The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 13



"Tapi siapa Killian De Fredda? Kenapa Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya?" Tanya Killian pada Kenzie yang sebagai pangeran kerajaan. "Apa Kau pernah melihat potret mereka berdua?"


"Aku pernah melihatnya sekali, wajah putri Tania. Tapi itu sudah lama sekali." Jawab Kenzie. "Putri Tania yang aku ingat, Dia memiliki rambut dan mata berwarna hitam."


Deg!


Menyadari perkataannya, Kenzie teringat dengan cerita yang pernah dikatakan Lady Joana. Seketika Mata Kenzie membulat menatap nanar merah sahabatnya.


Killian hanya mengangguk seakan mengerti tatapan tajam dari Kenzie yang menyala bagai laser.


"Jadi... Dia?" Gumam Kenzie penuh pertanyaan di otaknya.


"Yang menjadi pertanyaan sekarang, apa potret mereka berdua disimpan di istana?" Tanya Killian mengalihkan tatapan tajam sahabatnya yanh seakan membatu.


"Ah. Aku tidak tahu, sudah sepuluh tahun Yang Mulia Raja menutup ruangan yang terdapat potret Putri Tania." Jawab Kenzie yang sudah berusaha normal. "Untuk potret Pangeran Killian De Fredda, Aku tidak tahu."


Killian menghembuskan napas kasar.


"Kita ke kediamanku sekarang. Aku tahu cara menyembuhkan istriku." Timpal Killian dan langsung melengos berjalan keluar dari menara sihir.


"Kau tahu caranya?" Tanya Kenzie membelalakkan matanya kdan langsung menyusul Killian dari belakang.


Killian hanya diam dan terus berjalan mengabaikan pertanyaan Pangeran Kedua.


***


Killian menaiki ranjang tempat Joana tertidur. Dia hanua sendiri, sementara Kenzie yang penasaran hanya menunggu di balik pintu kamar, meninggalkan privasi sepasang suami istri.


"Joana..." Gumam Killian yang sudah mendekatkan wajahnya ke telinga gadis yang tengah terbaring koma.


Killian mengangkat wajahnya dan mulai mendekatkan wajahnya kedepan wajah istrinya yang sayup tertidur begitu lama.


Killian akan melakukan apa yang dikatakan Tania. Yaitu mencium bibir Joana.


Killian menatap lamat bibir merah darah istrinya. Jika warnanya merah, pasti Joana Alexandra dengan mata hitam malamnya yang akan bangun.


Tangan Killian mengusap lembut anak rambut hitam itu ke belakang telinga. Perlahan mengusap pipi lembut istrinya dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Joana..." Bisik Killian yang kemudian mencium bibir merah Joana dengan bibir tebalnya.


Killian tidak sabar mendengar celotehan dari istrinya lagi, Killian tidak sabar melihat wajah istrinya yng cemberut namun terlihat manis dimatanya, Killian tidak sabar melihat wajah ayu itu tersenyum kembali.


Dengan perasaan senang, Killian mencium begitu lama, bahkan sampai memagut bibir manis itu.


Satu menit, dua menit, tiga menit...


Joana belum bangun.


Killian melepaskan tautan bibirnya dengan gadis yang masih tertidur itu. Ia mengangkat wajahnya namun masih mengamati wajah sayu itu dengan tajam.


"Joana..." Gumam Killian yang sudah mulai menekuk wajahnya kembali.


"Apa wanita itu berbohong padaku?" Sambung Killian dengan mata berapi-api. Beraninya Dia menipu iblis sepertiku.


"Joana. Bangunlah sayang." Sahut Killian lagi. Suaranya terdengar lembut namun ada getaran kecewa. "Sampai kapan Kau akan tidur sayang?"


Killian menyilakkan rambut coklatnya dengan kasar. "Aku merindukanmu..." Killian menjatuhkan tubuhnya berbafmring disamping Joana. Tak lupa tangannya melingkar di pinggang mungil istrinya. "Jaoana Alexandra... Bangunlah sayang..." Killian masih menggumam membangunkan istrinya.


Killian masih setia menunggu istrinya bangun, bahkan selama sepuluh hari terakhir, ia tidak pernah tidur, kalau-kalau istrinya bangun saat dia tertidur.


Killian merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Masih memeluk istrinya dengan erat. Hingga tak lama kemudian, Killian tertidur, menutup mata merahnya.


***


Deg!


