
"Apa ini dirimu yang asli, Joana Alexandra?" Killian masih menangis mengusap anak rambut yang terasa halus.
Tangan Killian beralih ke pipi pucat yang terlihat kurus. Entah benda transparan apa yang menutupi wajah Joana. Tapi insting Killian mengatakan benda-benda yng menempel di tubuh Joana yang membantu Joana tetap bertahan.
"Sayang..." Sahut Killian dengan suara lirih. Menyilakkan anak rambut yang terlihat seperti poni.
Disamping ranjang tidur Joana ada sebuah potret kecil yang menampakkan wajah Joana tersenyum begitu manis.
Killian mengangkat potret itu. Gambar itu adalah foto Joana saat berusia 18 tahun. Gambar kelulusan Joana dari SMA.
"Kau mirip dengan Joana yang ada disana." Gumam Killian menatap foto itu dnegan senyuman kemudian menoleh ke arah Joana yang tertidur dan mengembalikkan foto itu ke tempat semula.
"Jadi ini wajahmu ketika dewasa? Kau terlihat lebih cantik, Sayang."
30 menit sudah Killian duduk di ruangan aneh bersama Joana. Ia baru menyadari jika dirinya juga memakai pakaian aneh namun terasa nyaman. Setelah jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih dan dasi berwarna maroon.
Killian menatap wajahnya sendiri yang terlihat lebih dewasa.
Dari cermin yang ia ambil yang ada diamping figura foto Joana. Killian mendapati warna matanya berwana coklat hazel dan warna rambut yang sama dengan miliknya.
Dengan otaknya yang tergolong pintar, Killian meyakini ia berada di dunia tempat Joana Alexandra tinggal. Dunia lain yang pernah di ceritakan oleh Joana.
Seakan melupakan dunia aslinya, Killian duduk di kursi yang ada disamping ranjang. Mengusap jemari Joana yang penuh dengan tempelan aneh.
"Kau ada dimana sekarang Sayang?" Gumam Killian masih mengusap jemari Joana. Dalam otak Killian beranggapan jiwa kekasihnya itu sedang berkeliaran tak tahu jalan pulang, sehingga belum kembali ke tubuh Joana Adalberto maupun tubuh Joana Alexandra.
Klek
Tiba-tiba sebuah suara pintu terbuka mengangetkan Killian dan langsung membuatnya menoleh ke sumber suara.
Disana berdiri wanita paruh baya yang mirip dengan Joana sedang berdiri terkejut di ambang pintu.
Wanita paruh baya itu terkejut melihat sosok pria tampan yang duduk menemani putri dari adiknya, ibunya Joana.
"Siapa Kamu?" Tanya wanita paruh baya itu dengan pandangan menelisik. Pertama kalinya ada pengunjung di kamar keponakannya.
Killian sontak berdiri dan hendak memberikan salam. Setidaknya Dia harus sopan di dunia ini.
Wanita paruh baya dengan gaun biru mewah rancangan desainer itu berjalan dengan anggun menghampiri pemuda itu.
Killian hanya diam bingung bagaimana cara menghadaoi wanita asing dari dunia asing. 'Apa Dia Ibu Joana?' Batin Killian gugup.
"Apa Kau mengenal keponakan Saya?" Tanya Bibi Joana bernama Daniova.
Mendengar hal itu, Killian tersentak dan hendak menjawabnya. "Saya Killian, Nyonya " Jawab Killian tegas. Meskipun berada di dunia asing, sosok Killian masih tegas dan tidak kenal takut.
"Apa hubunganmu dengan Joana?" Tanya Daniova dengan menelisik.
Deg!
Entah kenapa sosok Killian si iblis haus darah luruh dihadapan wanita tua ini. Ia gugup berhadapan dengannya.
"Saya teman Joana, Nyonya." Sekali lagi, Killian menjawab dengan mantap. Ia tidak bisa bilang kalau Joana adalah istrinya di dunia lain.
Daniova mengangguk kemudian mengamati sosok pemuda dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan aneh.
"Dari keluarga mana dirimu?"
"Apa?" Pekik Killian tidak mengerti. Dia juga bingung mau menjawab. Dia tidak memiliki ingatan di tubuh barunya di dunia asing ini.
"Lupakan. Kau juga bukan pacar atau suami keponakanku." Sambung Daniova lantas melengos menduduki kursi yang duduki Killian sebelumnya.
'Ingin sekali Aku membunuhnya.' Geram Killian dalam hati.
"Kau." Pekik Daniova dengan tatapan ke arah Joana namun bermaksud memanggil Killian.
Killian langsung tersentak mendengar ucapan arogan wanita tua itu. 'Bolehkah Aku membunuhnya, Joana?' Tanya Killian pada Joana, namun hanya sebatas bertanya dalam hati.
"Seseorang dari tempat Kerja Joana menelponku, ada barang Joana yang tertinggal disana. Karena Kau bilang Kau temannya Kau pasti tahu tempat kerjanya kan?"
