
"Saya telah melihat takdir itu, Tuan." Balas Joana tidak berbohong tapi lebih memilih menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
***
"Saya pernah membaca catatan kuno yang hampir mirip dengan cerita Nona Joana, Yang Mulia Grand Duke." Penyihir agung Arhan membuka suara.
Sontak mereka bertiga yang ada disana tertarik dengan apa yang di ketahui penyihir agung pemilik menara sihir.
"Di katakan dalam catatan yang hanya boleh dibuka oleh penyihir agung, Seorang gadis dengan mata sehitam langit malam, kulit seputih salju, dan bibir semerah darah akan membawa cahaya ditengah kegelapan. Dan deskripsi itu sesuai dengan cerita Nona Joana. Dimana tidak ada orang yang memilki warna mata hitam di dunia ini."
"Warna mata hitam?" Beo Killian mengenai catatan kuno yang di ungkapkan penyihir agung.
"Apa Anda mengetahui sesuatu, Tuan Grand Duke?" Selidik penyihir agung.
Killian mengangguk yakin. "Saat sihir Joana bangkit, matanya berubah hitam."
"Ah. Saya ingat, Anda pernah mengatakan itu pada Kami saat Nona Joana baru membangkitkan kekuatannya." Kini Aarash yang membuka suara mengingat percakapan saat Joana pingsan di bawa ke kediaman Grand Duke Edellyn.
Kenzie dan Arhan pun mengangguk mengingatnya juga.
"Tapi,-" Killian membuka suara namun sedikiti tertahan. "Meskipun ramalan itu menunjuk pada Joana. Tapi takdir sudah sedikit bergerser." Sahut Killian yang membuat ketiga pria berbeda usia bingung dengan maksud ucapan Grand Duke.
"Apa maksudmu, Killian?" Tanya Kenzie mewakilli pertanyaan dua orang lainnya.
Killian membuang napas pelan. "Sekarang, Marina bukanlah Marina yang dulu."
Ketiga pria itu langsung mengerutkan kening semakin bingung dengan perkataan pria bermata merah itu.
"Jiwa Marina sudah hilang diganti dengan jiwa dari dunia lain."
Pernyataan itu dibawa bingung oleh ketiganya.
"Apa maksud Anda?" Tanya Aarash.
"Joana yang melihatnya, jiwa Marina saat ini ditempati oleh jiwa seorang mantan kesatria (Killian tidak tahu arti tentara, Makanya pas Joana cerita ke Killian diganti kesatria) yang penuh ambisi."
"Dan menurut Joana. Keberadaan Joana sebagai penyihir es memperkeruh takdir hingga benang takdir yang sekarang menjadi kusut. Joana juga sudah pasrah mengikuti takdir yang akan terjadi nantinya." Sambung Killian kemudian.
"Kita harus melindungi Nona Joana. Jangan sampai daratan hitam akan kembali pada negeri ini." Ujar Arhan. "Tuan Grand Duke. Saya harap Anda melatih Nona Joan untuk membangkitkan kembali kekuatannya." Sambungnya.
"Aku juga berpikir seperti itu Arhan." Balas Killian dibarengi anggukan kepala. "Untuk saat ini kita jalankan rencana Joana dan tetap menyembunyikan informasi yang kalian dapat dari Joana."
Ketiga pria itu lantas menganggukan kepala mengiyakan permintaan Killian.
"Tetap awasis Marina."
Mereka berempat termasuk Killian mengetahui sedikit tentang sejarah pembentukan Kerajaan Foresta Fredda yang tidak diketahui orang awam.
Tapi yang mereka tidak ketahui bagaimana negeri yang semula terdiri dari empat musim ini malah hanya ada satu musim dingin saja. Dan setelah mendengar cerita Joana, akhirnya potongan puzzle terakhir dapat menjelaskannya dengan baik.
***
Sesuai rencana Joana. Killian selama beberapa hari di temani Kenzie yang bersembunyi di tempat lain di bagunan bar yang sekaligus gilda itu, menanti kedatangam Marina.
