
Oohhhh. "Boleh, asal tidak terlalu menekan. Bayinya tidak boleh mendapat tekanan keras saat berhubungan." Jawab Aarash yang membuat Killian tersenyum kecil, sangat kecil hingga hanya Killian yang tahu kalau Dia senang.
"Apa boleh keluar di dalam?" Tanyanya lagi.
"Aku tidak tahu, Aku bukan dokter kandungan tahu!" Jawab Aarash yang mulai menujukkan emosi karen masa istirahatnya diganggu oleh Killian yanh ingin berbuat mesum dengan istrinya sementara Aarash sendiri adalah seorang jomblo akut sejak lahir.
Entah apa yang dipikirkan Killian. Dia langsung meninggalkan Aarash secara cepat dengan teleportasinya.
Aarash hanya menghela napas kasar dengan kelakuan teman satu ini. Ada-ada saja tingkahnya yang tidak biasa jika menyangkut Joana istrinya.
***
"Sayang, Boleh!" Satu orang lagi yang dikejutkan dengan kedatangan Killian. Yap, Itu adalah Joana yang terkejut setengah mati tiba-tiba Killian kembali dengan langsung membuka pintu kamar dengan keras.
Killian mendekati istrinya yang ia tinggalkan selama beberapa menit itu.
Killian dengan semangat duduk di samping ranjang, "Ayo kita lakukan sekarang," Sahutnya senang.
"Aku sudah malas sekarang," Timpal Joana menutup tubuhnya dengan selimut. Dia sudah kesal karena ditinggal Killian pas lagi seneng-senengnya, dan sekarang senengnya udah hilang.
Mendengar hal itu, wajah Killian berubah bingung, bukankah tadi Joana bersemangat? Lalu mana semangat itu tadi?
"Ayolah Sayang~ Aku ingin menyapa anak kita juga," Bujuk Killian. "Apa Kau marah Aku tinggalkan tadi?"
"Tidak. Aku hanya sudah tidak tertarik lagi," Jawab Joana tetap mempertahankan selimutnya.
Killian tak hilang akal untuk membujuk istrinya lagi, "Sekali saja ya? Biarkan Aku menyapa anak kita. Lagipula Aku pergi untuk bertanya pada Aarash, Aku takit jika Aku melukai anak kita yang ada di perutmu, makanya Aku butuh informasi dari Aarash."
"Besok saja deh, Aku udah malas," Jawab Joana tidak mau di ganggu gugat. Ia sudah ngambek duluan dengan Killian suaminya.
Killian menghembuskan napas nya pasrah, sulit untuknya membujuk Joana lagi. Ia kemudian bangkit berjalan menuju kamar mandi.
"Mau kemana?" Tanya Joana cukup bingung dengan Killian.
"Kamar mandi," Jawabnya singkat,
"Ngapain?"
"Nenangin juniorku,"
Brak! Pintu kamar mandi tertutup dengan di iringi suara keras.
Kasihan sih melihat Killian seperti itu. Rasanya ingin sekali mengetuk pintu itu dan mengabulkan keinginan suaminya, tapi... Joana tidak ingin disebut haus balaian jika ia mengetuk duluan dan bilang ingin melakukannya.
Jadi maafkan Aku Killian,
***
"Joana!" Seorang gadis muda cantik berlarian dengan sembrono di tengah ramainya pasar sore ini. Dia adalah Akira Asher yang nampak bersemangat melihat Joana bersama Max dan Daisy.
"Joana?" Beo Joana cukup tersentak dengan panggilan yang jarang di telinganya. Biasanya ia akan mendengar sebutan Nyonya, Lady, dan panggilan sopan lainnya.
"Ah, Maaf Nyonya," Ujar Akira meralatnya, "Saya sangat senang bertemu dengan Anda lagi hingga Saya lupa kalau Anda seorang bangsawan," Sambungnya dengan cengengesan. Dia terlihat seperti gadis lugu yang polos.
"Kau boleh memanggilku seperti tadi," Jawab Joana berpura-pura tegas namun dalam hatinya ia cukup senang ada yang memanggilnya dengan nama alih-alih sebutan nyonya atau lady.
"Benarkah?" Akira nampak tersenyum sumringah.
Yahhh senebarnya itu hanya dibuat-buat oleh Marina yang berpura-pura. Ia sebenarnya muak harus berpura-pura tersenyum lebar, rasanya mulut ini akan kaku jika terus tersenyum seperti ini.
