
Seharusnya Killian akan pulang ke mansion esok hari, namun karen rindunya yang aanhat berat pada Joana akhirnya ia memutuskan untuk langsung pulang setelah menyelesaikan misinya alih-alih istirahat bersama prajurit lainnya.
Killian menaiki kudanya tanpa kereta berlalri sekencang mungkin, tubuhnya yang penuh darah juga tidak menghalanginya untuk segera pulang bertemu sang pujaan hati.
Saat hampir sampai di mansion, tiba-tiba Killian merasakan aura sihir yang cukup besar. Killian dengan panik memecut kudanya untuk berlari lebih kencang.
Perasaan Killian semakin tidak enak ketika merasakan aura sihir panas yang besar dan pusatnya ada di mansionnya sendiri.
Dengan tergesa-gesa, Killian turun dri kudanyabdan berlari sekencang yang ia bisa dengan kakinya, Killian pun sampai di depan bagian dapur dengan napas tersengal ngos-ngosan karena berlari.
Pandangan yang ia temukan adalah Max pengawal pribadinya yang menodongkan pedang yang diselimuti sihir kegelapan.
Sementara Joana menatapnya dengan takut.
Apa yang terjadi? Aura sihirnya hilang. Batin Killian.
"Siapa Kau?" Tanya Max tegas yang terkesan menakutkan.
Killian bingung dengan pertanyaan Max, jelas jelas Dia adalah Tuannya. Tunggu-
Killian membelakakan matanya menatap Max dan Joana bergantian. "Apa Dia datang kemari?" Tanya Killian dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Buktikan pada Saya kalau Anda Grand Duke Killian, Tuan Saya." Balas Max tanpa merespon pertanyaan Killian sebelumnya.
"Dia Killian yang asli, Max," Sahut Joana menatap netra merah Killian.
"Tidak Nyonya, Saya tidak bisa percaya tanpa pembuktian." Kekeh Max masih menghalangi tubuh Joana dibalik tubuh kekarnya.
Killian menghela napasnya, Ia akan maafkan perilaku Max demi melindungi Joana. "Apa Aku harus bilang kalau Kau selalu mengirim surt cinta pada Daisy?" Jawab Killian enteng dan langsung membuat Max merah padam.
Lantas Max pun menurunkan pedangnya, dan Killian pun menghampiri joana yang nampak syok dan ketakutan.
Killian hendak memeluknya namun tiba-tiba tubuh Joana merosoh jatuh. Dengan sigap Killian menahannya agar tidak terjatuh.
"Joana," Sahut Killian lirih memeluk tubuh lemas Joana.
Sepersekian detik kemudian air mata Joana mengalir tanpa peringatan. Ia pun menangis tersedu-sedu di pelukan Killian.
"Aku ada disini, Sayang. Aku bersamamu." Lirih Killian menenangkan Joana.
Ia menepuk pundak istrinya yang menangis kemudian menatap pengawalnya, Max yang berdiri menatap keduanya.
"Maaf Tuan, Saya tidak bisa membedakan Anda dengan pria itu." Max berlutut ketika mendapat tatapan dingin dari Tuannya.
"Kita bicarakan ini nanti, ikuti Aku." Balas Killian kemudian membopong tubuh Joana untuk pergi ke kamar mereka.
***
Killian pun merebahkan Joana diatas ranjang dengan tangis yang masih tersisa di pipi Joana.
"Max, jaga Joana sebentar, Aku harus membersihkan tubuhku dulu." Saat Killian hendak menuju kamar mandi, Tangannya ditahan oleh Joana.
Killian pun menatap lembut kemudian mengusap pipi mungil Joana. "Aku harus membersihkan diri Sayang, Aku tahu Kau tidak suka mencium aroma darah dari tubuhku." Ujarnya lembut.
Joana menggeleng, ia masih syok dengan peristiwa tadi.
Killian menghela napas kemudian melepaskan jubah luarnya menyisakan kemeja dengan sedikit noda darah dibagian ujung lengan.
"Keluarlah Max," Perintahnya kemudian dan langsung naik keatas ranjang duduk disamping istrinya.
"Aku tidak akan pergi Sayang," Killian menidurkan Joana. "Aku akan selalu bersamamu,"
Joana lantas memeluk tubuh kekar suaminya dengan dalam. Ia menelusupkan wajahnya di dada Killian yang bidang.
Ia masih membayangkan Killian palsu yang berpura-pura menjadi suaminya.
