
"Kita terlambat mendapatkan segel sihir api," Ujar Arhan pada Killian, Kenzie, dan Aarhas.
"Bagaimana bisa?" Tanya Aarash.
"Marina sudah mendapatkannya lebih dulu," sahut Killian menebaknya. "Kita harus lebih waspada sekarang. Marina mendapatkan segel sihir api, ditambah dengan Stevan yang berada dibelakangnya."
"Bagaimana dengan Lady Joana, Apakah kekuatannya sudah cukup digunakan untuk melawan Marina dan Stevan?" Kenzie membuka suaranya.
"Tidak, Joana masih perlu berlatih menyeimbangkan Mana yang dikeluarkan dari tubuhnya. Dia masih sering kehilangan kendali dengan kekuatannya," Jawab Killian menjelaskan. "Untuk sementara Kita perlu menyelidiki sihir apa yang dimiliki Stevan Anderson. Satu-satunya petunjuk hanyalah sihir Stevan adalah api. Api yang bisa menembus penghalang anti sihir."
Arhan dan Aarash mengangguk menyetujui Killian. "Apakah ada petunjuk lain yang diberikan Grand Duchess, Tuan?" Tanya Arhan.
***
Semua luka di tubuh Marina sudah sembuh semua namun masih menyisakan bekas luka akibat rantai yang pernah mengikat tangan dan kakinya.
Marina telah kembali ekspedisinya mencari segel sihir ditemani Stevan dan bawahannya.
Sebelumnya Marina telah mewarnai rambutnya hingga berwarna hitam. Terus menerus menjadi buronan menjadi sangat sulit beraktivitas di luar.
Tentu dengan pengalamannya di dunia lain membuat Marina bisa meracik semir untuk mewarnai rambutnya.
Marina nampak sedikit lebih mirip dengan Joana karena warna rambut yang sudah berubah hitam dan warna mata biru yang semakin membuatnya mirip dengan Joana Adalberto.
Marina akan melakukan penyerapan kekuatan segel sihir api. Kini Dia bersama Stevan dan satu orang misterius dengan tudung yang menutupi seluruh tubuhnya. Dialah yang akan membantu Marina untuk melakukan ritual itu di tengah altar.
Persiapan selesai. Altar berbentuk melingkar dengan gambar simbol lingkaran sihir dengan Marina yang berdiri ditengah. Di keliling lingkaran di beri lilin yang cukup banyak.
"Kita bisa mulai sekarang, Tuan." Ujar Pria mosterius dibalik tudung pada Stevan.
"Lakukan," Balasnya.
Pria itu mengeluarkan aura sihir kegelapan miliknya dan dimulainya ritual penyerapan segel sihir api.
Nampak di tubuh Marina mengeluarkan api kuning yang keluar dari tubuhnya secara paksa.
Marina sedikit merasakan nyeri seperti tertusuk ribuan jarum setiap kali sihirnya keluar dari tubuhnya.
Ritual ini adalah menghilangkan sihir si pengguna kemudian meletakkan sihir baru.
Marina merasa sangat kesakitan. Ia terjatuh dari posisinya berdiri sebelumnya. Tubuhnya sudah tidak mampu menahan rasa sakit ini. Nyawanya terasa tersedot keluar ikut bersama cahaya kuning dari sihir yng keluar dri setiap pori-pori di tubuhnya.
"Aarrrggghhhh" Marina menggeram kesakitan di seluruh tubuh. Benar-benar sakit. "Aaarrrrrgggghhhh"
Pria misterius itu tetap menjalankan ritualmya meski melihat Marina begitu kesakitan. Karena ini adalah konsekuensi untuk menjadi lebih kuat.
"Aarrrgggghhhhhh!!!!!!" Teriakan terakhir Marina yang akhirnya terbaring pingsan.
Stevan terdiam. Dia membiarkan Marina tergeletak diatas altar.
"Apa sudah keluar semua?" Tanya Stevan dingin.
"Belum, Tuan, Masih ada sedikit lagi." Jawab Pria Misterius itu.
"Lanjutkan saja,"
"Maaf Tuan, tapi ritual hanya bisa dijalankan saat sadar, Tuan."
Marina terbangun karena sihir kegelapan tiba-tiba memasuki tubuhnya. Marina dengan sedikit kesadarannya merasa sangat sakit disekujur tubuhnya. Untuk bangkit pun tak kuat.
"Lanjutkan," Sahut Stevan langsung.