Dan benar saja, Marina datang dengan memesan kopi spesial pada bartender yang langsung diarahkan ke ruangan yang sama Grand Duke berada.
Killian menatap ke arah seorang gadis yang berjalan dengan wajahnya yang tertutup jubah bertudung sama seperti Joana dulu.
"Selamat siang, Yang Mulia Grand Duke Killian Edellyn." Marina menyapa pria bertopeng di depannya dengan salam ala bangsawan.
Ternyata benar, Marina tahu tentang dirinya.
Killian pun memberikan memberikan senyum miring dibalik topeng.
"Siapa Kau?" Tanya Grand Duke dengan tatapan membunuh dan mengeluarkan sihir kegelapan untuk menekannya. Sama seperti yang ia lakukan pada Joana.
Setelah mengingatnya, Ia merasa bersalah pada Joana.
Uhuk uhuk uhuk.
Wanita itu merasakan tercekik dibagian lehernya. Berusaha melepasnya dengan api kuning miliknya.
Killian mengernyit melihat api kuning yang di keluarkan gadis di depannya.
"Apinya masih berwana kuning." Killian membatin dalam hati.
Tak lama Killian melepas sihirnya, membiarkan Marina mengikuti alur yang dikatakan Joana.
Marina terbatuk-batuk mencari udara sekitar.
Hingga setelah beberapa menit setelah dirasa pernapasannya membaik. Marina mulai dengan negosiasinya.
"Saya memiliki informasi menarik, Tuan Grand Duke Killian." Ujar Marina dengan menampilkan senyum jahatnya. Dasar memang perannya sebagai antagonis novel.
"Pangeran Kedua-" Sambung Marina dengan sengaja menggantung kalimatnya agar terlihat lebih dramatis.
"Ada apa membawa pangeran yang sudah mati?" Tanya Killian dengan dingin.
Marina menyunggingkan senyum tinggi sebelah. "Pangeran Kenzie masih hidup, Tuan."
Kenzie yang bersembunyi di belakang Killian juga mendengar percapakan antara Killian dan Marina yang membahas tentang keberadaannya yang masih hidup. "Apa yang dikatakan Lady Joana ternyata benar". Dia juga tahu kedatangan Marina akan membahas tentang dirinya. Batin Kenzie yang masih bersembunyi menyimak arah pembicaraan.
Grand Duke mengingat kejadian bersama Joan, lantas ia melepaskan topengnya dan menampilkan secara gamblang wajah tampan tanpa celah milik Grand Duke. Hidung mancung, rahang tajam, dan bibir tebal.
Killian tersenyum penuh arti menatap gadis di depannya. Masih berpura-pura bertanya identitasntnya meski sebenarnya ia sudah tahu. "Siapa kau?" Tanya Killian dengan tatapan mengancam.
Marina pun menurunkan tudungnya dan menampilkan rambut pirangnya. "Saya Marina Adalberto, Yang Mulia Grand Duke Edellyn." Dia memperkenalkan diri dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
"Saya tahu, Anda tidak akan percaya, Tuan. Tapi karena Saya mengetahui identitas Anda yang tidak diketahui anggota gilda cukup membuktikan kebenaran perkataan Saya."
"Jika perkataanmu memang benar, lalu apa yang kau minta sebagai balasan? Nona Marina Adalberto?" Tanya Killian yang memasang wajah seakan tertarik dengan arah pembicaraan. Namun tentu itu hanya akting.
Marina memberikan seulas senyum. "Saya hanya ingin hidup, Tuan."
Mendengar jawaban Marina, mengingatkannya pada Joana yang sama-sama memberikan jawaban ingin hidup.
"Kenapa?" Tanya Killian.
"Tentu Saya tidak ingin mati terbunuh, Tuan. Terkenal sebagai antagonis membuat Saya berpikir kembali tentang berharganya nyawa Saya."
