
"Aku tidak akan pernah menghianati Tuan Edellyn, Nyonya!!" Ujar Arhan dengan suara meninggi.
Arhan sudah berdiri menyibak rambutnya kasar. Meskipun ia tahu pembunuhnya pun Aku tidak akan pernah menghianati Tun Killian yang sudah memberikan kepercayaannya padaku. Batinnya.
"Nyonya, Aku tidak akan mungkin menghianati Tuan Edellyn Nyonya," Sahut Arhan penuh keyakinan dimatanya menatap Joana yng masih duduk di tempat.
"Aku tahu," Balas Joana. "Karena pada akhirnya Kau menyesali perbuatanmu dan memilih mengakhiri nyawa karena kesalahan yang telah membunuh Killian," Sambungnya menatap tanpa gentar menatap Arhan.
Sementara Arhan yang mendengar kata kata Joana tersentak ketika mendengar pada akhir kalimat. Aku membunuh Tuan?
"Karena itulah Aku datang menemuimu terlebih dulu sebelum Kau menyesali perbuatanmu, Arhan..."
Arhan kembali duduk dengan lesu menyibak rambutnya lagi. Jika memang yang dikatakan Joana...
"Apa yang ingin Anda minta dari Saya, Nyonya?" Arhan menatap Joana dengan mantap. Kali ini ia akan memoercayai kata-kata Joana, wanita yang mengaku berasal dari dunia lain.
"Temui Marina." Jawab Joana cepat dan lantang.
"Apa?"
"Bolehkah Aku bertanya satu hal padamu?" Tanya Joana ingin memastikan sesuatu sebelum ke penbicaraan selanjutnya. "Apa Kau adalah orang yang sudah membantu Marina dengan ritual segel sihir api merahnya?"
"Apa yang Nyonya maksud? Aku tidak pernah melakukan itu." Sangkal Arhan.
"Bukankah Kau sejak dulu selalu tertarik dengan segel sihir merah?"
Bagaimana Joana bisa tahu juga tentang ini? Bahwa dirinya sudah sejak lama meneliti dan mencari keberadaan segel sihir api merah.
"Hanya pemilik sihir kegelapan dan sihir api biru yang bisa melakukan ritual pemasukan segel sihir merah kedalam tubuh seseorang. Dan Kau adalah salah satu orang yang memiliki sihir itu, Apalagi sihirmu diatas rata-rata."
"Saya memang memiliki sihir dua itu, Tapi Saya bersumpah Saya tidak pernah berhubungan dengan Lady Marina, Nyonya."
Mendengar penyangkalan Arhan, Joana merasa berpikir keras lagi. Ucapan Arhan terdengar meyakinkan. Tapi jika bukan Arhan lalu siapa? Stevan?
Jika Stevan memang mirip dengan Killian, bisa jadi. Tidak hanya fisik yang mirip kemungkinan sihir juga sama dengan Killian. Sihir kegelapan dan sihir api biru.
"Apa Kau yakin?" Tanya Joana memastikan sekali lagi dan diangguki mantap oleh Arhan.
Jika bukan Arhan lalu siapa?
Pikiran itu terus berputar di otak Joana. Alur sudah berubah banyak dari yang ia ketahui. Arhan belum berhianat dan Arhan bukan orang yang membantu Marina.
"Apa Kau tahu siapa lagi yang memiliki sihir kegelapan dan sihir api biru?"
Arhan berpikir sejenak, di Foresta Fredda ini, sedikit orang yang memiliki sihir kegelapan. "Yang Saya tahu, hanya Saya dan Tuan Killian saja Nyonya,"
"Apa Kau yakin?"
"Tuan Grand Duke Raymond Edellyn juga memiliki kedua sihir itu Nyonya."
"Jangan libatkan orang yang sudah mati,"
"Ah, Ada satu lagi yang memiliki sihir kegelapan Nyonya, tapi Dia tidak memiliki sihir api biru, sihir apinya berwarna hijau."
"Siapa?!" Tanya Joana tertarik.
"Max. Pengawal Tuan Killian."
Deg!!
Pikiran Joana seakan meledak mendengar ucapan Arhan. Max?
***
Saat Killian dan Joana pergi ke Menara sihir, Max hilang dari mansion bertemu dengan kembaran Killian, yaitu Stevan.
"Nyonya Grand Duchess Joana benar dari dunia lain Tuan," Ujar Max menunduk ala kesatria di depan Stevan. "Nyonya mengatakan kalau dunia ini adalah dunia novel Tuan,"
Mendengar hal itu, Stevan terlihat menyunggingkan senyumnya yang hampir tak terlihat.
