
"Daisy, tidakkah menurutmu Lady Akira Asher terlihat sedikit mirip dengan Marina?" Tanya Joana pada Daisy pelayannya.
Mereka duduk berhadapan di dalam kereta kuda menuju mansion.
Sejak pertemuannya dengan Lady Akira, Joana merasa tidak asing dengan dirinya. Bisa dibilang Lady Asher memiliki suara yang mirip dengan Marina.
"Eish, itu tidak mungkin Nyonya." Timpal Daisy. "Dari sifat fisik mereka sangat berbeda, apalagi Nona Marina dalam ingatan Saya Dia sangat galak dan selalu jahat pada Nyonya. Meskipun Saya tidak tahu karakter Lady Asher, tapi Saya yakin mereka berbeda."
Benar juga... Untuk warna rambut bisa di chat, tapi untuk warna mata tidak bisa di ubah, apalagi di dunia ini tidak ada kontak lensa. Jadi tidak mungkin. Tapi Aku masih merasa ada yang aneh dengan Lady Asher.
"Max," Belum puas dengan jawaban pelayannya, Joana mengekuarkan kepalanya di jendela kereta untuk menemukan Max yng berjalan beriringan menaiki kuda terpisah.
"Iya Nyonya, Anda membutuhkan sesuatu?"
Joana menggeleng masih tetap dalam posisinya, "Bagaimana menurutmu tentang Lady Akira Asher? Apa Kau melihat ada yang aneh darinya, Max?"
"Lady Asher? Aneh?" Max berpikir sejenak mengingat siapa Lady Asher yang dimaksud. Ah, Lady tadi yang berbicara dengan Nyonya. Batinnya mengingat.
"Untuk seorang rakyat biasa, Saya merasakan ada energi sihir ditubuhnya Nyonya,"
"Sihir? Kau merasakannya?"
"Saya tidak terlalu yakin Nyonya, tapi Saya merasakan energi sihir itu kadang hilang kadang muncul. Jadi Saya juga tidak terlalu yakin apakah energi itu berasal dari tubuhnya."
Joana membuang napas kembali memasukkan kepalanya ke dalam kereta. Apa hanya Aku yang merasa Dia sangat mirip Marina? Meskipun fisik dan kepribadian mereka berbeda, tapi Aku sangat yakin Dia Marina. Aku harua mencari tahu lagi tentang wanita itu, harus, Aku-
"Nyonya," Panggil Daisy membuyarkan lamunan Joana.
Entah sejak kapan kereteanya berhenti dan Daisy sudah keluar dari kereta.
Tapi kenapa Daisy ketakutan?
"Ah, Daisy sejak kapan Kita sam-"
"Apa yang Kau lamunkan sampai tidak menyadari suamimu duduk disebelahmu dari tadi?"
Joana terkejut dengan suara rendah yang Dia kenal. Joana pun menoleh kesamping dimana Killian menatapnya lembut.
"Sejak kapan Kau duduk disini?"
"Ayo turun dulu, ada yang ingin kubahas denganmu," Killian bangkit dan turun lebih dulu untuk membantu Joana dengan pakaian laki-laki yang selalu ia kenakan.
"Kau ingin membahasa apa?"
***
"Apa Kau bilang? Aku... hamil??!!" Joana membulatkan matanya selebar mungkin. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Aarash yang barusaja mengecek nadi Joana.
"Aarash, itu tidak mungkin, terakhir kali Aku datang bulan adalah~" Pembelajaan Joana terhenti ketika ia mengingat ternyata periode bulanannya sudah telat hampir dua minggu.
Joana pun sontak menoleh dan menatap kearah suaminya dengan masih tidak percaya.
Killian diam tak menunjukkan ekspresi apapun. Apa-apaan Dia? Apa Dia tidak senang Aku hamil?
"Pergilah Aarash. Dan kalian semua pergilah," Ujar Killian masih mampang wajah datarnya pada semua pelayan termasuk Max dan Aarash.
"Hei, Kau tidak senang Aku hamil?" Tanya Joana entah kenapa ada emosi di setiap katanya.
Killian masih tak bereaksi, hal itu membuat Joana sedikit, tidak- sangat kecewa.
"Hei, Apa Kau tid- Ahhh"
Setelah semua orang keluar, barulah Killian menujukkan rasa bahagianya. Killian mengangkat tubuh Joana dan membawanya berputar pelan.
Tiba-tiba satu ciuman mendarat di bibir merah Joana tanpa lipstik.
