The Killian's Love

The Killian's Love
Bab 11



"Joana." Gumam Killian menggenggam sebelah tangan Joana yang tersa dingin.


***


Sudah satu minggu Joana terbaring setelah demonstrasinya menunjukkan kekuatan sihirnya pada Killian and the gengs.


Selama Joana terbaring, Marina sudah beberapa kali melancarkan aksinya menerobos ke menara sihir. Marina yang mengetahui titik lemah penjagaan menara sihir yang ia temukan dalam novel yang dibacanya, dengan lihai membuka, melewati berbagai pintu yang ada disana. Tujuannya hanya satu, mengintip buku rahasia yang hanya dimiliki menara sihir.


"Ini Dia." Gumam Marina ketika mendapat buku tebal yang berjudul 'Rahasia sihir api Foresta Fredda'. Namun saat tangannya menarik buku itu, mata Marina beralih menatap tajam pada sebuah buku dengan judul 'Ramalan Kerajaan Foresta Fredda'. Karena penasaran dia juga mengambilnya.


Pada halaman pertama buku itu sudah bertuliskan sebuah ramalan yang pernah di ucapkan Arhan ketika berbincang dengan Killian and the gengs.


Pada malam bulan darah, kegelapan akan menyelemuti negeri. Salju hitam akan turun sebagai pertanda kegelapan akan dimulai. Semua kehidupan akan hangus bersama kegelapan itu, Api merah akan meluluhlantakan semua daratan tak bersisa. Hanya dengan seseorang yang ditakdirkan akan merubah kegelapan menjadi cahaya. Gadis yang memiliki mata sehitam langit malam, kulit seputih salju, dan bibir semerah darah akan berhasil membawa dunia pada sinar cahaya dari kegelapan.


"Gadis yang memiliki mata sehitam langit malam, kulit seputih salju, dan bibir semerah darah akan berhasil membawa dunia pada sinar cahaya."Gumam Marina mengulang tulisan yang ada di buku. "Api merah?" Gumamnya lagi.


Saat sedang memikirkan ramalan itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara langkah kaki akan melangkah masuk menuju perpustakaan. Dengan cepat Marina mengembalikan buku ramalan itu dan hanya membawa pergi buku tentang rahasia sihir api.


Langkah kaki itu ternyata adalah langkah kaki Arhan dan Killian. Killian datan ke menara sihir karena ingin membaca secara langsung ramalan yang pernah diucapkan Arhan sebelumnya. Ia juga ingin mencari informasi tentang kekuatan Joana dari perpustakaan menara sihir.


"Saya seharusnya tidak memperbolehkan orang luar memasuki perpustakaan ini, Tuan." Ujar Arhan membuka pintu ruang perpustakaan yang hanya boleh di masuki oleh penyihir agung saja.


Arhan membuka pintu dan mempersilahkan Killian masuk kesana. Di dalam ruang itu hanya ada satu rak buku yang berisi sedikit buku maupun cataran. Tidak seperti perpustakaan yang digunakan oleh penghuni menara sihir lainnya.


Arhan berjalan lebih dulu di ikuti Killian dibelakangnya. Arhan langsung menuju rak tempat buku disimpan.


Saat hendak mengambil buku tentang ramalan, Arhan menyadari, buku itu telah berpindah posisi dan satu buku telah hilang.


"Ada apa Arhan?" Tanya Killian yang menatap tangan Arhan yang terangkat berhenti.


"Ada pencuri, Tuan." Jawab Arhan dengan suara lirih.


Mendengar hal itu, dengan mengerahkan sihir kegelapannya. Killian mengeluarkan asap hitam pekat menyelimuti seluru ruang itu, mencari keberadaan pencuri yang siapa tahu masih ada disana.


"Diluar." Dengan langkah cepat Killian dengan sihir kegelapannya merasakan ada seseorang mencurigakan berlari menuruni tangga. Killia dengan secepat kilat berlari menuju arah yang dirasakan kegelapannya.


Arhan pun dengan sigap ikut berlari di belakang Killian. Bagaimana bisa ada pencuri masuk ke ruang dengan segel tingkat tinggi ini.


