The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 67



"Apa yang terjadi?" Tanya Joana yang masih memfokuskan matanya menatap sendu dan kasihan pada Daisy yang terbaring belum  membuka matanya.


Joana duduk di kursi samping ranjang memegang lembut tangan penuh goresan luka. Joana merasa sangat bersalah membawa Daisy kedalam rencananya.


_Flashback On_


Saat Max keluar dari penjara menenangkan diri setelah berargumen dengan Daisy. Max merasakan ada penguntit yang memperhatikannya, tapi ia mencoba bersikap biasa agar penguntit merasa kalau tidak ketahuan.


Max pun berjalan kembali memasuki ruang penjara dan di temukan Daisy telah pingsan terbaring diatas tanah yang kotor dan lembab.


Saat ini Max benar-benar dalam kondisi gundah, galau, gulana memikirkan apakah ia harus menyelamatkan Daisy atau membiarkannya begitu saja.


Max pun teringat masa-masa bahagia bersama Daisy dan Joana menikmati suasana pasar dulu. Max memang merindukan bersama mereka lagi, tapi tujuan utama Max adalah balas dendam pada keluarga Edellyn. Lebih tepatnya Max ingin balas dendam pada Killian. Max dan Killian memiliki Ayah yang sama namun berbeda nasib. Killian sudah diperkenalkan sebagai penerus Edellyn sementara Dia harus menderita setelah Ibunya terbunuh dan dirinya juga menjadi kejaran Raymond Edellyn untuk di musnahkan.


"Kau datang, Killian..." Sahut Max yang sudah menyadari keberadaan Killian yang berdiri di belakangnya. Lima tahun menjadi pengikut Killian membuat Max tahu betul bagaimana aura tuannya dulu. "


"Dimana Daisy?" Tanya Killian dengan aura si iblis haus darah. Dengan membawa pedang tajam yang dibaluri dengan sihir kegelapan, Killian siap melawan Max bagaimanapun caranya demi menolong pelayan Joana itu.


"Aku tidak menyangka Kau akan datang sendiri kemari untuk menyelamatkannya." Ujar Max berbalik menatap langsung wajah Tuan yang telah dihianati sekaligus Kakak sedarah seAyah yang tidak diketahu Killian. "Jangan-jangan Daisy memiliki rahasia yang jangan sampai siapun tahu termasuk Marina dan Stevan?" Tanyanya sinis.


"Langkahi dulu mayatku kalau Kau ingin membawa Daisy pergi, tapi Aku yakin Kau tidak akan bisa." Sambungnya sinis mengeluarkan pedang siap melawan Killian.


"Jika itu yang Kau mau, akan Aku layani dengan hati." Balas Killian tersenyum sebelah menerima tantangan Max.


Dan pada detik kemudian, suara pedang beradu memenuhi penjara gelap itu. Killian si iblis haus darah dengan mudahnya menggoyahkan pertahanan Max hingga Max sendiri terlihat kewalahan menerima pedang dari Killian.


Menggunakan pedang saja tidak cukup, Max mengeluarkan sihir kegelapan dicampur dengan sihir api yang terlihat seperti kilatan petir diantara awan gelap saat pedang itu beradu dengan pedang Killian.


Killian juga sama, mengeluarkan sihir kegelapannya untuk ditransfer ke pedangnya. Meskipun yang Killian keluarkan hanya sihir kegelapan, tapi nyatanya masih belum bisa membuat Max menang melawannya atau membuat dirinya goyah.


"Kau masih perlu latihan lagi, Max." Ujar Killian di tengah-tengah peraduannya dengan Max.


Max tak menjawab, Dia semakin agresif menyerang dari depan, samping, dan bahkan sampai melompat untuk menembus pertahanan Killian. Namun masih gagal dan masih bisa ditangkis Killian.


"Aku bisa menghadapi seharian, Max." Sambung Killian dengan wajah seriusnya.


Cring cring cring


Setengah jam lebih mereka masih beradu pedang, tubuh Max sudah dipenuhi darah akibat goresan pedang Killian yang mengenai dirinya. Meskipun tangan juga berdarah, Max tak menyerah dan terus menyerang Killian membabi buta secara agresif.


Cring


Pada akhirnya pedang Max terlempar membiarkan lehernya yang hampir terkena ujung pedang Killian. Sedikit saja Killian bergerak, pedang itu bisa menggores lehernya bahkan bisa membunuhnya. Namun Killian menghentikannya tepat waktu sebelum pedang itu menghunus leher Max.


"Maafkan Aku, Max. Tapi Aku harus membawa Daisy pergi dari sini," Ujar Killian menatap Max.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba suara dari Stevan menggema di penjara bawah tanah itu.


"Pertarungan menarik," Ujarnya menatap adegan Max yang hampir tertusuk pedang Killian. "Aku penasaran apa yang membuat Max menyerah begitu saja dengan pedang yang menodongnya."


Ketahuan. Begitulah batin Max.


Max sebenarnya memang menahan kekuatannya agar dirinya bisa terluka, dengan begitu Killian bisa membawa Daisy dan dirinya akan mendapat alibi kalau Killian sudah menyerangnya brutal.


Tapi sejak kapan Dia berdiri disana? Berdiri di samping Daisy yang tergeletak.


