The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 41



Killian, Joana, dan Zero, duduk bersama menikmati sarapan pagi ini. Nampak Joana dan Zero saling bercengkrama satu sama lain mengumbar senyum.


Namun berbeda dengan Killian yang cemberut tidak menyentuh makanannya. Dia cemburu dengan interaksi istrinya dan bocah kemarin.


"Zero, makanlah yang lahap ya," Ucap Joana senang karena Zero makan lahap masakan yng dibuatnya. Joana mengulas senyum puas melihat Zero.


Perhatinnya sedari tadi hanya berfokus pada Zero, ia lupa kalau ada suaminya di kursi utama, sementara Joana dan Zero duduk bersebelahan.


"Apa Kau tidak menanyaiku makan lahap atau tidak?" Suara berat Killian yang terkesan dingin memberikan suasana dingin di ruang makan.


Joana baru tersadar kalau suaminya ia cuekkan. Ia menatap piring yang masih utuh belum dimakan atau disentuh.


"Kenapa Kau tidak makan?"


"Suapi," Hanya itu jawaban yang diberikan Killian. Seperti cemburu pada anak kecil.


"Apa tanganmu terlukan?"


"Tidak,"


"Kalau begitu makan sendiri." Putus Joana mengabaikan suaminya lagi kemudian kembali pada Zero.


Dia tampak manis dan tampan. Tangan kecilnya begitu imut dan menggemaskan.


Disisi lain Killian mengerutkan keningnya menatap Zero, si biang masalah. Ia menatapnya intense bahkan memberikan sedikit kekuatan kegelapan untuk menyingkirkan bocah itu.


"Bibi, Aku sudah kenyang," Ujar Zero tiba-tiba. Sebelumnya ia lahap tapi langsung menjatuhkan sendok dan garpunya.


Joana mengedipkan mata beberapa kali menatap bocah kecil itu langsung pergi dengan kaki kecilnya tanpa mengatakan apapun lagi. Ini aneh...


"Suapi Aku," Sahut Killian puas karena ulahnya berhasil menyingkirkan bocah pengganggu itu.


Joana pun menoleh menatap tajam Killian. Ini pasti ulahnya.


Joana melengos melanjutkn makannya sendiri memgabaikan suaminya.


Dan tentu saja Killian tidak habis akal. Dia menggerakkan bayangannya untuk membawa Joana kepangkuannya.


"Ahhh," Jerit Joana tiba-tiba seperti dibawa oleh sesuatu yang tak nampak.


Killian tersenyum puas Joana akhirnya duduk dipangkuannya.


"Suapi Aku," Mintanya lagi.


Kali ini Joana benar-benar mengalah pada Killian yang sering cemburu tak jelas.


Joana pun menyuapi suaminya. Tapi bukan suapan kecil, ia memberikan sendok penuh makanan, biarlah Dia kewalahan mengunyah makanannya.


Killian hanya mendiami tingkah Joana. Menurutnya Joana terlihat lebih cantik ketika sedang kesal.


***


"Nyonya, Ada Nona Akira Asher datang Nyonya," Ujar Daisy dari balik pintu kamar pasutri yang terdapat Joana dan Killian di dalamnya.


"Asher?" Gumam Killian menanyakan pada istrinya.


Joana menoleh sejenak ke arah Killian, Dia sepertinya meminta penjelasan darinya.


Joana sebenarnya tidak suka dengan kedatangan tiba-tiba Akira, jika Dia rakyat biasa seharusnya Dia tahu batasan hubungan antara bangsawan dan rakyat biasa. Tapi mengapa Lady Asher datang ke Mansion Grand Duke Edellyn tanpa pemberiatahuan sama sekali?


"Aku akan datang kesana Daisy,"


"Apa Kau punya janji dengannya?" Tanya Killian.


"Tidak,"


"Apa Dia datang kemari tanpa membuat janji denganmu?" Suara rendah Killian nampak terdengar seksi ditelinga Joana. Killian dalam posisi memeluk Joana dari belakang, sementara Joana menulis di meja kerjanya.


Mendengar pertanyaan itu juga membuat Joana terheran, Ia harus membuat batasan pada Akira agar tidak melewati batas seperti ini. Meskipun sudah berteman, tapi Joana masih belum merasa cukup dekat dengannya hingga mengundangnya ke rumah.


"Apa Kau mau iku?"


Killian menggeleng pelan, "Kau pergilah, bawa Max bersamamu,"


Joana pun mengangguk dan bangkit dari duduknya, "Apa Kau akan pergi dari sini?"


