The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 20



Joana telah selesai dengan urusannya bersama Baron pemilik penerbitan buku. Kini ia sedang duduk berhadapan dengan Killian di dalam kereta kuda.


Joana menatap tajam sosok di depannya. Sejak tadi pertanyaannya belum terjawab.


"Kenapa Kau menatapku seperti itu? Jika ada yang ingin Kau katakan, katakan saja." Sahut Killian yang sudah merasa tatapan istrinya sangat aneh.


"Bagaimana caramu berganti baju dengan cepat?"


Killian menatap istrinya bingung. "Apa maksudmu?"


Joana mencebik, "Tidak usah membohongiku lagi, Kau tadi yang membantuku mengambilkan Aku buku, Kau tadi masih memakai pakaian rakyat biasa, tapi bagaimana Kau dengan cepat mengganti bajumu dengan setelan kebesaranmu ini?"


Killian semakin bingung dengan pertanyaan Joana. "Aku baru selesai rapat dengan Raja dan dewan lainnya, tentu saja Aku memakai baju ini."


Joana memicingkan matanya menatapa Killian dengan lamat. Inilah Killian yang asli, pelit senyum dan tidak pernah menunjukkan ekspresi.


"Coba Kau senyum." Tanya Joana tiba-tiba.


Killian yang bingung pun hanya menuruti permintaam istrinya, memang aneh kenapa Dia tiba-tiba meminta dirinya tersenyum.


Killian pun tersenyum seperti yang diminta Joana. Tapi dimata Joana senyuman Killian sangat mengerikan dan terkesan menakutkan.


"Jangan coba tersenyum lagi dihadapanku." Timpal Joana bulu kuduknya berdiri melihat senyum antagonis Killian.


Killian pun pasrah mengembalikan ekspreai datar yang biasa.


"Apa senyumanku seseram itu?" Tanya Killian polos.


"Apa Kau punya saudara kembar?" Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan Killian, Joana bertanya tegas pada pria di depannya.


Pria yang membantunya mengambil buku tadi jelas bukan Killian, meskipun memiliki ciri fisik yang sama persis, Joana yakin pria tadi bukan Killian suaminya. Tapi siapa?


Apa yang dipikirkan gadis di depan yang sudah menjadi istri Grand Duke ini. Kenapa pertanyaannya aneh sekali?


"Tidak, Ibuku hanya melahirkan satu anak, yaitu diriku saja." Balas Killian.


Memang benar, di cerita Killian's Love juga waktu insiden terbakarnya rumah yang menewaskan ibunya, hanya Killian saja yang diceritakan, menangis berteriak ingin menyelamatkan ibunya tapi di halangi oleh Grand Duke terdahulu.


"Apa Kau yakin tidak berbohong padaku tentang pertemuan di toko buku tadi? Menggunakan pakaian rakyat biasa dan memakai tudung?"


KIllian mengerutkan alisnya. "Apa Kau bertemu dengan orang yang memiliki wajah persis sepertiku? Di toko buku?"


Joana langsung mengangguk.


"Aku akan meminta bayanganku untuk menyelidikinya nanti, bagaimana parasnya?"


"Hmmmm... Biar ku ingat." Joana menggaruk pelipisnya sejenak. "Dia tinggi, memakai jubah rakyat biasa, matanya berwana merah, mungkin rambutnya juga berwana coklat terang seperti dirimu, aku tidak yakin karena Dia menutupi rambutnya, kemudian Dia terlihat ceria, tidak sepertimu yang dingin dan terkesan menakutkan, jika di ibaratkan sikap kalian sangat terbalik meski paras kalian sama."


Mendengar hal itu, Killian sedikit merasakan cemburu mendengarkan pria lain dari mulit wanita yang dicintainya. Killian langsung duduk menempel disisi Joana.


Killian menangkup wajah Joana dengan kedua telapaknya, "Siapa yang lebih tampan? Aku atau pria itu?"


Hah? Apa pria ini cemburu?


"Tentue seuja keu yeung peuleung teumpeun (tentu saja Kau yang paling tampan)" Balas Joana dengan wajahnya yang masih ditangkup oleh Killian.


Killian pun gemas dan merasa senang, meski tidak ditunjukkan dengan ekspresinya, tapi hatinya merasa lega Joana masih memilihnya. Tidak melepaskan tangannya, Killian langsung mencium sekilas bibir merah muda yang terlihat seksi itu.


