
"Itu Aku?"
Bagai petir di sing bolong. Joana melihat dirinya sendiri terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Kakinya terasa lemas dan tubuhnya tak berhenti gemetar. Apa ia sudah mati?
Joana dengan sekuat hati memberanikan berdiri kembali menatap wajah sayu dirinya yang terbaring diatas sana. Joana membelai pipi pasien yng tidak lain adalah dirinya. Joana menatap lembut wajahnya sendiri. Pikiran-pikiran penuh pertanyaan muncul diotaknya. Ingin Dia bertanya pada pria yang setia duduk di sebelahnya.
Joana pun menatap wajah pria tampan itu. Joana tidak mengenal sosok itu tapi kenapa Dia ada disini menungguku?
Matanya nampak sebuah kerinduan luar biasa dan tatapan penuh cinta yang hanya ditujukan untuk dirinya.
Joana semakin menatap laki-laki itu dengan tatapan menerka dan mengingat dalam pikirannya. Namun Joana tidak menumkan pria itu di ingatannya. Tapi...
Tapi kenapa hatinya merasakan sesak dan sakit?
"Siapa Kau?" Gumam Joana. "Aku tidak mengenalmu, tapi kenapa hatiku rasanya aneh?"
Karena suaranya yang tak mau keluar, Joana hanya bisa terus bertanya meski Dia tidak menjawab kata-katanya.
Joana terus menatap wajah asing yang menatapnya sendu terbaring dengan selang terpasang. Joana mencoba menyentuh pipi laki-laki itu.
Dan saat Joana membelainya, bulir air mata keluar dari mata pria tampan itu.
Entah kenapa Joana merasakan sakit begitu dalam di lubuk hatinya. Dia tidak mengenalnya, tapi kenapa pria itu menangis?
"I love you, Joana. I really need you..." Tangis pria itu meneggenggam erat tangan Joana yang tertempel jarum infus.
"Killian?" Joana tiba-tiba teringat siapa pria yang ada di depannya itu. Joana menarik tangannya dari wajah Killian dan mulai menitikan air mata melihat Killian menangis untuknya.
Ingin sekali Joana memeluknya, memanggil namanya, dan mengatakan padanya 'Aku Bersamamu', tapi sayangnya Killian tidak bisa melihatnya maupun mendengar suaranya.
"Killian, kenapa Kau ada disini?" "Kenapa Kau menangisiku?"
"Jawablah Killian... Kumohon... Aku ada disini..." Sahut Joana berkali-kali menggenggam tangan besar yang terasa dingin. Joana menatap wajah Killian dengan penuh tangis. Namun sama sekali Killian tidak melihat keberadaannya.
Joana hanya menangis memeluk Killian yang juga menitikan air matanya.
Deg!
Tempat berubah. Killian sudah menghilang dari hadapannya.
"Kau baik-baik saja?"
Mendengar hal itu sontak membuat Joana berbalik ke arah seorang gadis kecil yang sedang berbicara dengan anak laki-laki yang terlihat seusianya.
"Apa Kau baik-baik saja?" Ujar gadis kecil itu lagi memberikan sebelah tangannya untuk menawarkan anak laki-laki itu berdiri setelah terjatuh ke tanah.
"Itu Aku?" Gumam Joana memperhatikan kedua anak kecil berbeda gender itu.
Sepasang mata biru dan rambut hitam panjang yang dikepang dua dan seorang anak laki-laki bermata merah berambut coklat.
"Aku tidak utuh bantuanmu!" Balas anak kecil yang terjatuh itu menepis uluran tangan Joana kecil.
Anak itu mirip sekali dengan Killian. Mata merahnya dan rambutnya yang coklat terang diantara putihnya salju.
Anak kecil itu lantas berjalan pergi meninggalkan Joana kecil yang uluran tangannya diabaikan. Dia pergi dengan kasar tanpa berterimakasih maupun minta maaf padanya.
Joana pun meninggalkan Joana kecil mengikuti kemana perginya Killian pergi. Ia harus mencari tahu kenapa jiwanya ada disini dan mencari tahu bagaimana cara kembali.
.
.
Beberapa menit berjalan menyusuri salju tebal, sampailah Joana disebuah pondok kayu di tengah pepohonan.
Joana ikut masuk kedalamnya mengikuti Killian pergi.
Namun saat sudah masuk ke pondok itu, tiba-tiba Killian berhenti secara mendadak seperti orang yang siaga menyadari bahaya.
Dan pada detik berikutnya, Dia menoleh dengan tatapan menakutkan untuk seukuran seorang anak kecil dengan perkiraan usia sepuluh tahunan. "Sampai kapan Kau mengikutiku?"
Hah?
Joana bingung dengan ucapan Killian. Siapa yang dimaksud?
Hal itu membuat Joana menoleh ke kanan ke kiri ke belakang untuk mencari seseorang yang dimaksud Killian.
"Aku bicara denganmu, Lady. Apa Kau penasaran denganku?!" Ujarnya lagi dengan dingin menatap ke arah mata hitam Joana.
Sontak hal itu membuat Joana bingung. "Kau bisa melihatku?"