
Banar kata Aarash.
Bahkan tak membutuhkan waktu tujuh hari. Dua hari sejak diberitahukan menara sihir akan menjadi target, dengan panik Arhan sebagai penyihir agung meminta semua bawahannya untuk menyimpan semua peralatan kuno dan buku bersejarah yang penting. Jangan sampai semua ikut habis terbakar oleh Marina.
***
Dua hari yang lalu...
"Apa?!"
"Cepat kembali ke menara sihir sebelum semua terlambat." Ujar Aarash lagi. "Aku temani sekarang." Aarash pun bangkit dari duduknya merangkul Arhan yang tengah cengo kebingungan tak mengerti dengan situasi saat ini.
"Kenapa tidak melawan Marina dan Stevan saja?!"
Brakk!
Seketika ke empat pria yang ada di ruangan lusuh itu menatap satu tempat yang sama, yaitu pintu yang baru saja dibuka oleh seseorang.
"Joana..." Sahut Killian langsung menghampiri Joana. "Bagaimana perasaanmu?"
"Aku punya rencana."
Hah?
"Rencana?" Beo Killian bingung. Kenapa tiba-tiba Joana?
"Tulis surat anonim dan kirim pada Marina. Katakan Mairice ada di dunia ini." Ujar Joana dengan wajah tanpa ekspresi. Matanya bengkak akibat menangis beberapa hari nonstop memikirkan anaknya yang belum lahir pergi lebih dulu.
Selama tiga hari itu, selain memikirkan kematian jabng bayinya, Joana melamun memikirkan cara membalaskan dendam tanpa harus mengorbankan salah satu pihak, termasuk Marina. Joana tidak ingin pembalasan dendamnya dengan cara kematian Marina.
Setelah berada di tubuh Maurice, Joana tidak ingin membalaskan dendamnya dengan kematian Marina, karena Joana tahu kenapa Marina menjadi jahat seperti saat ini. Itu karena dunia yang dulu ia tempati tidak memiliki empati sekedar menemani adiknya di saat terakhirnya.
Marina bahkan tidak bisa menemani Maurice dalam acara pemakamannya. Dan itu karena dunia yang terlalu egois hanya memperdulikan atasan dan mengabaikan kepentingan yang dianggap kepentingan negara itu, membuat penyesalannya pada kematian Maurice semakin besar.
Karena misi sialan itu Marina tidak bisa bersama Maurice. Dia pun dengan sengaja bunuh diri bersama dengan rekan timnya di militer.
Bukan kecelakaan maupun keteledoran, tapi karena pembalasan dendam Marina atas kematian Maurice adiknya dengan cara bunuh diri bersama orang-orang yang mengatasnamakan negara.
"Apa maksudmu, Sayang. Dan siapa Maurice?" Tanya Killian mewakili pertanyaan ketiga pria lainnya.
"Adiknya Marina."
Sontak mendengar hal itu membuat Arhan, Kenzie dan Aarash saling menatap dengan pikiran yang sama. Marina memiliki adik?
"Aarash." Panggil Killian menatap Aarash. "Segera tulis dan kirimkan!"
"Baik, Tuan." Aarash mengangguk mengerti kemudian meninggalkan mereka bersama dengan Arhan yang harus bersiap dengan serangan yang bisa datang kapan saja.
***
"Ada balasan dari Marina." Ujar Aarash memasuki sebuah pondok terpencil yang ada di tengah hutan salju. Pondok itu adalah milik Killian.
Kemarin mereka baru saja menempati pondok itu dengan sembunyi-sembunyi melewati gang-gang kecil yang tak terlalu ramai agar jauh dari kecurigaan, karena banyak orang yang berpikir Grand Duke dan Grand Ducheas meninggal saat kebakaran. Dan jika orang-orang tahu ternyata mereka masih hidup, bisa-bisa terdengar ke telinga Marina dan Stevan, jadi sebisa mungkin mereka melewati jalur sepi dengan mengenakan pakaian bangsawan biasa.
"Okey. Tujuan pertama Kita adalah Marina. Kita sudah tahu kelemahan Marina, jadi mari kita lakukan rencana pertama!"
RENCANA #1
Mendekati Marina tanpa dicurigai
Berdiri di depan sebuah toko. Daisy di dandani sedemikian rupa agar terlihat seperti bangsawan.
Setelah perundingan rencana, Daisy mengajukan diri untuk berpura-pura menjadi Maurice menggantikan Joana karena mereka sedang bersembunyi dari kejaran.
Awalnya Joana meminta Ellia untuk masuk dalam rencana, tapi karena Kenzie melarang keras, jadi Daisy lah yang menawarkan untuk menjadi Maurice. Jadi sebelum rencana di mulai, Joana membimbing Daisy untuk bagaimana menjadi Maurice.
"Apa Kau yakin?" Tanya Joana ragu melepaskan pelayan setianya untuk maju di garis depan.
"Saya yakin, Nyonya. Meskipun Saya sedikit takut, Saya ingin membalas Budi pada Nyonya yang telah menerima Saya. Saya sangat bersyukur bertemu dengan Nyonya hari itu. Sekarang tujuan utama Saya adalah melindungi Nyonya." Balas Daisy penuh keyakinan.
"Kembalilah dengan selamat, Daisy." Peluk Joana pada Daisy.
Sejak kedatangannya ke dunia ini, hanya Daisy saja yang menemaninya. Daisy sudah seperti teman untuk Joana. "Kalau Kau dalam bahaya, segera lari dan jangan dilawan. Mengerti?"
Daisy tersenyum tatkala Nyonya yang ia layani ternyata begitu menghawatirkannya. "Baik, Nyonya." Angguk Daisy dengan senyum.
.
.
.
"Maurice?"