
Setelah dipastikan Daisy adalah Maurice oleh Marina.
Marina membawa Daisy ke tempat tinggalnya di sebuah rumah kecil yang terletak cukup jauh dari area keramaian.
"Sangat menakjubkan Aku bisa bertemu denganmu disini, Maurice. Kakak minta maaf karena sejak awal Kakak tidak mengenalimu." Ujar Marina menatap Daisy dengan pandangan penuh bahagia yang diselimuti kerinduan.
"Aku memiliki alasan kenapa Aku menyembunyikannya dari Kakak." Balas Daisy. "Tapi Kakak jangan khawatir. Nyonya Joana sangat baik padaku. Bahkan Nyonya Joana lah yang sudah menyelamatkanku dari pemilikku sebelumnya."
Marina terdiam sejenak mendengar pernyataan Daisy, "Apakah Mereka masih hidup?" Tanya Marina.
Daisy pun menggeleng sebagai jawaban, Daisy tidak ingin Marina tahu dengan kebenarannya. "Aku sendiri yang memakamkan mereka, Kak." Sambungnya berbohong.
"Aku minta maaf sudah melukai orang terdekatmu,"
Deg,
Kata-kata Marina barusan membuat Daisy merasakan sesuatu yang aneh. Apakah Dia bersungguh-sungguh?
"Tapi sekarang Aku bersamamu, Kau tidak perlu khawatir tentang sendirian di dunia antah berantah ini, Maurice. Aku akan selalu melindungimu." Ujar Marina mengelus rambut merah Daisy.
"Kau lapar?" Tanya Marina kemudian mengalihkan suasana. "Aku masakkan makanan kesukaanmu Maurice."
***
"Masih belum ketemu?" Sahut Joana menoleh ke arah Killian dan Kenzie yang sibuk membaca buku tebal.
Ya, mereka berempat termasuk Ellia sedang mencari tahu tentang sihir api hitam.
Tumpukan buku berserakan di lantai, dari buku yang diambil dari perpustakaan kerajaan yang sudah diselamatkan Kenzie sebelumnya, dan buku kepemilikan menara sihir.
"Masih belum." Timpal Ellia yang meregangkan lehernya karena lelah seharian menunduk membaca buku. Punggungnya juga terasa sangat lelah dan kaku.
"Arhan dan Aarash belum kembali ya?" Gumam Joana menatap Killian.
"Selain buku-buku ini, apakah ada suatu ruang rahasia yang menyimpan rahasia terlarang Foresta Fredda?" Celetuk Ellia membuka suara. "Sepertinya sihir api hitam tidak akan ditemukan di buku-buku ini."
"Lady Earlene benar. Apa Kita perlu ke kediaman Duke Adalberto?" Ujar Joana mendapatkan ide. "Killian mendapat buku itu dari sana kan, bisa jadi ada buku lain yang berkaitan dengan sihir api hitam disana."
Bruk
Killian merasa apa yang dikatakan Joana benar adanya. Dia pun meletakkan buku yang tadi dibaca diatas meja dengan keras sehingga menimbulkan suara.
"Ayo Kita pergi,"
"Bersamaku?" Tanya Joana menatap Killian.
"Grand Duke Killian benar Nyonya." Ujar Ellia kemudian.
"Tapi Kau tahu kan hubunganku denga keluarga Adalberto?" Tanya Joana sekali lagi untuk meyakinkan Killian dan yang lain.
"Kau ingin ini segera berakhir atau berhenti memegang egomu?" Timpal Killian tegas. Baru kali ini Killian bersikap tegas didepan Joana.
"Baiklah..." Ujar Joana pada akhirnya.
***
Mereka berdua sampai di depan gerbang kediaman Duke Adalberto yang baru setelah insiden Joana yang bangkit.
Ini kali pertama bagi Joana menginjakkan kaki disini.
"Katakan Putra Mahkota dan Putri Mahkota ingin bertemu dengan Duke sekarang juga." Ujar Killian pada penjaga gerbang.
Killian berbusana menyerupai Kenzie dan Joana juga memakai dress yang sangat ia benci. Joana lebih menyukai memakai celana daripada dress tebal dan mengembang. Rasanya sangat sesak apalagi korset yang menahan dada.
Segera pengawal itu bergegas pergi sementara pengewal yang lain membukakan gerbang. Sangat tidak sopan jika membiarkan Putra Mahkota dan Putri Mahkota menunggu terlalu lama di depan gerbang.
Dan tak lama kemudian, Duke pun datang karena pengawal yang tadi memberitahukan kedatangan anggota kerajaan.
Namun terkejutnya ia ketika melihat putrinya yang memakai tudung untuk menutupi wajahnya.
"Kau masih hidup?" Gumam Duke Ferio nampak raut kegembiraan disana.
***
"Maafkan Saya Tuan. Tapi Saya tidak tahu tentang rahasia yang dimiliki keluarga Adalberto. Mengingat Saya adalah orang luar jadi Saya tidak tahu." Ujar Ferio setelah ditanyai Killian maksud dan tujuan datang kemari. "Tapi yang Saya ingat, sebelum kelahiran Joana, Catherine istri Saya pernah bercetita tentang Taman Surga."
"Taman Surga?" Beo Joana.
"Dimana?" Tanya Killian pada Ferio.
"Aku tahu."
Seketika kedua pria berbeda usia menatap Joana dengan tatapan penasaran.
"Taman surga adalah tempat adegan Tania dan Daniova menghabiskan masa kecil. Aku pernah melihatnya dulu saat diperlihatkan masa lalu oleh Joana yang asli." Ujarnya yang tidak dimengerti Ferio namun dimengerti oleh Killian. "Taman surga adalah sebuah tempat yang ada pohon besar yang ada di tengah-tengah luasnya rerumputan hijau."
"Kau benar, Ibumu pernah bercerita kalau taman surga adalah tempat dimana ada sebuah pohon legenda yang dapat mengabulkan setiap keinginan. Pohon itu ada disebuah tempat dengan lahan luas berwarna hijau." Ujar Ferio menaggapi ucapan Joana.
"Lalu dimana?" Tanya Killian lagi.