
Bola api yang dibuat tiga jenis warna sihir berubah menjadi hitam. Hal itu membuat semua orang yang ada disana terkejut. Bagaimana bisa?
Bola api berwarna hitam itu kemudian seperti pecah menjadi tiga bagian, masing masing satu dipegang Killian, Kenzie, dan tentunya Zero. Mereka bertiga mencoba mengendalikan api itu dan ternyata bisa.
Proses transfer berhasil.
Kenzie tertawa senang bermain-main dengan api hitam itu. Begitu juga dengan Killian yang terkagum melihat api hitam yang bisa ia kendalikan dengan mudah.
Joana pun tak kalah terpesona dengan pemandangan yang penuh keajaiban di depannya.
"Bagaimana Kau tahu?" Ujar Ellia tiba-tiba yang tengah berdiri disamping Joana.
"Hah?" Toleh Joana tidak mengerti.
"Maksudku Apa sebelumnya Kau tahu kalau tiga jenis yang berbeda akan menjadi seperti ini?" Tanya Ellia lagi.
Pertanyaan Ellia itu sempat di dengar oleh Killian dan langsung menghilangkan sihir ditangannya dan berjalan menuju Joana dan Ellia. Ia juga merasa pertanyaan Ellia ada benarnya. Bagaimana Joana bisa tahu.
Joana terdiam sejenak, karena ia juga tidak tahu. Ia hanya spontan menyuruh Killian untuk bergabung dengan Kenzie dan Zero.
"Aku tidak tahu..." Gumam Joana.
"Apa ini kekuatan seperti milik ibumu?" Ujar Killian menebak. Karena kekutan Ibu Joana yaitu putri Tania selain kekuatan es juga kekuatan melihat masa depan. Bisa jadi kekuatan melihat masa depan ini bangkit.
"Melihat masa depan?" Sahut Kenzie ikut bergabung di ikuti si kecil Zero di belakangnya.
"Aku tidak tahu... Aku hanya spontan menyuruh Killian. Aku juga tidak tahu hasilnya akan seperti ini. Jika pun Aku bisa melihat masa depan, masa depan yang Aku tahu hanya berasal dari novel yang Aku baca. Bahkan saat ini Aku saja tidak tahu bagaimana kelanjutan dari Novel ini. Karena semuanya sudah jauh melenceng dari naskah."
"Apa perlu Kita mencari tahu tentang kekuatan putri Tania lagi? Siapa tahu memang benar Joana memilikinya. Dia adalah keturunan putri Tania. Kemungkinanannya lebih besar." Saran Kenzie.
Killian mengangguki saran dari Kenzie. Namun tatapannya berfokus pada Joana yang terlihat tertekan.
"Kita sudahi latihan hari ini, Kenzie, Cari informasi tentang putri Tania sebanyak mungkin. Dan Lady Ellia, bisakah Aku menitipkan Zero padamu?"
"Baik." Ujar Ellia dan langsung merangkul pundak anak kecil itu.
Killian pun pergi bersama Joana yang sedari tadi menunjukkan raut wajah aneh. Bisa dibilang raut wajah tertekan.
***
"Kau baik-baik saja?" Ujar Killian setelah sampai di kamar. Killian mendudukkan Joana di atas ranjang sementara dirinya berjongkok menatap Joana dari bawah.
"Aku takut..." Gumam Joana pelan.
"Takut?" Gumam Killian mengulang ucapan. "Kenapa?"
"Aku tidak tahu...
"Joana sense?" Balas Killian lembut mengelus kedua punggung tangan istrinya.
"Jangan khawatir, mungkin ini hanya perasaanmu saja. Semua akan berjalan baik. Kau lihat kan, Kita bisa membuat sihir api hitam? Dengan sihir itu Kita memiliki peluang yang lebih besar untuk mengalahkan Marin dan Stevan."
Mungkin benar apa yang dikatakan Killian. Ini hanya perasaan saja. Joana sangat berharap perasaan tidak mengenakkan itu segera hilang.
Joana mengangguk atas pernyataan Killian. Lantas ia meminta Killian untuk duduk disampingnya kemudian memeluknya erat.
Bayangan-bayangan kematian Killian terus muncul ketika ia memiliki perasaan aneh. Dan Joana selalu merasa ketakutan setiap kali mengingat adegan adegan kematian Killian. Jangan sampai Killian bernasib sama dengan Killian yang dulu, yang tak lain adalah putra mahkota Killian, Ayahnya.
"Semuanya akan baik-baik saja..." Gumam Killian memeluk Joana erat.
***
Tim Killian sudah bergerak sesuai peran dan tugasnya.
Max dan Arhan mulai bergerak. Menyerang kelompok-kelompok Stevan. Dari kelompok kecil sampai kelompok menengah mereka basmi. Dengan begini pasukan Stevan akan berkurang jumlah. Sembari membasmi kelompok Stevan, mereka juga mencari informasi terkait musuh. Didampingi dengan Max membuat pembasmian berjalan cukup mulus, karena Max yang dulunya orang dalam tentu mengetahui semua tempat gilda maupun tempat perkempulan anggota Stevan.
Sementara Aarash dan Ellia mencari tahu tentang legenda-legenda maupun cerita rakyat yang beredar di kalangan rakyat biasa. Mereka berdua mengunjungi pasar tempat dimana informasi dapat ditemukan dengan mudah. Meski kebanyakan hanya rumor, tapi mereka tetap berusaha mencari informasi apapun.
Suasana pasar lebih terlihat ramai dari biasanya. Mungkin bisa dibilang ini karena perubahan cuaca yang ada di Foresta Fredda. Orang-orang lebih memilih berjalan-jalan diluar daripada berdiam di rumah menikamti pemandangan alam yang penuh warna.
"Aarash. Kita kesana!" Ujar Ellia menujuk ke salah pedagang.
Aarash menurut saja, karena ia sama sekali tak pernah datang ke pasar. Joana memita Ellia karena Joana tahu Ellia seorang Lady bangsawan jatuh yang sering mengunjungi pasar kadang untuk menjual hasil panen buah yang ditatamnya, kadang baju yang ia rajut ke pasar. Apalagi Ellia adalah tipe gadis yang sangat ramah pada semua orang. Jadi bisa dibilang Ellia mengenal orang-orang dari kalangan bawah.
"Waaahhh, Nenek. Apakah ini buah baru?" Sahut Ellia ketika datang ke kios buah milik seorang wanita yang sangat tua.
"Lama tidak bertemu, Nona." Sapa wanita itu. "Kau jadi semakin cantik setelah lama tidak bertemu."
"Ah, nenek bisa saja."
"Yang Kau pegang itu biji kopi. Dari negara sebelah. Karena jalurnya sudah dengan mudah dilewati jadi semakin banyak pedagang dari luar yang menjajakan benda-benda baru."
"Begitu ya...Aku tidak pernah meilhat biji ini. Bau nya harum." Ujar Ellia lagi menciumi biji-biji kopi ditangannya.
"Tentu saja Kau tidak tahu, dulu biji kopi ini sangat digemari bangsawan. Dulu Foresta Fredda menanam biji ini, dan sangat banyak bahkan sampai terbuang dianggap tak berharga. Tapi menurut cerita, seorang Lady bangsawanlah yang memperkenalkan cara pengolahan biji kopi ini untuk dijadikan minuman hangat."
Mendengar hal itu, Aarash dan Ellia saling menatap dengan pikiran yang sama. Yaitu bertanya lebih lanjut tentang Lady yang dimaksud. Apakah benar Tania?