The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 10



"Bagaimana Kamu seyakin itu Joana?" Tanya Kenzie mewakili dua pria bersamanya.


"Karena Saya sama dengan Marina. Jiwa dari dunia lain." Balas Joana pada akhirnya membuka rahasianya.


"Apa?!" Ketiga laki-laki itu terksentak secara bersamaan. Bahkan mata yang tak berkedip terlalu terkejut dengan ucapan Joana.


Lantas Kenzie pun menoleh ke Killia seraya menunjukkan tatapan 'Apa Kau sudah tahu?'


Dan Killian mengangguk mengerti tatapan Kenzie.


"Aku tahu kalian tidak akan percaya, tapi Joana yang asli memberikan tubunhya padaku." Sambung Joana.


"Sekarang Saya mengerti, mengapa Saya merasa jiwa Nona Joana yang sekarang berbeda dengan jiwa Nona Joana yang pertama kali Saya temui saat Anda menguji kekuatan sihir Anda dulu, Nona." Arhan menjelaskan.


"Tapi yang lebih penting dari itu-" Killian angkat bicara mengubah topik. "Joana sudah bisa membangkitkan kekuatannya kembali."


"Benarkah?" Sekali lagi mereka terkejut. Tapi kali ini di wajah mereka terselip rasa lega dan senang mendengar kabar kabar baik.


"Tunjukkanlah, Sayang." Killian meminta Joana sembari mengecup keningnya sekilas.


Ya dengan tindakan Killian di depan umum tentu membuatnya tersentak tersipu malu.


"Ehkem-ekhem." Joana berdehem melupakan rasa malunya kemudian, "Baiklah." Sambungnya seraya mememjamkan matanya berfokus mengalirkan sihir di tubuhnya.


Selama tiga hari Joana sudah berlatih siang dalam malam di temani oleh Killian. Meski sebagian waktu latihan digunakan Killian untuk menggoda Joana.


Satu menit, dua menit, tiga, menit, sampai beberapa menit kemudian perlahan kabut dingin menyelimuti tubuh Joana yang memakai baju kesatria milik Killian waktu kecil.


Joana membuka mata perlahan dan menatap ke empat pria secara bergantian. Tak lupa senyumnya yang merekah kala merasakan sihir mengalir teratur di tubuhnya.


Sontak Arhan, Kenzie, dan Aarash menatap Joana dengan terkejut. Mereka semua merasakan di tubuh gadis yang matanya berubah hitam itu mengalir kekuatan sihir yang luar biasa.


"Cantik..." Kenzie tidak sengaja menunjukkan keterkagumannya pada Joana bermata hitam. Memang, Joana yang yang memiliki rambut hitam, manik mata hitam, kulit putih, dan bibir merah merona membuat Joana memiliki kesan gadis cantik yang unik yang tidak pernah ditemui selama hidupnya.


"Apa Kau bilang?" Sentak Killian mendengar pujian dari mulut Kenzie.


Kenzie segera tersadar dari tatapannya yang memandang Joana dengan lamat. "Ah, Dia memang cantik, apa Aku salah?" Bela Kenzie yang menadapat tatapan membunuh dari sahabatnya.


Melihat interaksi kedua manusia itu, Joana terkekeh senang yang mendapat kekaguman dari semua pria yang memandang.


Dengan segera, sikap posesif Killian muncul, memeluk dan menutupi tubuh Joana dari pandangan ketiga pria yang nampak terpesona pada istrinya.


"Apa yang Kau lakukan?" Protes Joana mendapat perlakuan aneh dari Killian. Bukan memeluk biasa, tapi Dia juga menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Killian.


"Hanya Aku yang boleh melihatmu tersenyum." Balas Killian angkuh.


"Menyingkir dariku." Jika biasanya Joana selalu kalah tenaga dengan Killian. Namun karena aliran sihirnya bangkit, dengan mudahnya Joana mendorong tubuh Killian hingga Killian pun menjauh dalah posisi tak seimbang. Ini pertama kalinya Aku terlihat bodoh di depan umum, batin Killian setelah bershasil menyeimbangkan tubuhnya dan berdiri tegak disamping Joana dengan posisi agak jauh.


"Apa Aku terlihat sangat cantik?" Tanya Joana memasang wajah sok cantik dan menyilakkan sebelah rambutnya ke belakang telinga.


Sebelum ketiganya memberi jawaban, mereka sudah mendapat tatapan membunuh dari Killian sang suami dari wanita cantik itu.


"Bisakah Kami melihat kekuatan Anda lebih dekat, Nona?" Tanya Arhan kemudian mengubah topik, Ia takut jika lama-lama mendapat tatapan mematikan dari si iblis haus darah itu.


