
"Hallo, Killian." Suara lembut tiba datang menyapa Killian yang tengah menatap kedua lukisan itu.
Dengan cepat Killian menoleh ke belakang sumber suara.
Apinya masih menyala mengarah pada orang tersebut?
"Joana?" Killian menyergitkan alisnya terkejut menemukan sosok Joana ada di belakangnya. Yang Killian ingat Joana masih terbaring di mansion miliknya.
Sosok Joana itu tersenyum, kemudian dengan jentikan jari, ruangan gelap itu bersinar terang layaknya lampu yang sudah menyinari ruangan.
Dalam ruangan terlihat jelas. Sebuah kamar indah dengan ranjang coklat kayu dengan ukiran, diatasnya ada kasur putih. Sebuah perapian, meja kecil, dan lukisan berbagai ukuran bergambar wajah Joana dan Killian.
Sosok Joana kemudian berlari kecil dan duduk di tepi ranjang menatap Killian penuh senyum.
Sementara Killian memasang wajah terkejut kemudian menghilangkan api ditangannya. "Siapa Kau?" Tanya Killian penuh curiga.
Gadis itu tersenyum kemudian memperkenalkan dirinya. "Aku Tania, Killian."
Gadis berwajah mirip Joana tersenyum lagi. "Kau lebih tampan daripada dirimu dikehidupan dulu. Tapi Kau masih dingin seperti dulu."
Killian hanya bisa diam terpaku, tidak bergerak sama sekali. "Apa maksudmu dengan kehidupan dulu?"
Mendengar pertanyaan itu, Tania bergerak berjalan mendekati Killian hingga tepat bediri beradapan dengan pria bermata merah itu. "Aku adalah gadis yang pernah diceritakan Joana padamu. Namau Tania. Dan namamu tetap Killian." Jawabnya penuh senyum. "Seharusnya reinkarnasiku masih sangat lama, tapi karena reinkarnasi Daniova tiba-tiba muncul, jadi Aku meminta Joana Adalberto mencari jiwa yang mirip dengannya yang memiliki mata hitam untuk datang kesini menggatikan tubuhnya. Dan Nona Adalberto itu menemukan jiwa Joana Alexandra dari dunia lain untuk menempati tubuhnya."
"Daniova?"
"Mm." Tania mengangguk. "Dia kakakku, yang dalam arti lain, Dia reinkarnasinya Marina."
"Kenapa Kau memilih Joana?"
Tania mengingat sejenak. Menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Waktu itu Joana Alexandra sedang berada dalam hidup dan mati setelah di tusuk oleh orang yang tidak di kenal, jadi Aku menyelamatkan jiwa Joana masuk ke tubuh Lady Adalberto. Aku juga berpikir Joana tepat sebagai penggantiku untuk menghentikan rencana Daniova."
"Apa di dunia sana Joana sudah meninggal?"
"Tidak, Joana masih hidup, tapi dalam keadaan tertidur cukup lama. Hanya jiwanya yang hilang. Tubuhnya terjaga baik dengan teknologi di dunia sana."
"Jika Kau yang membawa Joana kemari, berarti Kau juga tahu caranya agar Joana bangun kembali kan? Juga cara menggunakan sihir es itu?"
"Jiwa Joana masih beradaptasi dengan tubuh Lady Adalberto. Butuh beberapa waktu untuk itu. Dan untuk cara menggunakan sihirnya... Aku sudah lupa." Jawab Tania kemudian menyunggingkan senyum tak bersalah diakhir kalimatnya. "Aku sudah mati 100 tahun yang lalu, dan Aku sudah memberikan semua kekuatanku pada Joana jadi wajar saja jika aku lupa."
Killian menepuk keningnya. Bagaimana bisa Dia terlihat lebih bodoh daripada Joana?. "Lalu apa ada obat untuk efek samping yang dirasakan Joana?"
Joana bergerak lebih dekat kemudian berjinjit bersuara tepat disamping telinga Killian. "Ciuman." Bisiknya sembari tersenyum.
"Apa?" Dengan cepat Killian mundur dari gadis itu. Setelah dirasa menjaga jarak yang lumayan jauh, Killian menaikkan sebelah alisnya penasaran dengan maksud ciuman itu.
Sementara disisi Tania, Dia tersenyum penuh kemenangan berhasil menggoda pria masa lalunya. "Kau hanya perlu mencium bibirnya dan mengalirkan energi kegelapan dan api secara bersamaan. Mudah." Jawab Joana santai.
"Tapi-" Sambung Tania kemudian. "Bolehkah Aku menciummu juga sebelum Aku pergi?" Tanya Tania menggoda.
Seketika wajah Killian terlihat gugup dan memerah. "Me-meskipun wajahmu mirip Joana, A-aku tidak akan pernah menciummu." Sahut Killian terbata-bata.