Sabar, Killian, Sabar.
Killian diam, ia juga tidak tahu tempat apa ini, apalagi tiba-tiba ditanyai tempat kerja Joana?
"Saya tidak tahu, Nyonya." Jawab Killian apa adanya.
Namun saat Killian menjawab, tiba-tiba sebuah senyum yang hampir tak terlihat muncul di bibir Daniova.
Killian juga tidak sadar kalau Nyonya tua yang duduk membelakanginya itu tersenyum.
"Dugaanku benar, Kau adalah Killian Edellyn." Sahut Daniova yang masih dalam posisinya menatap wajah ayu Joana.
Killian yang mendengar namanya langsung terkejut. Ia mundur selangkah siapa tahu wanita tua ini berbahaya.
'Aisshhh. Tidak ada pedang, tidak ada sihir.' Rutuk Killian dalam hati.
"Siapa Kau?" Tanya Killian yang sudah mengambil ancang-ancang.
Wanita itu tersenyum penuh arti.
"Aku tidak percaya Tania melempar putrinya sendiri kesana."
Deg!
Sekali lagi Killian terkejut dengan penuturan wanita tua itu. 'Apa maksudnya? Tania?'
Daniova menoleh menatap Killian dengan senyum penuh arti. "Tania adalah adikku, sekaligus Ibu dari Joana."
Saat ini pikiran Killian sedang berperang mencoba memahami maksud dari wanita yang merupakan keluarga Joana itu.
Mata Killian semakin membulat sempurna, ketika Daniova mengeluarkan sebuah sihir merah keluar dari tangannya.
"Siapa Kau?" Sahut Killian dengan suara baritonnya. Bagaimana wanita ini memiliki api merah?
"Santailah sedikit, Killian." Ujar Daniova. "Aku juga tidak akan membumi hanguskan Foresta Fredda lagi.
Apa maksudnya? Killian mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Namaku adalah Daniova. Kakak dari Putri Tania. Bisa di bilang,,, Aku dan Tania berasal dari dunia ini, tapi tiba-tiba kami berdua berpindah jiwa ke tubuh sepasang kakak adik yang memiliki nama yang sama."
Daniova? Nama yang pernah disebut oleh Tania sebelumnya.
"Aku dan Tania berpindah jiwa saat usia Tania 21 tahun, dan usiaku 27 tahun. Di dunia ini, Tania sangat dicintai oleh Ayah dan Ibu. Karena pembawaannya yang lugu dan ceria. Dan saat kami berpindah jiwapun orang tua kami masih mencintai Tania dan terus saja mengabaikanku. Hingga pada suatu ketika, Aku jatuh cinta pada Putra Mahkota Killian De Fredda."
Killian masih berdiri mengerutkan keningnya mendengarkan cerita dari wanita yang dipanggil Daniova itu.
"Tapi Putra Mahkota juga mencintai Tania, sama seperti orangtuaku. Aku mulai hilang akal menindas Tania dengan kekuatanku. Dia mendapat segala keinginannya, bahkan kekuatan sihir pun Dia jauh lebih unggul dariku. Semua orang mengeluh-eluhkan nama Tania, si penyihir es yang baik hati. Padahal Dia sudah memiliki suami di kehidupan sebelumnya, tapi masih bisa mencintai Putra Mahkota. Dan ketika aku mengatakan kenyataan ini pada Putra Mahkota, Dia semakin mencintai Tania dan mamandangku seperti sampah. Jadi Aku diam-diam berlatih sihir terlarang dan membumi hanguskan daratan Foresta Fredda. Saat Tania mencoba menghentikanku, kami berdua tewas dan kembali ke dunia ini. Begitupun dengan Tania, Dia kembali ke dunia ini, dengan membawa bayi dalam kandungan hasil hubunganya dengan Putra Mahkota."
Deg!
Kenyataan apa lagi ini?
Jadi Joana berasal dari Foresta Fredda?
Daniova menghembuskan napas panjangnya setelah bercerita. Kemudian berbalik menatap wajah keponakannya lagi.
"Joana sekarang hidup terasingkan sebagai anak dari hubungan gelap. Suami Tania tidak mau menerima kehadiran Joana. Tapi Tania kekeh ingin mempertahankan Joana, karena Dia adalah anak dari laki-laki yang dicintainya. Jadi sekarang Joana hidup menderita karena ulah Ibunya sendiri."
Daniova kemudian tersenyum kecut mengusap punggung tangan keponakannya. "Dan kebodohannya bertambah ketika mengirim putrinya sendiri kembali ke Foresta Fredda."
Killian yang mendengarnya hanya diam tak bersuara, Dia juga bingung dengan situasi saat ini. Masa lalu Joana ternyata berhubungan dengan Foresta Fredda, Dunianya. Jadi Joana adalah anak yang lahir dari dua dunia yang berbeda.