The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 44



"Tanyakan saja pada rekanmu, Dia yang lebih dekat dengan Joana." Timpal Marina malas. Mendekati Joana adalah hal yang pling ia benci.


Jika dulu Marina membenci Joana karena Dia adalah anak kandung keluarga Adalberto sementara dirinya hanya anak dari luar. Sekarang kebencian Marina bukan tentang hal itu, apalagi jiwa Marina sudah berganti.


Alasan kenapa Marina tidak suka kehadiran Joana adalah Joana merupakan sebuah bug yng kemungkinan akan membuatnya mati di dunia ini. Meskipun akhir dari antagonis sudah di tentukan dalam novel, tapi tetap saja Marina tidak suka dengan adanya Joana.


Apalagi ingatan mengerikan pemilik tubuh yang hampir saja mati ditangan Joana.


"Tuan," Tiba-tiba masuklah seseorang berbadan besar menggunakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya datang dengan teleportasi.


Keduanya pun menatap pria misterius itu. "Nona Joana sudah tahu identitas Lady Akira, Tuan." Ujar Pria itu membungkuk ala kesatria.


Marina yang mendengarnya mengangkat alisnya terkejut, ternyata Joana yang bodoh itu bisa mengetahui perubahannya.


"Apa rencana Joana denganku?" Tanya Marina pada pria itu.


"Nona akan tetap berpura-pura menganggap Anda sebagai Lady Akira,"


Stevan menyunggingkan senyum culasnya. "Dia memang bodoh," Gumam Stevan menyetujui pernyataan Marina sebelumnya. "Terus awasi Joana," Perintah Stevan yang kemudian diangguki oleh pria misterius itu dan kemudian menghilang.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Marina. "Aku sudah muak tersenyum dengan wanita bodoh itu lagi,"


"Kau latih saja sihirmu." Balas Stevan dingin meninggalkan Marina di ruang itu.


"Ck" Decak Marina menatap punggung Stevan yang mulai menjauh.


Lantas ia menyandarkan kepalanya di kursi kayu. Ia menghembuskan napas pelan menatao langit-langit. 'Aku ingin hidup lama di dunia ini,' Gumamnya seorang diri.


***


Sesuai dengan saran Killian. Ia mengeluarkn sihir esnya untuk membuat Foresta Fredda tetap turun salju. Meski lelah dan mengeluarkan banyak tenaga ia harus tetap melakukannya.


"Kau datang?" Sahut Joana menyadari kehadiran Killian dibalik pintu.


Killian pun berdehem kemudin memeluk istrinya dari belakang, "Apa Kau sudah melakukannya?" Tanya Killian lembut meletakkn kepalanya di ceruk leher putih yang tertutup rambut panjang berwarna hitam.


"Em, Aku baru melakukannya sekali pagi tadi. Kurasa satu kali cukup untuk sekarang, Aku tidak ingin membuat orang-orang di Foresta Fredda kedinginan karena ulahku,"


"Bagaimana dengan Arhan?" Tanya Joana berbalik membalas pelukan Killian.


"Aku masih harus menyelidikinya lagi," Jawab Killian.


"Apa Kau tahu alasan Arhan memihak Marina di novel?"


"Karena Marina satu-satunya orang yang dapat mengabulkan balas dendamnya,"


"Balas dendam?" Beo Killian menaikkan sebelah alisnya.


"Em," Angguk Joana. "Hanya sedikit cerita yang membahas tentang Arhan, tapi yang Aku ingat, Ibu Arhan adalah seorang penari dari negeri jauh, Dia menikah dengan penduduk Foresta Fredda dan hidup bahagia sampai ketika usianya lima tahun, Ibunya dibunuh secara tragis tanpa tahu sebab. Dan Marina mengetahui siapa pembunuh itu, karena itu Arhan memihaknya,"


"Apa Kau tahu siapa yang membunuh?"


Bukannya menjawab, semula Joana yang berdiri di depan jendela menatap salju yng turun, Ia beralih memilih duduk di tepi ranjang sementara Killian tetap di posisinya semula.


Joana pun menggeleng pelan, "Buku yang Aku baca dan buku yang Marina baca berbeda, karena Aku tahu semua kisah tentang Marina dari novel. Dan Marina adalah tokoh di dalamnya."


