
Krieeetttt
Suara decitan dari rak buku yang sudah lama tidak pernah terbuka memenuhi ruangan.
Dengan yakin Joana membuka pintu rak buku itu.
Gelap.
Itulah satu kata yang terlintas ketika membuka pintu itu. Tidak ada pencahayaan sama sekali.
Namun pada detik berikutnya, saat Joana melangkahkan kakinya untuk masuk lebulih dalam, tiba-tiba ruangan itu bercahaya seakan baru menyalakan lampu. Tapi di ruangan itu tidak ada lampu atau penerangan, tapi bagaimana bisa.
Selain daripada itu, mata Joana membulat tatkala melihat satu potret dengan ukuran yang sangat besar.
Semua orang yang bersama Joana juga mengamati potret itu, karena potret itu berada di tengah dinding yang menghadap langsung ke pintu, satu-satunya lukisan yang ada di ruang rahasia itu.
Dan itu adalah gambar Killian dan Joana. Gambar dari abad 21.
Killian memandangnya cukup takjub dengan lukisan itu. Lukisan dirinya mengenakan setelah tuxedo dan Joana yang memakai gaun putih yang cantik, gaun pernikahan yang biasa digunakan di dunia abad 21.
Killian pun menggenggam tangan Joana dan berjalan bersama lebih dekat menuju lukisan itu.
Saat sampai tepat satu langkah dihadapan lukisan. Perasaan Joana sedikit takut dan ada perasaan khawatir yang berlebihan.
Dunia ini, Foresta Fredda ini sebenarnya apa?
Bagaimana bisa kamarku ada di dunia ini? Lalu lukisan ini, jelas Dia bukan Mamaku Tania, lalu apa Dia benar adalah Aku? Batin Joana yang sedang bekerja keras.
Joana tanpa sadar menggigiti kukunya, kebiasaan yang sudah lama tidak pernah ia lakukan, kini ia lakukan lagi.
Napasnya terasa sesak melihat lukisan itu.
Jantung yang tak beraturan juga membuat Joana semakin kesulitan untuk bernapas. Tubuhnya tiba-tiba gemetar dan langsung terjatuh pada detik berikutnya.
Untungnya belum sempat menyentuh tanah, tangan Joana sudah dicekal oleh Killian.
"Sayang, apa Kau baik-baik saja?" Tanya Killian khawatir. Begitu juga dengan tiga pria dan Ellia yang ada di ruangan itu.
Tangan Joana tetap saja gemetar, entah apa yang membuatnya lemas seperti itu. Yang pasti, firasat Joana mulai memburuk ketika melihat lukisan itu.
Napasnya semakin sulit dan tubuhnya terasa semakin dingin.
"Pergi," Gumam Joana lirih di sela-sela napasnya yang tersengal.
"Apa maksudmu?" Killian tidak mengerti dengan permintaan Joana. Kenapa Dia menyuruhnya pergi?
"PERGI SEKARANG JUGA!!" Joana tiba-tiba berteriak karena ia merasakan dalam tubuhnya ada sesuatu yang akan keluar. Dan menurut firasatnya sesuatu itu bukanlah hal baik.
Joana memejamkan matanya mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di area jantungnya.
"Joana,,," Killian tidak akan pergi meninggalkan Joana lagi. "Aku tidak akan pergi, ada apa denganmu?"
Joana menelan salivanya, berusaha menahan rasa sakitnya sekali lagi. Dan entah kenapa, satu tetes air mata turun sudah tak terbendung lagi. "Killian,,," lirih Joana. "Kumohon, tinggalkan Aku. Kalian akan dalam bahaya jika tetap disini." Sambung Joana dengan napas tersengal. "Kumohon, Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Kalian harus pergi sekarang juga."
Dengan berat hati mereka pun meninggalkan kamar itu. Meninggalkan Joana yang masih ada di dalam sana. Pintu sudah tidak bisa dibuka lagi, karena hanya Joana yang dapat membukanya.
Sungguh Killian sangat ketakutan dengan apa yang dialami Joana didalam sana. Ia tidak henti-hentinya menggedor pintu memanggil nama Joana. Ia takut Joana akan tiba-tiba pingsan dan terkurung di dalam sana.