"Aku akan disini mengawasimu dari kejauhan," balasnya dengan senyum menyejukkan hati Joana. Ia paling suka saat Killian menampilkan senyum yang menambah tingkat ketampanannya. "Baiklah, Aku pergi,"


***


Joana menuruni tangga menuju ruang tamu, disana ada Akira dan Zero yang saling melempar candaan. Joana senang melihatnya.


"Joana," Panggil Akira menyadari kehadiran Joana.


Joana diam tanpa membalas, ia akan memberikan batasan secara jelas pada Akira.


"Ada apa Lady Asher datang kemari tanpa pemberitahuan?" Tanya Joana langsung to the point.


"Lady?" Gumam Akira pelan dan hanya Dia yang bisa mendengarnya. "Aku hanya ingin bertemu dengan anak kecil ini, Joana."


"Zero,"


"Hah?" Akira bingung dengan perkataan Joana.


"Namanya Zero," sambung Joana terkesan datar dan dingin.


"Ah, jadi namanya Zero," "Hi, Zero," Akira tersenyum kearah anak kecil nerambut hitam itu.


Zero membalasnya dengan senyuman. Ia tahu kalau Joana sedang tidak ingin beramah tamah dengan tamunya. Terlihat sekali di rut wajah Joana.


"Apa ada alasan lain?" Tanya Joana lagi.


Gadis berambut coklat itu kemudian tersenyum kemudian memberikan jawaban, "Aku hanya ingin bertemu dengan temanku, Aku merindukanmu, Joana."


Joana tidak merubah ekspresinya sama sekali.


Gadis ini memang polos atau memang tak tahu diri hah? Batin Joana.


Daisy datang membawa nampan berisi teko dan cangkir teh. Ada juga beberapa camilan yang disediakan untuk Zero, ada juga susu putih untuknya juga.


Saat Daisy meletakkan gelas teh, tiba-tiba tangannya menyenggol gelas susu dan jatuh.


Namun sebelum gelasnya jatuh ke lantai, dengan tangkas dan reflek yang bagus, Akira dapat menangkapnya.


"Ah, Maaf Nona, Maafkan Saya, Maafkan Saya Nyonya," Daisy dengan raut wajah takut dan bersalah.


"Tidak apa-apa Daisy," Senyum Akira ramah.


Tapi hal itu membuat Daisy semakin bersalah karena gaun yang dikenakan Akira berubah putih karena susu.


"Daisy, bisakah Kau mengambilkan gaun yang tidak pernah Aku pakai pada Lady Asher?" Ujar Joana kemudian. Dia juga merasa tidak enak sebagai tuan rumah.


"Ah, Joana, itu tidak perlu, lagipula Aku akan pulang, Aku masih ada pekerjaan nanti, jadi tidak perlu," Tolak Akira dengan canggung.


"Ambilkan sekarang, Daisy."


Daisy pun mengagguk kemudian melenggang pergi.


Max yang melihat kejadian tadi sebenarnya merasa sedikit keanehan, karena Dia sekilas merasakan sedikit aura sihir di tubuh Lady Asher, tapi saat Daisy menumpahkan minuman tadi, auranya tiba-tiba hilang.


"Aku minta maaf atas kecerobohan pelayanku, kuharap Lady Asher dapat memakluminya," Ujar Joana sedikit menundukkan kepala. Ia harus menampakkan batasan itu.


"Anda tidak perlu begitu Nyonya," Timpalnya canggung.


Joan pun tersenyum, sedikit, sangat kecil hingga tak terlihat orang lain. Sepertinya Dia berhasil membuat Akira mengetahui batasan itu.


Daisy pun datang dengan membawa sebuah gaun sederhana berwarna biru. Meskipun sederhana, tapi gaun itu terlihat sangat indah. Setidaknya yang dipilih Daisy kali ini cocok untuk Akira, apalagi Dia bilang Dia akan bekerja.


***


Akhirnya Akira pulang setelah diusir Joana dengan kata-kata pengusiran tidak langsung. Joana memang ingin memiliki teman yang tidak memerdulikan status. Tapi yang dilakukan Akira terasa cukup mengganggu. Dia sering berceloteh tidak jelas dan kali ini datang tanpa pemberitahuan.


Lebih terlihat ada niat tersembunyi dibalik sikap Akira.


"Sudah pergi?" Suara lembut Killian tiba-tiba hadir diruang tamu.


Joana pun menoleh ke arahnya.


"Aku merasakan aura aneh di tubuhnya," Gumam Killian memluk Jaoan dari belakang. Bodo amat dengan Zero dan Max yang masih disana. Ia sangat merindukan istri tercintanya.


"Aura aneh??"