"Tapi Jika Dia menaruh dendam padamu, kemungkinan yang membunuh adalah Grand Duke terdahulu, Grand Duke Raymond Edellyn, Ayahmu," Sambung Joana menatap Killian lamat. Sebenarnya ia tidak mau mengatakan ini, tapi jika ini dunia novel, hal yang mustahil bisa saja menjadi mungkin terjadi. Apalagi Grand Duke terdahulu adalah orang yang membakar istrinya istrinya sendiri.


Killian berjalan pelan menghampiri Joana kemudian mengusap puncak kepala dengan rambut hitam legam itu, "Aku sudah minta Aarash untuk menyelidiki masa lalu Arhan, Kau tidak perlu memikirkannya lagi, hm?


Kau jaga janin yang ada di perutmu, kalau lelah Kau harus mengatakannya padaku, mengerti?".


Joana memberikan anggukan sebagai jawaban.


Tok tok!


Tiba-tiba suara ketukan dari kamar mengalihkan perhatian mereka berdua.


Orang dari luar pun membuka pintu, menampilkan sosok tampan dengan luka gores diwajahnya, ya Dia adalah Max.


"Yang Mulia Raja memberikan pesan untuk Anda segera datang, Tuan."


Mendengar ucapan Max, Killian langsung memasang wajah malasnya. Ada apa lagi Raja sialan itu memanggilnya ke Istana? Bukankah sudah kukatakan jangan pernah memanggilku lagi? Haruskah Aku memberikan ancaman langsung? Batin Killian merasa sebal dengan Raja satu itu.


"Hanya Killian saja?" Joana mengintip dari balik badan Killian yang besar menatap Max berdiri di ambang pintu.


"Dalam undangan hanya menyebutkan Tuan Grand Duke saja Nyonya," Jawab Max sopan.


"Katakan pada Raja, jika ingin mengundangku, Aku akan datang satu minggu setelah undangan diterima," Balas Killian dingin namun diberikan geplakan tangan oleh Joana.


Bisa-bisanya Killian bersikap kurang ajar pada penguasa negeri ini.


Killian tidak merasa sakit sedikitpun dengan pukulan itu, manatap Joana sebentar kemudian menoleh kearah Max. "Katakan padanya, jika mendesak sampaikan saja lewat surat, jangan pernah minta Aku untuk datang kesana lagi,"


Joana yang mendengar itu pun hanya bisa menggeleng tidak percaya. Killian adalah satu-satunya rakyat yang membangkang pada penguasa.


Tapi itu tidak buruk juga, apalagi Raja itu memang sialan. Aku berikan tiga jempol untuk keberniamu Killian, batin Joana menatap suaminya.


"Apa yang Kau pikirkan?" Tanya Killian membuyarkan lamunan Joana.


"Ha? Tidak, bukan apa-apa..." Balasnya cepat kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


Max telah pergi dan kembali dengan Killian dan Joana lagi.


Joana merebahkan badan sembari tangannya yang terlentang menatap langit-langit.


Hari ini Dia lelah karena mengeluarkan sihir untuk membuat cuaca Foresta Fredda tetap dingin.


"Apa Kau berniat menggodaku?" Killian dengan suara rendah yang terdengar seksi. Seketika Joana langsung teringat dengan posisi ambigu ini. Tadi Dia asal merebahkan badan dengan Killian yang masih berdiri dihadapannya tadi.


Joana membulatkan matanya bangkit untuk duduk kembali. "Aku lapar," Balas Joana mengalihkan pembicaraan. Dia bergegas menuju pintu namun tangannya terlebih dulu ditahan oleh Killian.


"Aku juga lapar," Bisik Killian tepat di telinga Joana.


Antara risih dan tergoda. Itulah yang dirasakan Joana ketika suara berat Killian tepat di telinganya. Bibirnya pun dengan nakal menciumi bagian leher mulus Joana.


"Tidak bisakah nanti malam saja? Aku benar-benar lapar saat ini, Aku belum makan sejak siang tadi,"


"Sebentar lagi," Napas Killian yang hangat terhembus di ceruk leher Joana.


Killian membalikkan tubuh Joana hingga menghadao kearahnya kemudian mencium bibir semerah darah itu. Terasa ranum saat Killian **********.


'Aku suka!'