The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 32



Stevan, kembaran Killian, sedang berada di tempat seperti Gilda. Dia terlihat sangat marah ketika mendapatkan kiriman kepala Lucius yang sudah tewas.


Stevan tentu tahu siapa yang sudah melakukan ini padanya, jelas ini adalah kelakuan Killian karena sebelumnya Stevan meminta Lucius dan bawahannya untuk mencari tahu lebih dalam tentang Killian Edellyn.


Stevan ingin mencari tahu apa yng membedakan dirinya dengan Killian karena saat penyamarannya dulu dapat dengan mudahnya ketahuan oleh Joana Adalberto.


"Singkirkan Dia," Geram Stevan pada bawahannya untuk menyingkirkan benda berdarah itu.


Stevan terduduk di kursi kebesarannya, memijat pangkal hidungnya yang merasa pusing karena bawahan setianya mati di tangan Killian.


Namun entah angin apa yang membuat Stevan tiba-tiba tersenyum memejamkan mata masih memijat pangkal hidungnya. Senyum yang Dia perlihatkan cukup aneh, kenapa Dia tersenyum saat melihat bawahannya mati. Itulah yang dipikirkan para bawahan Stevan. Untuk pertama kalinya mereka melihat bosnya tersenyum, tapi tidak pada tempatnya.


Alasan kenapa Stevan tersenyum adalah Dia tiba tiba membayangkan Joana di pikirannya. Ia begitu larut dalam pikirannya Joana yang tersenyum menggandeng tangannya.


"Tu-tuan," Gumam dengan gugup salah satu bawahan yang barusaja naik jabatan menggantikan Lucius yang sudah meninggal.


Stevan membuka matanya kesal menatap pria berambut merah itu. Stevan tidak senang karena ia dibangunkan dari lamunannya. "Apa?" Sahut Stevan menatap dingin padanya.


Seketika hal itu membuat Kreg, pria berambut merah ciut nyali, "It-itu Tu-tuan, Ap-apa yang ka-kami lakukan selanjutnya, Tuan?" Tanyanya tergagap karena ketakutan dengan aura hitam yang Stevan keluarkan.


Stevan mengehela napasnya kasar melepaskan tangannya yang memijat pangkal hidung, "Cari tahu tentang keseharian Grand Duchess Joana Edellyn, dan beritahu setiap ucapan dan pergerakan yang dilakukan Grand Duchess,"


"Sekarang pergilah," Sambung Stevan ingin segera mengusir semua penganggu di ruangan itu.


Permintaan itu diangguki oleh Kreg dan Dia pun pamit dengan hormat meninggalkan ruangan bersama orang-orang lainnya.


Dan setelah semua orang pergi, Stevan juga menghilang bersama api hitamnya.


***


Killian dan Joana saat ini berada di kamar rahasia yang hanya bisa dibuka oleh keturuna asli raja pertama Foresta Fredda. Joana sudah mendapatkan izin untuk bebas keluar masuk ke kamar itu setelah mendapatkan ancaman dari Killian yang mengatakan pada dunia kalau Joana adalah pewaris yang sebenarnya jika Raja tidak mematuhi permintaannya. Joana tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi anggota kerajaan, dan hal itu cukup membuat Killian senang karena bisa mengancam Raja sialan itu agar tidak membuatnya melakukan pekerjaan membuang waktu yang selalu ia berikan pada Killian.


"Apa ada yang ingin Kau cari?" Tanya Killian bengong menatap Joana kesana kemari seperti kebingungan benda yang tak kunjung ia temukan.


"Emm," Jawab Joana singkat hanya dengan anggukan saja, ia tidak menjelaskan benda apa yang ingin dia cari.


"Benda apa yang Kau ca-"


"Ketemu!" Killian belum sempat menyelsaikan pertanyaannya. Namun Joana tiba-tiba bersuara dengan mata berbinar menemukan benda yang Dia cari.


Joana sangat senang ternyata benda itu ikut terbawa di dunia novel ini. Dan benda yang di pegangnya saat ini adalah sebuah gelang kaki yang diberikan bibinya Daniova ketika ulang tahunnya yang ke tujuh belas.


Benda itu adalah satu-satunya hadiah yang Joana terima di sweet seventeennya dulu. Sebuah gelang kaki dengan hiasan nama Joana yang terpisah.


