The Killian's Love

The Killian's Love
Ba 27



"Aku meninggal saat umurku 27 tahun, Sayang." Jawab Killian santai.


"Kau tenang saja, Sayang. Kau belum mati, Kau bisa mencubit dirimu sendiri."


Joana pun melakukan saran dari pria yang menyebutnya sebagai Ayahnya. Namun bukan tangannya sendiri yang ia cubit, tapi tangan Killian.


"Aww!" Rintih Killian mendapat cubitan putrinya.


"Tentu Kau bisa mencubitku karena Aku bukan hantu." Timpal Killian seakan mengerti maksud Joana putrinya.


"Lalu makhluk apa Anda?" Tanya Joana semakin penasaran.


Killian pun tergelak mendengar pertanyaan aneh itu. Apa Dia bilang? Makhluk?


"Tentu saja Ayahmu ini masih manusia, dasar bodoh." Balas Killian menjentikkan dua jari di kening Joana. Joana pun lantas memegangi dahinya dengan telapak tangannya. Tidak sakit, hanya saja rasanya aneh, karena sejak kecil Joana tidak pernah berbicara atau bercengkrama dengan Ayahnya di dunia lain. Dia adalah aib bagi Ayahnya, makanya Joana selalu diasingkan oleh Ayahnya. Dan sekarang Dia tahu, Ayah yang di dunia sana bukanlah Ayah kandungnya, itulah sebabnya Ayahnya selalu mengacuhkannya.


"Maafkan, Ayah. Joana." Sahut Killian tiba-tiba dan ekspresinya yang tadi menunjukkan tawa berganti dengan tatapan sendu. "Maaf Ayah tidak bisa melindungimu di dunia sana."


Joana merasa aneh dengan permintaan maaf itu. Sama sekali tidak ada kecewa maupun marah yang ia tunjukkan pada Ayahnya-Killian. Malah Dia sangat bahagia, akhirnya Dia mendapatkan cinta dari seorang Ayah yang tidak pernah ia dapatkan.


Dan jentikan di dahinya, menunjukkan rasa bahagianya bertemu dengan Ayah kandungnya.


Joana pun memeluk erat Killian. Melupakan segala kesedihan yang pernah ia alami sejak kecil. Di dunia ini, di Foresta Fredda ini, Joana sangat bahagia. Kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan sejak menjadi Joana Alexandra.


"Ayah," Gumam Joana saat memeluk Killian.


Killian terharu dengan pelukan tiba-tiba dan panggilan Ayah untuknya. "Terimakasih, Ayah." Lanjut Joana.


Killian pun semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa berterimakasih?"


Joana terkekeh sebentar kemudian melepas pelukannya. "Terimakasih karena selalu mencintai Mama. Terimakasih sudah menjadi Ayahku, dan terimakasih sudah memberikan cinta untukku."


"Tapi Ayah sudah meninggalkanmu menghadapi dunia berat itu sendirian."


Joana balas menggeleng. "Ini bukan salah Ayah, bukan juga salah Mama. Mungkin ini adalah takdir yang harus Aku jalani, Ayah."


Killian semakin menatap putrinya dengan wajah bersalah.


"Yaaa, dulu memang Aku tidak percaya takdir sih, tapi..." Joana tersenyum di depan orang yang disebut Ayahnya itu. "Tapi, masa laluku lah yang membawaku sampai ke titik ini, Ayah. Aku bisa bertemu dengan Killian, Daisy, Kenzie, Arhan, Aarash, Ellia, keluarga Adalaberto, Marina, dan Aku bisa bertemu dengan Ayah kandungku."


"Aku akan mencari kebahagiaanku disini, Ayah." Sambung Joana dengan senyuman lebarnya. Ya, ucapan itu tidak sekedar harapan, tapi juga tekad yang selama ini tidak pernah impi-impikan. "Oh, Ya. Apa Ayah adalah cinta pertama Bibi Daniova?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Killian mengerjap matanya beberapa kali. Tadi suasananya mellow tapi langsung berupa dengan pertanyaan terkahir Joana.


"Ah, Aku juga penasaran soal itu, Ayah." Ralat Joana.


Killian tergelak kemudian menjawab pertanyaan putrinya. "Untuk pertanyaanmu yang pertama, memang benar Ayah adalah cinta pertamanya Daniova, Dia pernah menyatakan cinta pada Ayah, namun Ayah tolak."


