The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 68



Max terdiam melihat pertempuran antara Dua orang berwajah sama itu. Tubuhnya lemas untuk sekedar ikut bertarung. Max saat ini benar-benar bingung dengan pilihannya.


Terlihat Killian sudah diambang batas kemampuannya. Tubuh Killian sudah terlihat penuh darah segar mengalir di punggung dan tangannya.


Killian bukanlah tandingan untuk sihir Stevan. Killian akan mati jika terus berada disini.


Dan tak berselang lama, benar saja, Stevan dengan mudahnya mengingat Killian yang sudah kehabisan tenaga.


Tubuhnya terangkat seraya dengan ikatan Stevan. Sehingga tubuh Killian membentuk huruf X yang terikat dengan kokoh oleh api hitam Stevan.


Brak!


Mata Max membelalak melihat tubuh Arhan yang tersungkur pingsan dengan di ikat seluruh tubuh dengan tali yang terbuat dari api.


Betapa kengerian sihir yang Stevan miliki.


"Jadi siapa yang harus Aku bunuh terlebih dahulu, Max?" Tanya Stevan dengan senyum gilanya.


Max gemetar ketakutan, baru pertama kalinya Max melihat kekuatan Stevan yang mengerikan seperti ini.


"Aku penasaran, jika Killian mati, apakah Aku bisa menggantikan posisinya untuk mendekati Joana?"


"Jangan ha.rap untuk bisa men.de.kati Joa.na-" Sahut Killian berusaha berbicara meski lehernya telah terikat dan kesulitan bernapas.


Jreb


Bagaikan pisau, api hitam itu menembus dada Killian hingga mengeluarkan darah. Mulutnya juga mengalir darah segar, matanya kian memerah berusaha untuk tetap bertahan demi melindungi orang-orang tercintanya.


Sementara Max yang melihatnya merasakan gejolak yang luar biasa. Perasaan melindungi tiba-tiba menggelora di hatinya. Hingga lah Max bangkit berdiri dengan tertatih kemudian menusuk dada Stevan dengan pedangnya.


Meskipun pedangnya lemah, tapi setidaknya bisa membuat Stevan melepaskan Killian.


Killian pun terjatuh ke tanah dengan tubuh tak berdaya namun kesadarannya masih bisa melihat apa yang dilakukan Max untuknya.


Stevan membulatkan matanya tak percaya pedang yang ia berikan khusus pada Max malah menusuknya sendiriz apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan?


Stevan juga terjatuh. Memegang gagang pedang yang masih menancap di dadanya.


Max berjalan kembali mengambil pedang Killian dan kemudian ditancapkan lagi di tubuh Stevan.


Jrep Crat


Cipratan darah itu sampai membasahi Max. Namun Max tak peduli.


Dengan segera ia berbalik menatap Killian dan Arhan bergantian. Kedua pria dengan pangkat tertinggi namun lemah dihadapan Stevan.


Stevan sudah tak dapat bergerak lagi. Sebagai orang dari dunia lain, ia sangat tahu jelas jika pedang itu ia cabut saat ini, darahnya akan sangat banyak keluar dan bisa membuatnya mati karena kehabisan darah, oleh sebab itu Dia hanya terdiam menatap penuh kemarahan pada bawahannya yang sudah setia melayaninya.


"Hei, bangun!" Max sudah tak punya banyak waktu lagi untuk membangunkan Arhan dengan cara halus, sehingga Max hanya menendang tubuh Arhan dengan keras agar terbangun.


Dan tak berapa lama Arhan pun terbangun menatap sekeliling.


Didapatinya Killian yang terbaring dengan tubuh penuh darah segar dibagian dada. "Tuan,"


"Cepatlah pergi dari sini," Ujar Max lagi menatap Arhan kemudian berbalik untuk melihat kondisi Daisy. Tubuhnya masih lemas tapi ia berjuang untuk tetap berdiri hingga pada akhirnya tubuhnya sudah tak kuat menahan dirinya sendiri hingga terjatuh.


Killian pun bangkit kemudian berjalan mendekati Max, "Kau angkat Daisy, Aku akan mengangkat Max," Sahut Killian pada Arhan yang terlihat masih terlihat bingung dengan apa yang sudah ia lewatkan.


Arhan juga berdiri karena tali yang mengikatnya terlepas dengan Stevan yang ternyata sudah dalam kondisi mengenaskan meski ia masih sadah.


Saat berjalan menjemput Daisy, Arhan sesekali melirik Stevan yang juga melihatnya dengan tatapan tajam. Stevan terlihat seperti orang bodoh yang melihat musuhnya lepas dalam pengawasannya.


Killian langsung mengangkat lengan Max untuk diletakkan diatas pundaknya kemudian memapahnya namun malah mendapat penolakan dari Max.


"Aku tidak butuh bantuanmu!" Ketus Max namun diabaikan Killian.


"Aku tidak rela Kau mati ditangannya. Lebih baik Kau mati ditanganku." Balas Killian tidak peduli dan mengeluarkan sihir tersisinya untuk melakukan teleportasi.


***


Joana dan Killian sedang duduk berhadapan. Yang mana Joana saat ini sedang membersihkan luka yang ada di tubuh suaminya.


Meskipun ototnya besar, yang namanya manusia pasti merasakan sakit jika terluka. Itulah yang Joana pikirkan menatap luka tusukan yang sangat dalam. Selain luka tusukan, terlihat banyak sekali luka goresan dan luka yang disebabkan dari ikatan.


Joana terus fokus membersihkan luka itu. Wajahnya masih tak berani menatap suaminya. Ia sangat merasa bersalah membuat keadaan semakin runyam.


"Kau marah padaku?" Tanya Killian yang sedari tadi melihat ekspresi Joana yang tak terlihat seperti marah atau sedih.


"Aku tidak marah padamu." Balas Joana kemudian, "Aku hanya marah pada diriku sendiri."


"Seharusnya Aku tidak melibatkan Daisy, dan karena diriku Kau juga terluka," Sambung Joana yang mulai terisak. "Kalian terluka karena Aku hiks."


Killian menghela napas sekilas kemudian menangkupkan wajah mungil Joana kedalam tangannya kemudian ia angkat agar bisa ia lihat. "Aku akan melindungimu apapun yang terjadi, Sayang. Aku akan melakukannya lagi dan lagi meski harus mengorbankan nyawaku." Ujarnya pelan dan lembut memberikan pengertian pada istrinya.


Namun hal itu malah mendapat pukulan dari Joana. Awww. Rintih Killian melebih-lebihkan rasa sakit akibat pukulan Joana yang mengenai bahunya.


"Kau boleh membiarkan Aku mati, lagipula Aku masih hidup di dunia sana!" Ujar Joana memukuli lengan suaminya. ia tidak bisa membayangkan Killian mati demi dirinya. Dan itu tidak boleh terjadi. Joana bertahan di dunia ini dengan tujuan menyelamatkan Killian, ia tidak ingin malah membuat Killian mati karenanya. "Jangan pernah bahas kematian lagi denganku!"