"Apa Kau berencana berhianat, Max?" Ujar Stevan bersikap dingin mencurigai bawahannya.


"Senang bertemu denganmu, Grand Duke Edellyn." Sambungnya mengabaikan pertanyaannya sebelumnya pad Max. "Sejak dulu Aku ingin sekali berbicara secara langsung denganmu, Aku ingin tahu apa yang membedakan antara Kau dan Aku hingga Joana dapat dengan mudah mengetahuinya."


"Perbedaan? Kau dan Aku jelas berbeda, Anderson." Balas Killian tak kalah dingin. "Kau akan mati di tanganku, Anderson."


"Benarkah? Aku akan menunggu saat dimana Kau bisa membunuhku Killian." Timpal Stevan dengan nada serius, "Tapi kupikir Kau akan mati lebih dulu sebelum bisa membunuhku," Sambungnya dengan tawa sinisnya.


Mulut Max terasa tercekat melihat tubuh Daisy yang terangkat dengan sadis.


Perlahan sihir api hitam Stevan keluar dari tangan yang digunakan untuk mencengkram leher Daisy hingga api itu mengenai lehernya.


Tentu rasa terbakar luar biasa sampai ke tulang menyakiti Daisy. Namun Dia tak tak berdaya untuk menyerang ataupun untuk lepas dari cengkraman tangannya.


"Kau lihat ini Killian? Lihat wajahnya, sayang sekali Kau yang datang kemari dan bukannya Joana. Aku penasaran ekspresi seperti apa yang ditampilkan Joana ketika melihat pelayan setianya mati mengenaskan ditanganku," Sahut Stevan dengan senyum apa psikopat merasakan bahagia ketika melukai orang lain dengan sadis.


"Lawanmu adalah Aku, Anderson." Ujar Killian mengeluarkan sihir api birunya namun gagal menembus api hitam milik Stevan.


Blaarrr


Killian mengeluarkan bayangan hitamnya untuk melukai Stevan. Dan ya, berhasil. Setidaknya tangannya telah melepaskan Daisy.


Stevan tersenyum tatkala sihir Killian ternyata melukai lengannya meskipun hanya goresan kecil.


Dengan kasar Stevan pun menendang tubuh malang Daisy dengan kasar karena menghalangi jalannya. Dan pada detik berikutnya Stevan mengeluarkan sebuah tongkat pendek kemudian dialiri sihir api hitamnya menjadi sebuah pecut panjang dan membara.


"Baiklah, Aku ladeni Kau." Sahutnya enteng siap untuk menerima serangan.


Dan pada detik berikutnya, Killian mengeluarkan kilatan petir yang terbentuk dari bayangan hitam dengan api birunya.


Kilatan itu terus menyerang Stevan, tapi dengan mudahnya ditangkis oleh pecut Stevan yang bergerak mengikuti arah kilatan petir itu.


"Apa hanya segini kekuatan Iblis Haus Darah?" Ejek Stevan.


Killian tak terpancing emosi, rencananya adalah membuat Stevan sibuk sehingga Arhan yang diam-diam bersembunyi dapat membawa Daisy pergi.


Killian mengeluarkan berbagai trik dan jurusnya untuk mengalahkan dan mencari tahu tentang sihir api hitam itu.


Blar blar


Suara pecut dan suara kilatan memenuhi ruang penjara itu. Pertempuran masih belum berakhir. Killian tidak akan berhenti berjuang. Lawannya bukanlah monster biasa seperti yang biasa ia lawan, sekarang lawannya adalah orang dengan sihir misterius, Killian tak boleh menyerah.


Dari pertempuran jarak dekat maupun jarak jauh, Killian masih belum bisa menemukan celah Stevan.


Keringat dan tanah bercampur jadi satu. Demi melindungi orang-orangnya.


"Kupikir Kau akan menjadi lawan yang menarik, tapi Kau sama dengan yang lain, LEMAH!" Ejek Stevan lagi pada Killian.


Killian benar-benar hampir kalah. Kekuatannya hampir mencapai batas. Napasnya sudah terengah-engah setelah pertempuran dengan Max kemudian dengan Stevan.


Aaarrrggghhhh


Tiba-tiba tangan dan kaki Killian terasa panas dan seperti diikat oleh tali yang terbuat dari bara api yang sangat panas. Lehernya juga terlilit oleh api berwarna hitam.


Apakah Stevan?


Benar, memang Stevan.


Karena pertarungannya dengan Killian yang tak menarik dan membuatnya bosan hingga pada akhirnya Stevan sudah merasakan malas dan bosan melawan Killian lagi. Jadi cara paling singkat adalah membunuhnya secara langsung.


Stevan berjalan mendekat ke arah Killian dengan tatapan mengejek betapa lemahnya sang tokoh antagonis di depannya.


Brak!


Entah sejak kapan juga Arhan telah diikatnya dengan tali yang terbuat dari api yang sama dengan Killian. Arhan tergeletak pingsan dengan tubuh yang sudah memerah.


Killian pun melihat Arhan dengan tatapan ngeri sejak kapan Stevan mengetahui keberadaan Arhan dan sejak kapan Stevan mengalahkan Arhan.


"Yang satu Iblis haus darah, yang satu penyihir agung," Ujarnya menatap Killian dan Arhan bergantian. "Lebih baik siapa yang harus Ku bunuh terlebih dahulu Max?"