"Apalagi... Saya tahu Anda mencintai Lady Ellia Earlene. Saya akan membuat Lady Earlene jatuh ke pelukan Anda, Tuan." Sambungnya dengan percaya diri.
Sontak membuat Killian tertawa sampai menggema di seluruh ruangan.
"Kau cukup percaya diri, Nona Marina. Kau berbeda dengan adikmu yang sekarang bersamaku, dia begitu pemalu dan penakut." Balas Killian mengikuti arah pembicaraan wanita di depannya.
"Baiklah, Nona. Saya akan menyelidiki keberadaan pengeran kedua. Kemudian kita bahas langkah selanjutnya." Sambung Killian.
"Terimakasih, Tuan." Timpal Marina yang masih menampilkan senyum di bibirnya.
"Jadi dimana Dia?" Tanya Killian tegas.
"Yang Mulia Pangeran Kenzie ada di kediaman keluarga bangsawan jatuh, keluarga Lady Ellia Earlene. Gadis pujaan hati Anda."
***
Beberapa hari sebelumnya, Joana meminta Killian untuk menyebarkan rumor bahwa Dia mencintai Lady Ellia Earlene setelah mencampakkan Joana yang hampir menikah namun gagal dikarenakan dia sudah mencintai gadis lain.
Untung saja waktu itu Joana pingsan beberapa hari sehingga memperkuat rumornya.
***
Joana, Kenzie, dan Ellia duduk bersama di ruang makan mansion Grand Duke.
Joana yang mengundang Ellia menggunakan nama Grand Duke Killian.
Dan sebagai pengawal Ellia, tentu Kenzie ikut.
Sementara Killian pergi menemui Marina untuk mendiskusikan kelanjutan negosiasi tempo lalu.
"Saya minta maaf mengundang Anda menggunakan nama Grand Duke Edellyn, Lady Earlene." Ujar Joana membuka suara.
"Ah. Tidak apa-apa, Nona. Saya juga ingin meminta maaf pada Anda, Nona." Balas Ellia dengan polosnya. "Saya minta maaf dengan rumor yang beredar, Nona. Saya sungguh minta maaf." Gadis itu membungkukkan kepalanya tanda maaf.
Kenzie yang melihatnya merasa bersalah membuat nona yang dilayaninya membungkuk meminta maaf bukan karena kesalahannya.
Kenzie tahu tentang Killian yang menyebarkan rumor itu.
"Lady, angkatlah kepalamu. Saya mengundang Anda bukan untuk itu." Sahut Joana cepat. Ia juga merasa tidak enak membuat nona muda meminta maaf padahal bukan kesalahannya.
Ellia akhirnya mendongakkan kepalanya, menatap wajah Joana dengan tatapan bersalahnya yang terlihat imut.
Joana tersenyum simpul melihat wajah imut gadis muda di depannya.
"Saya hanya ingin melihat wajah Lady Ellia saja. Saya ingin melihat wajah seorang Lady yang berhasil di cintai oleh banyak orang ini. Saya sangat iri dengan Anda, Lady." Ujar Joana dengan penuh senyuman.
"An-Anda tidak perlu berbicara formal seperti pada Saya, Nona. Saya hanya lady dari bangsawan jatuh."
Joana terkekeh pelan melihat reaksi panik dari gadis imut itu. "Hehehe. Imutnya..." Gumam Joana gemas melihat Ellia yang sama persis digambarkan dalam novel.
Memiliki rambut merah, mata coklat hazel, wajah tirus, bibir penuh, dan hidung mancung. Apalagi dengan kulitnya yang putih mulus tanpa noda sedikitpun.
"Apa?" Ellia terkejut dengan pujian tiba-tiba yang diberikan Joana.
"Tidak apa-apa. Silahkan dimakan Lady Ellia dan Tuan pengawal."
***
"Bagaimana makan siangmu dengan Lady Earlene?" Tanya Killian berbaring memeluk Joana.
