
"Max. Pengawal Tuan Killian."
Deg!!
Joana teringat tentang kejadian-kejadian yang janggal yang berkaitan dengan Max.
Yang pertama saat kedatangan Killian palsu yang menyamar.
Bisa saja Max mengetahui itu dan membiarkan Stevan mendekatinya.
Max berpura-pura melindungiku untuk melancarkan aksinya.
Dan yang kedua saat Joana pernah bertanya terkait Lady Akira yang tidak lain adalah Marina yang memiliki Aura aneh. Itu karena ia tidak ingin Joana tidak mencari tahu lebih tentang Lady Akira.
Sekarang semuanya masuk akal.
Bukan Arhan, tapi Max lah yang yang menjadi duri dalam daging disini.
Sontak Joana langsung berlari menghampiri Killian dan lainnya yang menunggu di ruang lain dengan Arhan yang ikjt berlari di belakang Joana.
.
.
.
"Max!" Sahut Joana setibanya di ruang tamu menara sihir.
Mendapati kehadiran Joana, ketiga pria langsung berdiri. Dan Killian pun datang menghampiri Joana yang terengah engah habis berlari.
"Max," Ujar Joana lagi dengan napas masih tak beraturan. Ia panik dan merasa bodoh kenapa baru tahu sekarang. "Penghianatnya, adalah, Max."
"Apa?" Killian pun tersentak mendengarnya. Begitu juga dengan Aarash dan Kenzie.
***
Di mansion Grand Duke Edellyn sedang dilakukan pencarian besar mencari keberadaan Max. Semua pengawal di kerahkan untuk mencarinya.
Killin merasa kecolongan saat menerima Max lima tahun yang lalu.
Dipikirnya Max adalah pengawal setia yang bersedia mengorbankan hidupnya untuknya. Namun ternyata Dia menusuk dari belakang. Dan untung saja selama Killian meminta Max untuk menjaga Joana. Joana tidak mengalami apapun.
"Maaf, Tuan. Kami tidak menemukanMax," Ujar salah satu pengawal senior yang bernama Tiger. Pria yang sudah berambut putih adalah senior Max sekaligus ketua pasukan perang miliki keluarga Edellyn.
"Ada beberapa kadet yang menghilang juga, Tuan. Kemungkinan mereka adalah orang-orang dibawa Max," Sambung Tiger menunduk.
Killian sudah sangat emosi saat ini.
"Buat daftar para prajurit itu dan berikan padaku secepatnya. Akan Aku berikan balasan puluhan kali lipat karena telah menghianati keluarga Edellyn," Ujar Killian dengan aura membunuhnya yang sangat pekat yang membuat pria tua berubat itu tertekan ketakutan.
"Baik, Tuan." Jawab Tiger kemudian menghilang dari pandangan Killian.
"Jadi penghianat sudah ditemukan dan Dia bukan Arhan," Sahut Aarash yang sedari tadi nimbrung ikut mendengarkan percakapan Killian dan prajuritnya. Ada juga Kenzie, Arhan, dan Joana disana.
"Max sudah tahu tentang Joana yang berasal dari dunia lain, Kita harus lebih waspada terhadap Stevan dan Marina," Killian berjalan dengan tatapan dingin menuju Joana, kemudian merangkul bahu kecilnya, "Aku tidak akan membiarkan Stevan dan Marina membuatmu terluka meski setetes darah pun, akan kupastikan mereka menerima pembalasan ratusan, tidak, ribuan kali lipat," Ujarnya penuh amarah.
"Tapi, kenapa Max?" Gumam Joana, "Di dalam novel tidak diceritakan Max akan berhianat, Aku tidak mungkin salah ingat..."
Killian yang mendengar gumaman Joana merangkul bahunya semakin erat, "Tidak ada yang tahu jalan masa depan Joana. Baik Kau yang telah membaca seluruh isi cerita, pasti ada satu atau dua kejadian yang melenceng," Ujarnya menenangkan.