Joana sontak membulatkan matanya, meakipun sudah sering berciuman dengan Killian, tetap saja membuat jantungnya berdebar.


Killian menjauhkan wajahnya kemudian terkekeh sekilas, sedikit ada senyum di bibirnya, sedikit.


Joana pun terpana dengan ketampanan Killian saat itu.


"Tampan-" Sahut Joana tak sadar.


Killian pun semakin mengembangkan senyumannya tatkala Joana mengatakan tampan padanya.


"Aku ingin melakukannya disini, Sayang."


Hah? Joana tersadar dari tatapannya yang terpesona pada ketampanan suaminya. "Melakukan apa?"


"Yang setiap malam kita lakukan bersama."


"Apa Kau gila? Di dalam kereta? TIDAK!" Jawab Joana menjauh duduk di kursi yang semula digunakan Killian.


Joana langsung menutupi benda berharganya dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Apa Kau masih belum puas setiap malam melakukan itu padaku?!"


Gemas. Itulah yang pas untuk Killian menatap sosok Joana saat ini. Ingin sekali Dia kurung Joana di dalam pelukannya setiap hari.


Killian berpindah duduk lagi, bersebelahan dengan Joana. Namun Joana terus saja menjauh. "Buang pikiran mesummu itu," Joana mengangkat tangan lima jarinya memperingatkan Killian untuk tidak mendekat.


Killian masih gemas memandangi Joana, "Baiklah, setelah sampai kita akan melakukannya di mansion." Timpal Killian langsung menyenderkan kepalanya di bahu Joana. Dia langsung memejamkan matanya. Terasa nyaman.


Joana pun diam saja, tidak mau menolak dirinya sebagai sandaran tidur Killian. Ia tahu selama kabar menghilangnya Marina, Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jadi biarlah Dia tidur sejenak.


***


Di ruang kerja Killian.


Killian sedang meminta Max- Pengawal setianya melakukan pencarian terhadap sosok yang dikatakan Joana mirip dengannya.


"Kerahkan semua bawahanmu untuk mencari Dia,"


"Baik, Tuan." Killian pamit dan langsung menghilang dari pandangan.


Sementara Killian nampak tertekan memijit pangkal hidungnya.


Dia menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya, dan kepalanya menengadah menatap langit-langit.


Apa Joana tidak salah lihat? Bagaimana mungkin Aku memiliki kembaran?


Killian bangkit kemudian berjalan menemui istrinya.


***


Killian menuju kamar yang ditempati dirinya dan Joana, tapi di dalam kamar kosong tidak ada orang.


Lantas Killian menanyai salah satu pelayan yang sedang lewat di depan kamar.


"Apa Kau tahu dimana Grand Duchess sekarang?"


Pelayan itu nampak takut tiba-tiba diajak bicara oleh sang tuan.


"I-it-Itu Yang Mulia, Nyonya Grand Duches ada di dapur, Yang Mulia."


Tanpa membalas, Killian langsung berjalan menuju dapur yang pernah digunakan Joana memasak ramen untuknya.


Apa Dia memasak lagi?


Killian sampai di dapur yang berisi banyak orang.


Terlihat semua koki dan pelayan asik mengobrol dengan istrinya yang ikut membantu memasak.


Saat menyadari kedatangan Grand Duke, semua pelayan dan koki langsung menunduk memberi sapaan sopan, "Selamat sore, Yang Mulia Grand Duke."


"Kau sudah selesai bekerja?" Tanya Joana senang mendapati kehadiran suaminya.


"Pergi kalian semua," Perintah Killian dengan wajah datarnya yang terkesan menyeramkan bagi semua orang, namun tidak dengan Joana, ia sudah terbiasa dengan wajah itu.


Joana sebenarnya bingung kenapa Killian meminta semua orang pergi, dan hal itu langsung ditaati oleh semua pelayan dan para koki.


Killian akhirnya memiliki tempat berduaan bersama Joana.


"Apa yang Kau masak hari ini?"


"Aku ingin membuat kue,"


"Kue?"


Joana mengangguk, "Besok adalah hari ulangtahunmu, karena Kau bilang besok Kau akan pergi, jadi Aku ingin merayakannya hari ini."


"Ulang tahun?" Beo Killian dengan suara lirih namun masih bisa terdengar Joana.