Sebelum menjawab, Joana terkekeh pelan sejenak. "Dia sangat cantik, lebih cantik dari gambaran novel."
"Kau lebih cantik dimataku, Joana." Gemas Killian menoel hidung Joana.
"Apa yang kau lakukan?" Joana tersentak karena malu. Mungkin sebentar lagi wajah dan hidungnya akan merah padam.
"Di aula barat, setelah makan siang, kan?" Tanya Joana memastikan. Dulu ia juga pernah di minta melakukan latihan sihir, tapi karena beberapa alasan sehingga tidak jadi.
Killian mengangguk mengiyakan pertanyaan Joana.
"Joana?" Gumam Killian pelan masih memeluk Joana dengan erat.
"Hm?"
"Apa aku boleh malakukannya?" Tanya Killian yang membuat Joana tidak mengerti dengan arah topik pembicaraan.
"Melakukan apa?" Joana tanya balik sembari menatap wajah Killian yang masih tetap tampan.
"Penyatuan." Killian memberikan jawaban berupa bisikan tepat di telinga Joana.
Joana yang mendengarnya pun terkejut langsung melepaskan pelukannya dari Killian. bergerak mundur menjauhi pria di disampingnya.
Pria itu berbahaya.
"Apa kau mau mati di tanganku?" Ancam Joana pada pria yang memberikan tatapan genitnya.
"Ayolah, Sayang. Aku sudah tidak sanggup menahannya. Karena rencana kita, kita tidak jadi menikah hari itu." Kini Killian memasang wajah sedih bak anjing kecil.
"Hei! Ini novel romansa, bukan novel dewasa yang vulgar tau!!" Protes Joana bersedekap menutup bagian tubuh atasnya dengan kedua tangan.
Killian tertawa singkat kemudian melanjutkan menggoda gadis yang sudah duduk bersedekap dada.
"Tujuan kita dari awal adalah merubah takdir, jadi apa salahnya merubah genre juga? Apalagi adikku sudah meminta untuk dikeluarkan." Sambung Killian yang kemudian melirik bagian tubuh bawahnya.
Joana menatap arah pandang Killian kemudian dengan cepat memukul wajah Killian dengan bantal miliknya. "Dasar Killian mesum!"
Joana pun hendak bangkit meninggalkan Killian yang berbaring menyamping dengan kepala yang disanggah sebelah tangannya.
Belum sempat berdiri, tangan Joana langsung ditarik ke pelukan pria itu.
Killian mengkungkung erat tubuh kecil Joana kedalam pelukannya.
Mau berontak pun tidak bisa karena badan Killian yang jauh lebih besar.
"Baiklah, besok kau harus siap menikah denganku. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, Sayang." Gumam Killian meletakkan kepala Joana bersandar di dada bidangnya.
"Jika kita menikah, semua rencana akan gagal." Protes Joana.
"Tentu kita akan menikah secara rahasia, dengan Arhan sebagai pendeta, Aarash dan Kenzie sebagai saksi."
"Yak! K-" Sebelum Joana berteriak dan protes lebih banyak. Killian sudah ******* bibir merah Joana. Sangat memabukkan bibir ini.
Setelah puas mencium sang kekasih, Killian kembali memeluknya dengan erat, tidak boleh ada yang memisahkan mereka berdua.
"Alexandra." Gumam Joana di pelukan Killian. "Joana Alexandra, itu nama asliku."
Killian tersenyum kemudian menatap netra biru yang sudah terlihat mengantuk itu.
"Selamat tidur, Joana Alexandra." Gumam Killian menyilakkan anak rambut yang menutupi wajah Joana dengan lembut.
***
Ke esokan harinya, ternyata benar.
Saat bangun, Joana dipaksa Daisy memakai gaun pernikahan yang di pilihnya tempo lalu.
Memang cantik sih... Gumam Joana melihat pantulannya dari cermin.
Tok tok
Killian masuk dan mendapati seorang pengantin yang sangat cantik memakai gaun putih yang memperlihatkan bahu mulusnya.