Pada waktu berikutnya, Killian tiba-tiba pindah kesuatu tempat.


Matanya mengferling menatap area sekitar. Tampak semua orang pria wanita memakai pakaian aneh, berbicara dengan bahasa yang tidak pernah dia dengar namun entah kenapa ia mengerti bahasa tersebut.


Killian terus berjalan tak tentu arah, melewati lorong dan beberapa orang yang dia lewati hanya menatapnya dengan pandangan aneh.


Killian juga sama, Killian mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Orang yang berlalu lalang disini memiliki warna rambut yng cukup beragam, dari blonde, coklat, merah, bahkan ada yang memiliki warna rambut hijau neon seperti warna bola tenis. Tapi yang membuat Killian terkejut adalah, kebanyakan warna rambut disini adalah hitam, apalagi dengan warna mata senada juga.


Warna rambut yang jarang ada di Foresta Fredda, namun banyak disini.


"Tempat ini aneh." Gumam Killian dalam hati.


Killian masih berjalan gontai dengan tatapan tajam mengamati bangunan ramai itu. Hingga ia tidak sengaja menabrak seorang wanita dengan pakaian biru tipis yang terkesan kekurangan bahan. "Aku tidak menyangka, Nona Joana adalah Putri pemilik rumah sakit ini." Sahut wanita tersebut mengabaikan pria yang sudah ditabrak dan terus mengoceh pada teman perawat yang berjalan disampingnya.


Killian yang mendengarnya lantas terkejut, Joana?


"Tunggu." Sahut Killian pada kedua wanita berbaju biru ala perawat.


Kedua perawat itu pun menoleh. Mereka terkejut dengan sosok tampan yang memanggil mereka. Pada detik berikutnya mereka tersenyum ramah. "Saya minta maaf karena sudah menabrak Anda, Tuan." Ujar salah satu perawat itu. Perawat itu menyilakkan sebelah rambutnya ke belakang telinga, mencoba mencari perhatian dari sosok tampan di depannya. "Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Kini perawat satunya yang terlihat berumur 40 tahunan yang menjawab.


"Joana." Sahut Killian. "Joana Alexandra."


Kedua wanita itu mengangguk mengerti. Pasti mencari Nona Joana. "Nona Joana ada di kamar nomor 342 Tuan. Ada di sebelah sana." Jawab perawat berusia 40 tahunan itu mengangkat tangannya sebagai penunjuk arah.


"Apa mau Saya antarkan, Tuan?" Tanya perawat satunya yang kecentilan.


"Tidak." Sahut Killian cepat dan langsung berbalik berjalan menuju kamar yang dimaksud.


"Cakep tapi galak buat apa.?" Ujar perawat muda yang tampak sebal dan melengos ketika Killian berbalik tanpa terimakasih. Perawat satunya hanya diam seperti biasa dengan tingkah rekan mudanya ini.


Killian sudah berdiri di depan pintu kamar yng dimaksud. Ada beberapa tulisan yang ditulis dengan aksara aneh tapi entah kenapa Killian bisa membacanya. Tertulis 'Joana Alexandra, 26 Tahun' di tembok yang ada disamping pintu kamar.


Dengan ragu tangannya membuka gagang pintu yang menggunakan hendle polos yang terbuat dari bahan stainlessteel.


Klek!


Pintu berhasil terbuka, Dari pandangan Killian, terdapat seorang wanita yang tertidur di ranjang aneh.


Killian berjalan mendekat ke arah ranjang itu.


Deg!


Mata merah Killian membulat sempurna. Seakan tenggorokannya juga tercekat. Killian mengaga tidak percaya pada sosok gadis yang tertutuo benda aneh diwajahnya. Lengannya terlihat putih pucat denga. berbagai tempelan aneh.


"Joana..." Seketika air mata Killian jatuh. Butir air membahasi pipi Killian. Untuk pertama kalinya setelah tragedi kematian ibunya, Killian menangis lagi.


Napasnya seakan tercekat, melihat sosok lain Joana.


Gadis yang terbaring itu memiliki rambut hitam yang sangat panjang. Berbeda dengan Joana yang ada di kamar Killian yang sudah memotong rambutnya.


"Apa ini dirimu yang asli, Joana Alexandra?" Killian masih menangis mengusap anak rambut yang terasa halus.


Bagaimana part ini? Ternyata Killian berada di dunianya Joana. Pasti penasaran kelanjutannya kan?