Tenyata memang benar, gadis itu sama dengannya.
"Tuan," Sahut Max lagi karena belum mendaoat balasan dari Stevan. "Apa Anda tahu sebelumnya?"
Mengapa Max bisa bertanya seperti ini? Itu karena sebelumnya Max ditugaskan Stevan untuk mencari tahu hal ini. Dengan perintah mencari tahu apakah Joana berasal dari dunia lain atau tidak. Tapi Max tidak tahu yang dimaksud dengan dunia lain adalah dunia asli, sementara dunia ini adalah dunia novel fiksi semata.
"Apa Dia bilang dari abad berapa?" Tanya Stevan mengabaikan pertanyaan Max. Ya, Stevan cukup penasaran kapan masa saat Joana berasal.
Ia sangat tidak suka dengan Marina karena dirinya berasal dari abad 19 sementara Marina datang dari abad 21. Dengan artian Marina selalu mencibirnya dengan tampilan yng terlalu kuno dan membosankan.
"Apa?" Max tidak mengerti dengan pertanyaan Stevan.
"Nevermind..." Jawab Stevan menggunakan bahasa lain yang semakin tidak di mengerti Max.
"Apa ada hal lagi yang ingin Kau sampaikan?"
"Iya, Tuan." Angguk Max kemudian kembali berbicara. "Dari cerita yang disampaikan Nyonya Joana, Beliau mengatakan bahwa dunia ini adalah dunia novel dan Lady Marina yang akan menghancurkan dunia ini, Tuan."
"Apa maksudmu?" Stevan mengerutkan keningnya. "Marina menghancurkan dunia ini? Kenapa? Ah, tunggu, bagaimana Joana bisa tahu?" Ralat Stevan mengganti pertanyaan untuk Max.
"Hanya itu yang Saya tahu Tuan. Nyonya Joana mengatakan kalau Lady Marina adalah bagian dari tokoh dalam novel Tuan,"
Semakin menarik. Itulah yang dirasakan Stevan saat ini.
Ternyata Marina juga termasuk kedalam tokoh novel. Jadi bisa dikatakan, Marina bukan manusia asli, Dia hanya tokoh pemeran dalam dunia fantasi karangan manusia. Jadi alasan kenapa Joana tidak tertulis dalam novel yang dikatakan Marina. Maka jelas, karena Joana adalah manusia asli dari dunia lain sedangkan Marina adalah pemeran dalam novel yang dibaca Joana.
"Jangan pernah mengatakan ini pada Marina, sekarang pergilah." Sahut Stevan dengan nadl dinginnya memerintah.
Ia berbalik menatap jendela yanh sedang turun salju. Ia tersenyum penuh arti memandangi hujan salju di luar.
"Marina akan menghancurkan dunia ini... Dunia tempat asalnya sendiri?" Gumam Stevan pada diri sendiri. "Aku semakin tertarik denganmu, Joana Alexandra manusia asli." Sambungnya tersenyum sebelah.
***
Max hendak kembali ke mansion Grand Duke tapi dihentikan oleh salah satu bawahan yang mengetahui ia setia pada Stevan.
"Tuan, Tuan Grand Duke mencari Anda. Sepertinya Tuan Grand Duke sudah tahu tentang rahasia Anda. Jadi Anda tidak perlu kembali ke mansion Grand Duke Edellyn lagi Tuan," Ucap salah satu prajurit dengan seragam kepemilikan komando keluarga Edellyn.
"Bagaimana bisa?" Tanya Max sebelum menaiki kudanya. Ia masih berada di depan gilda milik Stevan.
"Ketika Tuan Grand Duke kembali dari menara sihir, Beliau langsung memerintahkan prajurit untuk membawa Anda ke hadapannya. Dan syukurlah Anda ternyata ada disini. Saya juga mencari Anda Tuan, Saya khawatir jika Anda tertangkap."
"Beliau memerintahkan kami dengan penuh amarah diwajahnya, Tuan." Sambung pria itu menjelaskan pada Max.
Ada penyesalan di lubuk hatu terdalam Max. Selama ini, Max sudah menjadi bawahan setia Grand Duke Edellyn. Killian begitu baik memperlaukannya, bahkan berani memberikan kepercayaan besar untuk menjaga Grand Duchess seorang diri.
Dan Grand Duchess, Dia adalah sosok tuan yang baik. Memperlakukan Max dengan manusiawi.
Saya minta maaf, Tuan, Nyonya. Batin Max menyesal telah melakukan ini pada mereka.