
Tiga jam sudah Joana dan Daisy menyelesaikan sekuel novelnya.
Tidak menyangka sudah hampir tengah malam dan ternyata Killian belum juga kembali.
Daisy pamit meninggalkan Joana yang berada di dalam walk in closet untuk mengganti bajunya dengan piyama.
Lagi-lagi ia tidak bisa menemukan pakaian Killian yang seukuran dengannya. Akhirnya terpaksa ia mengenakan pakaian Killian yang berukuran oversize di tubunnya.
Joana pun keluar dari sana setelah mengganti bajunya dan betapa terkejutnya ia melihat Killian lagi-lagi pulang dengan bercak darah disekujur bajunya.
Killian sudah melepaskan kemejanya dan tersisa celana panjang yang menutupi tubuhnya. Ia pun menoleh ke arah Joana. Dia pikir Joana akan lama di dalam walk in closet makanya dengan buru-buru Killian melepas semua pakaian yang terkena darah, tapi alhasil ketahuan, ya sudahlah.
"Kau belum tidur?" Tanya Killian dengan wajah datar khasnya. Bahkan pada orang yang dicintainya pun Killian sering menampilkan wajah datar itu. Menyebalkan.
Joana menghela napas panjang kemudian mendekati suaminya. Ia memungut kemeja dan jubah yang tergeletak di lantai. "Siapa lagi yang Kau bunuh kali ini?" Tanya Joana yang seakan mengerti watak dari Killian. Di novel Dia adalah iblis haus darah yang sering membunuh monster maupun manusia.
"Maaf," Lirih Killian bersalah. Tidak seharusnya ia menunjukkan sosok mengerikan ini di depan Joana.
"Apa Kau sudah makan malam?" Sahut Joana mengabaikan permintaan maaf Joana. Ia tidak mau menyalahkan atau meminta Killian untuk berhenti. Ia sadar semua sudah disetting oleh pengarang sedemikian rupa untuk menjadikan Killian seperti ini. Jadi jika ada yang patut disalahkan, tentu saja itu salah penulis.
Killian menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Baiklah, Kau mandilah dulu. Aku akan memasak untukmu."
Joana hendak pergi membawa pakaian penuh darah itu keluar, namun dihentikan sejenak oleh Killian. "Apa Kau takut padaku?"
"Aku janji Aku tidak akan membunuh orang lain, Joana,"
Untuk kedua kalinya Joana membuang napasnya kemudian berbalik menatap wajah Killian yang menampilkan raut sedih. "Jika Aku takut padamu, sejak dulu Aku tidak akan menerima kehadiranmu disisiku. Sejak awal pun Aku sudah tahu karaktermu dari novel."
Joana tersenyum sekilas, "Cepat mandilah, pakai sabun yang banyak. Aku tidak mau bau anyir darah ada di tubuh orang yang akan tidur bersamaku."
Killian juga tersenyum mendengar jawaban Joana. Ia lantas melepaskan celananya dan berjalan cepat memasuki kamar mandi. Dan Joana memungut celana itu yang akan ia bawa ke ruang cuci. Ia akan merendam sendiri baju itu, ia tidak enak membangunkan para pelayan hanya untuk masalah sepele.
***
Beberapa menit kemudian, Joana kembali ke kamar membawa Lohiketo makanan dari Finlandia yang dari potongan daging salmon yang bepadu dengan sedapnya kuah krim kental.
Bersamaan dengan Killian yang ternyata baru selesai membersihkan diri. Dia terlihat seksi dengan handuk yang hanya menutupi bagian pinggang kebawah, rambutnya basah dan tubuhnya juga belum kering sempurna.
Killian tersenyum kala melihat Joana yang terpaku terpesona menatapnya. "Tahan dulu gairahmu, Aku akan melakukannya nanti." Goda Killian dengan senyum liciknya.
Joana pun tersentak dan langsung melengos menuju meja makan. Malu sekali, Aku terlihat seperti wanita yang haus akan belaian. Sadarlah Joan. Batin Joana merutuki sifatnya yang selalu kalah dengan tubuh seksi Killian.
Killian pun berjalan menuju walk in closet untuk memakai pakaiannya. Ia tidak sabar untuk menyantap makanan yang dibuat Joana dan menyantap sang pembuatnya juga.
