
Setelah insiden ledakan itu, Joana dan yang lain semakin hati-hati dalam percobaan penggunaan sihir. Kali ini Arhan yng memimpin dengan Joana yang mengambil posisi siap siaga apabila kejadian tadi terulang lagi.
Kali ini penyatun sihir dilakukan oleh tiga orang atau lebih sekaligus untuk mengetahui sistem oencampuran energi sihir ini.
Sebagai penyihir agung tentu saja Arhan sangat antusias apalagi di masa-masa sebelumnya tidak ada sejarahnya penyatuan sihir api ini.
"Sayang, bisakah Kau bangunkan Zero datang kemari?" Ujar Killian pada Joana. Killian saat ini sedang ingin mencoba dengan sihir api merah milik anak angkatnya. Jika benar bisa dikendalikan, Ia juga bisa menggunakan sihir api merah juga, hal itu bisa menambah kemungkinan kemenangan mereka.
"Biar Aku yang panggil, Nyonya Joana teyap disini berjaga-jaga." Sahut Ellia yang segera diangguki Joana.
"Kenapa Zero?" Tanya Max yang belum tahu kalau Zero adalah oemilik sihir aoi merah juga selain Marina.
Aarash yang mendengar pertanyaan Max cukup sinis dengannya. Ia masih belum mempercayai Max. Dan akan bahaya jika menujukkan sihir api merah Zero pada Max. Karena Zero lah kartu As yang mereka miliki.
Mereka beristirahat sejenak menunggu kedatangan Ellia dan Zero.
Dan akhirnya setelah beberapa menit, mereka berdua datang.
"Selamat siang, Ayah. Selamat siang Ibu." Ujar Zero dengan suara serak khas bangun tidur. Layaknya anak kecil, ia juga mengucek-ucek matanya dan menguap seperti masa tidurnya yang berkurang karena dibangunkan.
"Aarash, bisakah Kau latih Zero cara menstranfer energi sihir?" Pinta Killian. "Bawa Zero ke halaman belakang."
"Baik Tuan." Timpal Aarash dengan sumringah. Setidaknya Killian juga masih waspada terhadao Max.
"Kali ini jangan sampai ada ledakan." Ujar Killian sebelum Zero dan Aarash meninggalkan tempat. "Sayang, Kau ikutlah dengan Mereka. Kau tahu sihir Zero belum sempurna, kan?" Sambungnya meminta Joana istrinya.
"Kau juga harus ikut, Killian." Kali ini gantian Joana yang menyuruh Killian. "Aarash tidak memiliki sihir api."
Benar juga. Batin Killian.
***
Latihan dari siang sampai malam. Arhan, Kenzie, dan Max di halaman depan sedangkan sisanya di halaman belakang melatih Zero. Sementara Ellia berada di depan mengobati jika ada yng terluka saat penyatuan sihir.
Zero masih belum menguasai transfer api. Sejak tadi yang Dia keluarkan adalah sihir menyerang.
"Kau bisa Zero! Kau bisa!" Teriak Joana menyemangati Zero yang mulai kelelahan. Keringatnya bergulir besar jatuh dari janggut mungilnya.
"Okey, Zero. Rasakan Kau sedang memberikan sihirmu padaku, mengerti?" Sagut Aarash tak menyerah mengajar anak usia tujuh tahun itu.
Zero pun menambah kekuatannya lagi. Ia tidak mau mengecewakan semua orang yang telah membantunya. Terutama Ibu dan Ayah angkatnya.
Zero menutup mata, membayangkan ia memberikan api miliknya pada seseorang. Tamgan mungilmya diangkat ke udara untuk mentransfer apinya lagi.
Blarrr
Gagal lagi.
Hah hah hah hah
Deru napas Zero terdengar saat ia menitup matanya lagi.
"Zero!" Ujar Killiam tiba-tiba dan sontak Zero pun membuka matanya menatap Ayahmya yang tinggi gagah perkasa berjalan mendekatinya. "Lihat ini." Sambungnya mengeluarkan api biru yang melayang diatas udara. "Coba pusatkan fokusmu pada api itu, dan transfer energi mu kesana."
Zero pun mengangguk mengerti. Kali ini ia tidak menutup mata, tapi memfokuskan pandangannya ke satu titik, yitu pusat api itu.
Blar!
Gagal lagi.
Api milik Killian malah meledak saat api merah Zero menyetuhmya.
Killian mengeluarkan bola apinya lagi. "Lagi."
Lagi
Lagi
Lagi
Percobaan ke-12
Dari matahari yang terik berganti dengan malam yang dingin. Disaat Max dan lainnya yang berada di depan selesai, Zero masih belum selesai.
Wajar saja jika anak usia tujuh tahun belajar mentrasfer sihir, karena biasanya teknik ini baru diajarkan di akademi.
"Zero, istirahatlah dulu. Kita lanjutkan besok." Ujar Joana memghawatirkan tubuh kecil Zero yang nampak rapuh. Ia sudah snagat kelelahan, tapi sejak tadi Zero selalu menolah. Begitu juga kali ini. Zero menolak.
Namun yang gila adalah, Aarash dan Killian yamg belum menunjukkan gelagat menyudahi latihan Zero.
"Hei, Kalian pria tua!" Sahut Joana dengan setengah teriak.
Keduanya menoleh ke arah Joana dengan cengo. Pria tua? Batin mereka berdua dmegan tatapan tidak suka dengan panggilan itu.
"Aku akan membiarkan jika kalian masih ingin berlatih lagi. Tapi Zero harus istirahat. Tubuhnya tak seperti tubuh si maniak perang seperti Kalian!" Sambungnya yang sudah berteriak.
"Nyonya benar," Balas Aarash.
"Panggilan pria tua maksdumu?" Timpal Killian sinis. "Yang dimaksud pria tua oleh Joana adalah Kau bukan Aku." Sambungnya dengan kenak-kanakan berlari menyusul Joana. "Aarash, Sekalian mandikan Zero!" Teriaknya menoleh kebelang sejenak menatap Aarash dan Zero bergantian
"Kenapa Aku? Dia Anakmu!" Teriak Aarash tak terima disuruh memandikan seorang anak. Apalagi ia juga tidak pernah mandi bersama orang lain.