Rasanya jantung Joana seakan mulai membeku, tubuhnya juga menggigil hebat. Butir-butir es pun seakan mulai nampak di bulu mata dan ujung rambut hitam pendeknya.
"Mama..." Lirih Joana menahan sakit. "Tolong Aku, Mama. Bibi Daniova, kumohon bantu Aku..."
Joana menggeram kesakitan, meremas ujung gaunnya dan terus menangis menahan rasa sakit yang luar biasa ini.
Tanpa di sadari rambut Joana perlahan memanjang. Dan tanpa disadari rambut itu sudah panjang sampai mengenai lantai.
Joana pun terjatuh lemas menjatuhkan kepalanya ke lantai, karena sudah tidak kuat lagi untuk bangkit meski hanya sebatas duduk saja.
Joana meringkuk diatas lantai dengan tubuh yang kedinginan.
Sepersekian detik kemudian, Joana sudah tidak sadarkan diri lagi. Dirinya terbaring lemas di atas lantai, sendirian, dan tidak ada yang bisa memasuki ruangan itu.
Dan diluar kamar, nampak butiran es yang sudah merambat ke area pintu bagian luar. Killlian pun semakin bringas mengeluarkan sihir api hijau miliknya mengurangi hawa dingin yang ada di dalam.
Namun nihil, sihirnya tidak bisa memasuki segel yang terpasang di pintu.
Killian lantas berusaha mendobrak pintu seperti orang gila. Tidak peduli jika bahunya sakit, tidak peduli jika tangannya patah atau tulangnya remuk, satu-satunya yang ada di pikiran Killian hanya Joana.
"Joana!" Teriak Killian di setiap usahanya mendobrak pintu.
Semua laki-laki teman Killian juga melakukan hal yang sama, entah memakai sihir atau kekuatan fisik. Mereka terus berusaha untuk membuka pintu itu.
Krak, ctak, kratak.
Namun bukannya pintu yang berhasil terbuka. Namun itu adalah suara sihir milik Joana.
Sihir es Joana tiba-tiba meledak memenuhi bagian istana yang mereka tempati.
Arhan menelan ludah menatap es bebentuk runcing hampir mengenai wajahnya.
Gaun Ellia tertusuk oleh es yang di keluarkan dari sihir Joana. Dan untung saja tidak mengenai tubuh Ellia.
Dan setelah es Joana keluar tak terkendali, banyak dari prajurit mulai mencari sumber masalah.
Sementara Killian tetap memaksakan tubuhnya mendobrak pintu yang semakin keras yang di selimuti es itu. "Joana, bangunlah."
"Ada apa ini?" Raja sekaligus Ayah dari Kenzie sudah berada di lokasi, bersama dengan para bangsawan yang menghadiri acara pesta pelantikan Kenzie sebagai Putra Mahkota.
Di belakang Raja, nampak keluarga Adalberto, yaitu Jeremmy, anak tertua dari Ferio. Dia sangat yakin bahwa es yang memenuhi istana adalah es yang sama yang pernah dikeluarkan oleh Joana dengan sihirnya. Dari belakang, Jeremmy melihat Killian yng tidak memperdulikan kehadiran Raja dan terus berteriak memanggil Joana dan mendobrak pintu itu.
"Killian Edellyn!" Raja hampir hilang akal melihat Killian bertingkah di depan kamar yang hanya bisa dibuka oleh keturunan Raja pertama Kerajaan Foresta Fredda.
"Percuma saja, tidak ada yang bisa membuka pintu itu."
"Kenzie, katakan apa yang terjadi?" Tanya Raja pada putranya meminta penjelasan.
Killian pun perlahan berhenti dan terduduk lemas di depan pintu. Memang benar percuma saja ia membuka pintu itu. Pintu itu hanya bisa dibuka oleh Joana. Harapan satu-satunya yang masih tersisa adalah Joana bangun dan membukanya dari dalam. Kuharap Joana kembali dengan selamat.
"Pintu ini bisa dibuka, Ayah." Jawab Kenzie. "Dan Nyonya Grand Duchess Joana Edellyn lah yang berhasil membukanya."
Mata Raja pun melotot tidak percaya. Bagaimana mungkin?
Jeremmy yang ikut datang pun juga tak klah terkejut dengan penuturan sang Putra Mahkota baru. Jadi apa maksudnya Joana adalah keturunan dari Raja pertama Foresta Fredda?