"Tentu saja." Jawab Joana. "Tapi sebelum itu, Kita harus keluar dari tenda ini. Saya tidak mau kalian juga terkena esnya."


.


.


.


.


Joana lantas mengangkat tangannya mengarah ke lapangan kosong tempat pelatihan prajurit Edellyn.


Krak, krak, krak.


Bunyi es yang tiba-tiba muncul di area lapangan. Ukuran esnya juga tidak tanggung-tanggung. Ukurannya terlampau besar menyamai ukuran pohon normal. Dan es yang berbentuk runcing itu tidak hanya satu, namun begitu banyak memenuhi area lapangan.


"Hanya saja Aku belum bisa mengatur jumlah es yang keluar hehehe." Joana berbalik menoleh ke belakang dengan senyum tak bersalanya.


Waaahhhhh. Hanya kagum dan terpesona yang dapat mereka berikan. Sihir es yang pertama kali dilihat oleh mata. Sangat cantik, apalagi dengan iklim Kerajaan Foresta Fredda yang bersalju, batang-batang es itu terlihat seperti bongkahan berlian yang sangat indah.


"Apa Anda dapat menghilangkan es itu, Nona?" Tanya Aarash yang masih terpesona dengan kekuatan Joana.


"Mm. Tentu saja. Killian sudah mengajariku juga hehe." Dengan cepat Joana berbalik dan mengangkat tangannya.


Namun alih-alih menghilang, es nya malah lebur menjadi butiran salju halus yang berwana putih.


Lapangan yang semula berwana coklat tanah berganti menjadi putih.


"Tunggu sebentar," Gumam Joana. Mengerahkan kekuatannya lagi dan memejamkan matanya seraya mengumpulkan kekuatan.


Selang beberapa menit saljunya menghilang. Tidak hanya salju dari es yang Dia buat, tetapi juga semua salju yang ada di sekitar barak latihan dalam jarak 100 meter hilang, diganti dengan pemandangan yang nampak berwana. Pohon-pohon yang semula tertutup salju kini saljunya hilang.


Mereka berempat termasuk Killian juga terkejut dengan kemampuan Joana. Pasalnya selama tiga hari latihan, Joana hanya bisa menghilangkan salju yang dibuatnya sendiri, bukan salju yang asli turun dari langit.


"Bagaimana Kau melakukannya Joana?" Killian membuka suara terkejut dengan besarnya kekuatan Joana. Daratan putih berganti dengan daratan berwana alam.


Joana belum menoleh ke arah Killian, Dia juga terkejut dengan kekuatannya sendiri. Bagaiman bisa? Bahkan air mancur yang selalu membeku kini mengalir layaknya air. Danau buatan yang selalu digunakan prajurit untuk latihan diatas es juga mencair. Apa ini kekuatanku?


Namun sayangnya, pada detik berikutnya setelah menatap kagum, Joana tiba-tiba terbatuk mengeluarkan darah pekat yang keluar dari mulutnya.


Dengan sigap Killian menahan Joana yang hampir jatuh dan ketiga pria yang bersama Killian langsung terkejut panik. Dengan kekuatannya, Aarash memberikan penyembunhan dari sihir cahaya milikinya.


Meskipun sudah dilakukan penyembuhan, Joana tetap mengeluarkan batuk darah yang semakin hitam warnanya.


"Uhuk-uhuk-uhuk. Sak-kit." Joana berusaha mengeluarkan suara namun hanya terasa sakit di tenggorokannya. Hingga sepersekian detik setelah bersuara, keluar darah di hidung dan kemudian pingsan di rangkulan Killian.


"Joana!!" "Nona!!!"


Dengan sihir, Killian membawa Joana dalam gendongan ala bride style menghilang dari lapangan. Di ikuti dengan Kenzie dan kawan-kawan menghilang menuju kamar sang pasutri.


Killian membaringkan tubuh Joana yang lemah ditas ranjang. Bekas muntahan darah masih melekat diwajah pucat Joana.


Dengan panik ia mengusap kening Joana. Matanya yang terlihat sayup dan wajahnya yang semakin terlihat pucat.


Aarash tiba dan lainnya tiba di kamar itu, dengan sigap Aarash berlari mendekati tubuh Joana yang terbaring, mengalirkan sihir cahanya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.


Killian hanya diam panik karena tidak ada yang bisa lakukan. Dia tidak memiliki sihir penyembuhan seperti Aarash, jadi ia menyerahkan tugas pada Aarash temannya.


"Joana." Gumam Killian menggenggam sebelah tangan Joana yang tersa dingin.


Bagaimana part ini? Jangan lupa tulis komen ya:D