
Joana membuka matanya.
Tidak merasakan rasa sakit sebelumnya. Dimana Dia dalam tubuh Maurice mengalami
kecelakaan.
Joana membuka matanya menatap langit-langit tempat asing baginya.
Dia bangkit dari tidurnya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan
Grep
Tiba-tiba sepasang lengan besar memeluk Joana dari belakang yang membuat dirinya terkaget.
"Kau sudah bangun?" Suara Killian terdengar lembut ditelinga Joana.
"Killian?" Joana membalikkan badannya mendongak menatap wajah Killian yang sangat ia rindukan.
Joana pun membalas pelukan itu dengan sangat erat.
Apakah ini artinya Dia sudah kembali ke tempat yang tepat bersama dengan Killian?
"Ibu, Kau sudah bangun?" Suara Zero terdengar bahagia menyadari Joana sudah bangun dari tidurnya.
"Ayah, Aku mau memeluk Ibu juga. Aku merindukan Ibu." Ujar Zero nyempil ditengah-tengah Killian dan Joana.
Joana hanya tertawa gemas melihat Zero yang sudah tidak takut lagi berbicara dengan Killian. Tapi sejak kapan?
"Aku hanya tidur semalam dan kalian sudah merindukan Aku?" Tanya Joana memeluk Zero dan menggendongnya.
Killian yang mendengarnya pun menatap wajah cantik Joana yang terlihat pucat. "Sudah seminggu Kau tidur, Sayang."
Joana sontak membulatkan matanya menatap Killian masih tak percaya dengan kata-katanya.
Killian mengulurkan tangannya meminta Zero untuk turun dari gendongan Joana.
"Kita bicarakan ini nanti. Kau perlu istirahat, Sayang."
"Apa Kau bilang seminggu? Tujuh hari?"
Killian pun menghembuskan napasnya pelan, "8 hari. Kau sudah 8 hari pingsan setelah kejadian di mansion."
Kaki Joana langsung melemas seketika. Bagaimana bisa?
Dan saat itu Joana juga mengingat perjalanan jiwanya bertemu dengan Killian dan bertemu dengan Marina sebagai tubuh Maurice.
Joana didudukkan Killian di ranjang yang terlihat lusuh karena mereka saat ini sedang bersembunyi dari Marina dan Stevan.
"Zero. Bisakah Kau ambilkan air untuk Ibu?" Pinta Killian dan segera di angguki Zero.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Killian khawatir menyilakkan anak rambut berwarna hitam itu ke belakang telinga.
"Aku sangat menghawatirkanmu, Joana."
"Bagaimana Aku bisa pingsan?" Tanya Joana kemudian.
"Maafkan Aku Ibu, Aku akan berlatih lebih giat lagi. Aku tidak ingin membuat Ibu sakit lagi. Ini semua salahku Ibu. Kalau Aku bisa mengendalikan sihirku dengan baik, Ibu pasti tidak akan begini." Tiba-tiba anak berusia tujuh tahun itu bergumam menundukkan kepalanya karena bersalah. "Kau minta maaf hiks..." Sambung Zero dengan tangisan kemudian, "Maafkan Aku karena Aku sudah melukai Ibu dan Adik hiks..."
Hal itu membuat Joana kebingungan. Adik?
Joana pun mengusap lembut air di mata biru Zero. Namun tangisnya semakin menjadi lebih kencang.
"Aarash. Bawa Zero pergi." Perintah Killian pada sahabatnya Aarash.
"Aku yang harusnya minta maaf padamu, Joana. Aku tidak cukup kuat untuk melindungi kalian semua." Ujar Killian dengan nada lembut.
Joana memeluk Killian erat. Entah apa yang membuat Killian merasa bersalah berat seperti itu.
Killian sekuat tenaga memberanikan diri untuk mengatakannya. Meski takut akan dibenci, tapi ia harus mengatakannya.
Killian menjauhkan pelukannya kemudian menatap Joana lamat. Wajah polos yang ayu.
"Dokter sudah mengeluarkan bayi di dalam perutmu, Joana."
Deg!
Bagai tersambar petir mengangetkan Joana.
"Apa Kau bilang?" Joana melotot menaikkan alisnya tak percaya dengan pendengarannya.
"Aku minta maaf. Sejak Kau pingsan, Dokter menyatakan anak di dalam perutmu sudah tak berdetak. Jadi Dokter melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan anak kita."
Joana menangis mengusap perutnya yang rata. Ia tidak menyangka anak yang ada di dalam perutnya tiba-tiba hilang.
Rasanya ia ingin sekali marah. Tapi harus marah pada siapa? Marina? Stevan? Penulis novel? atau dewa yang sudah mengacaukan hidupnya? Atau haruskah Dia menyalahkan dirinya sendiri?
Joana menangis tanpa suara meski air matanya terus saja menetes.
Joana memeluk Killian dengan sangat erat. Saat ini ia sangat membutuhkan Killian untuk mengobati rasa kehilangan yang sangat dalam.
"Maafkan Aku Joana..." Gumam Killian memeluk istrinya. Killian sangat merasakan bersalah yang sangat-sangat bersalah. Ia sudah berjanji pada didirinya sendiri untuk tidak akan membiarkan orang tersayangnya terluka ataupun menangis. Tapi apa sekarang, ia telah telah membuat wanita yang sangat ia cintai menangis dan terluka sekaligus.
***
Tiga hari sejak Joana bangun dari tidur panjangnya.
Joana masih tetap berdiam diri selama tiga hari itu dengan melamun dan terbengong menatap hujan.
Ya, hujan. Setelah insiden terbakarnya mansion Grand Duke Edellyn, cuaca di Foresta Fredda berubah. Hujannya tidak lagi hujan salju melainkan air.
Disaat semua orang bersuka ria menyambut hujan. Killian sibuk memikirkan cara menghentikan aksi Marina dan Stevan yang akan menghancurkan dunia ini.
"Gawat!" Arhan memberikan kabar kepada Killian dengan panik. "Istana terbakar!!!"
"Ulah Marina dan Stevan?" Tanya Kenzie santai menyilangkan kakinya dengan menyeruput kopi buatan Daisy.
"Kenapa Kau ada di sini?" Tanya Arhan bingung. Kenapa sang Putra Mahkota malah berada di persembunyian Killian.
"Grand Duke sudah memberitahuku lebih dulu sebelum Marina beraksi."
"Lalu Raja?"
"Mungkin Dia ikut terbakar." Balas Kenzie yang terlalu santai mendmegar berita istananya terbakar. Padahal banyak prajurit dan rakyatnya yang bekerja sama memadamkan api.
"Arhan." Panggil Killian pada Arhan yang menatap bingung sikap Putra Mahkota kerajaan itu namun ia langsung menoleh ketika namanya dipanggil oleh Killian.
"Evakuasi menara sihir dan bawa orang-orang menjauh dari sana."
"Kenapa?" Tanya Arhan tak mengerti kenapa Dia disuruh evakuasi.
"Sasaran berikutnya adalah Menara sihir, Arhan." Sahut Aarash tiba-tiba.
"Apa?!"