
"Oh Dewa... Tidak- oh penulis,,, Bisakah Kau memberikan suami yang normal?" Racau Joana menghela napas menatap kamarnya yang satu ruangan dengan dapur.
"Apa maksudmu Aku tidak normal?"
"Ya, Kau gila!" rutuknya langsung keluar meninggalkan kamar utama menuju kamarnya dulu sebelum menikah yang pernah terbakar sebelumnya akibat ulah Killian.
Joana lantas berjalan cepat dengan rasa jengkelnya terhadap suaminya.
"Kau mau kemana Sayang? Jangan cepat begitu, benih akan terguncang jika Kau berjalan seperti itu," Killian awalnya menatap bingung kenapa istrinya marah bukannya senang. Dia ikut berjalan cepat menyusul istri tercintanya.
"Kau mau kemana?"
"Menjauh darimu!" Joana benar-benar kesal dengan Killian. Entah sejak kapan Joana sampai memasuki kamar dengan dominasi warna putih dan langsung menutup pintu tidak mengizinkan Killian masuk.
"Sayang, biarkan Aku masuk... Kenapa Kau datang kesini? Ayo kita kembali ke kamar utama," Killian masih saja belum sadar dengan kesalahannya yang membuat Joana semakin hampir marah dibuatnya. Mungkin ini karena ada benih di dalam perutnya yang membuat Joana sedikit sensitif.
Killian menghela napas pasrah ketika tidak mendengar jawaban apapu, "Setidaknya biarkan Aku masuk, Aku takut Kau kenapa-kenapa saat tidak ada Aku disisimu,"
"Bodo amat!!"
"Sayang~"
Dan terjadilah, Killian tidur terpisah dengan istri tercintanya. Killian tidur di kamar utama yang menempel dengan dapur sementara Joana tidur di kamar lamanya.
Sebelumnya...
"Jika Kau berani masuk lewat jendela, jangan harap Kau boleh menyentuhku satu inci pun dri tubuhku,"
tentu dengan ancaman itu Killian ciut untuk melakukan kebiasaannya. Tapi ancaman itu tidak membuat Killian jera, Dia tetap memasuki kamar Joana lewat jendela, namun saat masuk, bukan hanya dinding es seperti dulu, tapi dinding es super tebal yang berbentuk kubus menutupi area kamar itu sehingga kamar itu tak tertembus bahkan setelah Killian mengeluarkan energi api di tubuhnya.
"Joana, Aku min-"
"Diamlah, Aku ngantuk, jangan ganggu benih yang sedang tidur," Sahut Joana menghentikan Killian sebelum Dia menucapkan beragam rayuan yang akan membuat Joana luluh. Jangan sampai Killian melakukan untuk yang kedua kalinya.
***
"Lady Asher... Ini pesanan Anda," ucap salah seorang bawahan Stevan. Dia adalah laki-laki berambut merah yang menggantikan posisi Lucius yang di bunuh oleh Killian.
"Ehm, Sekarang Kau bisa pergi Kreg," Balas Akira aliyas Marina.
"Baik Lady,"
Marina membuka kotak yang telah dibawakan Kreg padanya. Kotak itu berisi beberapa benda besi dengan bentuk yang cukup aneh yang ia rancang sendiri kemudian meminta pengrajin untuk memmbuat desainnya.
Marina tersenyum tatkala melihat beberapa benda itu dibuat dengan sangat baik. Orang lain yang melihatnya mungkin benda-benda itu bukan benda penting. Tapi ketika benda-benda tersebut dirakit mejadi satu, benda itu akan menjadi sebuah senjata pistol.
"Sekarang Aku butuh kelinci untuk menguji Esmeraldaku," Gumamnya menamai pistolnya dengan nama.
Ia pun memanggil beberapa anak buah tidak berguna milik Stevan, dan Dor!! Satu orang tumbang dengan darah segar mengalir di lehernya.
Marina seperti psycopat yang tersenyum ketika melihat darah segar.