"Anda tidak perlu minta maaf, Nyonya. Berkat Anda Saya tidak mengalami kejadian buruk yang Anda ceritakan dulu, Saya tidak akan berakhir tragis seperti novel yang Anda baca, Saya sangat berterima kasih untuk itu." Balas Arhan yang agak canggung.
"Tapi jika dunia ini adalah Dunia novel, bukankah kita adalah makhluk yang tidak nyata?" Kenzie menyahut tiba-tiba. Dia diberitahui oleh Aarash saat ikut menunggu Joana dan Arhan berbincang.
Joana terdiam mendengar pertanyaan Kenzie. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu, apakah dunia ini hanya ciptaan penulis atau dunia ini benar-benar ada dan sungguhan. Ada kemungkinan kalau dunia ini adalah dunia paralel.
"Aku masih belum yakin, Bibi Daniova pernah berkata kalau Bibi dan Mama-Tania, adalah raga yang berasal dari dunia ini kemudian terlempar ke duniaku, padahal saat di duniaku, mereka berdua telah dinyatakan meninggal dan jasad yang sudah di kremasi."
"Kata Bibi Daniova juga Putri Tania memiliki kemampuan melihat masa depan, bisa jadi~"
"Putri Tania yang telah menulis novel ini." Sahut Aarash memotong ucapan Joana untuk menebak.
Dan pun diangguki Joana.
"Jadi besar kemungkinan novel yang Anda baca adalah masa depan yang di lihat Putri Tania," Arhan menambahkan.
"Tapi yang jadi permasalahan disini, novel yang Aku baca dan yang Marina baca adalah novel yang berbeda, Aku juga tidak bisa meyakini Marina adalah sebatas tokoh novel atau Dia berasal dari dunia yang sama denganku,"
Setelah omongan Joana, pembicaraan terdiam sepi. Tidak ada yang menyahut lagi. Entah sedang berpikir mencari jalan keluar atau berpikir yang lain.
"Baiklah, Kita susun rencana, apa ada yang memiliki rencana?" Tanya Kenzie membuka suasana kembali menatap semua orang yang ada disana bergantian.
"Pertama, cari Max dan hajar Dia," Balas Arhan ada emosi di wajahnya karena ulahnya menyebakan Arhan di curigai berhiatan pada Killian.
Semua mengangguk setuju.
"Lalu?" Tanya Kenzie lagi.
"Zero,"
Hah?
Semua pria menatap Joana bingung, Zero? Apa itu Zero? Batin Kenzie yang selalu ketinggalan informasi.
Joana mengangguk menatap mereka. "Zero adalah kunci bagaimana dunia ini bisa pulih dari bencana, Di akhir cerita, dikatakan seorang laki-laki berambut hitam berhasil menghidupkan Foresta Fredda yang tertutup panasnya kegelapan. Menandakan season dua untuk cerita novel."
"Anak kecil yang Kau bawa?" Tanya Killian pada Joana dan diangguki olehnya. "Aku masih tidak yakin, tapi yang pasti, Zero memiliki kekuatan yang sangat besar hingga bisa memulihkan dunia yang sudah hancur,"
"Lalu?" Killian masih belum paham dengan penjelasan Joana.
Joana tersenyum menatap Killian penuh rencana diotaknya. "Bagaimana kalau kekuatan yang dimiliki Zero adalah kekuatan api merah seperti Marina?"
Hah?
Killian semakin tidak mengerti, anak kecil itu memiliki sihir api? api merah?
"Itu tidak mungkin, Nyonya, Sihir merah adalah sihir yang hanya bisa dimiliki satu orang yang hanya muncul dalam seratus tahun." Ujar Arhan membantah argumen Joana.
"Sihir yang dimiliki Marina berasal dari Segel, Arhan. Berarti selama seratus tahun ini, belum ada orang memiliki sihir api merah kan?" Tanya Joana.
Arhan terdiam, memang benar, selama pencariannya, ia tidak pernah menemukan pemilik sihir api merah di Foresta Fredda.
"Apa Kau yakin Zero memiliki sihir api merah?" Tanya Killian menatap Joana dengan lembut.
"Em," Angguk Joana penuh keyakinan kuat.