Tanpa meminta persetujuan Marina, pria misterius itu kembali mengeluarkan sihir kegelapannya dan melanjutkan ritual yang sempat tertunda.
Dan sekali lagi, Marina menggeram berteriak kesakitan. Bukan lagi ribuan jarum biasa, rasanya lebih mirip tertusuk ribuan jarum yang terkena bara api. Sakit, sekujur tubuh nyeri mengeluarkan sisa siasa energi kuning di tubuhnya.
Marina hampir kehilangan kesadarannya lagi. Tapi Dia memilih mengiris pergelangan tangannya agar rasa sakit ditangannya lebih dominan daripada sakit di sekujur tubuhnya.
Namun itu sia-sia. Rasa sakit di pergelangannya bahkan tidak terasa sakit sama sekali, hanya darah yang mengalir deras.
"Aaaaarrrrrrggggghhhhhhhh," Teriakan Marina menggema di ruang altar yang cukup luas itu. Pria misterius telah selesai dengan ritual membuang aura sihir yang dimiliki Marina. Ia bersiap untuk memasukkan sihir baru di tubuhnya.
Marina sudah tergelatak tak sadarkan diri. Kini ia dalam keadaan mati suri karena energi sihir yang habis akan membawanya pada kematian. Oleh karena itu proses pemasukan ini harus dilakukan dengan cepat.
Pria misterius itu membuka gulungan segel yang ia letakkan diatas tubuh Marina yng terbaring. Gulungan itu hanya berisi gambar lingkaran sihir berbeda motif.
Pria misterius membacakan mantra mantra aneh. Hingga beberapa menit kemudian lembaran kertas sepanjang satu meter yang bergambar lingkaran sihir itu mengeluarkan cahaya merah yang langsung menyerap ke dalam tubuh Marina.
***
"Killian!!" Teriak Joana dengan suara melengking yang diperkirakan memiliki nada eman oktaf. Suaranya sangat keras hingga terdengar di satu Mansion besar.
Joana berteriak setelah melihat lukisan masa lalu Joana di dunia lain yang semula di kamar rahasia berpindah ke kamarnya. Kenapa bukan gambar yang ada di area tempat tidur? Kenapa harus gambar yang sengaja ia sembunyikan di balik pintu rahasia rak buku.
Tenti saja Joana marah karena lukisan itu adalah aib betapa jelek dan kumalnya dulu semasa SMA yang memiliki kawat gigi dan kacamata tebalnya.
Joana dengan napas memburu merasakan emosi mencari Killian di area mansion.
Tujuan paling pertama yang Joana kunjungi adalah ruang kerjanya. Namun nihil, Killian tidak ada disana, dan hanya ada Max yang berdiri canggung seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Dimana laki-laki brengsek sialan itu?" Tanyanya mengeluarkan semua umpatan yang ia tahan sejak tadi.
"Tuan tiba-tiba mendapat perintah dari Yang Mulia Raja, Nyonya." Jawab Max yang terlihat sekali berbohongnya.
Joana menghembuskan napas kesalnya. "Jika Dia tidak muncul di hadapanku dalam satu menit, Aku akan menghancurkan seluruh mansion ini beserta orang didalamnya." Balas Joana yang terlihat menyeramkan.
Max merasakan aura putih, dingin dan menakutkan. Ia pun menelan ludahnya yang kering. Ia bingung harus melakukan apa karena Tuannya yang tiba-tiba berpesan padanya untuk menjaga mansion ini saat mereka mendengarkan teriakan membahana milik Joana. Lalu Tuannya pun pergi entah kemana.
Killian tahu Joana akan kesal karena ulahnya. Tapi Killian tidak tahu jika kesalnya Joana malah terkesan menyeramkan dan membuat bulu kuduknya gemetar ketakutan.
Max sangat kebingungan sekarang. Ia tidak tahu apa masalah yang membuat Grand Duchess begitu mengerikan.
Max menatap takut pada tangan kanan Joana yang sudah mengeluarkan es berbentuk runcing. Dalam batin Max es itu sebentar lagi akan menancap di jantungnya jika Killian tidak segera hadir disini dalam satu menit.
"30 detik lagi, Max." Ujar Joana semakin emosi karena Max begitu setia membela Tuannya.
"...... 5, 4, 3, dua, saaa~"
Krieettt
Jantung Max serasa berpacu melawan ketakutan melawan Grand Duchess. Napasnya merasa kelegaan setelah melihat Killian datang di detik terakhir.
"Sayang~" Ujar Killian pelan berdiri diambang pintu dengan wajah sok kaget yang dibuat-buat