Killian menatap wajah Joana dengan sangat terharu. Sangat cantik. Tidak ada kata lain yang tepat menggambarkan Joana saat ini.
"Apa sudah mulai?" Tanya Joana mengalihkan Killian yang sedang terpesona.
"Iya, Aarhan meminta kita segera kesana." Jawab Killian kemudian meninggalkan Joana bersama pelayannya.
"Tuan pasti sedang tersipu malu melihat Nona yang terlihat cantik. Makanya kabur seperti itu." Daisy membuka suara menggoda pengantin wanita.
Sementara Joana hanya malu dan tersipu mendengar ucapan pelayannya. "Benarkah Aku sangat cantik?" Tanya Joana kemudian.
Rasanya masih aneh dipuji cantik oleh seseorang.
***
Sepasang pengantin memakai gaun putih dan satunya memakai tuxedo putih dengan hikmat mengucapkan sumpah pernikahan. Di tempat pernikahan hanya dihadiri Arhan, Aarash, Kenzie, dan pelayan pribadi Joana yaitu Daisy. Semua pelayan di liburkan untuk menjaga kerahasiaan pernikahan.
"Saya Killian Edellyn, menerima Joana Alexandra sebagai istri Saya dan akan selalu menemaninya dalam suka dan duka."
"Saya Joana Alexandra, menerima Killian Edellyn sebagai suami Saya dan akan selalu menemaninya dalam suka dan duka."
"Sekarang saya resmikan Killian Edellyn dengan Joana Alexandra sebagai sepasang suami istri." Suara Arhan dengan lantang yang membuat seisi tamu bertepuk tangan.
Keduanya lantas saling menyematkan cincin dan langsung berciuman.
***
Setelah upacara penikahan dadakan selesai. Joana dibantu Daisy melepaskan hiasan rambut di kepalanya.
Lantas Joana menatap wajahnya di cermin rias melirik pantulan bayangan yang menunjukkan wajahnya yang dilanda kegugupan. Aku menggantikan Marina sebagai pendamping Killian.
Dari awal Aku bertemu Grand Duke memang sudah bertekad mengubah takdir, tapi jika jalan ceritanya berubah seperti ini... Seorang tokoh utama novel The Killian's Love menikah dengan Joana yang bukan termasuk tokoh dalam novel. Aku takut jalan kedepan akan semakin bercabang dan membingungkan. Kuharap ini memang pilihan yang terbaik untuk kami berdua.
Joana masih mematung menatap wajahnya tanpa ekspresinya. Sedikit gugup, tidak, Aku sangat gugup. Bagaimana ini? Teriak Joana dalam hati.
Tok tok.
Killian masuk setelah ketukannya. Killian melihat Joana yang duduk diatas kursi meja rias menatapnya dengan tatapan yang tidak diketahui maknanya.
"Kau boleh pergi." Perintah Killian pada Daisy, pelayan pribadi Joana.
Killian mendekat berjalan menuju Joana. Menyetuh kedua bahu yang terbuka. Kemudian menunduk mensejajarkan kepalanya membisik ke telinga Joana dari belakang. "Aku sudah tidak tahan lagi, Sayang." Bisiknya kemudian menggigit telinga putih gadis didepannya.
Sontak membuat Joana yang sedari tadi gugup semakin malu dan salah tingkah. Apalagi dengan bisikan mautnya yang membuat Joana gemetar merinding.
"Bukankah Kau bilang kita harus berlatih sihir?." Alibi Joana
Ia takut membayangkan melakukan hubungan itu bersama Killian. Memang benar dia mencintai Killian. Tapi rasanya terlalu cepat.
"Aku sudah terlalu lama menunggu, Joana. Kita akan melakukan latihan sihir diatas ranjang saja." Kembali Killian membisik di telinga Joana yang membuat gadis itu risih dengan hembusan napas di telinganya.