Setelah beberapa menit kemudian, sihir kegelapan Killian kehilangan si pencuri. Dan Killian juga sudah berhenti dari larinya. Di ikuti dengan Arhan yang sampai dibelakang Killian.


"Dia menghilang." Sahut Killian yang menarik kegelapan masuk kedalam tubuhnya lagi.


Arhan sangat terkejut dengan adanya pencuri itu. Wajah panik tidak bisa luntur dari wajahnya.


"Apa buku yang Dia bawa?"


"Rahasia sihir api, Tuan."


"Ini pasti ulah Marina." Timpal Killian penuh keyanikan. "Mari kita kembali ke perpustakaan, Aku akan meminta prajurit bayanganku mengikuti, Marina."


"Baik Tuan."


***


Satu-satunya petunjuk hanya ramalan itu. Pada malam bulan darah, kegelapan akan menyelimuti negeri. Tapi kapan malam bulan darah itu?


Killian dan Arhan tidak putus asa membaca semua buku tebal membosankan yang ada disana. Bahkan waktu sudah hampir tengah malam namun belum mendapat petunjuk apapun.


"Apa tidak ada ruangan rahasia lagi di menara sihir ini?" Tanya Killian frustrasi.


Arhan berhenti sejenak dari fokusnya membaca buku tebal. Ia berdehem memikirkan pertanyaan Killian. Arhan baru satu tahun diangkat menjadi penyihir agung, dan penyihir agung yang dulu tidak pernah bercerita apapun padanya.


"Saat kecil Saya pernah melihat penyihir agung terdahulu menghilang diantara dua pilar berlambang kristal dan api, Tuan." Arhan menjawabnya dengan ragun.


"Dimana?" Tanya Killian cepat.


"Ikuti Saya, Tuan." Arhan bangkit dan meletakkan buku yang dia baca.


Killian dan Arhan sudah berdiri diantara tiang besar yang ada di aula menara sihir. Mereka berdua memandangi ukiran yang ada di tiang itu.


Tiang satu berlukiskan ukiran api dan tiang satunya berlukiskan ukiran kristal-bukan, itu pasti es. Pasti benar ini jalan masuk ruang rahasianya.


"Apa Kau ingat bagaimana penyihir agung terdahulu memasukinya?" Tanya Killian menatap pria di dibelahnya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu. Penyihir agung terdahulu tidak pernah menceritakannya pada Saya, Tuan."


Killian berdehem, mengehela napas kasar kemudian menyentuh ukiran lambang es di tiang besar itu. "Saya mohon..." Gumam Killian meraba ukiran itu. "Saya mohon izinkan Saya masuk kesana, biarkan Saya menyelamatkan Joana." Sambung Killian pasrah.


"Tuan..." Gumam Arhan melihat cahaya di telapak tangan Killian. Killian juga terkejut dengan tangannya.


Hingga sepersekian detik, Killian menghilang dari hadapan Arhan. Arhan yang mendapati Grand Duke menghilang seraya munculnya cahaya misterius itu terlihat terkejut dan panik. "Tuan!"


***


Killian membuka matanya, dihadapkan sebuah ruangan gelap.


Killian dengan langkah berani penasaran dengan ruangan aneh ini. Kakinya bergerak menuju sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan.


Killian terkejut tat kala melihat lukisan dirinya terpampang di dinding ruangan gelap itu.


Killian lantas mengeluarkan cahaya api dari tangannya, sebagai penerangan dan mengarahkannya mendekat menuju lukisan.


Dan benar, itu adalah wajahnya, berambut coklat terang dan bermata merah darah.


Killian terheran dengan lukisan itu, seingatnya Dia tidak pernah di lukis dengan menggunakan baju ala pangeran itu, apalagi mahkota diatas kepalanya.


Tangan yang memancarkan api itu kemudian bergerak ke lukisan disampingnya.


Deg!


Itu adalah Joana, berpose dengan anggun menggunakan gaun hitam berenda. Rambutnya panjang terurai dengan mahkota diatas kepalanya. Joana nampak sangat cantik dengan gaun hitam itu, selaras dengan mata dan rambut hitamnya.


"Hallo, Killian." Suara lembut tiba datang menyapa Killian yang tengah menatap kedua lukisan itu.


Bagaimana part ini? Jangan lupa tulis komentar ya:D