
Rencana gagal. Daisy, Arhan, Killian terluka.
Namun dengan adanya Max disini setidaknya bisa memberikan informasi terkait Stevan dan Marina.
Tiga hari mereka semua berdiam diri memikirkan rencana yang benar-benar matang. Mereka saling memberikan argumen dan pendapat terkait strategi dan taktik berperang.
Joana dan Ellia turut menyimak pembahasan para lelaki. Meskipun pengalaman berperang para wanita sanhat rendah, setidaknya mereka berdua dapat membantu. Apalagi Ellia sang tokoh utama yng sebenarnya dan pemilik kekuatan cahaya yang ada si kerajaan ini.
"Panas api yang dihasilkan Tuan Stevan 100 kali dari sihir api hijau milik kerajaan, dan jika kulitmu terkena sihir hitam kulit akan langsung terbakar dan rasa sakitnya bisa sampai ke tulang." Ujar Max.
Ya, meskipun Max masih dicurigai, tetapi Killian tetap mengikutkan Max dalam rencana. Satu-satunya yang tidak suka dengan kehadiran Max adalah Aarash. Entah kenapa sejak kedatangan Max beberapa hari yang lalu selalu mendapat sorotan tajam dati Aarash. Maklum saja mantan penghianat bisa jadi berhianat lagi. Itulah yang dipikirkan Aarash.
"Apa ada kelemahannya?" Tanya Aarash sinis pada Max.
"Sejauh ini Aku masih belum menemukan kelemahan Tuan Stevan." Balas Max biasa saja tanpa memperdulikan ekspresi yang diberikan Aarash padanya. "Tapi yang jelas, Sihir api hitam Tuan Stevan bisa padam dengan sihir merah Lady Marina." Sambungnya..
"Sihir merah?" Beo Joana. "Sihir hitam tidak mempan pada sihir merah, begitu maksudmu?"
"Saya tidak yakin, tapi Saya sering melihat Lady Marina yng menggertak Tuan Stevan dengan sihir merahnya. Saya juga pernah meski hanya sekali saat Api dari penghangat yang dibuat Tuan Killian langsung padam saat Lady Marina menimpanya dengan api merahnya."
"Okey, kesimpulan sementara sihir api hitam bisa dikalahkan dengan api merah." Ujar Kenzie.
"Tidak." Sahut Joana tiba-tiba dan semua oramg lngsung tertuju mata padanya. "Max, bisakah Kau nyalakan perapian dengan sihirmu?" Sambungnya yng membuat Max terbingung.
"Ba-baiklah..."
Max pun langsung mengeluarkan sihir apinya. Nampak api yang keluar adalah api berwarna biru, namun warnanya tak sebiru yng Killian miliki. Api itu berkobar cukup tinggi membakar kayu yang ada di perapian.
"Kenzie, bisakah Kau timpa api Max dengan milikmu?" Lanjut Joana seperti memikirkan hipotesis yang ada di pikirannya.
Dan blaaarrr
Kobaran api berwarna hijau menggantikan api biru yang telah dikeluarkan Max sebelumnya.
"Aku masih merasakan sihirku disana, dan rasanya semakin kuat." Sahut Max mengangkat melijat tmgan yang ia bolak-balik punhgung telapak.
Max pun melakukan apa yng dikatakan Killian. Dan dugaannya salah, Dia masih bisa mengendalikan api itu, bahkan api yang dikendalikan lebih besar dari miliknya.
Begitupula dengan Kenzie yang sama mencoba mengendalikan api itu. Kenzie juga juga dapat mengendalikannya. Ia merasakan energi api biru bisa ia kendalikan dengan mudah. Bahkan dirasa lebih kuat dri sihir api miliknya sendiri.
"Jadi ketika dua api dengan berbeda jenis disatukan, api itu itu akan memiliki energi yng lebih besar dan kedua belah oihak daoat menggerakkannya bersama." Ujar Arhan mengamati dan memberikan kesimpulan.
"Kita lakukan uji coba lagi, kalau tadi dari sihir lemah ditimpa sihir kuat, bagaimana kalau sebaliknya?" Ujar Joana.
Max dan Kenzie pun menarik sihirnya kedalam tubuhnya lagi, kemudian secara berturut-turut Kenzie mengeluarkan apinya. Kali ini api langsung dipusatkan kw udara di tengah-tengah Max dan Kenzie berdiri. Setelah nampak bola api melayang di udara, gantian Max yang memasukkan apinya kedalam bola api berwarna hijau milik Kenzie.
Perlahan tapi pasti, Max menyatukan api lagi dengan Kenzie.
Berhenti!!!!!! Teriak Joana ketika merasakan keanehan dari percampuran dua api itu.
Dan benar saja. Api itu meledak ke penjuru arah menghancurkan semua yang ada disana.
Untung saja Joana dengan tepat waktu berhasil memasang dinding es untuk melindungi mereka semua dari kobaran api itu. Jika Joana telat sedikitpun, bisa-bisa mereka terbakar karena kobaran api yang sangat dahsyat itu.
Semua orang tercengo dengan tatapan terkejut. Dan saat membuka mata, dinding es sudah berdiri kokoh di depannya.
Arhan sangat terkejut hingga matanya tak berkedip saat api itu meledak hingga dinding es yang dengan cepat berdiri melindunginya.
Terlihat Kenzie dan Max juga terkejut. Dan karena mereka berdiri tepat di depan ledakan, dinding yng menghalangi mereka agar retak. Mereka sangat terkejut ada kekuatan es milik Joana saat ini. Jika tanpa dinding es itu, nyawa mereka berdua akan lenyap seketika.
Sementara Killian saat ledakan terjadi, Dia langsung memeluk Joana melindungi tubuh Joana dari kobaran api. Tapi yang ia dapat malah Joana lah yang melindunginya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Killian khawatir pada Joana.
Joana mengangguk dengan jantung yang masih berdebar, untung saja sihirnya tepat waktu. Ia sangat takut, karen uji coba ini Joana yang menyarankam, Joana akan sangat merasa bersalah jika ada yang terluka.
"Lady Ellia, apa Kau terluka?" Tanya Joana.