apa Kau lapar? Aku akan masak di dapur, Ayo ikut,"


Killian pun memgikuti langkah kaki Joana hingga sampailah di dapur yang nampak sepi karena Daisy sudah membubarkan para koki agar dapurnya bisa digunakan oleh Nyonyanya.


Killian nampak aneh dimata Joana saat ini. Joana pikir saat pulang Killian akan langsung menciumnya, tapi tidak, Dia hanya memeluknya, itu pun pelukan singkat tidak seperti pelukan memaksa yang biasa mereka lakukan.


Killian pun duduk disalah satu kursi yang ada disana dan Joana tampa ambil pusing memasang apron dan mulai mengambil bahan-bahan yang tersedia di dapur.


"Kau ingin masak apa?" Tanya Killian.


Tak lama kemudian, Ramen siap dihidangkan di atas meja makan.


Ya, makanan yang ingin Joana adalah ramen, Ia selalu merindukan rasa ramen instan, meskipun ramen buatannya tidak kalah enak dengan ramen instan.


Killian sempat bingung dan tidak mengenali makanan yang tersaji panas di depannya.


Dia pun akhirnya menyeruput sesendok kuah karena Joana dari tadi menunggunya memakannya.


Uhuk uhuk, Killian terbatuk karena tiba-tiba rasa pedas mengenai tenggorokannya.


Seketika Joana pun memberikan segelas air putih untuk Killian minum.


Apa ini terlalu pedas untuknya?


"Aku minta maaf, Killian." Ujar Joana dengan panik membantu Killian minum.


Setelah Killian minum, ia langsung berbicara, "Tidak apa, Joana, Aku sudah membaik sekarang."


"Aku minta maaf kalau Kau tidak suka pedas." Ujar Joana lagi.


"Max," Panggil Joana pada pengawal bayangan Killian.


Max pun segera menghampiri sang Grand Duchess. "Tuan dan Nyonya, Ada yang bisa Saya bantu?"


Joana belum memberitahukan maksud kenapa memanggil Max.


Waktu datang ke dapur, Max tidak terkejut dengan kehadiran Killian disana, karena Max sudah bertemu Killian saat berjaga di depan pintu kamar Joana dan Killian yang meminta Max untuk pergi.


"Killian, Aku sungguh minta maaf-" Ujar Joana dengan ekspresei gugup dan paniknya. "Aku sungguh minta maaf karena sejak awal Kau sudah ketahuan berpura-pura menjadi suamiku." Nada bicara Joana semakin datar dan dingin diakhir kalimatnya.


Max yang mendengar ucapan sang Grand Duchesa lantas terkejut dan menatap sosok Killian di depannya.


Dengan sigap Max menghadang tubuh Joana hingga berada di belakang tubuhnya.


Max memang tidak tahu jelas orang yang ada di depannya benar Grand Duke Killian atau bukan, tapi yang jelas Dia harus melindungi Grand Duchess. Max memang diminta Killian untuk mencari sosok yang mirip dengannya, tapi Max teekejut jika sosok yang mirip dengan Killian begitu sangat mirip dan sulit untuk dibedakan.


"Siapa Anda?" Max dengan tatapan dingin bertanya pada Killian palsu itu.


Sementara Killian tersenyum aneh ketika mendapati dirinya sudah ketahuan, apalagi ketahuan sejak awal?


"Waaahhh, Sepertinya Aku gagal memerankan Grand Duke iblis haus darah itu rupanya." Ujarnya sembari memasang senyum cerah di wajahnya.


"Aku cukup penasaran bagaimana Lady Adalberto bisa mengenali Saya, Apa ada perbedaan Saya dengan Killian? Bahkan Max yang pengawal setianya tertipu dengan penyamaranku."


Max dengan sigap mengarahkan pedangnya di hadapan Killian palsu itu.


Ternyata benar, Dia bukan Grand Duke Killian.


"Siapa Kau?" Tanya Joana tegas memasang wajah datarnya.


Si Killian palsu tertawa singkat kemudian menjawab pertanyaan wanita yang sudah menarik hatinya, "Saya sungguh kecewa Anda memberikan tatapan dingin pada Saya, Lady." Balasnya berakting sendu.


"Nyonya, tetap bersembunyi di belakang Saya." Max mengalirkan sihir kegelapan miliknya pada pedang yang pegang ketika merasakan aura sihir mengalir cukup hebat di tubuh Killian palsu.


Killian palsu tersenyum ketika merasakan ada sesuatu yang akan datang jadi ia tidak jadi mengeluarkan sihirnya dan langsung menghilang begitu saja. Padahal Dia ingin sekali menunjukkan dirinya dengan rambut dan bola mata yang berwarna hitam pada gadis cantik itu.


Beberapa detik kemudian Killian palsu menghilang dari pandangan dan tiba-tiba Killian dengan baju yang berbeda muncul dari pintu dapur. Sontak Max langsung menodongkan pedang pada Killian tersebut.


"Siapa Kau?" Tanya Max tegas.