The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 71



Marina dengan santai datang ke penjara khusus milik Stevan. Namun saat ia masuk, ia dikejutkan dengan Stevan yang nampak kasihan dengan dua pedang yang menusuk dadanya. Dan lebih terkejutnya lagi, ternyata Stevan masih hidup dengan dua tusukan pedang itu. Jika orang biasa di dunia nyata pasti Stevan sudah meninggal di tempat.


"Kau baik-baik saja?"


"Panggil dokter sekarang!"


Bukannya langsung memanggilkan dokter sesuai permintaan Stevan, Marina malah dengan santainya duduk di kursi penyiksaan yang ada di dalam penjara itu, "Siapa yang melakukannya? Dan dimana gadis pembohong itu?"


"Dia pergi dibawa Max dan Killian."


"Benarkah?" Bukannya marah atau emosi karena Daisy menghilang, Marina malah tertawa terbahak bahak menertawakan nasib soal Stevan, "Jadi Max menghianatimu?"


Stevan yang mendengarnya cukup jengkel, di telinganya Marina telah menghinanya.


"Aku harus mengingat hari ini, seorang Stevan dengan sihir api hitam dikalahkan oleh pemilik sihir biasa. "Tapi bisa di pahami sih, Seorang Stevan kalah oleh iblis haus darah."


"Diam dan cepat panggilkan dokter untukku!" Ujar Stevan dengan geram.


"Oke oke. Akan ku panggil sekarang."


***


"Gimana keadaannya?" Tanya Joana berdiri di samping ranjang Daisy, sementara di sebrang ada Ellia yang sedang memeriksa perkembangan keadaan Daisy.


"Daisy sudah mulai membaik, Dia masih koma. Tapi luka-luka yang ada di tubuhnya berangsur sembuh." Balas Ellia.


Joana bernapas lega meski kasihan pada Daisy yang terbaring koma karena keputusannya. "Syukurlah, terimakasih Ellia."


"Sama-sama, Joana." Balas Ellia. Setelah beberapa hari bersama, Ellia dan Joana mulai akrab dan saling memanggil dengan nama alih-alih panggilan formal. Dan tentu saja Joana menyukai panggilan itu, sejak di dunia ini, orang yang memanggilnya dengan nama hanya Killian, keluarganya, dan Marina yang berpura-pura menjadi Akira Asher.


Tok tok


Suara ketukan dari Kenzie.


"Ada apa?" Tanya Ellia melihat ke arah ambang pintu dimana Kenzie berdiri.


"Kita membutuhkan Anda, Grand Duchess. Zero sudah bisa menguasai teknik transfer api " Jelas Kenzie.


"Benarkah?" Jalan yang mendengarnya sangat senang mendengar perkembangan Zero. Wajahnya tersenyum mendengar kabar bahagia itu.


***


Setelah mengucapkan sampai jumpa pada Daisy, Joana berlari penuh semangat menghampiri Killian dan kawan-kawan yang sedang melatih Zero di halaman belakang. Tugas Joana dalam pelatihan ini adalah untuk menahan jika nanti transfer sihir gagal dan Joana dapat membentengi mereka dengan kekuatan esnya.


"Kau siap?" Sahut Killian menatap istrinya bertanya apakah Joana siap dengan sihirnya.


Joana pun mengangguk, matanya kian menghitam memperhatikan pelatihan Zero dan Killian.


"Oke Zero. Setelah Aku membuat bola api, Kau masukkan api mu kedalamnya, mengerti?" Ucap Killian dan diangguki oleh Zero.


Meskipun takut, Zero harus melakukannya. Ayahnya juga sudah memberi motivasi untuk berani mencoba dan tak boleh takut. Hilangkan rasa takutmu dan ke khawatiranmu. 'Kau pasti bisa Zero!' Batinnya memberi semangat diri sendiri.


Killian perlahan mengeluarkan sihirnya yang membentuk bola api diatas udara.


Apinya sangat luar biasa mengagumkan, berwarna biru dan memutar.


