
Jadi apakah Mama dulu berbohong padaku? Tapi kenapa? Jika sejak awal ingin membawaku ke dunia ini, kenapa harus dimulai dengan kebohongan?
Pikiran Joana semakin pelik mengingat kejadian masa lalu. Apa yang Mama inginkan dariku?
"Joana,"
"Heh?" Joana terbangun dari lamunannya dan menatap Ayahnya yang sudah mulai transparan. "Apa yang terjadi Ayah?" Joana panik mencoba memengang tangan Ayahnya yang sudah tembus pandang, namun sayang, ia sama sekali tidak dapat menyentuhnya.
"Ayah~"
Killian tersenyum sendu menatap Joana. Sepertinya sampai sini pertemuannya dengan Joana. Ingin rasanya Dia selalu menemani Joana menghadapi suka dan duka layaknya Ayah yang selalu ada disisi putinya untuk melindungi dari setiap mara bahaya. "Ayah mencintaimu, Sayang." Killian mengecup dahi Joana kemudian memeluk untuk yng terakhir kalinya.
Joana pun membalas pelukan itu dengan erat, meski tembus pandang dan tidak bisa ia sentuh, tapi ia dapat merasakan hangat pelukan dari Ayah kandungnya yang mirip dengan Killian suaminya itu. "Aku juga mencintaimu, Ayah."
Killian tersenyum dan pada detik kemudian kehadirannya benar-benar menghilang.
***
Empat jam sejak pingsannya Joana di dalam kamar rahasia. Joana terbangun di atas ranjang. Ia ingat pertemuannya dengan Ayah kandungnya. Namun saat membuka mat kali ini, pemandangannya benar-benar berbeda dengan beberapa saat yang lalu saat masih berbicara dengan Ayahnya.
"Kenapa penuh es begini?" Joana mengerjap mata melihat sekeliling kamar bagai hutan es kristal tajam. "Apa sebelum pingsan kekuatanku meledak?"
"Ah, Killian," Joana mengabaikan pertanyaan itu dan langsung memejamkan matanya memfokuskan sihirnya. Ia pernah melakukannya sebelumnya, membuat salju menghilang dengan kekuatannya.
Jika tidak dihilangkan, ia tidak akan bisa keluar dari kamar itu, bahkan untuk jalan saja tidak ada space.
Kratak! Wusshhh!
Semua es yang mencuat menghilang di dalam kamarnya.
Raja dan yang lainnya yang ada di luar kamar mendadak terkejut dengan angin yng tiba-tiba datang menghilangkan semua es yang mencuat di seluruh bagian istana.
Arhan dan Aarash saling pandng seakan mendapatkan jawaban yang sama, yaitu Joana.
Begitu pula dengan Killian, Killian menggedor pintu itu lagi, hatinya sedikit lega merasakan aura sihir Joana. "Joana, jawablah, apakah Kau sudah bangun? Joana!"
Tak berselang lama, pintu terbuka dari dalam. Menampakkan sosok Joana dengan gaun berwana biru yang tadi ia kenakan.
Bukan itu yang membuat semua orang terkejut, tapi rambut Joana. Rambutnya tiba-tiba panjang sepinggang.
"Joana," Killian langsung memeluk tubuh dingin Joana, bodo amat dengan Raja, bodo amat dengan tata krama. Yang jadi prioritasnya sekarang adalah Joana sudah kembali.
Joana terkejut dengan pelukan tiba-tiba Killian. Ia pu. membalas pelukan itu.
Tapi tiba-tiba matanya menemukan sosok Raja yang berdiri mengamati keduanya.
"Ah, Yang Mulia," Ujar Joana melepas pelukannya.
Ya, dengan sihir Joana yang mengalir di tubuhnya, ia dengan mudah mendorong tubuh kekar Killian suaminya.
Joana pun membungkuk sembari mengamati sekitar. Wajahnya kian kaku melihat bekas kerusakan akibat ulahnya. "Saya minta maaf atas kerusakan yang terjadi Yang Mulia." Ujar Joana pasrah jika diminta pertanggung jawaban.
Sang raja terpaku melihat wajah Joana. Bagaimana tidak? Raja baru pertama kalinya melihat warna mata sehitam langit malam itu. Dan tiba-tiba ia teringat dengan ramalan yang pernah ia dengar dari Raja terdahulu. Seorang gadis yang memiliki rambut dan mata sehitam langit malam, bibir semerah darah, dan kulit seputih salju, akan membawa cahaya dari kegelapan pada dunia ini.