Akira mengangguk semangat, "Mmh, Aku selalu datang kemari," Jawabnya bohong. Mana mungkin seorang Marina datang ke pasar ini. Ia bahkan sangat membenci keramaian.
Mereka berempat berjalan bersama menyusuri pasar, nampak seperti dua pasangan, yang mana Max dengan Daisy, dan Joana yang berpenampilan seperti laki-laki berjalan beriringan dengan Akira. Gadis berambut coklat itu nampak terus mengulas senyum tertawa ditengah bicaranya.
Sementara Joana sesekali menimpali ucapan Akira yang terkesan tidak formal tapi Joana menyukainya.
"Apa ada yang ingin Kau beli Joana?" Tanya Akira.
Joana menggeleng, karena tujuannya datang ke pasar hanya untuk menghilangkan rasa pengap berada di mansion seharian, apalagi Killian pergi sejak pagi.
"Bukan Aku yang mencurinya!!" Suara teriakan dari seorang bocah menghentikan langkah mereka berempat.
Dan entah sejak kapan Akira sudah menjauh dari rombongan Joana membelah para orang yang sedang menyaksikan tontonan itu.
Joana pun ikut nyempil diantara orang-orang yang melingkari seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahunan dan seorang bocak laki-laki berambut hitam yang terlihat tampan. Cukup jarang melihat seseorang yang memiliki rambut hitam.
"Apa yang Kau lakukan dasar brengsek!" Entah sejak kapan Akira sudah maju di tengah kerumunan untuk membela bocah berambut hitam itu.
"Pergi Kau rakyat rendahan!" Sahut pria itu dengan marah. Namun Akira terlihat tak gentar membawa bocah laki-laki itu di belakangnya.
Ya, Dia terlihat menantang kematian dengan melawan seorang bangsawan yang statusnya bisa dilihat lebih tinggi.
Joana ikut menyaksikan, Dia mengamati anak kecil berambut hitam itu alih-alih Akira yng terlihat seperti pahlawan kesiangan.
Anak itu terlihat ketakutan, wajah kotornya tidak bisa menyembunyikan wajah tampan miliknya.
Hati Joana seperti tersayat melihat anak kecil itu, ia seperti melihat dirinya di masa lalu. Seorang anak yang tidak pernah diharapkan.
"Minggir Kau dasar ******, anak terkutuk itu harus diberi pelajaran!" Pria itu beringas mendorong tubuh Akira, tapi sang empu berusaha tetap kokoh meski di dorong oleh laki-laki yang tubuhnya tiga kali lebih besar darinya.
"Apa Kau tidak dengar anak ini bilang tidak mencurinya?!" Akira kembali berteriak melawannya.
"Aku Ayahnya, Aku tahu anak terkutuk ini pasti mencurinya!!"
Haaahhhh, Akira menghembuskan napas kasar yang bisa terdengar oleh kerumunan orang yang asik menonton, "Ayah macam apa yang menyebut anaknya sendiri terkutuk hah?!!!"
"Jika Kau tidak mau terkena kutukan menularnya sebaiknya Kau pergi, Lady." Bukan pria itu, tapi seorang wanita baya yang tiba-tiba hadir mengintrupsi pertikaian mereka.
Hah?
"Ibunya meninggal saat saat melahirkannya, dan rambutnya yang hitam legam membuatnya mendapat julukan anak yang terkutuk," Sambung wanita tua itu.
Joana masih bisa mendengarnya, mendengar ucapan wanita tua pada Akira.
Joana kemudian menatap anak yang ketakutan terduduk di tanah yang kotor.
Sama seperti Joana Adalberto, Ibunya juga meninggal saat melahirkannya. Tapi bukan berarti hal itu bisa disebut kutukan.
Joana berjalan pelan menghampiri keributan itu. Rambut hitamnya menjadi sorotan diantara puluhan orang memandang.
"Siapa lagi laki-laki brengsek sialan ini," Pria itu hendak menghampiri Joana yang menyamar sebagai laki-laki. Ingin sekali pria itu meninjunya karena telah menghalangi anak sialan yang merupakan darah daginya.
Tapi sebelum bisa mendekat, Max sudah menahan kedua tangan Ayah si anak. "Hei, siapa lagi Kau dasar brengsek!! Lepaskan Aku!!" Max tidak bergeming sama sekali ssmentara pria itu terus berteriak kata-kata kasarnya.
Joana menjongkok menatap wajah anak laki-laki tampan itu. Joana cukup tersentak karena anak itu memiliki mata berwarna biru yang sangat bersinar cantik, sama seperti Joana Adalberto.
"Siapa namamu?"