Tania tersenyum kembali. "Baiklah, Killian. Sekarang Kau bukan milikku lagi, tapi milik Joana. Sampai Jumpa dan Aku mencintaimu." Sambungnya kemudian tangannya terangkat menjentikkan jari.
Hilang... Killian sudah menghilang dari ruangan itu.
Di Aula menara sihir. Arham terduduk di salah satu kursi menunggu Grand Duke kembali. Sebelumnya ia telah menirukan segala perilaku dan ucapan Killian sebelum menghilang, seperti meraba ukiran berbetuk kristal es, dan menggumamkan sesuatu yang sama persis dengan apa yang diucapkan Killian. Namun gagal sehingga Dia lebih memilih duduk santai ditemani Kenzie De Fredda yang kala itu berkunjung ke menara sihir, bertepatan setelah adegan Dia menyerah setelah beberapa kali mencoba.
"Masih belum kembali?" Ujar Kenzie menengok ke arah dua tiang saksi bisu menghilangnya Killian.
"Saya juga tidak tahu, Yang Mulia. Saya mencoba masuk tapi tidak bisa. Saya juga tidak tahu ruangan apa yang dimasuki Tuan Grand Duke." Jawabnya lemas.
Sudah tiga jam Killian pergi, dan sekarang sudah hampir pagi. Killian tidak kunjung keluar menampakkan batang hidungnya.
"Lalu ada urusan apa Anda kemari, Yang Mulia?" Tanya Arhan yang baru sadar dengan kedatangan Kenzie. Padahal Kenzie sudah berada disana dua jam yang lalu, tapi baru ditanyakan sekarang.
"Prajurit bayangan Killian." Jawab Kenzi pada akhrinya. "Apa terjadi sesuatu?"
Arhan menghela napas panjang, ia juga baru ingat kalau ada pencuri di menara sihirnya. "Ada pencuri di menara sihir, Yang Mulia. Dan benda yang dicuri adalah buku Rahasia Sihir Api. Menurut Saya dan Tuan Killian, Nona Marina lah yang mencurinya."
"Sepertinya Marina sudah mulai bergerak sekarang." Timpal Kenzie kemudian diangguki oleh Arhan.
Bruk!
Tiba-tiba sebuah suara keras terdengar di area dua tiang besar yang menjadi lokasi menghilangnya Killian.
Sontak mereka berdua menoleh ke sumber suara.
Ternyata Killian sudah kembali. "Killian!" "Tuan Grand Duke!"
Dengan segera mereka berdua berlari menuju Killian.
"Apa Kau baik-baik saja, Killian?" Tanya Kenzie sembari membantu Killian yang terduduk terjatuh.
Killian menggeram cukup pelan dan bangkit berdiri dengan bantuan Kenzie.
"Darimana saja Kau?" Tanya Kenzie penasaran dengan kehadiran Killian yang selamat tanpa luka.
"Bertemu dengan Putri Tania." Jawab Killian dan langsung berjalan pergi meninggalkan Arhan dan Kenzie. Padahal mereka dibuat penik karena seorang Grand Duke menghilang di menara sihir, tapi yang dikhawatikan malah terlihat mengabaikannya.
"Putri Tania?" Beo Kenzie mengikuti Killian berjalan dari belakang di ikuti dengan Arhan juga. "Putri Tania yang itu?" Tanya Kenzie lagi. Kenzie tentu mengenal nama Putri Tania, karena dirinya yang sebagai anggota kerajaan tentu mengenal semua nama silsilah keluarga kerajaan.
Killian berhenti ketika mendengar pertanyaan Kenzie. Sontak langsung berbalik menatap Kenzie. "Kau mengenalnya?" Tanya Killian menaikkan kedua alisnya.
"Tania De Fredda istri dari Putra Mahkota Killian De Fredda. Dituliskan mereka berdua meninggal secara bersamaan karena penyakit." Jawab Kenzie cepat. "Tunggu? Killian?"
Lantas Kenzie menatap mata merah itu dengan bingung. Memiliki nama yang sama.
"Apa jangan-jangan?" Tanya Kenzie yang sedang berasumsi di balik pikirannya. Menatap Killian dengan pandangan bingung.
Killian mengangguk seperti memahami pertanyaan dari tatapan sahabatnya. "Aku adalah reinkarnasi dari Killian. Dan Joana adalah reinkarnasi dari Tania."
"Waaahhh." Kenzie hanya bisa menganga terkejut mendengar penjelasan Killian. Arhan yang ada dibelakang Kenzie juga sama terkejut dengan fakta baru.
"Tapi siapa Killian De Fredda? Kenapa Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya?" Tanya Killian pada Kenzie yang sebagai pangeran kerajaan. "Apa Kau pernah melihat potret mereka berdua?"
Bagaimana part ini? Jangan lupa tulis komentar ya:D