
"Ini bukan darahku." Jawab Killian santai.
Seketika Joana tersadar, Ia lupa kalau Killian iblis haus darah. Percuma saja ia panik.
Joana segera mundur menatap Killian yang tersenyum aneh.
Joana sebenarnya takut, beberapa hari bersama Killian melupakan kenyataan Dia dalam novel di ceritakan sebagai Psycopat yang menyukai darah segar dari mangsanya. Joana hanya menelan salivanya kuat kemudian menuju meja kerjanya lagi.
Killian merasa tatapan dari Joana padanya berubah. Seperti ada kilat ketakutan dimatanya. "Apa Kau takut, Sayang?" Tanya Killian pada gadis yang memunggunginya.
"Kau mandilah dulu, Kau terlihat menyeramkan." Jawab Joana tanpa menoleh.
Killian pasrah dan langsung menuju kamar mandi.
Setelah batang hidung Killian pergi, Joana baru bisa bernapas lega yang sebelumnya sedikit ia tahan karena baru darah yang sangat menyengat.
"Aku melupakan wujud asli Killian." Gumam Joana.
Setelah Killian selesai mandi dan menghilangkan seluruh aroma anyir di tubuhnya. Dia mendapati Jaoan sudah memejamkan mata dibawah selimut tebalnya.
Joana memilih tidur daripada bercengkrama dengan Killian. Ia masih takut dengan sosok Killian yang membunuh demi kepuasan. Bisa-bisa ia jadi target pembunuhan Killian.
Killian ikut merebahkan tubuhnya di samping Joana. Memeluknya dari belakang.
Namun Joana akhirnya bangun karena menyadari pasti laki-laki itu belum mengeringkan rambutnya langsung berbaring di belakang.
Joana pun mengganti posisi menghadap ke wajah Killian.
"Bangunlah. Akan ku keringkan rambutmu."
Dengan telaten Joana mengacak-acak rambut coklat Killian dengan handuk. Apa Dia tidak kedinginan? Bukannya ganti baju malah telanjang hanya pakai handuk? Gumam Joana dalam hati.
"Sayang..." Sahut Killian dengan suara rendah.
Hening, Joana tidak bersuara hanya fokus pada rambut pria yang membelakanginya.
"Apa Kau takut padaku?" Tanya Killian yang memasang wajah sendu. Ia takut Joana akan menghilang setelah tahu betapa mengerikannya dirinya. Sebenarnya sebelum masuk ke kamar utama, Killian kira Joana masih di kamar timur, karena badannya lelah setelah pergulatan sore tadi.
Tapi betapa terkejutnya saat Joana sedang berada disana.
Dan saat Joana khawatir padanya, ada perasaan senang di hati terdalamnya. Untuk pertama kalinya ada yang khawatir padanya, untuk pertama kalinya ada orang yang bisa berbagi rasa dengannya.
"Tentu Aku takut."
Deg!
Jantung Killian seperti mati rasa, mendengar jawaban itu. Tubuh dan kepalanya terdunduk lesu. Wajar jika Joana takut pada julukan iblis haus darah yang melekat pada diriku.
"Aku takut Kau yang terluka, syukurlah itu bukan darahmu."
Jawaban Joana yang berikutnya membuat Killian mendongak dan menoleh ke arah Joana yang ada dibelakangnya.
Killian menatap mata biru dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan. Ada sebuah rasa senang dan lega dimata merahnya.
Dengan cepat langsung memeluk tubuh kecil Joana. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher gadis itu.
"Ku pikir Kau takut pada iblis haus darah sepertiku." Gumam Killian dengan suara lirih masih meringkuk menenggelamkan wajahnya.
"Aku sudah mengenalmu sejak dulu, Killian. Apa Kau lupa Aku sudah membaca novelmu?" Jawab Joana mengusap punggung kekar suaminya yang telanjang.
Ada senyum yang tidak diketahui Joana terbit di bibir tebal Killian. "Terimakasih." Gumam Killian lagi.
"Apa Raja sialan itu yang memintamu lagi?" Tanya Joana mengalihkan pembicaraan. Joana tahu betul alasan Killian menjadi seperti ini. Selain salah Ayahnya, Raja Kerajaan Foresta Fredda juga ikut berperan dalam pembentukan kepribadian Killian.
Killian terkekeh mendengar kata-kata Raja Sialan keluar dari mulut Joana. "Sepertinya hanya Kau yang berani memanggil Dia dengan dengan sebutan sialan." Killian mendongakkan kepalanya memandang wajah ayu Joana. "Dia cocok dengan sebutan Raja Sialan." Sambungnya kemudian.
Killian sekali lagi terkekeh. Mulutnya cukup berani mengumpat seorang raja. "Apa Aku terlihat tampan dimatamu?"