Dengan berat hati, akhirnya Joana mengiyakan ajakan pria yang sudah menjadi suaminya. "Baiklah." Gumam Joana pada akhirnya yang membuat Killian dengan semangat membopong Joana ke atas ranjang dan merebahkannya.
***
Waktu sudah menunjukkan tengah hari. Joana masih tertidur dalam pelukan Killian. Tanpa busana. Meskipun cuaca di Kerajaan Foresta Fredda selalu dingin. Tapi entah kenapa rasanya hangat berada di pelukan Killian yang hanya menggunakan selimut sebagai penutup.
Killian sudah terbangun terlebih dahulu. Bermain-main dengan anak rambut Joana yang jatuh menutupi wajah cantiknya.
Killian merasakan kebahagian setelah proses penyatuannya dengan Joana semalam. Dia menjadi yang pertama bagi Joana.
"I love you, Joana Alexandra." Bisik Killian mencium hidung wanita yang sudah menjadi istrinya.
Joana menggeliat merasakan sentuhan di wajahnya. Berusaha untuk membuka matanya.
Netra birunya bertemu dengan netra merah milik Killian.
Bukannya terkejut dengan pandangan ada pria di depannya. Joana malah tersenyum simpul menutup matanya dan lebih memeluk erat tubuh kekar suaminya.
"Bangunlah. Hari ini kau harus berlatih sihir denganku." Bisik pelan Killian.
"Memang ini salah siapa membuatku kesakitan tak berdaya?" Protes Joana memajukan bibirnya dan masih menutup matanya.
Killian terkekeh pelan melihat istrinya merajuk. "Kalau Kau tidak mau latihan ya sudah, Aku lanjutkan saja penyatuannya. Apalagi adikku masih belum terpuaskan." Goda Killian yang langsung membuat Joana membuka mata lebar dan merubah posisi duduk diatas ranjang.
"Aku akan mandi terlebih dahulu." Ujar Joana yang masih telanjang bulat tidak tertutupi sehelai benang.
Killian bangkit dan ikut duduk bersama istrinya. "Kita mandi bareng." Ujarnya pelan kemudian langsung membopong tubuh Joana bak bayi yang baru lahir.
***
Satu setengah jam kemudian, setelah Killian membawa Joana yang terbungkus handuk duduk di tepi ranjang, lantas ia menuju ruang yang disebut almari.
"Kau mau baju yang seperti apa, Sayang?" Teriak Killian dengan suara yang khas ala bariton.
"Bisakah kau pinjamkan celana dan bajumu saja? Aku sedang tidak ingin pakai dress sekarang." Timpal Joana dengan teriakan juga.
Setelah beberapa menit, Killian kembali dari almari dan sudah berpakaian lengkap dengan kemeja warna tulang yang dua kancing atasnya dilepas dan celana panjang.
"Apa kau tidak kedinginan?" Tanya Joana yang mengamati suami yang hanya memakai pakaian tipis.
"Ada sihir, Sayang." Jawabnya gemas mencoel pipi berisi istrinya.
"Pakailah ini, didalamnya sudah sihir jadi Kau tidak akan merasakan dingin nantinya." Sambungnya memberikan setelah kemeja lengan panjang dan celana pria.
Joana telah memakai pakaian yang di berikan Killian. Terlihat pas di tubuhnya. "Ini bajumu?" Tanya Joana melihat dirinya dipantulan cermin yang terlihat trendi memakai kemeja putih satu kancing atas yang di lepas, dan celana hitam. Kemejanya sengaja ia keluarkan dari celana agar tidak terlihat culun.
"Kau semakin membuatku tergoda, Sayang." Bisik Killian yang sudah mengalungkan tangannya di pinggang Joana dari belakang. "Itu bajuku saat Aku 13 tahun, mungkin?"
"Kau kecil juga ternyata." Killian tertawa pelan kemudian menenggelamkan dagunya di bahu istrinya.
"Kapan latihan?" Tanya Joana to the point.
"Setelah makan siang."
Bagaimana part ini? Jangan lupa kasih komentar ya:D