
"Siapa bilang Aku mencintai Lady Earlene, Marina?" Ujar Killian dengan wajah dingin dan menaikkan sebelah bibirnya. "Sepertinya Kau terlalu percaya dengan rumor, Marina."
Marina yang dipasung sontqk terkejut dengan pernyataan Killian. Dari novel yang Dia baca sebelum pindah dimensi dikatakan Killian mencintai lady Ellia Earlene. Tapi bagaimana bisa?
"Itu tidak mungkin!! Jelas-jelas yang Kau cintai adalah Ellia!! Tapi cintmu bertepuk sebelah tangan Killian!!" Marina berteriak selantang yang ia bisa dengan tenggorokan yang terasa sakit karena tidak diberi makan atau minum selama dipenjara.
"Hahahaha" Tawa Killian menggema ke seluruh penjuru area penjara yang lembab dan gelap.
"Apa maksudmu novel Killian's Love?" Killian masih menyunggingkan senyum mencemooh Marina.
Sontak Marina yang mendengar nama judul novel itu membelalakan mata terkejut dan bingung bagaimana Killian bisa tahu? Apa Killian juga transmirasi ke dunia ini juga?
"Ba-bagaimana Kau tahu?" Marina masih membelalakan mata mencoba mendapatkan jawaban dari Pria Iblis di depannya.
Mata merah Killian tampak bersinar tajam ditengah kegelapan. Mata merah itu lebih terlihat seperti monster.
"Marina Adalberto, mantan tentara pasukan perdamaian di perbatasan, tapi meninggal karena ulah kecerobohannya sendiri menarik pelatuk geranat sebelum ada perintah." Jelas Killian dingin, Kilkian menjelaskan sesuai dengan apa yang diceritakan Joana padanya.
Sekali lagi, Marina terkejut Killian mengetahui identitasnya. Apalagi insiden kecerobohannya juga diketahui Killian.
"Siapa Kau?" Tanya Marina dengan raut muka sedikit takut. Dadanya terasa sakit mengingat kecerobohan yang ia lakukan hingga menewaskan teman-teman perjuangannya.
Wajah Killian kembali datar dan menampilkan sosoknya yang dingin dan killer. "Aku? Grand Duke Killian Edellyn si Iblis haus darah."
Setelah mengatakan itu, Killian langsung meninggalkan penjara berbau anyir bersama Kenzie dibelakangnya.
Sementara Marina terus-terusan berteriak memanggil nama Killian. Ia butuh penjelasan bagaiaman Killian tahu segalanya tentang dirinya.
***
Setelah berada di tempat yang cukup cerah berada di lorong istana. Kenzie membuka suara terkait identitas Marina yang sesungguhnya.
"Apa Lady Joana yang memberitahumu tentang identitas Marina?" Tanya Kenzie sembari berjalan beriringan disamping sabahatnya itu.
Killian hanya mengangguk dan terus melanjutkan langkah kakinya.
"Apa hukuman yang akan diberikan pada Marina?" Tanya Killian kemudian.
"Aku tidak tahu, Raja yang memutuskannya. Tapi yang Aku dengar, Marina akan menerima hukum pancung setelah penobatanku menggantikan Kakak sebagai Putra Mahkota."
Killian mengagguk mendengar penjelasan Kenzie. "Lebih cepat lebih baik. Wanita itu terlalu brutal dalam mengambil tindakan."
Kenzie menyetujui.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Kenzie mengalihkan pembahasan.
Killlian tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Kenzie barusan. Dia berhenti berjalan dan mulai menaikkan sebelah alisnya menghadap Kenzie.
"Apa Kau sakit? Aku dan Aarash mencoba mencari tahu penyebab alasan Kau tertidur selama dua hari itu. Tapi Aku tidak menemukannya."
"Aku pergi ke dunia lain." Jawab Killian datar dan langsung kembali melanjutkn jalan kakinya.
Kenzie yang mendengarnya cukup bingung, apa maksudnya.
"Aku pergi ke dunia dimana Joana berasal."
"Hah?" Kenzie menatap punggung Killian yng telah berjalan meninggalkannya dengan tatapan cengo kemudian sedikit berlari kecil menyamakan langkah dengan Killian.
"Aku tidak tahu bagaimana Aku bisa kesana. Tapi Aku bertemu dengan Joana yang tidak sadarkan diri, dan..." Killian menjeda penjelasannya sejenak. "Aku akan menceritakannya di Mansionku. Ini bukan tempat yang pas untuk berbincang."
***
Malam hari di Mansion Grand Duke Edellyn.
Joana menggunakan baju laki-laki milik Killian kemudian memasang apron masaknya.