Ada ketakutan mengingat sosok itu, sosok yang tidak pernah ada dalam cerita novel.
Meskipun ada kemungkin sosok Killian palsu itu orang yang baik, tetap saja ia takut dengan kemungkinan Dia adalah orang jahat. Dia tidak pernah dituliskan dalam novel, Killian juga tidak tahu menahu tentangnya.
Yang jadi pertanyaan saat ini adalah kenapa Dia berpura-pura menjadi Killian? Apa yang Dia inginkan?
***
"Bawa Dia kemari secepatnya, Max. Aku tidak peduli Dia hidup atau mati, cepat bawa Dia ke hadapanku!" Tegas Killian setelah mendengar semua cerita yang Max tuturkan, mengenai bagaimana Killian palsu datang, mengenai sosoknya, dan kekuatan sihir yang sempat Killian palsu keluarkan.
"Baik, Tuan." Setelah menjawab itu, Max lantas pamit meninggalkan kamar pasutri itu, sementara Joana dalam keadaan tertidur di atas ranjang sementara Killian duduk di meja kerja yang ada di kamar.
Belum sempat membuka pintu untuk keluar, Max dipanggil lagi oleh Killian.
"Tunggu, Max,"
Max pun menoleh tanpa beranjak mendekati Killian. "Temui Kenzie dan segera percepat permintaanku padanya."
"Baik Tuan."
Setelah mengatakan itu, Max benar-benar meninggalkan kamar.
Sedangkan Killian diam menatap wajah Joana yang tertidur dari sebrang meja kerjanya.
Killian menghembuskan napas kasar kemudian berjalan menuju istrinya. Ia pun ikut tidur bersamanya, ia sudah bergadang selama dua hari untuk menjalankan perintah dari Raja sialan yang membuat Joana dalam mara bahaya. "Awas saja jika ingin memintaku membunuh monster tingkat rendah lagi, bukan monsternya yang akan ku bunuh, tapi Kau, dasar Raja sialan." Rutuk Killian lirih hingga tidak terdengar dari dalam kamar. Dia begitu emosi telah meninggalkan Joana. "Aku janji Aku akan selalu disampingmu, Sayang" Bisik Killian pelan kemudian memeluk Joana dari belakang dan ikut memejamkan matanya.
***
Tiga hari kemudian, Joana dan Killian saat ini sedang dalam perjalanan menaiki kereta kuda untuk pergi ke istana.
Sebagai Grand Duke dan Grand Duchess sekaligus teman dari Kenzie, mereka harus datang ke acara pelantikan Kenzie sebagai Putra Mahkota yang baru.
Selain pelantikan, Kenzie juga berencana untuk melakukan pertuanangan dengan Ellia Earlene.
Ya, Ellia Eaelene, sang tokoh protagonis sebenarnya dalam novel.
Killian dan Joana memasuki ruangan setelah teriakan dari pengawal istana yang memberitahukan kedatangan mereka. "Grand Duke Killian Edellyn dan Grand Duchess Joana Edellyn memasuki ruangan!"
Setelah teriakan pengawal itu, ruangan langsung diam mengamati Killian dan Joana yang berjalan elegan menuruni tangga. Mereka seperti selebritas yang tersorot oleh semua pasang mata.
Joana pun nampak canggung dengan tatapan yang menuju langsung ke arahnya. Sebagain seorang introvert Joana berusaha semaksimal mungkin untuk tetep elegan dan percaya diri disamping Killian yang gagah berani.
Killian sedari tadi belum melepaskan genggamannya dari tangan Joana. Ia ingin menunjukkan pada semua orang yang hadir disana bahwa Joana lah yang akan menjadi satu-satunya wanita milkinya. Tidak boleh ada yang mendekati sang pujaan hati.
Sesekali saat menuruni tangga, Killian juga menoleh melirik wajah ayu Joana yang terlihat gugup tapi terkesan manis dimatanya.
"Jangan gugup seperti itu, Sayang. Cukup tampakkan wajah dinginmu yang dulu." Ujar Killian dengan suara pelan. Kenapa Killian meminta Joana untuk berwajah dingin, itu agar tidak ada yang berani mendekati wanita yang terkesan jahat. Jika Joana memasang wajah ramah, bisa-bisa banyak pria yang mengantri untuk menggantikannya.
Dengan wajah cantik Joana, Killian percaya Joana akan cepat untuk mendapatkan pria lain selain dirinya.