Alasan kenapa Joana sangat ingin menemukannya karena Daniova pernah mengatakan sesuatu yang terdengar aneh saat Daniova pernah mengatakan di dunia yang dulu. Dan sekarang Joana mengingat kata-kata yang pernah Daniova katakan ternyata sebenarnya ada hubungannya di dunia ini.


Flashback On


Ia meraih kotak tersebut dan langsung membukanya. Matanya berbinar tat kala melihat derertan huruf-huruf yang membentuk nama JOANA.


"Apa ini gelang?" Tanya Joana bersemangat. Ia pun mencobanya di tangan tapi terlihat kebesaran untuk pergelangan tangannya yang kecil.


"Itu gelang kaki," jawab Daniova merasa gemas pada keponakannya.


Mendengar jawaban itu Joana meringis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun memakai gelang itu di kaki kanannya. Nampak cantik namun terkesan aneh karena Joana saat itu memakai kaos kaki panjng berwarna putih sehingga yang digelangi bukan kaki tapi kaos kakinya. Tapi apapun itu, Joana tetap percaya diri memakai gelang itu di kaki yang beralaskan sepatu pantopel hitamnya.


"Apa bibi mendesain spesial untuk hadiah ulang tahunku? Sangat cantik, Bi." Celetuk Joana tidak menurunkan senyumannya. "Ini hadiah terbaik yang Aku dapatkan, Bi."


"Apa Kau menerima hadiah dari orang lain?"


"Tidak," Balas Joana dengan matanya yang ikut tersenyum. "Aku hanya menerima dari Bibi, makanya ini menjadi hadiah terbaik hehe,"


Daniova tersenyum lembut. Ia menatap Joana yang menatap kakinya yang terdapat gelang, ia memainkan kakinya hingga beberapa kali terdengar suara gemerincing pelan yang ditimbulkan dari lonceng kecil yang ada di gelang itu.


Daniova memberikan satu kotak lagi pada Joana. Dan Joana pun bingung kenapa Bibinya memberikan kotak yang sama lagi padanya.


"Apa ini, Bi?" Tanya Joana.


Tanpa meminta izin bibinya, Dia langsung membuka kotak itu, gelang yang sama dengan desain yang sama namun memiliki dertan huruf yang berbeda.


"Marina?" Sahut Joana membaca inisial nama yang ada di gelang itu. "Siapa Marina?"


"Bisakah Kau simpan gelang itu dulu? Bibi ingin memberikan gelang itu padanya, tapi Bibi tidak pernah bertemu dengannya," Balas Daniova. "Marina adalah seorang gadis manis sepertimu, Joana."


Ada raut sedih di wajah Joana. Ternyata gelang itu tidak di desain secara khusus untuknya. Ada gadis lain yang menerimanya juga.


"Tapi kenapa harus Aku yang menyimpannya? Bibi saja yang simpan, lagipula Aku tidak mengenal Marina," Joana memberikan kotak itu pada Daniova.


"Simpanlah dulu, karena kemungkinan yang akan bertemu dengan Marina adalah Kau, bukan Bibi."  Balasnya memberikan kembali kotaknya pada Joana. "Marina akan menjadi orang yang paling ingin Kau lindungi nanti." sambungnya yang tidak dimengerti oleh Joana.


"Baiklah, Aku akan menyimpannya. Dan saat Aku bertemu dengan Marina, Aku akan mengatakannya pada Bibi," Jawab Joana akhirnya mengalah.


"Tapi bagaimana rupa Marina? Aku tidak mungkin memberikan ini pada orang yang namanya Marina saja kan Bi, Marina sangat banyak di dunia ini."


"Bibi juga tidak tahu," Daniova bangkit dari duduknya ingin menyudahi acara makan malam bersamaan dengan merayakan ulangtahun keponakannya. "Habiskan makanannya kemudian pulang, mengerti?" Sambungnya mengusap pelan puncak kepala Joana yang memasang tatapan bengong. Tidak tahu? jawaban apa ini?


"Bibi," Panggil Joana meminta penjelasan lebih lanjut terkait siapa Marina ini. Tapi Daniova hanya melambai dari belakang terus berjalan lurus kedepan.


Joana kebingungan menatap kotak diatas meja itu.


Flasback Off