"Aku sangat senang Sayang" Killian sekarang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia sekaligus harunya. Di perut istrinya sekarang ada benih calon Killian Kecil, tidak Joana kecil.
Killian menurunkan tubuh istrinya kemudia satulu tangannya mengusap perut rata tertutup kemeja itu, "Hallo anakku, Kau baik-baik tinggal di perut Ibumu, jangan menyusahlan Ibumu oke?" Killian terlihat sangat manis dengan sikap lembutnya.
Dan Joana pun merasa nyaman dengan sentuhan itu. Meskipun~ dalam pikirannya masih tidak mempercayai kalau di perutnya ada seorang anak.
Tapi untuk usia tubuh Joana yang berusia 18 tahun apakah aman untuk hamil?
"Ayo Kita sarapan," Sahut Killian menggendong Joana ala bride style dengan tiba-tiba.
"Hei, Aku masih bisa jalan sendiri," Protesnya pada suami nya.
"Aku tidak akan membiarkan Kau kelelahan karena membawa benih di perutmu," Timpalnya kekeh menggendong istrinya menuju ruang makan.
***
"Bagaimana pertemuanmu dengannya, Asher? Apa Kau merasa ada sesuatu yang aneh dari Joana?" Suara bass milik Stevan yang ditujukan pada gadis bernama Asher.
"Dia masih bodoh seperti dulu, Steve." Balasnya santai. "Dia hanya berbeda secara fisik, Aku bisa merasakan aura sihir kuat dibalik mata hitamnya,"
"Mata hitam?" Tanya Stevan mengangkat alisnya. Setahunya Joana memiliki warna mata biru.
Gadis itu mengangguk, "Warna mata aslinya adalah biru, berubah ketika kekuatan sihirnya bangkit, sama seperti saat sihir esnya pertama kali bangkit yang hampir membunuhku, matanya sangat hitam dan seperti dipenuhi kegelapan,"
Entah kenapa mendengar penjelasan Asher yang tidak lain adalah Marina membuatnya cukup senang hingga mengulas senyum kecil yang hampir tidak terlihat oleh lawan bicara.
Pasalnya ia juga memiliki warna mata hitam saat kekuatannya bangkit, ditambah dengan rambut coklat yang berubah menghitam juga.
"Aku akan mencari tahu lebih banyak tentang mata hitamnya," ujar Stevan datar. "Dan Kau, teruslah berpura-pura menjadi Akira Asher dan dekati Dia,"
"Apa Kau tahu Steve, Aku sangat benci berpura-pura tersenyum padanya, sangat memuakkan tahu!"
"Apa susahnya berpura-pura,"
Hah?
Marina menatap cengo pada pria bermata merah di depannya. "Hei, cobalah Kau berpura-pura harus memasang wajah tersenyum berpura-pura baik pada Joana,"
"Aku suka," Balas Stevan cepat yang membuat Marina semakin cengo.
"Kalau Kau suka lakukan sendiri, Aku tidak mau. Aku tidak mau berurusan dengan Joana lagi, rasanya ingin langsung kuhabisi setiap kali melihat wajahnya."
Tiba-tiba Stevan berdiri dan menatap tajam kearah Marina dengan tatapan membunuh.
Apa yang telah Aku lakukan? Batin Marina gugup dan takut mendapat tatapan itu. Sepertinya Dia telah mengatakan sesuatu yang menyinggung si gila ini.
"Jika Kau berani seinci saja melukai tubuh gadis itu, Kau akan menerima balasan seribu kali lipat dariku. Hanya Aku yang boleh melukainya, Dia bagianku,." Setelah mengatakan ancaman itu Stevan langsung pergi meninggalkan Marina dengan rasa takutnya. Aku lebih muak melihat wajahmu bodoh.
***
"DASAR BODOH!" Kali ini Joana benar-benar marah pada Killian.
Kegilaan apa lagi ini sampai Dia membuat kamar yang seharusnya hanya untuk tidur tapi malah di isi dengan beragam benda yang sangat aneh diletakkan di sana, seperti semua alat masak yang di letakkan berdampingan dengan meja kerja Joana.
"Kau tidak suka?" Tanya Killian polos. Menurutnya kamar ini sudah pas, Joana bisa melakukan semua keinginannya di kamar ini sehingga Joana tidak akan lelah berjalan untuk sampai di dapur. Dan disini, Dia bisa melakukan memasaknya.
"Oh Dewa... Tidak- oh penulis,,, Bisakah Kau memberikan suami yang normal?" Racau Joana menghela napas menatap kamarnya yang satu ruangan dengan dapur.
"Apa maksudmu Aku tidak normal?"