Sementara Killian juga berada ditemoat yang sama namun Dia hanya duduk di salah satu kursi yang ada di dapur. Memandangi istrunya yang lihai memotong dan mengiris bahan masakan.
"Aku sudah pernah minta ke bagian dapur, tapi tidak ada yang tahu makanan yang Aku mau." Jawab Joana dengan di iringi suara pisau yang bertemu dengan talenan kayu.
Killian berdiri dan berjalan mendekati Joana kemudian mengalungkan tangannya di pinggang mungil Joana. Tak lupa menelusupkan kepalanya di ceruk leher Joana. "Apa yang ingin Kau makan?" Gumam Killian lirih yang disambut geli oleh Joana.
"Jangan menggangguku, Aku sedang memegang pisau sekarang."
Killian semakin beringas kemudian memggigit leher putih Joana hingga meninggalkan bekas merah.
"Aww!" Rutuk Joana. " Apa yang Kau lakukan?"
"Apa Kau tidak merindukanku?" Gumam Killian mengangkat wajahnya dari leher Joana.
"Hem?" Joana hanya berdehem sebagai jawaban. "Joana melepaskan pisaunya dan berbalik menerima pelukan Killian dari depan. "Menunduklah,"
Killian bingung dengan permintaan aneh istrinya, tapi dengan senang hati melakukan permintaannya. Killian lantas menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Joana kemudian menatap lekat manik biru laut di depannya.
Dengan cepat Joana menempelkan bibirnya ke kening Killian dengan kedua tangan kotornya diangkat agar tidak mengenai tubuh maupun baju Killian.
Killian sontak cengo menatap istrinya yang tiba-tiba. "Aku minta maaf, tapi berikan Aku waktu 10 menit lagi, Aku harus merebus ramen yang Aku buat." Joana tersenyum melihat wajah menggemaskan suaminya tersebut.
"Lagi." Ujar Killian.
"Hah?"
"Lagi, tapi di sini," Sambung Killian sembari menunjuk bibirnya sendiri dengan manja seperti meminta permen dari Ibunya.
"Nanti." Jawab Joana malu kemudian berbali. Ia takut wajah merahnya terlihat oleh Killian.
Tak hilang akal, Killian mengambil ciumannya sendiri, menangkup wajah Joana yng membelakanginya kemudian menciumi seluruh wajah Joana dengan beringas. Mereka pun tergelak tertawa bersama-sama.
10 menit kemudian,
Hidangan yang Joana buat telah selesai. Yaitu ramen dengan irisan daging dan telur setengah matang disajikan di meja yang ada di dapur.
Killian yang melihat makanan yang baru pertama kali ia lihat cukup membuat nafsu makannya tergoda. Aroma penuh bumbu sangat menggugah selera. Apalagi dihidangkan ketika masih panas di cuaca dingin Foresta Fredda.
"Makanlah." Ujar Joana membuka suara.
Killian pun menyeruput kuahnya terlebih dahulu, merasakah setiap rasa dengan lidahnya.
Killian teekejut bagaimana ada makanan seenak ini.
"Enak? Aku tidak tahu selera orang disini, jadi Aku menggunakan resep asli yang biasa aku lakukan."
Killian mulai mengambil mie beserta kuahnya lagi. "Enak." Jawab Killian dengan senyumannya. "Lain kali masak yang seperti ini lagi ya."
Mendengar hal itu, Joana mengangguk pemuh kepuasan, tersenyum, kemudian mulai menyantap ramennya sendiri.
***
Killian telah selesai dengan ritual mandinya. Keluar dengan menggunakan jubah mandi yang menampakkan dada kekarnya masih basah. Apalagi dengan rambut basah yang masih menetes itu, semakin membuat Killian terlihat seksi. Tapi sayangnya sang istri tidak menganggapnya demikian. Joana terlihat sibuk membaca novel dengan duduk diatas ranjang sembari menyandarkan ounggungnya di kepala ranjang.
Ingin sekali Killian menyambar istrinya, tapi ia ingat setelah makan malam dan Killian meminta jatah, Joana memberitahukan kalau dirinya sedang dalam masa periodenya.
Dengan berat hati ia berjalan melewati istrinya menuju ruangan yang disebut Almari.
Di dalam Almari terlihat gaun Joana lebih sedikit daripada miliknya. Itu karena Joana meminta Daisy menyingkirkan sebagian gaunnya, Ia lebih nyaman menggunakan pakaian lama milik Killian.
Setelah ganti baju, Killian mendekati isyrinya kemudian memeluk pinggang istrinya meminta Joana untuk menyudahi acara membacanya.
Killian terlihat sangat manja setelah pulang dari kunjungannya ke penjara.
"Sayang~" Gumam Killian menelusupkan wajahnya di perut Joana.