"Tentu saja Kau sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari penggambaranmu di novel. Seharusnya penulis memberikan deskripsi yang jujur pada wajahmu, tidak memberikan deskripsi singkat. Kau lebih sempurna dibanding Putra Mahkota ataupun Kenzie itu." Balas cepat Joana yang kemudian dibalas sebuah pelukan erat di tubuhnya.
"Terimakasih, Sayang." Bisik Killian penuh bahagia.
Joana sering mendapat pelukan dari Killian. Tapi entah kenapa pelukan kali ini terasa berbeda, lebih hangat dari biasanya. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya. 'Aku Mencintaimu, Killian.' Batin Joana membalas pelukan Killian.
Alih-alih mengatakannya secara langsung, Joana memilih mengatakannya dalam hati. Dalam hati kecilny yang terdalam, Ia masih takut dengan cerita Killian yang akan jatuh cinta pada Marina. Meskipun sekarang Killian bilang mencintaiku, tidak menutup kemungkinan hati Killian akan berpaling darinya.
"Killian." Gumam Joana di tengah pelukan.
"Ganti baju sana."
Killian melepaskan pelukannya dan memegang dua bahu yang tertutup gaun tidur tebal. "Apa Kau gugup melihat tubuhku?" Tanya Killian dengan ejekan namun juga menggoda. "Apa mau melanjutkan sore tadi?"
"Cepat pergi sana!" Balas Joana menendang tubuh kekar itu kemudian menyembunyikan seluruh badannya di balik selimut.
Killian pun terkekeh gemas melihat Joana yang tersipu malu itu.
Flashback on
Killian usia lima tahun menangis meratapi sang Ibu yang masih berada di dalam rumah yang terbakar, sementara Dia ditahan oleh seorang pria setengah abad mencegah agar Killian tidak implusif masuk ke rumah yang terbakar itu.
"Bawa anak ini pergi." Sahut pria setengah abad itu kepada ajudannya. Dan dengan segera Killian dibawa menaiki kuda menjauhi tempat itu.
Sementara Killian terus berteriak histeris meninggalkan Ibunya sendiri di rumah terbakar itu.
"Ibuuuu!!!!!!"
***
Killian dibawah ke suatu tempat gelap. Tangannya terborgol dan kakinya di ikat dan di kurung dalam jeruji besi.
Tiba-tiba seseorang pria datang dan masuk dengan angkuh menunddukkan kepalanya berdiri menatap seorang bocah yang tertunduk lesu diatas lantai.
Killian pun mendongak ke arah pria setengah abad yang berada di peristiwa itu.
Dengan tatapan garang, Killian memberontak. "Kau membunuh Ibuku, Sialan!" Killian berontak dengan marah meskipun tangan dan kaki kecilnya di ikat sedemikan rupa.
Namun pria tua itu hanya tersenyum sinis melihat anak kecil dibawahnya.
"Pukuli Dia sampai Dia meminta pengampuna." Sahut Pria tua itu pada penjaga penjara dan langsung meninggalkan Killian menggeram kesakitan di pukuli di tubuh anak kecilnya yang masih berusia lima tahun.
10 tahun kemudian, di usia Killian menginjak 15 tahun.
Dia menjadi pembunuh bayaran di bawah kaki pria tua yang sudah membunuh Ibunya dan menyiksanya terus-menerus. Dia adalah Grand Duke Raymon Edellyn, Ayah kandung Killian yang tidak ia ketahui.
Setelah kejadian penyiksaan itu, Killian tahu pria tua itu tidak akan melepasnya. Killian akan dijadikan sebagai mesin pembunuh suatu saat nanti. Mesin pembunuh yang patuh dan tidak menyakiti tuannya pastinya.
Setiap kali Killian melakukan kesalahan di tugasnya, Dia akan dibawa ke sarang monster srigala raksasa peliharaan Raymond.
Namun karena kegigihan Killian, Dia dapat menebas habis seluruh monster itu, hingga akhirnya Dia mendapat julukan iblis haus darah.
Bagaimana bisa seorang anak berusia belasan tahun menghabisi monster yang biasanya bisa dibunuh oleh lima sampai enam prajurit terlatih. Tapi Killian yang notabene anak 13 tahun menghabisi tiga monster sendirian.
"Sudah Kau singkirkan para tikus itu?" Tanya Raymon pada Killian yang berusia 15 tahun. Killian dalam posisi setengah jongkok yang Dia berikan pada bawahan ke atasan.
"Semuanya mati tak bersisa, Tuan." Jawab Killian dengan datar namun tegas.
"Pergilah." Ujar Raymon kemudian dan Killian langsung menghilang seperti sihir.