***
Dia sekarang berada di hutan kegelapan. Dia telah menemukan kaki tangan dan beberapa orang yang mengetahui keberadaan kembarannya.
Killian secara langsung mengintrogasi tujuh pria berbadan besar itu. Dibantu Aarash yang sama-sama mendapat julukan psycopat pembunuh. Mereka berdua tidak ragu mengayunkan pedang ke leher salah satu orang tersebut.
"Sampai kapan kalian akan diam hah?" Ujar Killian dengan tatapan datar namun memiliki aura membunuh yang cukup tinggi. "Jika kalian mau diam, terus saja diam sampai kematian menjemput kalian sama seperti orang ini." Sambungnya dengan satu kaki meninjak tubuh mayat yang baru saja di tebas oleh Aarash. Mayat itu bagi Killian seperti sampah yang memang harus di injak-injak.
"Tuan, tanganku masih ingin membunuh lagi." Aarash dengan senyum ramah namun terlihat seperti psyco tersenyum ke arah enam pria yang masih tersisa.
"Kau boleh membunuh kaki tangannya itu dulu," Balas Killian tak kala psyco dari Aarash.
Aarah mengangguk dengan senyuman mengembang dibibirnya, ia langsung menyeret pria berambut merah mohawk itu dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk menebasnya lagi.
Tidak ada takut dimata pria yang akan habis masa hidupnya. Tidak gemetar sama sekali dan hal itu membuat Aarash semakin tertarik untuk menghabisi pria sombong yang menghadapi ajalnya.
"Masih ada satu kesempatan sebelum Aku menggorok leher kekarmu, Bro." Aarash membuka suara mengejek. Karena Aarash dan Killian sudah mengetahui identitas Killian palsu dari salah satu mata-mata yang ia tugaskan.
Killian berbuat seperti ini selain untuk mencari informasi lain tapi juga memuaskan hasratnya untuk membunuh.
"Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah memberitahukannya pada penjahat seperti kalian!" Teriak pria berambut merah itu dengan geram. Ia tidak peduli jika kematian menantinya, yang penting identitas tuannya-Stevan aman.
Aarash tertawa gembira, "Aku suka dengan pembangkang seperti Kau daripada orang yang meminta pengampunan sebelum kematiannya."
"Apa yang Stevan Anderson berikan padamu sampai Kau rela memberikan nyawamu sebagai tumbalnya?" Killian dengan suara rendahnya menoleh kearah pria berambut merah yang sudah siap dibunuh oleh Aarash.
Tentu saja mendengar nama tuannya disebut ia langsung menoleh menatap kelima orang bawahannya dengan tatapan menelisik siapa yang telah menjadi penghianat.
Secara bersamaan kelima pria itu menolak tuduhan itu. "Bukan Saya, Tuan" "Bukan Saya,"
Killian tersenyum culas mengambil pedang dari tangan Aarash. "Anderson sudah membuangmu, Lucius."
"Tidak, itu tidak mungkin! Tuan Stevan tidak mungkin membuangku!" Teriak pria berambut merah yang dipanggil Lucius itu.
Dan Killian menunjukkan senyum mengejeknya lagi. "Aku sudah bertemu dengannya, Aku meminta pertukaran dirimu dan Marina Adalberto."
"Dan Kau tahu apa yang Dia katakan?" Killian menjeda kalimatnya agar terdengar dramatis. "Dia membuangmu dan lebih memilih Marina."
"Itu karena Nona Marina adalah kunci mencapai rencananya!"
Killian kembali tersenyum mendengar jawaban itu, seenarnya ia berbohong tentang pertemuannya dengan Killian palsu yang bernama Stevan Anderson itu. Dia mengucapkan itu hanya sebagai umpan. Dan ternyata benar asumsinya terkait pria itu yang membawa Marina kabur. Dan mengejutkannya lagi, ternyata Marina adalah kunci bagi pria itu.
"Karena itulah Dia sudah tidak membutuhkanmu lagi, makanya Dia membiarkanmu untuk mati ditanganku, Lucius."
Lucius semakit berteriak menolak pernyataan Killian. Dalam tekadnya ia masih mempercayai tuan yang sudah ia layani selama lima tahun itu.