Apakah Dia gadis dalam ramalan itu?
"Apa benar Kau putri Adalberto?" Tanya Raja.
"Anda bisa membuka pintu itu, makanya Raja bertanya apa Kau sungguh putri dari keluarga Adalberto?" Kini Kenzie yang memberikan penjelasan.
Ah,,, Tapi Aku juga tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, tubuh ini memang anak yang dilahirkan Clarissa dan Ferio Adalberto, tapi tidak untuk jiwanya.
"Iya, Yang Mulia. Joana adalah putri kandung di keluarga kami." Tiba-tiba suara Jeremy muncul di tengah pembicaraan.
Awalnya Joana tidak menyadari kehadiran kakaknya itu. Namun ketika Dia bicara ia baru sadar, selama ini Dia berdiri di samping.
"Saya melihat sendiri proses kelahiran Joana yang membuat Ibu Kami meninggal, Yang Mulia." Sambung Jeremy yang membuat Joana agak kesal.
Jadi dibalik omongannya itu, terselip kemarahan karena telah membunuh Ibunya begitu?
Sang Raja mengangguk mengerti. Bukannya ingin bertanya lagi, Dia meminta Jeremy untuk dipertemukan dengan Ferio, kepala keluarga Duke Adalberto. Akan ia selidiki sendiri terkait sihir Joana dan asal usul Joana.
Sang Raja pun hendak pergi meningglakan lokasi sumber kekacauan itu. Namun dihentikan oleh Killian. Ya, Killian. Siapa lagi yang berani bersikap seenaknya pada penguasa.
"Saya harap Anda menyembunyikan sihir Joana, Yang Mulia."
Raja tentu saja menyetujuinya, tidak ada keuntungannya juga memberitahukan pada dunia dengan kekuatan sihir langka itu. Kekuatan yang sama dengan Tania. Istri dari sepupunya kakeknya-Raja terdahulu, Killian De Fredda.
Tunggu-
Tiba-tiba ingatan Raja seolah teringat sesuatu. Ia lantas menatap wajah Joana dengan intents.
Benar, Anak ini, Dia sangat mirip dengan Tania, kemudian Killian...
Raja kemudian mengalihkan pandang ke wajah Killian. "Killian De Fredda?" Gumam Raja yang masih bisa di dengar yang lain.
Orang yang ditatap Raja menunjukkan senyum aneh. "Benar, Yang Mulia, Saya adalah reinkarnasi Killian De Fredda. Calon penguasa yang gugur dalam peperangan."
Deg!
Raja semakin khawatir tentang posisinya sebagai Raja. Dari munculnya orang yang diduga keturunan pertama, hingga munculnya reinkarnasi Killian?
"Karena itulah Anda harus menyembunyikan rahasia ini Yang Mulia," Sambung Killian masih menyinggingkan senyum mengejek.
Raja mulai kesal dan langsung meninggalkan lokasi kejadian.
Di tempat lain, Jeremy menatap Killian dan Joana bergantian. Killian De Fredda? Siapa Dia? Dan Joana...
Memang benar Jeremy menyesal telah mengabaikan Joana sejak dulu, sekarang ia sudah mengerti apa penyesalan itu. Penyesalan yang selalu ada di akhir. Ia menyesal lebih menyayangi Marina. Namun sekarang Marina malah menghilang dan membuat keluarganya sebagai bahan gunjingan di pergaulan kelas atas. Keluarga yang mengadopsi pembunuh.
Mungkin lebih baik di sebut Keluarga Duke dengan Lady yang terbuang daripada Keluarga Duke dengan Lady seorang pembunuh. Itu jauh lebih buruk.
Joana menatap malas kakaknya. Sejak kapan ia ada disana?
Ia pun mengalihkan pandang dan memandang wajah tampan Killian dengan mata merahnya. Joana menggandeng tangan besar itu dan mengajaknya untuk pulang. "Aku lelah, Aku ingin istirahat."
Killiam mengangguki. "Baiklah, Ayo pulang sekarang,"
Meninggalkan Duo A (Arhan dan Aarash), Jeremy, Kenzie, dan Ellia.
Ellia yang saat itu hanya menjadi penonton akhirnya menunjukkan wajah kagumnya menatap punggung Joana yang sudah berjalan menjauh. Joana adalah sosok perempuan hebat yang akan ia jadikan sebagai idola. Selain baik, ternyata Joana sangatlah cantik dan mempesona, kecantikannya melebihi semua lady bangsawan yang pernah ia kenal.