Zero menelan salivanya kuat menatap bola api yang dibuat Ayah angkatnya, perlahan tapi pasti Zero mengeluarkan sihirnya dan ia arahkan pada bola api berwarna biru itu.


Di sisi Joana, Dia sudah merasakan hal aneh akan terjadi, dan beberapa detik kemudian, benar saja kedua api itu meledak saat Zero menyentuhkan sihir merahnya pada bola api Killian.


Joana sudah membentengi Killian dan Zero agar tidak terluka.


"Kau baik-baik saja?" Ujar Killian bertanya pada Anaknya. Saat es Joana menghilang, Zero dengan sangat jelas terlihat gugup dan takut karena sudah membuat ledakan sebesar itu. "Tidak apa-apa, Kita coba lagi."


Dan begitulah, yang awalnya ledakan kegagalannya membuat Dia trauma, namun seiring waktu dan semakin banyak mencoba meski banyak ledakan terjadi, Zero sudah mulai terbiasa dengan suara-suara keras itu. Begitu juga dengan Killian yang juga terbiasa dengan suara ledakan.


Lagi


Lagi


Lagi


Semakin banyak suara ledakan. Berbagai uji coba sudah Killian lakukan. Dari menyesuaikan jumlah energi yang dikeluarkan di kedua pihak sampai mengganti Killian dengan Kenzie yang memiliki sihir api diatas Killian.


Zero nampak ngos-ngosan karena telah mengeluarkan energi yang besar seharian ini, dari pagi buta sampai menjelang malam. Zero masih belum bisa menguasainya.


"Apa Kita sudahi dulu latihannya?" Ujar Kenzie yang sudah bertukar dengan Killian. "Kita sambung besok."


"Sekali lagi, Paman." Ucap Zero jelas meski tubuh kecilnya sudah sangat lelah dan sakit. Dia sudah bertekad untuk melindungi Ibu dan Ayah angkatnya, jadi ia tidak boleh setengah setengah dalam latihan.


"Oke, Kali ini Kau keluarkan energinya lebih sedikit dari sebelumnya."


Kenzie mengeluarkan sihir bola api berwarna hijau diatas udara. Ia kemudian menatap Zero dengan intens memperhatikan energi yang dikeluarkan Zero.


Sedikit dan perlahan, Zero mentransfer apinya ke api milik Kenzie. Sejauh ini tidak ada masalah. Dan perlahan bola api itu berubah warna menjadi jingga. Itu berarti takaran energi yang di keluarkan Zero masih kurang, karena warnanya belum merah seperti api miliknya.


"Ada yang aneh." Gumam Joana menatap kedua orang yang beradu sihir itu.


"Kenapa?" Tanya Killian yang berdiri disamping Joana.


"Kau pergilah kesana, masukkan sihirmu kedalamnya sebelum meledak." Sahut Joana yang disambut bingung oleh Killian tidak mengerti.


Killian hanya menurut dan mentransfer sihir birunya masuk ke bola api yang dibuat Kenzie.


Sementara Kenzie cukup bingung kenapa tiba-tiba Killian nongol. Bukankah sihir akan meledak jika tidak sesuai urutan?


Beberapa detik kemudian setelah Killian memasukkan sihirnya, perlahan bola api itu itu berubah warna alih-alih meledak.


Haha "Apa Kau merasakannya, Killian?" Sahut Kenzie tertawa merasakan tanda-tanda keberhasilan, karena Kenzie merasakan ada sihir kuat yang bisa ia kendalikan.


Perlahan bola api itu berwarna ungu, semakin menggelap seiring banyaknya energi sihir yang diberikan ketiganya dan semakin gelap dan pekat hingga bola api itu berwarna...


"Hitam?"


.


.


.


.


.


.


.


Hallo reader tercintahhh. Maap ya author baru up episod. Author kelupaan saking sibuknya skripsian makanya lupa. Mohon dimaklumi ya, Author udah stress karena Skripsi dan jangan buat author tambah stress minta-minta up. Insyaallah author usahin besok udah update tiap hari lagi. Terimakasih atas pengertiannya.