"Waaahhh. Ayah sungguh pria berengsek." Joana terkagum kemudian langsung mencibir Ayahnya. "Bagaimana Ayah menolak Bibi Daniova? Padahal Bibi sangat elegan, cantik, dan baik. Kupikir Ayah memilih Mama hanya karena wajah Mama saja."


Killian menghela napas. Bagaimana ada anak yang terang-terangan menyebut Ayahnya sendiri brengsek?. "Itu karena Kau belum mengenal Daniova yang dulu, Sayang." Jawab Killian menggeplak kepala Joana dengan pelan.


"Aw. Sakit tahu Ayah." Runtihnya mengusap rambutnya.


Joana baru sadar kalau rambutnya tiba-tiba panjang. Tapi abaikan dulu itu, ia lanjut menatap wajah tampan Ayahnya yang kembali berbicara.


"Dulu Ayah memang di perebutkan oleh Mama dan Bibimu sekaligus, tapi Ayah sudah mencintai Tania sejak lama. Ayah mengabaikan kenyataan Mamamu yang sudah pernah menikah di dunia lain dan tetap memilihnya. Di satu sisi, hal itu membuat Daniova tidak terima, Dia merasa iri dengan Tania dan akhirnya belajar menggunakan sihir terlarang untuk menghabisi Aku dan Tania."


"Karena tidak bisa melawan Tania yang lebih kuat darinya, akhirnya Daniova memilih untuk memusnahkan dunia ini. Karena Tania sudah mencintai dan bahagia tinggal di dunia ini, jadi Daniova berencana menghancurkan sumber kebahagiaan Tania yaitu Kerajaan Foresta Fredda ini."


"Dan untuk kenapa Ayah bisa disini~"


"Itu karena Tania yang memberikan sedikit kekuatannya padaku sebelum tragedi itu. Kau pasti tahu tragedi itu, karena Kau sendiri yang memeluk Ayah disaat terakhir."


Joana tersentak mendengar kalimat terakhir itu. Bukankan dulu itu hanya mimpinya?


"Tania memberikan sedikit sihirnya untuk membawa Ayah ke masa ini, berharap Kau akan membuka ruangan ini, dan Tania lah yang membawa tubuhmu ke masa lalu. Ketempat terjadinya insiden mengerikan dulu."


"Tapi yang Aku lihat dulu bukan wajah Mama dan Bibi Daniova, kakak adik itu tidak mirip sama sekali."


"Kau bisa tanyakan itu pada Tania secara langsung, Aku juga tidak tahu kenapa Tania melakukan itu,"


Joana mengangguk. "Lalu apakah Mama masih hidup di dunia ini?"


Killian menjawab pertanyaan itu dengan gelengan pelan. "Kekuatan yang besar perlu pengorbanan. Dan pengorbanan Tania adalah merelakan nyawanya untuk membuatmu pindah ke dunia ini. Tania berharap Kau akan mendapatkan cinta dan kebahagian di Foresta Fredda, sama seperti dirinya yang dulu. Tania tahu Kau akan sangat menderita tinggal di duniamu yang dulu."


"Bukankah Mama sangat egois? Bagaimana kalau Aku disini tidak bahagia? Bahkan saat pertama kali jatuh ke dunia ini Aku terasingkan di keluarga yang mengabaikanku, bahagia apanya!"


Killian tertawa kecut mendengar penderitaan putrinya. Kalau saja Dia masih hidup, Dia tidak akan membiarkan Joana bersedih. "Waktu Ayah sudah hampir habis Joana. Tapi Mamamu telah melihat semua kemungkinan masa depan yang akan Kau jalani, dan pilihan terbaik pada Foresta Fredda. Makanya Tania membuatmu dalam keadaan hidup dan mati untuk membawamu ke dunia ini."


Mendengar hal itu, Joana sedikit berpikir apa maksudnya 'membuatku dalam keadaan hidup dan mati?' Apa Mama adalah orang yang dulu menusukku?


Tunggu. Aku ingat dulu saat bertemu Joana Adalberto di tempat hampa. Bukankah arwah Tania dengan wajah berbeda pernah mengatakan kalau Dia meminta Joana Adalberto untuk mencari jiwa untuk mengantikan tubuhnya Dan katanya jiwaku adalah jiwa yang cocok untuk memasuki tubuh Joana Adalberto?


Jadi apa selama ini Mama berbohong padaku?