***
Setelah ritual yang dilakukanya beberapa hari yang lalu membuat fisik Marina berubah drastis, warna rambutnya yang dulu berwarna pirang keemasan berubah menjadi light brown, dan mata yang dulu berwarna biru berubah menjadi hazel berwarna coklat. Mungkin hal itu dikelarenakan sihir di dalam tubuhnya yang berubah setelah ritual.
Sihir Marina yang dulu benar-benar hilang, warna kuningnya berubah menjadi merah, sesuai dalam cerita novel.
Dengan sihir merah yang akan meluluh lantahkan dunia ini, melulu lantahkan Foresta Fredda.
Dengan fisiknya yang berubah, Marina juga mengubah namanya menjadi Akira Asher, dan Asher adalah nama belakangnya di dunia yang dulu, Marina Asher.
Tujuan Marina dengan tubuh barunya kali ini adalah mendekati Joana adiknya dan mencari tahu tentang apakah Joana sama seperti Dia dan Stevan atau tidak, dalam artian apakah Dia berasal dari dunia lain. Meski sebenarnya mendekati Joana sangat menyebalkan, Marina tidak menyukainya.
***
Di satu sisi, Joana setelah beberapa bujukan sulit akhirnya di izinkan melakukan latihan sihir. Jelas Killian tidak mengizinkan Joana dengan alasan yang sangat tidak masuk akal, takut kalau Joana lelah membuat benihnya sakit.
Dia tidak mau menjadikan suaminya sebagai pelatih karena Killian akhir-akhir ini semakin protektif tapi juga manja, bisa-bisa tidak jadi latihan malah dihabiskan waktu dengan bercumbu. Jadilah Arhan yang diminta Joana untuk menjadi pelatih.
"Melihat masa depan?" Tanya Arhan membulatkan mata terkejut dengan penuturan Joana. "Apa maksud Anda, Nyonya?"
"Ini memang tidak masuk akal, tapi Mamaku, Tania Alexandra, selain memiliki sihir es Dia juga bisa melihat masa depan, Ayahku yang mengatakannya." Jawab Joana. "Karena itulah apa Anda tahu tentang sihir melihat masa depan?"
"Maaf Nyonya, ini pertama kalinya Saya mendengar tentang sihir melihat masa depan, untuk sihir es saja Saya baru melihatnya dari Anda Nyonya,"
Mendengar jawaban itu Joana menghela napas pelan maklum dengan keanehan yang terjadi di dunia ini, tidak ada yang tahu tentang sihir es dan tidak ada yang tahu tentang sihir yang dimiliki Calon Putri Mahkota zaman dulu.
"Baiklah, Aku akan latihan seperti biasa," putus Joana kemudian.
***
Hampir enam jam latihan bersama Arhan, Joana sangat kelelahan meskipun tidak ada keringat yang menetes di dahinya. Cuaca Foresta Fredda cukup dingin untuk membuat Joana tidak kepanasan karena latihan. Apalagi kekuatan sihirnya juga es yang berkebalikan dengan panas.
Kondisi di tempat latihan saat ini sangat berantakan, sihir es yang dikeluarkan Joana sangat banyak seperti hamparan tambang berlian yang terbuat dari es.
"Kerja bagus, Nyonya." Arhan memberikan apreasi pada murid satu harinya. "Kemajuan Anda sangat pesat, tapi Anda harus melatih fisik Anda lagi,"
Joana mengangguk patuh meski tubuhnya sangat kelelahan. "Satu kali lagi, Arhan." Minta Joana kemudian. Ia sangat bertekad kali ini, Dia akan menjadi lebih kuat untuk menyelamatkan Killian dan bayi yang dikandungnya. Joana ingin memberikan dunia yang damai untuk calon buah hatinya kelak. Ia tidak ingin dunia ini luluh lantah seperti novel yang Dia baca. Joana tidak ingin membiarkan takdir itu berjalan semestinya. Apapun yang terjadi harus berubah.