The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 61



Deg!


Jantung Daisy seperti copot karena mendengar nama yang Dia perankan.


Daisy pun menoleh ke arah wanita cantik berambut coklat yang memanggilnya.


"Bukankah Kau pelayan Joana?" Tanya Akira Asher alias Marina dengan tubuh barunya. "Kau selama ini ada di tubuh ini, Maurice?"


Grep


Tiba-tiba saja Marina langsung memeluk tubuh kecil Daisy.


"Ka-kak," Gumam Daisy sedikit ragu dan takut.


Namun Marina yang dipanggil Kakak merasakan familier yang sangat ia rindukan. "Aku merindukanmu, Maurice. Aku sangat merindukanmu..." Gumam Marina semakin mengeratkan pelukannya.


***


"Marina benar-benar percaya," Sahut Arhan yang mengintip dari balik jendela toko kue dan roti. Dia bersama Aarash mengamati kedua perempuan itu dengan berpura-pura sebagai pengunjung toko, meski bisa di bilang Arhan tidak menyukai tempat yang mereka gunakan, karena Arhan pada dasarnya tak pernah mengunjungi toko seperti ini. Namun lain halnya dengan Aarash yang terlihat menikmati menu yang dijual di toko kue itu.


"Aku akan mengikuti mereka," Arhan bangkit dari duduknya menawarkan diri untuk segera pergi dari toko yang berbau manis itu.


Arhan mengikuti semua gerak-gerik Daisy dan Marina. Meski rasanya ini lebih menegangkan karena Arhan tahu seberapa kuat kekuatan Marina yang sesungguhnya. Jika Dia ketahuan, nyawa jadi taruhannya.


***


"Bagaimana dengan Stevan?" Joana membuka suara bertanya pada Killian tentang kelanjutan rencana mereka.


"Aku belum menemukan informasi tentangnya. Tapi dari dokumen yang diberikan Duke Ferio Adalberto, kemungkinan besar Stevan adalah keturunan Adalberto sesuai dengan yang Kau ucapkan."


"Ayahku?" Beo Joana. "Ayahku memberikan dokumen padamu?"


"Dia memberikan buku turun temurun milik keluargamu dengan suka rela. Tapi karena kurangnya informasi, hanya sedikit halam yang bisa diterjemahkan."


"Diterjemahkan?"


"Ya, buku itu menggunakan aksara aneh yang tidak diketahui. Tapi entah kenapa Aku pernah melihat aksara itu disuatu tempat."


Joana pun ikut melihat buku kuno dengan aksara yang familiar untuknya.


Bukankah ini huruf latin?


"Ini huruf yang ada di duniaku," Sahut Joana membuka halaman pertama buku itu.


Sontak Killian pun menatap wajah serius yang Joana tunjukkan. "Jadi Kau bisa membacanya?"


'Berhati-hatilah dengan kegelapan'


Pada malam terjadi gerhana, seorang bayi laki-laki lahir di dunia dengan rambut hitam legam bak langit malam yang membuat Dia juluki sebagai anak kutukan.


Anak itu memiliki kekuatan aneh yang keluar dari tubuhnya. Setiap kali anak itu menangis, Dia akan mengeluarkan sihir api berwarna hitam yang dianggap sebagai api kegelapan.


Anak itu diberi nama Hedes seperti nama dewa di dunia bawah dalam mitologi Yunani.


Dan sejak kelahiran Hedes, dunia itu tidak berhenti dari hujan salju yang selalu menutupi negara itu.


Banyak orang yang mengaitkan kelahiran Hedes dengan sebuah ramalan menyeramkan, yaitu Berhati-hatilah pada kegelapan. Jangan pernah membawa kegelapan di sampingmu. Jangan biarkan kegelapan hidup diantara cahaya.


Disaat kegelapan bangkit, seluruh dunia akan dipenuhi kegelapan dan hanya hati beku yang dapat menyingkirkan kegelapan.


Semakin bertambah usia, kekuatan anak itu semakin besar dan sering dianggap orang-orang sekitar sebagai pembawa bencana, sehingga Sang Ibu membawa anak itu pergi ke tempat dimana sihir dianggap biasa dan anak itu bisa tinggal dengan nyaman tanpa hinaan dari orang-orang.


Sang Ibu awalnya merasa senang ketika melihat putranya dengan bebas bermain dengan teman seusianya yang sama-sama memiliki kekuatan sihir.


Hingga suatu ketika, Hedes membunuh semua teman-temannya dengan cara yang paling mengenaskan, dibakar hingga menjadi debu.



Seketika hal itu membuat Sang Ibu ketakutan. Dia teringat dengan ramalan belasan tahun lalu, jangan biarkan kegelapan mendekati cahaya, karena kegelapan akan memakan semua cahaya itu.


Dan benar saja, anak-anak yang dibunuh Hedes adalah anak-anak dengan kekuatan sihir cahaya.


Sang Ibu semakin panik dan dipenuhi dengan ketakutan mengingat bahwa dirinya sendiri adalah pengguna sihir cahaya.


"Ibu, Kau baik-baik saja?"


Deg!


Sang Ibu sontak memundurkan badannya reflek karena takut dengan putranya sendiri. Sang Ibu menunjukkan ekspresi sangat ketakutan dengan keringat membasahi pelipis.


Jantungnya tak berhenti memompa seiring dengan seringai aneh yang diberikan Hedes padanya.


"Jadi Ibu sudah tahu, yaa..." Hedes menunjukkan seulas senyum yang sangat menyeramkan, seakan ingin segera memangsa Ibunya sendiri.


"Apa maksudmu Hedes?" Ujar Sang Ibu berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan putranya. Ia pun dengan segera sebisa mungkin mengatur pernapasan dan wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang sedang ketakutan.


"Ibu melamun tentang buku horor yang Ibu baca, ceritanya sangat menyeramkan." Timpal Sang Ibu sebagai alasan. "Kau sudah makan? Ibu akan memasukkannya untukmu,"


Sang Ibu menyesal telah melahirkan seorang anak iblis yang sangat menakutkan. Seharusnya ia membunuh Hedes sejak bayi. Seharusnya ia tidak pernah membawanya ke dunia ini.


Hingga pada saat tengah malam di malam gerhana bulan, Sang Ibu membekap Hedes untuk membawanya ke sebuah tempat tempat yang sudah digambari lingkaran sihir dengan aksara-aksara aneh berusaha untuk menyegel Hedes saat kekuatannya melemah saat gerhana bulan terjadi.


"Ibu, Apa yang Kau lakukan, Aaargggghhhh" Jerit Hedes merasakan kesakitan luar biasa di sekujur tubuhnya.


Dan bayaran setelah melakukan penyegelan itu, Sang Ibu harus harus mengorbankan nyawanya sebagai imbalan sihir segel. Berharap Hedes jangan sampai ada yang membangunkannya.


Di tulis oleh Catarina Adalberto.